Pagi ini, merupakan pagi yang ia nanti-nantikan. Ia sudah bisa mulai sekolah sekarang. Berbekal alamat yang di berikan oleh Bian tadi. Tyas terus mengayuh sepedanya. Sepeda ini ia pinjam dari Ibu kos. Bu Nina sangat baik kepadanya. Kadang memberi makanan, dan hal ini membuat Tyas jadi sungkan.
Dengan penuh semangat, Tyas mengayuh sepeda sembari sesekali bersholawat. Senyuman manis tidak pernah pudar di bibirnya. Karena tentu sebentar lagi, ia akan menempuh pendidikan. sampai akhirnya ia berada di depan plang SMA Cakrawala.
"Ini benar sekolahnya?" gumam Tyas, banyak sekali mobil-mobil dan motor-motor yang masuk kedalam halaman sekolah tersebut. Bahkan mungkin hanya dirinya yang menggunakan sepeda di sini.
"SMA Cakrawala, " gumam Tyas. "Sama sih, tapi ini bagus banget, masyallah."
Tyas begitu kagum, padahal ini baru di luar pagar. Ia belum masuk kedalam.
Kedua matanya semakin terbelak kagum begitu masuk kedalam. Tyas melangkahkan kakinya memasuki area sekolah barunya. Ia memarkirkan sepedanya. Lalu Tyas berjalan masuk lebih dalam ke sekolah tersebut. Bahkan ia tak memperdulikan orang-orang yang menatapnya aneh.
'Aduh sejak kapan di sekolah kita ada gembel'
'Tau gue rasa nih gembel cuma siswa yang dapat beasiswa deh.'
'Huh. Gue kira orang berada taunya berangkat aja pake sepeda buntut.'
Tyas hanya diam. Gadis itu menghentikan langkahnya. Mendengar semua hinaan yang di lontarkan kepadanya. Hatinya sakit, tapi mau bagaimana lagi ia harus tetap sekolah di sini. Sekolah adalah gerbang mimpinya.
"Bismillah.... Allah bersamamu Ayas," gumam Tyas lalu berjalan kembali mencari ruang kepala sekolah.
Tyas berjalan menyusuri koridor dengan wajah yang tertunduk. Mata hijaunya terus memandang keramik berwarna putih itu. Ia benar-benar tidak berani melihat sekitar. Hingga sesuatu membuatnya mudur sedikit dengan di iringi pikek kan dari seorang gadis.
Tyas menatap seorang wanita yang ia tabrak itu. Dan bergegas menolongnya.
"Maaf saya benar-benar tidak sengaja," ucap Tyas. Lalu ia membantu gadis itu.
Tyas menatap gadis itu takut-takut. Ia takut jika gadis itu sama dengan orang-orang yang menghinanya tadi.
"Gue yang harusnya minta maaf itu, gue. Gue juga gak liat lo jalan tadi," ucap gadis itu sembari tersenyum simpul.
Kedua bola mata Tyas menatap gadis itu.Ternyata masih ada orang baik disini.
"Saya yang harusnya minta maaf. Saya salah tidak liat jalan," ujar Tyas tidak enak.
Gadis itu menggelengkan kepalanya keras. "Santai aja, kita sama-sama salah kok."
Tyas tersenyum lega. Gadis di depannya ini benar-benar baik.
Gadis itu mengamati Tyas. Dari jilbab putih yang membalut kepala Tyas. Hingga sepatu kumuh yang di pakai Tyas.
Sementara itu, Tyas mengerutkan keningnya bingung. Apakah ada yang salah dengan penampilannya pagi ini? Namun, Tyas rasa semuanya tidak ada yang aneh.
"Eh, lo anak baru, ya?" tanya gadis itu.
"Iya saya anak baru. Kemarin, saya lolos tes beasiswa," jawab Tyas dengan sopan.
"Oh gitu, pantes aja. Gue baru liat lo hari ini," jawab gadis itu." Lo pasti lagi bingung kan nyari ruang kepala sekolah?"
Tyas menganggukkan kepalanya.
"Kalau gitu, ayo gue anterin," ajak gadis itu. Bahkan tanpa ragu ia menarik tangan Tyas. Tyas hanya diam ia hanya ikut mengekor di belakang gadis tersebut.
Hal itu, membuat beberapa orang heboh. Melihat keduanya yang melintas di koridor utaman SMA Cakrawala.
