nana menggeliat kecil, lalu tangannya meraba-raba tempat yang ditiduri nando, kosong. Bangkit dari tiduran, ekor matanya menangkap kertas putih di sandarkan di lampu meja.
'Sayang, aku pergi, meeting terakhir. Kalau lapar, minta pelayan hotel mengantarkan makanan', sederet kalimat dalam kertas itu menjawab pertanyaan nana tentang di mana sang suami berada.
Mata nana menyusuri dinding mencari jam, ingin tahu sudah berapa lama dia tertidur, mengingat setelah percintaannya yang dahsyat bersama nando, dia benar-benar tepar kelelahan, di samping itu dia habis melakukan perjalanan jauh.
Pukul dua siang menjelang sore. Lumayan juga tidurnya lama, pikir nana. Dengan berbalut selimut untuk menutupi tubuh polosnya, nana turun dari ranjang. Berjalan mendekati jendela untuk menyibak tirai sehingga silau cahaya mentari sore menyapu wajahnya. Setelah itu kembali berbalik, dan matanya langsung membentur sesuatu yang membuat dahinya berkerut.
Mendekati tempat tidur, menaikinya dengan melipat lutut untuk memastikan yang dilihatnya tidak salah 'darah'. Ah, benar, meskipun hanya sedikit, berhubung sepreinya putih, bercak merah itu nampak jelas, dan terlihat baru. Seandainya noda yang menempel karena laundry mencucinya tidak bersih, akan terlihat warna darahnya memudar, ini jelas masih segar.
Untuk menguatkan dugaan, nana mencium aroma noda merah itu, amis. Tubuh wanita itu tercekat, perasaan tidak enak mulai memenuhi hati, darah apa, darah siapa? Perasaan tidak ada yang terluka, dia pun sedang tidak PMS.
Darah di seprai itu mengingatkannya sewaktu hubungan intim malam pertama. Benak nana mulai dihinggapi pikiran buruk, apakah sebelumnya nando membawa wanita yang masih virgin lalu menidurinya?
Ya Tuhan, rasanya tidak mungkin kalau nando membawa wanita lain ke hotel ini, apa lagi masih perawan. Dia pria yang tidak sembarangan mengenal perempuan, dia type suami setia, dia ... nana baru tersadar hidungnya mencium aroma berbeda dari selimut yang menggulung tubuhnya, terdapat harum parfum lain yang bukan miliknya juga bukan milik sang suami.
Parfum ini serasa pernah menciumnya, jelas-jelas aroma khas perempuan, tapi milik siapa? Mendadak radar otaknya tidak bisa diajak melacak si pemilik minyak wangi, buntu.
nana tercenung lama, otak dan hatinya menolak asumsi dugaannya sendiri. Tidak ... tidak mungkin nando selingkuh! Denyut nyeri perlahan mulai menyusup ke hatinya, berandai-andai bagaimana kalau firasat buruk sewaktu dia rasakan di Singapura terbukti benar adanya.
nana memejamkan mata, tangan meremas selimut yang menutup bagian d**a, tiba-tiba dia menjerit kecil, "Awww, sakit! Apa ini?" gumamnya seraya mengendurkan pegangannya pada kain tersebut. Mencari sesuatu yang menusuk jarinya.
"Anting?!" nana mencabut benda yang menempel di selimut tersebut.
"Ini seperti anting? Jelas nandi memasukan wanita ke dalam sini, dan perempuan itu ... tidur di ranjang ini ...." nana mengamati benda yang merupakan perhiasan telinga dengan bentuk cantik, terbuat dari perak cukup mahal, hanya sebelah.
nana menggeleng berkali-kali, cairan bening yang menggumpal di pelupuk mata mulai berhamburan. Dadanya sesak menahan kesakitan yang dahsyat, kepingan hatinya meluruh laksana gumpalan pasir yang ditendang.
Kendati demikian, dia terus menyangkal bahwa nando tidak mungkin melakukan pengkhianatan itu. Hanya satu cara yang harus ia lakukan, menyelidikinya secara diam-diam, mencari tahu dulu siapa wanita yang sudah merenggut kepercayaannya terhadap suami.
nana berpikir, ia tidak boleh gegabah menuduh, atau menjudge nando dengan kedua bukti itu, siapa tahu semua ini murni keteledoran pelayan hotel. Lagi pula Manusia itu gudangnya akal, mungkin saja laki-laki itu tidak akan mengakui perbuatannya, seribu jurus alasan pasti dikeluarkan.
nana hanya perlu mencari bukti, siapa wanita pemilik anting ini, lalu menanyakan bagaimana bisa ada di kamar hotel suaminya menginap. nana memilih memendam sementara kegundahan hatinya.
~~~
"Sayang!" nando memasuki kamar hotel, tidak terdapat nana di dalamnya. Suara gemericik air di kamar mandi cukup menjawab dari hasil pencariannya.
Tidak berapa lama pintu toilet dibuka, Miranti keluar berbalut kimono, serta rambut digulung handuk.
"Kamu sudah pulang, Mas," ucap nana, tidak lupa menyunggingkan senyum manis untuk menutup perasaan yang sesungguhnya, nyeri, kecewa, marah, dan perasaan lainnya lagi. Dia berusaha bersikap biasa saja.
"Kamu sudah makan, Sayang?" nando memeluk pinggang nana dari belakang.
nana menggeleng. "Belum," jawabnya singkat.
"Kalau begitu kita makan di bawah, setelah itu kita beli tiket pulang"
"Baiklah. Aku di baju dulu."
nando melepas pelukan, membiarkan nana melakukan aktivitasnya. Dia sendiri duduk di sisi ranjang, dalam hitungan detik langsung fokus dengan ponsel. Kadang terlihat seperti kebingungan sampai mengacak rambutnya, kadang terlihat gelisah dengan membanting napas.
Semua ekspresi nanso tidak luput dari pengamatan nana yang diam-diam memperhatikannya dengan jantung berdenyut sakit. Entah apa yang terdapat dalam gawainya itu, yang jelas bukan untuk menyikapi berita seputar bisnis.
riffa, kamu di mana sih, Sayang? Aku mencarimu ke mana-mana, tapi kamu tidak ada, HP pun gak aktif, nando membatin gelisah.
Selama nana tidur, nando berusaha mencari kakak ipar merangkap kekasih gelapnya. Namun, setelah dicari ke mana pun riffa tidak juga ditemukan, dia sangat mencemaskan gadis itu karena di Surabaya ini tidak ada siapa pun yang riffa kenal.
Kurang lebih satu jam kemudian. "Aku sudah siap, jadi kita nyari makan?" ucap nana.
nando terperanjat, nana sudah berdiri di hadapannya dengan penampilan yang selalu elegan. Baju tunik dipadupadankan dengan laging hitam, dilengkapi gesper besar melilit di pinggang.
"Ah, iya, tentu saja jadi. Ayo, Sayang, aku juga udah laper banget, tadi belum sempat makan siang."
nana hanya tersenyum kecil. Dia tahu nando sedang menyembunyikan sesuatu. Sabar nana, lihat dulu apa yang akan dilakukan pria itu.
~~~
nana dan nando sedang menikmati makan siang yang sebenarnya sudah lewat dari waktunya.
"Well, rupanya kalian ada di sini," ucap seorang pria, lalu tanpa permisi duduk di antara pasangan itu.
Ekspresi nando berubah dengan kedatangan sang pria. Untung saja sebagian makanan sudah pindah ke perut sebelum seleranya menghilang.
"Hai, Erlangga, kau ada di Surabaya juga?" balas nana tersenyum lebar, seraya mengakhiri makannya, karena memang perutnya sudah berasa penuh.
nana mengenal Erlangga sebagai rekan kerjasama dalam bisnis suaminya, mereka pernah dipertemukan dalam acara yang menyangkut perusahaan.
"Tentu, tuntutan bisnis yang memaksaku datang ke kota ini. Bukan begitu, ndo?" Erlangga melirik suami dari nana, tatapannya terkesan sinis. Ucapan Erlangga hanya ditanggapi deheman oleh nando.
Erlangga bukan tidak tahu nando tidak menyukai kedatangannya. Sikap keduanya memang terlihat kurang bersahabat, tapi karena tuntutan bisnis dari ayah mereka yang memaksa saling berkaitan satu sama lain.
"Oh, iya, ndo. Berhubung kita bertemu di sini, aku sekalian menyampaikan pesan dari Tuan Kim dan Tuan James, mereka mengundang kita makan malam sebagai pertemuan terakhir. Dan kau bisa mengajak wanitamu ... nana."
nando nyaris melotot ke arah Erlangga ketika pria itu menjedakan sejenak tepat di kalimat 'wanita'. Namun, secepatnya membuang muka saat nama nana yang disebut dengan penuh penekanan oleh Erlangga.
"Kami pasti akan datang, Erl. Ngomong-ngomong kau sendirian?"
"Seperti yang kau lihat, na. I am single, tapi happy," Erlangga tersenyum, seakan predikat jomlo bukan masalah baginya, meskipun usia sudah dewasa sepantasnya sudah memiliki istri, bahkan anak.
nana tertawa renyah dengan selorohan Erlangga yang memang sifatnya terbuka, tidak munafik, tapi tidak dengan nando, pria itu terlihat tidak nyaman.
"Baiklah, silakan kalian lanjut acaranya, aku pergi, ada yang harus aku lakukan." Erlangga bangkit. Sebelum meninggalkan pasangan itu, kembali dia berkata,
"Semoga rumah tangga kalian tetap harmonis seperti ini, tanpa adanya orang ketiga. Ok, see you, nana, jaga dirimu baik-baik."
nando mendelik tajam, Erlangga melengos dengan sikap masa bodo.
nando mengumpat dalam hati, geram. Miranti hanya diam sambil mencerna ucapan Erlangga.
Bersambung