part 8

1008 Words
"na-nana--" Belum sempat nando melanjutkan ucapan, nana menghambur kepelukannya sampai pria itu hampir terjengkang ke belakang, karena posisi yang tidak siap. "Ba-bagaimana kamu bisa sampai sini?" nando masih dikuasai kegugupan. Kepalanya celingak-celinguk seolah mencari sesuatu. Gurat panik tercetak jelas di wajah tampannya. Namun, secepatnya ekspresi itu disembunyikan sebelum nana menaruh curiga. "Itu hal mudah, cuma tinggal beli tiket pesawat, terbang, lalu sampai ke sini. Aku kangen kamu, Sayang." nana mendaratkan ciuman bertubi-tubi di pipi dan bibir nando. Mendapat serangan dadakan sang pria kelabakan. "na-nana, hentikan!" nando menahan wajah sang istri dengan membingkainya, supaya berhenti dari sikap posesifnya. "Kenapa? Apa kamu gak kangen sama aku?" nana memanyunkan bibir. "Bukan begitu, tentu saja aku kangen, tapi caramu itu bikin aku jantungan, tau." nando mencapit hidung nana dengan jari, mencoba mencairkan suasana hatinya yang tegang. "Namanya juga supraise." nana tertawa, memahami keterkejutan nando. Selanjutnya dia menarik koper, membawanya lebih masuk. Wanita itu mengalungkan lengan di leher nanado. "Ah, akhirnya aku bisa ketemu juga dengan suami tercintaku, setelah semalaman aku gak bisa tidur, saking mencemaskanmu." Dahi nandi mengerut. "Kenapa mencemaskan aku? Bukannya semalam aku udah ngasih tau kamu, kalau aku memenuhi undangan makan malam Tuan Kim." "Iya, aku ingat, kok. Tapi entahlah, aku merasa kamu akan menghilang dariku, aku takut kamu berpaling dariku, gara-gara aku sering mengabaikan kamu. Maafkan aku, ya." nana mengelus lembut leher belakang nando, menimbulkan riak aneh pada darah kelelakiannya. Hati nando tertohok dengan ucapan nana. Feeling istrinya sungguh kuat, yang dirasakan wanita itu benar adanya. Benar bahwa dirinya mulai berpaling ke lain hati, dan yang lebih parah, si penghuni hati baru adalah riffa, kakak kandung wanita itu. nando teringat nana. Gadis itu tidak terlihat sejauh mata mengitari ruangan, padahal tadi masih terlihat di dalam kamar sebelum bel bunyi. Apakah riffa sembunyi di kamar mandi, pikirnya. Ah, kasihan gadis itu terjebak disituasi yang tidak terduga. Bisa perang dunia jika nana melihat riffq ada di sini, satu kamar dengannya. Cinta terlarang ini belum siap untuk diungkap mengingat Amanda semalam kukuh meminta nando untuk merahasiakan hubungan mereka dari siapapun. "Sayang, kok, diam aja?" nando mengusap rahang sang pria yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus. "Tidak apa-apa, aku hanya masih speechless dengan kedatanganmu. Kejutan yang luar biasa." nana kembali terkekeh, kemudian menarik lengan nando memasuki kamar tidur, seraya mengamati keadaan ruangan yang begitu nyaman, hanya tempat tidur yang terlihat agak berantakan. Pastinya bekas tidur lelakiku, monolog hati nana, gelenyar aneh merajalela di sekujur tubuh wanita itu, membayangkan di atas benda empuk itu dirinya tengah memadu kasih dengan sang suami. Lain halnya dengan nando. Dia baru saja mengembuskan napas lega, tidak terdapat barang riffa di kamar ini. Sedangkan koper gadis itu sedari awal kedatangan ditaruh di ruangan tengah, dan nana untungnya tidak melihat. Bahkan barang-barang milik gadis itu yang semalam bertebar di kamar ini sudah tidak ada, mungkin riffa sempat membereskannya. Bisa nando bayangkan betapa kalangkabutnya riffa saat tahu yang datang nana. Yang jadi pertanyaan di benak nando adalah, di mana riffa sembunyi? "Aku mencintaimu, merindukanmu," desis nana seraya menghirup aroma sabun mandi serta shampo dari rambut sang pria yang masih basah. nando tersentak, nana memelukannya dari belakang, tangan menyelusup di antara belahan kimono handuk yang dikenakan pria itu, meraba-raba d**a bidangnya. Mendapat perlakuan erotis sang istri, h*sr*t kelelakian nana bangkit. Bagaimanapun juga nana istrinya, masih tersisa cinta dan kasih sayang untuknya, terlebih aktivitas r*nj*ng yang biasa mereka lakukan selalu penuh sensasi. Sebagai pria normal, tidak mungkin tidak terpancing. "Sayang, apa kamu tidak menginginkan aku?" Suara nana tercekat, seakan sedang menahan sesuatu yang meletup-letup dalam dadanya. "Te-tentu saja aku menginginkanmu ...." Kedua pasangan itu hanyut dalam pagutan, kemudian lanjut saling melepaskan rindu dalam buaian asmara di atas pembaringan. Sementara itu di toilet yang terdapat dalam kamar, riffa sedang mati-matian menahan sesak di d**a. Suara riuh saling bersahutan penuh g*i*ah bagaikan ujung tombak tidak kasat mata menusuk-nusuk jantungnya. Tubuh riffa luruh di lantai kamar mandi, dengan air mata bercucuran deras. Aktivitas di kamar itu sangat menyiksa jiwa raganya. Sakit di d**a tidak terlukiskan perihnya. Semalam nando menggebu-gebu mengungkapkan cinta untuknya, tapi disuguhkan kemesraan dari Miranti tidak sanggup menolak. Sebelumnya, riffa tengah berbaring nyenyak, saat nando sedang melakukan ritual mandi. Gadis itu terbangun dengan bel yang dibunyikan, lalu bangkit dari pembaringan bermaksud hendak membuka pintu. Namun, nando terlebih dahulu menghampiri benda tersebut. riffa bagai disengat kalajengking, saat mendengar suara nana. Panik melandanya, tanpa pikir panjang menyambar segala barang miliknya yang ada di kamar sampai tidak tersisa. Pakaian, tas slempang, dan tidak ketinggalan ponsel, semua dia raup, kemudian dibawa lari ke kamar mandi, karena tidak adanya tempat untuk sembunyi. Di dalam sana riffa berusaha tidak menimbulkan suara yang bisa mengundang kecurigaan sang kakak. Dalam hati merapal doa nana tidak berkeinginan ke kamar mandi, dan tidak melihat koper yang dia taruh di ruang depan. riffa mendengar setiap percakapan pasangan itu. Bahkan sampai aktivitas suami istri tidak luput dari pendengarannya, meskipun sudah menutup telinga dengan rapat. Batin riffa menjerit. Beberapa menit berlalu, suara penuh desahan dan erang kenikmatan itu tidak lagi terdengar. riffa mengusap air mata, lalu bangkit dari lantai, selanjutkan menempelkan daun telinga pada pintu, benar-benar hening. riffa meraup udara sebanyak-banyaknya untuk menambah oksigen dalam d**a yang dirasa menipis. Mengumpulkan kekuatan untuk membuka pintu tempat persembunyiannya. Bagaimanapun dia harus keluar dari hotel ini. Sangat pelan riffa menekan handle pintu supaya tidak bersuara, melongokkan kepala sedikit. Gadis itu mencoba keluar seutuhnya karena belum terlihat yang jadi sasaran matanya. Jantung riffa berdegup kencang, nyeri itu kembali menyapa hatinya. Di sana di atas tempat tidur, nana sedang tidur dengan posisi samping nando, tubuhnya tertutup selimut, menyisakan pundak putih yang terekspose tanpa tertutup kain. nando sendiri sedang bersandar di sandaran ranjang. Kepalanya refleks menoleh saat riffa melangkah pelan, melintas beberapa meter di sampingnya. Pria itu beringsut, secepatnya riffa menaruh telunjuk di bibir, sedangkan satu tangannya merentang ke depan sebagai isyarat meminta Rifaldi tetap di tempat. riffa khawatir gerakan yang ditimbulkan Rifaldi dapat membangunkan nana. Sang pria menatap nanar riffa yang matanya mulai meluruhkan cairan bening, terdapat luka dalam sorotnya. riffa berhasil keluar dari kamar menyesakan itu tanpa bersuara setelah secepatnya menyambar koper. Langkahnya sedikit terseok menahan bobot tubuh yang berguncang hebat. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD