12. (Not) Save

1678 Words
    Anya meneguk ludahnya dengan susah payah. Jantungnya berdetak tanpa bisa dikontrol. Matanya mengerjap beberapa kali dan ia berharap waktu berhenti agar ia tidak menampilkan kegugupannya pada Rivaldi.     “Maksudku, bagaimana kepemimpinanku selama ini? Apakah aku terlalu keras padamu ataukah aku mungkin sudah jadi atasan yang jahat? Atau seperti apa kepemimpinanku di matamu?” lanjut Rivaldi seolah membaca kebingungan di wajah Anya.     Anya menghela nafasnya sambil tersenyum. Ternyata Rivaldi menanyakan hal itu. Sungguh ia lega karena tidak perlu menjawab dengan isi hatinya yang menyukai pria itu.     “Oh… Hahahha… kalau itu, uhmm… Bapak itu orang yang tegas dan serius ketika bekerja atau mengurus sesuatu yang penting. Mungkin juga sedikit perfeksionis. Tapi saya tahu Bapak bukan orang yang jahat. Justru Bapak orang yang sangat rendah hati dan mau bersahabat dengan siapapun tanpa memandang status dan jabatan mereka.”     Anya merutuki dirinya sendiri yang memikirkan terlalu jauh maksud pertanyaan Rivaldi. Jelas jika pria itu tidak mungkin menanyakan sesuatu di luar pekerjaan.     ‘Bodoh… bodoh… Anya bodoh!’     “Terima kasih untuk penilaian jujurmu itu. Sebagai atasanmu, aku ingin mengatakan bahwa jangan pernah sungkan untuk bertanya padaku jika kau tidak mengerti sesuatu. Lebih baik kau banyak bertanya dan tidak membuat kesalahan setelahnya daripada kau datang padaku dengan sejuta kesalahan hanya karena tidak mau bertanya.     Aku memang bukan pemimpin yang acuh. Setiap hal kuperhatikan dengan seksama dan mungkin seperti yang kau bilang, aku ini perfeksionis untuk urusan pekerjaan. Tapi bukan berarti aku keras kepala. Aku bersedia mendengarkan masukan yang berharga untuk membuat kerjaku lebih efektif dan produktif.     Jadi, setelah ini jangan pernah sungkan untuk bertanya atau mengeluarkan pendapat padaku. Bahkan, khusus untuk sekretarisku aku memberikan previllage untuk mengkritik pribadiku secara langsung,” kata Rivaldi dengan mengerling saat mengutarakan kalimat terakhirnya.     Anya tersenyum dan mengangguk. Ucapan Rivaldi ini membuatnya merasa lebih lega. Ia diizinkan untuk bebas menjadi dirinya sendiri di hadapan Rivaldi. Rasa kagum Anya pada Rivaldi makin menumpuk mendengar pria itu terlihat berwibawa, kebapakan dan rendah hati. Sungguh pria yang mampu memikatnya lebih dari yang sanggup ia pikirkan. ***     Bus antar kota itu membelah jalanan yang padat. Ada banyak orang yang berwisata di akhir pekan. Anya menyadari hal itu. Kota asalnya memang adalah kota wisata. Lokasinya tidak jauh dari Surabaya, hanya sekitar dua jam dengan menggunakan bus atau kendaraan pribadi. Kota asalnya terletak di atas dataran tinggi dengan iklim yang sejuk.     Walau kota kecil namun pariwisata dan perkebunan menjadi komoditas utama wilayah ini. Ada banyak tempat wisata dibangun di setiap sudut kota dan hingga kini jumlahnya terus berkembang. Jika berjalan lebih jauh sedikit kita bisa menemukan hamparan sawah yang membentang sepanjang bukit layaknya batangan coklat.     Anya memandangi dengan kagum pemandangan favoritnya. Ia sekarang sedang dalam perjalanan untuk pulang ke kampung halamannya. Kegiatan yang ia biasa lakukan setiap akhir pekan. Sungguh jika bisa ia ingin lebih lama tinggal di kota kecil ini daripada tinggal di kota besar seperti Surabaya dengan hiruk pikuknya. Bus itu akhirnya berhenti di halte tujuan Anya. Anya melangkahkan kakinya turun dari atas bus, seperti biasa ia naik ojek langganannya ke rumah kecilnya.     Esok adalah hari terakhir Ibunya tinggal di sini. Erica akan diboyong menuju ke Surabaya demi keamanan keduanya. Ia tidak mau Ibunya menjadi bulan-bulanan ayahnya lagi. Sungguh ia sudah muak dengan perlakuan ayahnya yang tidak tahu diri itu.     Dulu ia berpikir bahwa perpisahan kedua orangtuanya adalah hal yang paling kejam yang ia terima. Namun setelah mengenal perangai ayahnya seperti saat ini, ia merasa perpisahan kedua orangtuanya saat itu adalah pilihan yang tepat. Ia tahu Ibunya menderita karena perlakuan ayahnya yang semena-mena.     