Suara langkah kaki mengalihkan fokus belajar mengajar di kelas 12 IPA 1. Semua menatap kearah ambang pintu. Dan setalah itu pandangan mereka melihat ke arah Kepala sekolah dan gadis dengan jilbab putih, yang hampir menutupi semua lekuk tubuhnya. Mereka diam, tidak ada yang berani bersuara.
Penampilan Tyas benar-benar menjadi sorotan.
"Permisi, Bu... " ucap Ibu Kepala sekolah meminta izin kepada guru yang sedang mengajar.
"Oh, iya Bu, silakan... " ucap guru tersebut, lalu menghentikan kegiatan belajar mengajar.
"Baiklah anak-anak, kalian mendapatkan teman baru. Saya harap kalian dapat menerimanya dengan baik. Silakan perkenalkan diri kamu, Nak," ucap Ibu Kepala sekolah memberi izin Tyas untuk mengenalkan dirinya.
"Assalamu'alaikum.... Teman-teman..." ucap Tyas menatap penghuni kelas di depannya.
"Wa'alaikumsalam....." jawab seluruh siswa/siswi di dalam kelas meski sedikit kaku.
"Perkenalkan nama saya Tyas Jovanka Lydyana. Saya pindahan dari Solo. Saya harap kalian dapat menerima saya, sebagai teman kalian," ucap Tyas berkata sembari tersenyum kepada penghuni kelas 12 IPA 1.
Seketika suasana berubah menjadi hening. Mereka semua menatap Tyas dari atas ke bawah. Ada yang berbisik-bisik dengan rekannya, mengomentari penampilan Tyas.
Hingga suara Ibu Kepala sekolah kembali terdengar."Ada yang ingin di tanyakan?"
Seorang perempuan mengangkat tangannya ke atas.
"lo itu, blasteran ya?" tanya gadis berambut panjang di yang duduk di pojok depan.
Tyas hanya tersenyum, seraya mengangguk. Biarkan orang lain yang melihat sendiri bagaimana dirinya.
Seorang perempuan dengan kaca mata juga mengangkat tangannya.
"Kenapa sih lo pakai jilbab bukannya panas ya? Lagian, kayak teroris lo pakai jilbab gitu. jadi takut."
Tyas sedikit tersenyum. "Dalam Agama saya, bagi perempuan di wajibkan untuk menutup auratnya. Salah satunya memakai jilbab. Sebagai seorang muslim, saya wajib untuk menutup aurat saya. Dan saya bukan teroris."
Jawaban dari Tyas mampu membuat penghuni kelas melongo mendengar penuturan Tyas. Ada yang kagum, namun tidak sedikit yang kesal dengan ucapan Tyas.
"Ada lagi yang mau bertanya?" tanya Ibu Kepala sekolah.
Semua diam, tidak ada yang bertanya lagi.
"Baiklah jika tidak ada yang bertanya. Silakan kamu Tyas duduk di sebelah Airlangga, " ucap Ibu Kepala sekolah.
Hal ini membuat beberapa siswa berbisik-bisik lagi. Karena keputusan kepala sekolah yang bisa di bilang cukup berani. Pasalnya, tidak ada yang mau duduk semeja dengan Airlangga.
Tyas sendiri tidak tau siapa orang yang dimaksud oleh Ibu Kepala sekolah. Hingga matanya tertuju pada lelaki yang sedang menatap kearahnya.Lelaki itu duduk sendiri. Membuat Tyas yakin jika dia yang bernama Airlangga.
"Apakah itu yang bernama Airlangga?" ucap Tyas dalam hati.
Tyas berjalan ke arah kursi kosong tersebut. Ia duduk di sana di sebelahnya seorang lelaki yang ia yakini adalah Airlangga. Setelah itu, Ibu kepala sekolah pamit untuk pergi.
Semua kembali fokus ke depan. Pelajaran hari ini adalah Matematika.
Tyas masih fokus ke arah soal tersebut.
"Baiklah anak-anak siapa yang bisa mengerjakan soal nomor 1? " tanya guru dengan kacamata tebal yang bertengger di hidungnya.
Airlangga yang duduk di samping Tyas mulai beranjak dari kursinya. Bersiap untuk berjalan ke depan. Namun, belum sempat melangkah. Guru sudah menegur Airlangga.
"Saya minta untuk kali ini jangan Airlangga lagi. Yang mengerjakan soal di depan. Yang lain gitu, gak ada kreatifnya banget," ucap guru tersebut. Membuat Langga kembali duduk di kursinya.
