Singapura. Sudah beberapa hari ini perasaan nana tidak tenang. Nalurinya mengatakan ada sesuatu yang terjadi, tapi entah apa. Mencari cara untuk menghilangkan firasat buruk itu dengan fokus pada pekerjaan atau sedikit hiburan, tetap tidak bisa.
Di tengah kesibukannya merias model, pikiran nana tertuju pada nando, entah kenapa sangat merindukan laki-laki itu. Sering dia meninggalkan sang suami keluar kota, tapi tidak pernah merasakan kerinduan yang menyiksa seperti ini, hanya rindu sebatas wajar.
Seringnya melamun, menyebabkan nana terkena teguran, karena hasil riasan tidak memuaskan, bukan mempercantik, malah bikin hancur wajah orang.
nana kerap kali mengumpat dirinya sendiri yang ceroboh, tidak biasanya dia seperti itu. Dia seorang penata rias profesional, sudah wara-wiri di kalangan selebritis maupun foto model, sebab itu bagi mereka yang sudah sangat mengenalnya, merasa heran dengan tingkah aneh yang terjadi pada wanita itu.
"Kamu kenapa sih, akhir-akhir ini terlihat kacau banget," tanya wanita bertubuh gemuk, sesama rekan kerja nana.
"Entahlah, Ta, aku juga gak ngerti apa yang terjadi sama aku." nana membuang napas kasar. Dia baru menyelesaikan riasan seorang model. Biasanya hanya menghabiskan waktu sebentar, sedang tadi nyaris berjam-jam.
"Sepertinya kamu butuh istirahat, butuh refreshing. Kenapa gak minta cuti saja, na?" saran Tabitha, dapat merasakan kalau Miranti sedang dalam kondisi kurang baik.
"Sepertinya iya, aku butuh istirahat yang full. Aku terlalu kecapean jadinya kerjaanku tidak fokus."
"Selain itu ... kamu pasti lagi kangen sama suami kamu. Iya, kan?" Ucapan Tabitha setengah menggoda, karena dia pernah tidak sengaja mendengar nana menggumamkan nama nando.
"Iya, Ta, sepertinya aku memang sedang merindukan suamiku." nana tersenyum, tidak mengelak tuduhan Tabitha yang memang benar adanya.
"Nah, supaya hatimu sedikit tenang, coba deh, telepon dia, atau VC, gitu. Lagian kamu ini gak takut apa ya, suami ganteng, tajir melintir ditinggalin berdua sama adik cewekmu, apa gak bahaya, tuh?!"
nana merenungi ucapan temannya. Bagai tersadar dari dunia halu, bahwa hidup tidak seindah kisah cintanya yang dulu sewaktu masih pacaran. nana mulai cemas, bagaimana kalau benar bahaya, meninggalkan sang kakak seatap dengan iparnya.
Tidak ada yang tidak mungkin, banyak contoh kejadian mengerikan melibatkan orang-orang tersayang. Lingkungan yang semula harmonis, damai tentram hancur berkeping karena adanya kesempatan dua insan berlainan jenis, bukan mahram disatukan.
riffa gadis cantik, nando pria yang tampan, keduanya sama-sama dewasa dan normal, istri macam apa yang membiarkan mereka tinggal berdua, sedangkan dia sendiri jauh di negeri orang, demi mengejar karir.
"Aku harus menelpon suamiku, Ta." nana mengambil ponsel dalam tas selempangnya.
"Ya udah, sana, telepon gih!"
nana pamit keluar dari ruangan khusus untuk merias, mencari tempat yang agak jauh dari keramaian untuk melakukan panggilan telepon.
Hati nana berdebar tidak karuan, bayangan buruk akan kebersamaan suami dan adiknya di Jakarta terus mengganggu, sehingga dia menjadi takut sesuatu yang buruk terjadi, ditambah firasatnya yang tidak enak selama beberapa hari ini.
Wanita itu sempat menghitung waktu, di Singapura saat ini pukul sembilan malam, kemungkinan di Jakarta pukul delapan malam, karena perbedaan satu jam lebih cepat di Singapura.
Panggilan kedua nana baru diangkat oleh nando.
"Hallo, Sayang," ucap nana, suaranya agak bergetar, perpaduan rindu dan khawatir dengan prasangka hatinya.
"Iya, na, ada apa?"
Diam sejenak, nana mengatur nada suaranya agar tidak terdengar bergetar, sehingga mengundang heran nando.
"Gimana kabarmu di sana, Sayang?" tanya nana kemudian.
nana sudah terbiasa memanggil sang suami dengan istilah 'Sayang' demikian pula dengan nanado, hanya saja pria itu menggunakannya di saat tertentu, selebihnya terkadang menyebut nama.