Anya berhenti di depan pintu rumahnya. Ia membayar ojek yang ditumpanginya lalu melangkahkan kaki masuk ke dalam halaman rumah. Ia mengetuk beberapa kali dan wanita di dalam sana membukakan pintu baginya. Anya menghambur ke pelukan Erica dan memberikan ciuman pada kedua pipi Erica.     “Sudah siap semua, Ma?”     Erica mengangguk.     “Hanya kurang beberapa pakaian lagi yang masih Mama jemur yang belum.”     Anya tersenyum dan mengangguk. Erica menarik tangan Anya ke dalam ruang makan sederhana dan menghidangkan makanan kesukaan Anya di sana. Keduanya menikmati makan malam dengan saling menceritakan apa yang sedang terjadi. Anya mendahului ceritanya tentang pekerjaannya di kantor dan Erica tampak senang mendengarkan cerita Anya. Ia yakin putrinya betah bekerja di GD Corp.     “Oh ya? Atasanmu sebaik itu? Wah… beruntunglah dirimu, Anya!” sahut Erica menanggapi cerita Anya tentang Rivaldi.     Anya mengangguk dengan semangat.     “Dan, Mama tahu? Atasanku itu orang yang sangat rendah hati. Dia bahkan memiliki banyak teman dari berbagai kalangan. Dia tidak pernah memandang rendah orang lain. Dia sungguh pria yang sangat luar biasa yang pernah aku kenal.”     “Baguslah kalau begitu. Memang pria yang seperti itu jarang sekali kita temui. Jika Mama bertemu dengan pria seperti itu, mungkin sudah Mama dekati dan jadikan pacar. Bagaimana jika kau juga mendekatinya?”     “Ish! Mama… atasanku sudah berkeluarga. Bagaimana bisa aku merusak rumah tangga mereka?” sahut Anya dengan mencebikkan bibirnya, tapi dari dalam hatinya muncul perasaan bersalah. Ia sudah menyukai pria itu begitu lama. Pria yang sudah berkeluarga dan ia sadar ia sudah menyukai orang yang salah. Tapi ia tidak mampu melenyapkan perasaannya pada pria itu. ***     Pagi pun datang menjelang Erica dan Anya sibuk menata berbagai kardus dan tas keluar rumah. Mereka mengunci pagar dengan gembok paling besar yang ada. Mereka berharap jika suatu saat mereka kembali, rumah mereka akan tetap utuh seperti sedia kala. Mungkin bisa dibilang kepergian mereka ini hanya sementara. Mereka sudah nyaman tinggal di kota kecil ini dan sulit bagi mereka untuk berpisah sebenarnya. Tapi, apa yang mereka lakukan ini semata-mata hanya untuk keamanan mereka.     Matahari bahkan belum muncul dari balik awan. Langit sudah mulai beralih dari gelap menjadi terang dan kedua wanita itu sudah meninggalkan rumah kecil mereka. Sekarang mereka sudah berada di dalam bus yang akan membawa mereka menuju kehidupan yang baru. Mereka hanya berharap Surabaya akan membuat hidup mereka lebih baik. ***     Beberapa jam setelah kepergian dua wanita itu, Jacky datang ke rumah Erica. Uangnya minggu ini sudah habis untuk berjudi dan ini saatnya meminta lebih pada wanita yang ia yakini akan memberikannya uang sakunya minggu ini.     Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam halaman rumah sederhana. Ia berhenti tepat di depan pintu rumah saat ia melihat pintu itu sudah digembok dengan gembok paling besar. Ia membuang punting rokoknya dengan kasar ke tanah.     “SHITTT!!!!”     Ia keluar dari halaman rumah itu lalu mendatangi tetangga sebelah rumah. Seorang wanita tua yang sedang menjemur padinya terkejut dengan kehadiran pria berpenampilan preman itu.     “Kau tahu di mana Erica?” tanya pria itu dengan wajah garang yang mengancam.     Wanita tua itu hanya menggeleng dan tubuhnya menggigil ketakutan. Jacky mendengus sebal lalu ia keluar dari rumah itu lalu berjalan menuju ke tetangga yang lain. Dan ia mendapatkan respon yang sama. Tidak ada satu orang pun yang mengetahui ke mana Erica akan pergi. Ia memaki-maki di tengah jalan.     Hingga seorang tukang ojek, langganan Erica lewat di depannya sehabis mengantar penumpang. Jacky mencegat pria itu. Pria itu mengerem mendadak sebelum motornya membentur kaki Jacky.     “Apa kau tahu di mana wanita itu?” tanya Jacky dengan telunjuknya mengarah pada rumah Erica yang sudah terkunci rapat. Ia sudah menanyai semua orang di sana dan tidak ada yang menjawab pertanyaannya atau mungkin tidak akan mengatakan di mana keberadaan Erica saat ini. Apakah mereka semua bersekongkol untuk membuatnya tidak mengejar Erica lagi?     “Tentu saja aku tahu. Tapi apa urusannya denganmu? Kau pria kurang ajar pada Erica dan selamanya tak akan kuberitahu di mana dia. Dia sudah pergi jauh. b******n sepertimu tidak perlu menemui mereka lagi,” sahut tukang ojek itu tanpa rasa takut. Tapi yang ia tak sadari adalah tangan Jacky sudah mengepal.     Merasa tidak perlu lagi menjawab pertanyaan Jacky, ia menyalakan mesin motornya lagi. Saat ia hendak melajukan motornya, tiba-tiba….     BUGHH!!!     Sebuah pukulan telak mengenai ulu hati pria itu. Tukang ojek itu jatuh tersungkur dari motornya dan merintih kesakitan. Jacky naik ke atas perut pria itu dan menghadiahi beberapa pukulan lagi di wajah pria itu hingga sudut bibirnya berdarah dan pelipisnya membiru. Tukang ojek itu tidak mampu melawan karena Jacky sudah menghujaminya dengan pukulan tanpa ia sempat membalas atau meronta.     “KATAKAN DI MANA MEREKA?”     Dari arah belakang Jacky, terdengar suara wanita yang sedang berteriak histeris. Wanita itu adalah istri si tukang ojek naas itu. Wanita itu berlari mendapati suaminya lalu ia berlutut di depan Jacky sambil menangis.     “Tuan… maafkan suamiku. Kumohon… aku… aku akan memberitahu ke mana Erica pergi, tapi kumohon jangan apa-apakan suamiku lagi,” kata wanita itu dengan terisak.     Jacky meludah sembarangan lalu turun dari tubuh pria itu. Sang wanita tadi langsung merangkul suaminya dan mendudukkan pria itu setelah menanyai kondisinya.     “Katakan, di mana Erica?”     Tukang ojek itu menggeleng pelan ke arah istrinya dan berbisin untuk jangan memberitahu apa-apa pada pria itu. Tapi istrinya sudah tidak ingin suaminya kena pukul oleh preman sialan ini. Bagaimanapun juga ia seorang istri yang tidak akan membiarkan apapun terjadi dalam keluarganya. Apalagi ini menyangkut suami yang sangat ia cintai.      “Dia pindah ke Surabaya.”     Jacky tersenyum penuh kemenangan. Berbeda dengan di Tukang Ojek yang malah menunjukkan kekecewaan di wajahnya. Ia tidak percaya jika istrinya membocorkan hal itu pada preman ini. Jacky tertawa terbahak-bahak.  Merasa Jacky tidak akan melukai mereka lagi, kedua orang itu berusaha berdiri dan saling menopang. Saat kedua orang itu beranjak pergi, Jacky menghadang keduanya sekali lagi.     “Surabaya itu luas. Di mana tempat tinggal mereka?”     “I-itu…”     “Langkahi dulu mayatku sebelum kau mengetahui tempat tinggal kedua wanita itu!” jawab si Tukang Ojek sambil menarik tangan istrinya untuk bersembunyi di balik punggungnya. Si wanita mencengkeram erat baju suaminya karena takut.     Si Tukang Ojek sudah siap pasang badan untuk membela Erica. Bagaimanapun juga Erica sudah sangat berjasa pada keluarganya. Erica terkenal sangat dermawan. Di tengah kesederhanaannya, ia tidak segan membantu tetangganya yang mengalami kesulitan, bahkan kesulitan finansial sekalipun.     Jacky tertawa lagi dan tanpa aba-aba, ia menghantam wajah tukang ojek itu bertubi-tubi dan lagi sang istri hanya bisa menangisi suaminya yang sudah babak belur itu. Pria itu kini tidak mampu berkata apa-apa lagi. Tubuhnya lunglai, wajahnya penuh dengan memar dan hidung serta sudut bibirnya berdarah.     Sang istri menangisi suaminya. Ia sudah tidak tega dan ia harus menyelamatkan suaminya juga walau ia merasa menyesal melakukan semuanya ini pada Erica. Tapi, di benaknya lebih baik ia menyelamatkan  keluarganya agar tidak diobrak-abrik oleh pria tak pandang bulu itu. Wanita itu akhirnya memberikan alamat Erica pada Jacky dan Jacky pergi dengan senyuman penuh kemenangannya.       A/N: Gemes sama si Jacky ya? tenang aja, saya juga ikutan gemes kok. Tapi, setiap kejahatan akan selalu mendapatkan balasan yang setimpal. Tunggu aja pembalasannya untuk Jacky. Kita akan buat balas dendam yang menyakitkan buat pria itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD