TEMAN BARU

1025 Words
Bel istirahat berbunyi membuat beberapa murid pergi meninggalkan kelas. Sementara Tyas gadis itu masih duduk di kursinya. Ia menatap punggung tegap Airlangga yang pergi meninggal kan kelas. Ia pikir Airlangga akan mengajaknya untuk sekedar melihat lihat sekolah barunya. Seperti kebanyakan novel novel yang ia baca. Nyatanya, tidak bahkan lelaki itu belum mengenalkan dirinya secara resmi kepada Tyas Satu persatu murid kelas 12 IPA 1 pergi meninggalkan kelas. Terlihat gadis berkacamata itu berjalan menghampiri Tyas. "Hay Tyas gue Mentari Sandra Dewi. Panggil aja Mentari, " ucap gadis berkacamata itu mengenalkan dirinya kepada Tyas. Ia juga mengulurkan tangannya di depan Tyas. "Hay Tari salam kenal saya Tyas." Tyas tetang senyum, seraya membalas jabatan tangan Mentari. "Kamu gak ke kantin?" tanya Tyas ketika Mentari duduk di kursi sebelahnya. "Sebenarnya gue tadi mau ke kantin. Cuma gue liat lo, jadi ya gue samperin lo deh," jawab Mentari. Tyas mengangguk paham. "Lo sendiri gak mau ke kantin?" tanya Mentari menatap Tyas. Tyas tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. "Kenapa?" tanya Mentari "Pasti makanan di sini mahal-mahal. Saya gak punya uang buat jajan. Makan saja sudah bersyukur," ucap Tyas tersenyum miris. Tari mengkerutkan keningnya. "Yas meskipun sekolah ini sekolah elit. Tapi di sini itu memperlakukan murid dengan adil." "Maksudnya adil gimana?" tanya Tyas bingung. "Jadi, lo itu bukan cuma dapat beasiswa sekolah gratis. Lo juga bakalan di kasih sebuah kartu atau sejenisnya voucher. Nah cuma, lo pasti dapat kok. Jadi lo gak perlu khawatir, bingung mau makan apa. Karena makan pun masih di tanggung. Kalau masih di lingkungan sekolah. Asalkan, lo makannya di tempat/kantin yang telah di tentukan," jelas Mentari panjang lebar. "Kartu FF lo di mana?" tanya Mentari lagi. "Tadi Bu Vika bilang, semua kebutuhan saya ada di loker," jawab Tyas. "Ya jadi kartu FF lo ada di loker," ucap Mentari. Gadis itu beranjak dari duduknya. "FF?" tanya Tyas bingung. "Free Food," jawab Mentari. "Em, lo mau gue temenin ke loker lo, gak?" tanya Mentari lagi. "Boleh yuk. Sekalian saya mau jalan-jalan keliling sekolah ini. Kamu mau nemenin saya, kan?" tanya Tyas. "Mau," jawab Mentari antusias. Mereka berdua pergi meninggalkan kelas. Menyusuri koridor sekolah. "Ini gedung olahraga. Di dalam peralatan olahraga lengkap. Ada lapangan futsal, basket, tenis meja, bulu tangkis, pokoknya lengkap banget!" ucap Mentari mulai menjelaskan satu persatu ruangan yang ada di sekolahnya. Mereka melangkah kembali. Ke bagian koridor sebelah kanan. "Ini toiletnya. Yang sebelah kakan buat cewek. Dan yang sebelah kiri buat cowok. Nah kalau yang itu toilet darurat. Ada juga kok tulisannya." Mentari menjelaskan tiap detail sekolah. Hingga akhirnya mereka sampai di ruangan terakhir. Yaitu ruangan loker siswa. "Nah ini ruangan loker. Nomor loker lo berapa?" tanya Mentari "Nomor loker saya 352, " jawab Tyas sembari menunjukan kunci loker di tangannya. Meraka mulai mencari nomor loker milik Tyas. Tidak lama kemudian mereka mendapatkan loket tersebut. Tyas mulai membuka pintu lokernya. Lokernya cukup luas sedkitar 40 cm. Berbentuk kotak kubus. Di dalam Loker tersebut ada baju seragam lengkap, buku paket lengkap, kartu bukti beasiswa atau KBB, Kartu Free Food Atau FF, Dan kartu pelajar. "Ini yang kamu maksud kartu Free Food itu?" tanya Tyas sembari menunjukkan sebuah karu kepada Mentari. "Iya. Coba liat," sahut Mentari mengambil kartu tersebut