"Aku baik-baik saja, kamu sendiri gimana?"
nana merasa suara nando terdengar datar, tidak ada antusias sebagaimana pasangan suami istri saling mencintai dijauhkan jarak dan waktu, pastinya ada hasrat menggebu sebagai ungkapan rindu.
nana mencoba berpikir positif, bahwa nando mungkin masih menyimpan dongkol atas kepergiannya, apa lagi waktu itu dia tidak sempat memenuhi keinginan sang suami melepaskan hasratnya.
"Aku kangen kamu, Sayang." Suara nana berubah sendu.
Lama tidak ada tanggapan dari seberang telepon. nana harap-harap cemas apa yang sedang nando pikirkan di seberang sana.
"Sayang, malam ini aku harus menemui rekan bisnis, gimana kalau teleponnya kita sambung besok."
Rasa kecewa menyelusup di hati nana. "Malam-malam gini mau nemuin rekan bisnis?" Dia merasa nando mencari alasan hendak menghindari obrolan lebih lama dengannya.
"Iya, Sayang, aku gak bohong. Tuan Kim sengaja ngajak ketemuan malam ini sekalian mengundang makan malam, karena lusa kami harus kembali ke kota masing-masing."
"Emangnya sekarang kamu lagi di mana?"
"Oh, aku lupa ngasih tau. Sekarang aku sedang di Surabaya, mewakili perusahaan atas permintaan papah."
"Oh, begitu. Terus kamu sendiri ke Surabaya?"
"Mmm, itu ... ada Hendro yang nemenin, itu juga atas perintah papah. Sudah dulu ya, Sayang, aku buru-buru, Hendro sudah memanggil, katanya Tuan Kim sudah menunggu. Bye, muach, sampai jumpa!"
"Tunggu, tunggu! Hallo, Sayang! Yaaah, keburu mati, deh. Aku mau nanyain di Surabayanya dia di hotel mana. Ya sudahlah."
nana teringat riffa. nando sedang di Kota Pahlawan, itu berarti adiknya sendirian di rumah. Kasihan sekali, tidak ada temannya, pasti kesepian. Batin nana, kemudian mencoba menghubungi telepon genggam riffa.
Sayang sekali HP riffa selalu operator yang menjawab, nomor yang dihubungi tidak aktif. "Mungkin riffa sudah tidur," gumamnya.
Sebelum nana beranjak dari tempatnya, dia mengutak-atik ponsel, mencari kediaman nanado saat ini melalui GPS. Bibirnya menyunggingkan senyum, sambil kepala manggut-manggut.
"Baiklah, tunggu kejutanku besok."
~~~
nana menginjakkan kakinya di Bandara Juanda, setelah melakukan perjalanan Singapura-Surabaya selama kurang lebih dua jam. Lalu lanjut perjalanan menggunakan grab menuju hotel bintang lima Surabaya selama satu jam.
Berkat adanya GPS dan alat pelacak yang dia pasang di ponsel suami, memudahkan wanita cantik berambut gelombang sepunggung itu mencari keberadaan Rifaldi. Namun, tentu saja tidak lepas dari hambatan, hanya saja dia mampu mengatasinya.
"Apakah suamiku menginap di hotel ini?" tanya nana pada resepsionis. Dari sikapnya seperti tidak sabar.
"Maaf, siapa nama suami nyonya?"
"nando Aryawicaksana," jawab Miranti.
Wanita berkulit putih itu sengaja tidak memberitahu kedatangannya ke hotel Surabaya ini pada nando. Dia ingin memberi kejutan, dan berharap penuh sang suami bahagia dengan kedatangannya.
"Tuan nando ada di kamar hotel nomor 350, Nyonya, dan kebetulan beliau masih di kamarnya," ucap wanita cantik resepsionis itu sambil tersenyum manis.
"Alhamdulillah, terima kasih banyak, aku segera ke sana. Tolong jangan kasih tau suamiku, istrinya datang. Aku ingin memberinya supraise."
Resepsionis itu tersenyum makin lebar. "Tidak masalah, Nyonya, silakan."
Lift bergerak terasa lambat disisi nana, rasa rindunya kian membuncah, ingin secepatnya sampai di kamar hotel yang ditempati nando.
nana akhirnya tiba di kamar bernomor 350. Dia menyiapkan diri dengan membenahi penampilannya yang dirasa sedikit kusut pasca perjalanan. Memantapkan hati memijit bel.
Jantung nana berdegup kencang, telinganya menangkap langkah mendekati pintu, pertanda penghuninya memang berada di dalam. Tidak berapa lama pintu dibuka, menampakan sosok tubuh berbalut kimono tidur.
"Kejutaaan!"
Bersambung