Gadis itu mencoba berdiri sambil berpegangan pada meja dan tersenyum ke arah sang suami. “Tisa udah selesai kok, Om.”
“Tapi, makananmu belum habis, Sayang!” Itu suara Sanjaya. Pria tua itu kemudian menatap Bara sambil menggelengkan kepala. "Apa kamu gak bisa nungguin istrimu selesai makan, Nak?"
Bata hendak menyahuti, tetapi suara istrinya sudah lebih dulu menginterupsi. Ia pun akhirnya diam saja.
"Tisa udah kenyang beneran kok, Yah." ujarnya sambil menatap ayah mertuanya dengan tangan mengusap perut. “Tadi, sebelum ke sini, Tisa udah ngemil, Yah,” akunya dusta.
Sejak bangun tidur, gadis itu langsung ke kamar mandi. Jadi, mana sempat ngemil. Salahkan saja tampang rupawan suaminya ketika terlelap, sungguh menggoda iman.
“Kalau begitu biar nanti Ayah minta bibi buat mengantarkan cemilan ke kamar kalian.” Sanjaya mempersilakan. “Bara, hati-hati bawa menantu Ayah!”
Bibir Tisa seketika mengulas senyum lebar. “Makasih. Ayah yang terbaik!” Ia mengacungkan kedua ibu jarinya, tetapi setelah itu ia meringis karena kakinya kesakitan.
“Ckckck, kalau gak bisa berdiri gak usah kebanyakan tingkah, deh!” Tanpa memedulikan wajah shock dan kedua tangan yang melingkar erat di belakang tengkuknya, Bara menggendong tubuh si istri menuju kamar mereka.
Dalam perjalanan, Tisa tak henti tersenyum. Ia memperhatikan wajah tampan Bara. Walaupun usianya sudah tidak muda lagi, kepala 3. Akan tetapi, wajahnya begitu rupawan, bahkan teman seusianya saja tidak ada yang seganteng suaminya.
Bukankah itu adalah sebuah anugrah?
“Gak usah liat-liat, Bocah!”
“Eh? Gak, kok!” Gadis itu langsung menunduk ketika ketahuan memperhatikan wajah sang suami. Dalam senyum malunya, ia menyandarkan kepala di d**a bidang dengan tangan merangkul leher Bara.
“Kamu gak usah coba untuk mencuri-curi kesempatan, yah!”
Bibir Tisa mengerucut lucu ketika mendengar nada sarkas keluar dari mulut suaminya. Ia pun menengadah dengan ekspresi protes. Gadis itu membiarkan setiap langkah suaminya ketika menyusuri lorong menuju kamar.
“Om, tahu gak?”
“Gak!” ketus Bara.
“Iih, Om suami dengerin dulu!” Satu tangan Tisa memukul bahu suaminya.
Kedua bola mata Bara terlihat berotasi malas. “Terserah!”
Tisa mendengkus, tetapi kepala tetap disandarkan di d**a bidang suaminya. Tatapannya lalu beralih pada telapak tangan yang diperban. Masih ada rasa sakit ketika digunakan beraktivitas.
“Om Suami itu adalah lelaki pertama yang gendong Tisa seperti ini,” ujarnya mengawali cerita. “Sebelum ini, tidak yang berani mendekati Tisa.”
“Karena kamu miskin?!”
Tisa tak marah dikatain oleh Bara. Memang kenyataannya seperti itu. “Bisa jadi. Tapi, alasan dibalik itu semua adalah paman,” katanya getir.
Langkah Bara berhenti.
Tisa yang bingung segera bertanya. “Kenapa berhenti, Om?”
“Kamu pikir?!” Setelah mengatakan itu, Bara mengedikkan dagu ke arah depan pada Tisa. “Buka!”
Gadis itu pun melihat ke arah tunjuk sang suami. Ia melihat ke arah depan di mana mereka sudah berada di depan pintu kamar. “Eh, kita udah sampai, Om?” Ia nyengir malu.
“Kamu pikir?” Jawaban Bara terdengar ketus. “Buruan buka, Bocah! Kamu pikir enteng? Huh!”
Tisa mencubit pinggang suaminya, lalu balas menatap sengit. “Om, tuh, nyebelin banget, sih! Mana ada badan Tisa berat?”
Bara bohong mengatakan tubuh Tisa berat. Kenyataannya, malah kebalikan. “Buka atau aku jatuhkan kamu ke lantai?”
Tisa yang kesal segera menggoyangkan kakinya. “Turunin! Tisa bisa jalan sendiri!” sahutnya ketus.
“Ok!” Setelah itu, Bara benar-benar menurunkan Tisa.
“Yakh! Pelan-pelan dong, Om!” Tisa menjerit lantaran dirinya hampir jatuh ke lantai karena cara Bara yang menurunkannya begitu sembrono.
“Emang aku peduli!” Bara menyeringai.
Sambil mendumel, Tisa mendorong pintu kamar mereka dan membiarkan pria itu masuk terlebih dahulu. Sedang dirinya mengikuti dari belakang.
“Aku besok mau ke luar kota. Aku harap, kamu tak bertingkah di rumah ini!”
Bara tiba-tiba berhenti hingga Tisa yang berada di belakangnya menabrak punggung pria tersebut. Pria itu pun menggeram. Ia lalu berbalik dan hendak memarahi istrinya. Namun, sebuah kecupan kilat menyambar bibirnya. Matanya membelalak melihat sosok gadis kecil itu di hadapan.
“K-kau?!”
Tisa tersenyum manis, lalu menarik kerah baju suaminya hingga wajah mereka saling berhadapan. “Main, yuk, Om!”
Main? Kening Bara mengernyit. Entah kenapa bibirnya langsung mengulas senyum aneh.
Maaf, bukan karena otak Bara yang ‘ngeres’, tetapi salahkan saja temannya–Opi dan Junaedi– yang selalu mengotori dirinya dengan kata-kata bermakna ganda itu. Ia pun tak munafik jika pernah ‘main’ dengan satu perempuan, tetapi dulu.
“Maksud kamu?” Bara berbalik, menatap istrinya dengan satu alis terangkat naik.
Tiba-tiba, d**a bidangnya dipukul oleh Tisa dengan wajah yang cemberut. Hal itu tentu saja membuatnya semakin tak mengerti. Selain menyebalkan, istrinya adalah gadis paling tidak tahu diri.
“Iih, masa Om gak tahu, sih?”
Lihat! Bagaimana Bara tidak kesal dengan kelakuan Tisa yang terus menggelayutinya. Jika bukan karena kasihan, ia sudah mendorong tubuh itu, dan meninggalkannya sendirian. Biar kapok sekalian. Namun, apalah daya dirinya yang tidak bisa melihat perempuan merajuk hanya bisa menghela napas.
“Apa, sih?” Bara mendengkus kesal, lalu berbalik hendak menuju ruang kerjanya. Tidak sudi dirinya berlama-lama dengan bocah kecil itu. Umur boleh 19 tahun, tetapi otak Tisa yang masih polos sehingga membuatnya tidak berani melakukan apa yang ada di dalam otaknya.
“Kasihan anak orang nanti bisa sawan!” Itu kata Oji.
Sial memang teman satu itu. Gayanya sudah seperti si paling ahli, apalagi tentang urusan ranjang. Namun, jika Oji sudah berhadapan dengan si istri maka pria itu seperti suami-suami takut istri.
Cih! Bagaimana bisa seorang suami tunduk pada istrinya. Seorang Bara tidak akan mungkin seperti Oji. Ia adalah lelaki Alpha. Jadi, pihak istrilah yang harus takut padanya.
Akan tetapi, bagaimana nasib si Joni sekarang?
Bara mendengkus. Biarlah ia sengsara dengan miliknya yang terbangun. Padahal, gadis itu tidak melakukan apa pun. Namun, melihat senyum dan wajah polos Tisa, justru membuat sesuatu di balik celananya terbangun.
Benar-benar memang itu si Joni.
“Tunggu dulu, Om!” Tangannya tiba-tiba ditarik oleh Tisa. “Om kenapa gak mau main sama Tisa, sih? Emang semembosankan itukah Tisa dimata, Om?”
Bara menyunggingkan senyum remeh. Tangannya lalu menoyor kepala Tisa pelan. “Main yang kamu maksud itu jelas berbeda makna dengan main yang aku inginkan, Bocah! Jadi, menyingkirlah sebelum aku menendangmu dari kamar ini!”
Setelah itu, Bara pergi meninggalkan Tisa di ruang kamar mereka, sedangkan dirinya masuk ke ruang kerja. Semenjak menikah, ia lebih suka berada di sana daripada harus berduaan dengan sang istri. Bukan karena tidak mau, melainkan hati dan pikirannya selalu saja sowar-sawer ke mana-mana jika berduaan saja dengan gadis tersebut.
“Sabar, Bar! Jonimu pasti bakalan dapat jatah, kok. Tapi, kapan?” Bara ingin menangis sekarang.