dari tangan Tyas. "Nanti kalau masanya udah abis lo tinggal minta ke ruang tata usaha. Jangan sampai ilang ya. Soalnya ngurusnya agak susah," ucap Mentari kepada Tyas. Tyas hanya mengangguk mendengar perkataan Tari. Ia kembali menatap Kartu Free Food miliknya itu. "Ya udah yuk. Kita lanjut keliling sekolahnya," ajak Mentari seraya menarik tangan Tyas. Untuk pergi dari ruangan loker. Keduanya berjalan beriringan, melanjutkan perjalanan mereka. Untuk mengelilingi sekolah mereka. *** Tyas dan Mentari masuk kedalam kantin. Setelah membayar dengan kartu free food miliknya. Tyas dan Mentari duduk di salah satu meja di kantin. Semua penghuni kantin menatap Tyas aneh, tidak sedikit pula di antara mereka yang menjelek-jelekkan Tyas. "Ngeri gak sih? Kalau misalkan dia tiba-tiba naro bom di kantin." "Duh, ngeri banget pasti itu mah. Eh tapi kenapa dia naro bom?" "Chika! Lo g****k banget sih. Dia kan teroris! Liat aja dari pakaiannya juga keliatan begitu!" Tyas menyedot minumannya. Lalu tersenyum menatap Mentari. "Kamu gak malu?" Mentari mengerutkan keningnya. Karena tiba-tiba Tyas berkata seperti itu. "Gue? Lo ngomong sama gue?" tanya Mentari memastikan. Tyas hanya menganggukkan kepalanya. "Ngapain malu? Malah gue tuh bangga tau bisa punya teman kek lo," ucap Mentari membuat Tyas melongo bingung. "Bangga?" tanya Tyas, mentari menganggukkan kepalanya. "Lo itu, teman terbaik yang pernah gue milikin. Lo itu istimewa mereka aja belum kenal sama lo. Iya kan? Pepatah gak kenal maka tak sayang itu bener tau," ucap Mentari seraya tertawa menatap Tyas. "Alhamdulillah kalau kamu tidak terganggu berteman dengan saya," balas Tyas. "Santai Yas, lo itu kaku amat. Gue mau banget jadi teman lo kok," ucap Mentari. Tyas menatap haru Mentari. Tidak menyangka, ia akan mendapatkan sahabat terbaik seperi Mentari. Sementara itu, kondisi masih sama. Banyak sekali orang yang menatap tidak suka kearah mereka. Entah apa yang membuat mereka iri dengan Tyas. Gadis beasiswa yang seketika terkenal di sekolah barunya. **** Setelah pulang sekolah. Tyas berangkat untuk berjualan siang ini. Gadis bergamis putih itu mengayuh sepedanya di bawah sinar terik matahari. "Kue.... Kue.... Kue.... " ucap Tyas, menawarkan dagangannya.Tyas sudah mulai berani menjajakan dagangannya ke jalan besar. Hingga ia berhenti di lampu merah. Ada seseorang yang membeli kuenya. Setelah melayani seseorang tersebut. Tyas berjalan menepi ke pinggiran. Kedua mata berwarna hijau itu menyipit, ketika sinar matahari menyinari dirinya. Ia melihat sosok anak kecil yang sedang menangis. Anehnya, orang sekitar tidak peduli dengan hal itu. Tyas menuntun sepedanya berjalan ke arah anak kecil tersebut. "Dek, adek manis kenapa? Kok bisa di sini sendiri?" tanya Tyas dengan lembut. Sontak anak kecil tersebut langsung memeluk tubuhnya. "Kak, Aya takut.." Tyas membalas pelukan anak kecil tersebut. "Jangan takut, ada kakak di sini. Kamu kenapa bisa sampai di sini?" Tyas menatap anak kecil tersebut. Ia juga mengusap kepala anak kecil tersebut. "Aya gak tau... Tadi Aya pelgi gitu aja. Aya bandel gak ikutin kata Bunda," ucap anak kecil itu. Tyas melihat seragam sekolah yang melekat pada tubuh anak kecil tersebut. "Tk Kasih Bunda? Keknya tadi saya ngelewatin," batin Tyas. "Kakak anterin kamu ya? Mau?" tanya Tyas dengan begitu lembut. Sontak gadis kecil itu mengangguk. Tyas menitipkan dagangannya di salah satu warung. Lalu ia berjalan mengantarkan anak kecil tersebut. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD