OUTHOR MAU MINTA MAAF NIH BUAT KALIAN YANG MENEMUKAN NAMA DALAM CERITA INI ADA YG BERBEDA KARNA INI KARYA LAMA YANG SAYA ROMBAK SEDIKIT, MUNGKIN ADA YG TERLEWAT SAAT DIUBAH? MAAF YA KALAU KARNA ITU JADI MEMBUAT KALIAN BINGUNG DENGAN CERITA INI???
riffa membawa raga dengan lesu menyusuri trotoar. Dia benar-benar telah keluar dari area hotel nando menginap, dengan pisau belati kasat mata menancap di hatinya, sakit bukan main.
riffa tidak sanggup lagi berjalan, menempelkan pantatnya di bangku sebuah taman yang terdapat di tengah kota. Kembali dia melanjutkan menangis, yang sedari tadi berusaha ditahannya.
Bayangan di kamar hotel tadi terus bermain di pelupuk matanya. riffa bahkan menyimpan luka hati yang lebih dalam lagi, disertai penyesalan atas apa yang terjadi semalam bersama nando.
Setelah nando menutup telepon dengan memberi nana alasan hendak memenuhi undangan makan malam Tuan Kim, sesungguhnya hanya untuk melanjutkan acara cengkrama mereka. dan berakhir saling menyatukan diri di atas ranjang.
riffa sepenuhnya percaya pada cinta nando, sehingga rela menyerahkan kesucian demi bukti, bahwa dia pun teramat mencintai laki-laki itu. Hanya dalam hitungan jam, keindahan tabu itu berubah sesal, ternyata sang kumbang tidak cukup mereguk madu pada satu bunga.
riffa menangis tersedu. Kenapa begitu mudah terbuai keindahan semu, sampai menyerahkan diri dengan gampangnya. Cinta, semua itu karena cinta. Lalu, bagaimana ke depannya?
riffa menghentikan tangis, karena sesorang mencolek pundaknya. Kepala gadis itu mendongkak, melihat siapa yang sudah mengganggu acara menangisnya.
Seorang pria cukup dewasa. Manda mencoba mengingat-ingat wajah tampan berkulit putih bersih, siapa tahu pernah mengenalnya, tapi paras itu sama sekali asing.
"Butuh ini?" ucap pria itu, tangan yang dipakai mencolek ternyata sambil menyodorkan sapu tangan.
riffa tidak menjawab, tapi mengambil kain kecil berlipat berbau harum tersebut. Menyeka air mata dan cairan yang keluar dari hidung sampai benar-benar kering. Tanpa permisi pria asing itu duduk di sebelah riffa, kebetulan bangku taman itu muat untuk bertiga.
"Sudah puas menangisnya?" tanya pria itu lagi seraya mengedarkan tatapannya pada seisi taman, tidak terlalu ramai, malah terbilang agak sepi.
riffa menoleh, mengamati wajah tanpa ekspresi sang pria. Hidung mancung, mata kecil dengan sorot tajam mengarah ke depan. Alis hitam dan tebal, serta rambut yang tersisir rapi ke samping. riffa mendeksprisikan sosok itu mirip pemeran Aldebaran.
"Aku memang tampan, tidak perlu mengamati wajahku sampai segitunya."
riffa melongo, detik berikutnya mendengkus kecil. Pede sekali laki-laki itu, sok ganteng, cibir sang gadis dalam hatinya.
"Ini!" riffa menyodorkan sapu tangan pada pemiliknya.
"Pakai saja, aku sedang tidak membutuhkannya. Lagian kalau mau ngembaliin, cuci dulu."
"Ck, menyebalkan!" umpat riffa. Sang pria hanya memiringkan bibirnya sedikit, menyerupai seringai kecil.
"Mau aku kasih saran?" tawar pria tersebut.
"Untuk?"
"Sebaiknya carilah pria single, nando tidak cocok untukmu."
Lagi dan lagi riffa dibuat melongo. Siapa makhluk ini, kenapa bisa mengenal nando. riffa mulai merasa terancam, karena pria asing itu mengetahui hubungan terlarangnya dengan adek ipar.
"Dari mana kamu kenal nando? Dan siapa kamu berani-beraninya ngatur hidup aku? Aku tidak mengenalmu, tapi kamu sok pahlawan memperingatkan aku!" Suara riffa terdengar ketus, bahkan terkesan marah.
"Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya kasihan sama kamu. Lihat saja sekarang, kamu terlihat kacau dan menyedihkan sekali." Mata pria bermanik legam itu mengamati wajah sembab riffa.
"Aku tau tentang kamu mencintai Rifaldi, suami dari kakakmu sendiri. Kamu masih sangat muda, sebaiknya mencari yang sepadan, jangan jadi duri dalam rumah tangga mereka."
"Cukup! Siapapun kamu, jangan ikut campur urusanku. Kenal saja tidak, sok-sokan peduli sama aku. Dengar! Aku bukan duri yang kamu maksud, karena Bang Rif juga mencintai aku." Wajah riffa merah bak tomat matang, kontras dengan kulitnya yang putih.
Sang pria memutar bola mata. "Keras kepala! Baiklah, up to you. Aku hanya coba peduli supaya gadis di sampingku sadar dari kebodohannya."
"Kamu ...." riffa geram dikatakan bodoh, ingin rasanya mencakar wajah tampan beraut dingin, tapi sok peduli itu.
Sang pria kembali menyeringai, lalu merogoh saku kemeja putih di balik jas biru toskanya. "Ini tiket buat kamu pulang ke Jakarta, aku tau kamu membutuhkannya."
Setelah menaruh tiket pesawat di bangku, pria yang memiliki postur tinggi dengan bentuk tubuh ideal itu berdiri, lalu meninggalkan gadis yang sedang kebingungan.
Pria itu benar-benar perhatian, dan tiket ini, kapan dia beli? Batin riffa tidak habis pikir.
"Hei, kamu itu sebenarnya siapa, sih? Kenapa peduli sama aku?!" seruan ruffa menghentikan langkah pria itu.
"Anggap saja aku teman yang kasihan melihat kawannya kesulitan?" Setelah berkata demikian, pria itu kembali melanjutkan langkahnya.
"Tunggu!" Meskipun jengkel dengan ucapan absurd laki-laki itu, ruffa beranjak dari tempat, menggusur kopernya menghampiri sang pria.
~~~
Suasana dalam mobil begitu hening. Tatapan riffa kosong mengarah keluar, dengan kepala terkulai di sandaran jok. Pria di belakang stir sesekali meliriknya.
"Erlangga." Pria itu memperkenalkan diri, dan sukses menolehkan kepala ruffa ke arahnya.
"Maksudmu, Erlangga, siapa?"
"Namaku Erlangga Harispati."
riffa manggut-manggut, baru sadar maksud pria yang dia tafsir usianya tidak jauh di bawah adek iparnya.
"riffa."
"Aku tau, riffa Kumalasastri."
riffa tidak lagi kaget, pria itu serba tahu perihal dirinya. Bahkan hubungannya dengan nando yang terbilang rahasia pun dia tahu. Jangan-jangan dia mata-mata nando , monolog hati riffa.
"Dari mana Bang Erl tahu semua tentang aku?" riffa mengubah duduknya jadi sedikit miring menghadap Erlangga.
Pria itu tersenyum tipis mendengar Amanda memanggilnya 'Bang Erl'. Wajah gadis itu kentara dengan keingintahuan, mimiknya nampak lucu di mata Erlangga.
"Aku rekan bisnis nando yang tidak sengaja melihat gelagat tidak baik dari kalian, jadi aku merasa berhak memperingatkanmu."
nando mulai mengerti, dari mana Erlangga tahu siapa dirinya, rupanya dia kenal nando, dan dia berada di sini dalam rangka urusan bisnis bersama abang iparnya itu.
"Maksudmu, gelagat tidak bagus dalam hal apa?"
Erlangga terkekeh, seakan meledek. Gadis itu bodoh benaran, atau pura-pura bodoh, pikirnya.
"Tidak kujelaskan pun kamu sudah tau maksudku, riffa Kumalasastri."
riffa berdecih, posisi duduknya kembali dia luruskan, tatapan mengarah ke depan, tangan bersedekap di d**a. riffa tidak lagi memiliki keinginan untuk melanjutkan obrolan, pria di sampingnya kurang asyik diajak berbincang, akhirnya memilih sibuk dengan pikirannya sendiri.
Kendaraan Lamborghini abu-abu milik Erlangga memasuki bandara Juanda.
"Pesawat dengan tujuan Jakarta sebentar lagi lepas landas. Sebaiknya kamu siap-siap ke sana, supaya usahaku membelikan kamu tiket tidak sia-sia."
Pria ini benar-benar menyebalkan, seperti merasa direpotkan, padahal siapa pula yang memintanya menyiapkan itu semua. riffa menggerutu dalam hati. Namun, tidak urung mengucapkan terima kasih, karena tanpa bantuan Erlangga, kemungkinan akan lebih lama lagi tinggal di kota ini dalam keadaan hati tersiksa.
riffa tidak mungkin balik lagi ke hotel nando, karena sudah ada nana. Bahkan untuk menginap di kamar yang berbeda pun tidak mau, jika masih di hotel yang sama.
bersambung