Tubuh Bara langsung berbalik dan matanya menatap tajam Tisa. “Atas dasar apa aku harus menggendongmu? Hm!” Tangannya masih di dalam saku celana ketika menemukan wajah istrinya yang tampak cemberut.
“Tisa gak mungkin ngesot dong, Om, ke ruang makan,” jawabnya cerdik.
Bibir Bara menyeringai, kemudian menyahutnya tak kalah sinis. “Bermimpi saja untuk bisa digendong olehku!”
“O-om! Yakh, bagaimana bisa kamu meninggalkanku dengan kondisi seperti ini? O-om….”
Bara langsung menutup kamarnya dan berjalan menuju ke ruang makan dengan seringainya. Ia sudah kembali ke setelan pabrik yang cuek dan dingin. Kakinya melangkah dengan santai menuju ruang makan. Namun, ketika berbelok, ia berpapasan dengan adiknya.
“Bang, apa benar Tisa terluka? Kok, bisa? Emang lo apain, sih? Jadi laki gak usah jahat bisa gak, sih, Bang?” Andra terdengar panik. Adiknya bahkan hendak menyusup ke belakang tubuhnya sebelum ia menghentikan.
“Apa lagi, sih, Ndra? Lagian, kalau kamu gak tau apa-apa mending diem aja, deh!” Tangannya mendorong bahu adiknya untuk menjauh, kemudian ia berjalan begitu saja meninggalkan Andra di lorong dengan wajah panik.
“Lagian, kenapa si Andra ngebet banget, sih, sama istriku? Apa di dunia ini udah gak ada lagi stok perempuan lain apa?” dumelnya. “Eh, kenapa aku bertingkah layaknya suami yang takut istrinya diminta cowok lain? Sial! Ini semua gara-gara itu bocah!”
Ketika Bara sampai di ruang makan, ternyata ayahnya sudah lebih dulu sampai. Ia pun segera mencium punggung tangan Sanjaya. “Bagaimana keadaan ayah? Apa sudah jauh lebih baik?” Ia bertanya sambil menarik kursi untuk dirinya duduk.
Bukannya menjawab pertanyaannya, ayah justru menanyakan hal lain. “Kata Doni, Tisa terluka. Apa benar?”
Bara mengangguk. Ia tidak mungkin berbohong pada ayahnya. “Benar, Yah. Tapi, itu semua karena kecerobohan Tisa, bukan saya,” ujarnya tak sepenuhnya bohong. Karena memang pada kenyataannya, semua ulah Tisa yang main lari dan tak memepedulikan keadaan sekitar sehingga terluka.
“Kalau sampai dia terluka dan karenamu, aku gak segan buat mengeluarkan namamu dari hak waris, Bara!” Ancaman itu terdengar menyakinkan.
Bara menunduk. “Saya tidak berani membohongi Ayah!”
“Baguslah. Terus, di mana istrimu? Kenapa kamu tidak mengajaknya makan malam bersama?”
Bara memejamkan mata karena menyadari keteledorannya. Ia pun mendorong kembali kursi dan berdiri. “Kalau begitu biar saya–”
“Gak perlu, Bang. Tisa susah sama Andra,” ujar sang adik dengan tangan merangkul pinggang istrinya.
Tatapan Bara seketika berubah menjadi dingin.
Sebelum itu, Andra yang hendak bergabung dengan ayah dan abangnya di meja makan dikejutkan dengan keberadaan Tisa. Matanya menyipit melihat cara jalan gadis itu yang kesusahan. Ia pun menggeleng dengan kelakuan abangnya.
Setelah melirik ke arah meja makan di mana Bara dan Tuan Sanjaya sudah duduk sambil mengobrol, ia pun berinisiatif membantu Tisa.
“Butuh bantuan, Manis?” Andra menawarkan diri.
“Tidak perlu, Tuan. Saya bisa jalan sendiri, kok,” tolak Tisa halus sambil sesekali meringis kesakitan.
Penolakan itu membuat Andra sakit hati, tetapi pria itu berusaha menulikan telinga. “Sayangnya aku gak menerima penolakan, Manis!” Tangannya langsung memeluk pinggang Tisa. Membiarkan tubuh mereka bersisian.
Sebenarnya, Andra hendak menggendong Tisa. Akan tetapi, gadis itu beringsut menjauh, ketakutan sehingga jalan satu-satunya hanyalah menuntun gadis tersebut hingga ujung lorong.
Tiba-tiba, gadis itu memanggil seseorang. "Om, tolong bantu Tisa jalan ke meja makan, dong. Kaki Tisa masih sakit."
Andra menggertakkan rahangnya ketika gadis itu berusaha berdiri sendiri. Pria itu segera menyingkir dan membiarkan Tisa berpegangan pada meja kecil yang ada di sisi kanan lorong.
Bara menatap Tisa dingin. "Masih untung kakimu tidak diamputasi! Selama masih punya kaki, berarti masih sanggup untuk berjalan, kan?!"
Tisa melirik ke arah Bara, sedangkan pria itu hanya diam saja. Seolah-olah, ia tak peduli dengan ucapan dari Andra.
“Bara! Jaga bicaramu, Nak!” Tuan Sanjaya langsung menasehati anak pertamanya.
“Tapi, Yah–” Pria itu langsung terdiam ketika Tuan Sanjaya menatapnya dingin. Bara diam-diam mengepalkan tangan di bawah meja sambil melirik tajam ke arah Tisa.
“Kalau begitu, biar aku saja yang membawa Tisa!” Andra segera menengahi.
"A-apa? T-tidak usah, Tuan. Aku masih sanggup berjalan, kok. Lagian, Tisa masih punya kaki." Gadis cantik itu menekankan kata ‘kaki’ karena merasa jengkel dengan perlakuan Bara yang tak peduli padanya
"Naiklah, Nona Manis. Aku takut kakimu akan semakin membengkak." Andra memaksa sambil mengulum senyum.
“B-baiklah, jika Tuan memaksa, dengan senang hati saya akan--Argh!" Tisa menjerit ketika tiba-tiba badannya melayang. “O-om–”
Adalah Bara Langit Sanjaya pelakunya.
Entah mengapa hati Bara terasa terbakar melihat interaksi Andra dan istrinya. Ia tidak rela jika Tisa disentuh orang lain, walaupun itu adiknya sendiri. Kakinya bergerak cepat mendekati Tisa, lalu menggendong gadis itu tanpa aba-aba.
"Manja!" ucap Bara menggeram.
“T-tapi–” Tisa berhenti protes saat mendapati tatapan Bara bagaikan belati yang siap menghunus jantungnya. Tangannya kemudian menggelayut di belakang tengkuk sang suami. Membiarkan tubuhnya digendong hingga mencapai kursi makan.
Sementara itu, Andra yang melihat kemesraan Tisa dan Bara hanya bisa gigit bibir. Kesempatan untuk mendekati Tisa kembali digagalkan oleh Bara. Ia juga tidak bisa berbuat apa pun selain berjalan di belakang mereka. Bergabung dengan kakak, ipar, dan ayahnya di meja makan.
“Makasih, Om.”
“Hem!”
Tisa diam-diam tersenyum puas di kursinya. Tuan Sanjaya begitu baik dan perhatian. Ayah mertuanya bahkan mampu menyuruh Bara–yang terlihat ogah-ogahan– mengambilkan makanan buat dirinya. Katanya, itu semua karena Tisa sedang sakit. Jadi, harus dilayani dengan sebaik mungkin.
“Senang kau? Huh!” bisik Bara sinis.
Tisa menatap suaminya dengan senyum manis. “Makasih, Om,” jawabnya sambil mengedipkan satu mata.
Bara merotasikan kedua bola matanya malas dan memilih menyantap makan malamnya dalam diam.
Acara makan malam itu pun berlangsung dengan tenang. Tidak ada lontaran canda, ataupun olokan dari Andra, bahkan Tisa. Gadis itu terlalu pendiam untuk ukuran si periang.
Semua itu tentu saja disadari oleh Bara. Namun, pria itu lebih memilih diam. Sesekali, netranya menangkap Andra yang terus-terusan berusaha mendekati istrinya. Adiknya itu bahkan mengambilkan lauk dan menaruh di atas piring istrinya.
Bukankah itu sangat menyebalkan? Bara mendengkus. Tidak tahan, Bara pun meletakkan alat makannya dengan sedikit keras hingga menimbulkan suara.
“Om udah selesai? Itu makanannya….” Tisa mengerutkan kening melihat suaminya.
“Aku ada banyak kerjaan. Jadi, kalau kamu sudah selesai….” Bara terlihat kebingungan merangkai kata. “Intinya, kalau kamu mau aku bantu, ya, kita pergi sekarang!”
“Tapi, Nak Tisa belum selesai makan, Bar!” Sanjaya menyeletuk.
Bara hendak membuka mulut, tetapi tarikan kecil di bagian ujung bajunya membuat ia menoleh. “Kenapa?”