Ritual ziarah lebaran ke makam orang tua sudah merupakan agenda tahunan di desaku, termasuk dalam keluargaku.
Dengan tergesa-gesa aku masuk kedalam mobil, di dalam mobil anakku yang paling kecil usia enam tahun sudah menunggu.
" Kita akan kemana ayah?" tanya nya.
" Kita akan ke makam nenek, pasang sabuk pengamanmu, kita sudah telat ini, kakak dan ibumu juga kakek sudah menunggu kita di sana" jawabku sambil aku nyalakan mesin mobilku.
Aku injak pedal gas dalam-dalam agar mobilku bisa melaju lebih kencang lagi dengan harapan bapakku tidak terlalu lama menunggu di makam ibuku. Kurang dari sepuluh menit aku sudah sampai di makam ibu. Di sana keluarga besarku sudah pada duduk bersimpuh di dekat makam ibu. Kakak dan adikku juga keluarganya sudah sampai lebih dulu sementara istriku dan anakku yang paling besar nampak gusar melihat aku datang terlambat.
" Dari mana aja si pak, bapak, kakak juga adek dah nunggu dari tadi" tanya istriku dengan ekspresi wajah yang kesel.
" Tadi ke toilet dulu bu, perut bapak mendadak mules" jawabku.
Aku menengok ke arah bapakku, rupanya dia dari tadi melihat ke arahku lalu dia memberi kode agar aku duduk di depan sejajar dengan kakak dan adik-adikku. Tidak lama berselang bapak mulai mebakar serabut kelapa dan menabur kemenyan di serabut kelapa yang terbakar tersebut. Lalu bapak membacakan doa-doa dan mungkin juga mantra. Asap mengepul ke udara semakin lama semakin tebal memenuhi udara di sekitar makam ibu. Nafasku mulai terasa sesak karena menghirup asap bercampur bau kemenyan. Dalam nafas yang sedikit sesak aku terus fokus menyimak doa-doa bapak untuk ibu, keluarga juga nenek moyang yang sudah meninggal lebih dulu. Sekali sekali aku bilang " Amiin".
Bersamaan dengan suara doa doa bapak, pikiranku melayang kemasa lalu. Masa dimana ibu masih hidup bersama kami. Masa dimana aku masih menyandang status mahasiswa diperguruan negeri di kota Yogyakarta. Masa dimana ibu selalu mengkhawatirkan keselematanku karena situasi dan kondisi saat itu sedang bergejolak, di mana mahasiswa menuntut reformasi dan kebebasan hak hidup. Namun sejujurnya aku bukan seorang yang menjadi tokoh dalam setiap aksi mahasiswa, karena aku lebih memilih untuk fokus menyelesaikan kuliahku, ketimbang aktif dalam kegiatan ekstra di luar mata kuliah formal seperti demontrasi dan lain-lain. Namun sebagai tanggung jawab moralku sebagai mahsiswa aku juga beberapa kali ikut turun kejalan menuntut reformasi. Gencarnya pemberitaan tentang demontrasi saat itu, sehingga sampai juga ke telinga ibu. Dan hal tersebut telah membuat ibu mengkhawatirkan aku. Walo kondisi di jogja berbeda dengan di Jakarta namun ibu tetap saja menganggap semua mahasiswa di seluruh Indonesia sedang berperang dengan polisi. Sedang berjuang menuntut reformasi.