***
Mereka telah sampai di depan pintu ruangan kepala sekolah. Tyas tersenyum, kepada gadis tadi.
"Terimakasih, Kak. Sudah mau membantu saya," ucap Tyas dengan senyuman manisnya.
"Oke. Gue juga kok, bantuin lo," sahut gadis itu. "Eh, kalau gitu, gue ke kelas dulu ya," ucap gadis itu seraya pamit kepada Tyas.
Tyas hanya mengangguk, melihat gadis tadi pergi meninggalkannya.
"Astagfirullah... Kenapa aku gak nanya nama Kakak tadi siapa. Dia udah baik nolongin aku, " gumam Tyas.
"Eh, nanti juga ketemu. Tapi semoga aja kita satu kelas," ucap Tyas lagi. Ia memilih tidak mengambil pusing semuanya.
Tyas pun memasuki ruangan kepala sekolah. Ia mengetuk pintu berwarna coklat itu. "Assalamu'alaikum...."
"Waalaikumsalam.... silakan masuk," sahut seseorang dari dalam. Membuat Tyas membuka pintu tersebut.
Tyas tersenyum kepada wanita yang ia ketahui sebagai Kepala Sekolah di SMA Cakrawala itu.
"Silakan duduk..." ucap wanita paruh baya itu tersenyum kepada Tyas.
Tyas mengangguk lalu tersenyum dan duduk di kursi itu.
"Kamu siswi yang bernama Tyas Jovanka Lydyana. Yang kemarin mengikuti jalur beasiswa?" tanya Ibu Kepala sekolah.
"Iya Bu, saya Tyas Jovanka Lydyana," jawab Tyas begitu sopan.
"Umur kamu masih 16 tahun tapi sudah kelas 12? Ini beneran?" tanya Ibu Kepala sekolah ketika melihat biodata Tyas.
"Saya pernah mengikuti program lompat kelas Bu. Tepatnya sewaktu SMP," jawab Tyas masih dengan bahasa yang halus dan sopan.
"Oh begitu, saya mengerti maka dari itu saya masukan kamu ke kelas unggulan yaitu 12 IPA 1. Ini seragam kamu di sini ada baju seragam, kaos olahraga, almamater sekolah, tas, sepatu serta buku paket. Silakan di ambil, " ucap Ibu Kepala sekolah seraya memberikan semua fasilitas untuk Tyas.
"Oh iya dan satu lagi. Ini kunci loker kamu," sambung beliau. Kali ini, beliau memberikan sebuah kunci loker kepada Tyas.
Tyas menerima semua barang itu. Ia merasa murid yang sangat beruntung karena bisa dapat sekolah di SMA favorit serta elit ini.
"Kalau begitu, sekarang. Saya akan mengantarkan kamu ke kelas baru kamu. Mari ikut saya," ucap Ibu kepala sekolah berjalan lebih dulu dari Tyas.
Tyas mengangguk dan berjalan mengikuti Ibu Kepala sekolah dari belakang. Mereka menyusuri koridor sekolah yang cukup sepi. SMA Cakrawala merupakan SMA terbaik di Kalimantan Barat. Bukan hanya itu Tyas baru sadar bahwa orang yang dapat menempuh pendidikan disini adalah orang-orang pintar atau orang orang dari kalangan atas. Bisa di lihat dari fasilitas yang tersedia, bukan.
Tyas sendiri sangat bersyukur karena dia dapat bersekolah disini. Sebenarnya ada Asrama di sini dan untuk Siswa beasiswa asrama gratis. Tapi dengan syarat tidak boleh keluar asrama. Kecuali hari libur. Tyas ingin sekali tinggal di Asrama ini tapi ia tidak bisa. Karena balik ke awal. Tujuan awal Tyas ke kota ini untuk mencari Kakak dan Papa kandungnya. Bukan menempuh pendidikan.
Harusnya Tyas lebih bersyukur. Karena bisa bertemu dengan orang-orang baik di sini. Seperti Ibu Nina, Bian, gadis cantik yang menolongnya tadi. Hingga Allah yang tidak henti-hentinya memberikan semua apa yang di perlukan oleh Tyas.
"Terimakasih ya Allah, semoga engkau melancarkan niat hamba untuk mencari Papa dan Kakak hamba, semoga hamba mampu melewati semuanya dengan baik," ucap Tyas dalam hati.