Seorang gadis mengangkat tangannya.
"Iya Sofi ada apa? Kamu mau mengerjakan soal ini?" tanya guru tersebut.
Gadis bernama Sofi itu tersenyum ragu dan menggelengkan kepalanya.
"Oh tidak Pak, saya cuma mau ngasih saran. Bagaimana, soal kali ini di kerjakan sama anak baru, Pak. Kan dia siswi beasiswa. Pasti bisalah buat mengerjakan soal di itu" ucap Sofi melirik Tyas.
Guru matematika terdiam sebentar.
"Baiklah Tyas silakan kamu kerjakan soal di depan," kata Guru matematika tersebut.
"Mampus, gue yakin tuh anak gak akan bisa ngerjain soal Pak Bondan."
"Yoi, soal Pak Bondan kan di atas rata-rata. Cuma Langga aja yang bisa."
"Pinter deh, lo Sof, kalau soal ngerjain orang."
"Lagian gayanya udik banget. Jijik gue liatnya.
Tyas menghela nafas, ia mendengar semua suara-suara itu. Langga melirik perempuan dengan jilbab yang menutupi kepalanya itu. Tatapan mereka bertemu sedetik kemudian Tyas mengalihkan tatapan matanya. Dan dapat di dengar oleh Langga ucapan istighfar dari mulut gadis itu.
Tyas berjalan ke arah papan tulis. Tanpa melihat ke bawah. Dan akhirnya...
Bruk...
Tyas terjatuh tersungkur ke bawah. Tyas sama sekali tidak melihat ada sebuah kaki yang menjulur untuk mengerjainya. Hal itu membuatnya tersandung dan jatuh ke bawah. Tyas hanya mampu beristighfar ketika semua murid 12 IPA 1 tertawa melihat dirinya yang jatuh ke bawah.
Tyas tersenyum lalu bangkit dan berjalan kembali menuju papan tulis.
Tyas mulai mengerjakan soal tersebut. Tidak sampai 2 menit soal tersebut sudah selsai ia kerjakan. Gadis itu tersenyum puas terhadap jawaban yang baru saja ia kerjakan itu.
Guru matematika itu mengamati jawaban yang di berikan oleh Tyas. Lalu beliau tersenyum kagum. Karena jawaban yang di berikan oleh Tyas benar semua.
"Jawabannya benar. Tyas kamu boleh kembali duduk di tempat duduk kamu," ucap Pak Bondan.
Tyas pun berjalan ke arah kursinya.
Semua murid di 12 IPA 1 terbelak tidak percaya. Pasalnya soal yang di kerjakan oleh Tyas merupakan Soal untuk tingkat S2. Tapi dengan mudahnya Tyas mengerjakan soal tersebut.
Banyak siswa maupun siswi yang menatap kagum kearahnya. Tyas pun kembali duduk. Perasaanya begitu lega karena bisa mengerjakan soal tersebut. Meski butuh waktu 2 menit.
'Gila dia pinter cuy!"
'Gagal dong kita ngerjain dia."
"Tenang, masih ada hari selanjutnya."
Langga melirik Tyas yang sudah duduk di sampingnya. Ia kira, Tyas tidak mampu mengerjakan soal tersebut. Karena soal-soal itu belum pernah di ajarkan oleh Pak Bondan. Guru matematika terkejam.
Dan Pak Bondan selalu mengambil soal-soal dari S2 namun, tidak di sangka Tyas mampu menyelesaikan semuanya. Apa mungkin Tyas akan menjadi rival barunya? Dalam hal pelajaran? Tapi Langga tidak yakin, jika Tyas unggul dalam bidang olahraga.
Ya, Langga tau. Ia tidak bisa meremehkan begitu saja gadis di sebelahnya. Harus tetap waspada, karena bisa-bisa peringkat satu yang selama ini ia pertahanan kan di ambil. oleh Tyas. Dan Langga tidak mau itu terjadi. Bagaiman pun ia harus tetap mempertahankan kepintarannya.
Tyas menyiapkan alat tulis, namun ia melirik Langga yang tengah menatapnya.
"Astagfirullah... " gumam Tyas. Tyas kembali menunduk. "Kenapa? kamu liatin saya?"
Langga diam, tidak menjawab ucapan Tyas. Lelaki itu memilih untuk membuka buku, dan fokus belajar.