14. Thank You

1466 Words
    Anya menatap wajah Rivaldi dengan tatapan tak kalah sendunya. Matanya masih sembab dan basah karena menangis.     “Saya yang salah, Pak. Saya tahu betul ini kesalahan saya dan Bapak tidak perlu merasa bersalah. Saya tahu Bapak hanya mengingatkan,” kata Anya sambil tersenyum lembut.     Rivaldi menghela nafas dan tersenyum, menunjukkan lesung pipinya yang manis.     “Apa ada masalah?”     Anya diam sejenak. Ia tahu Rivaldi mungkin sudah membaca pikirannya tapi ia tidak ingin menceritakan masalahnya apda Rivaldi. Ia terlalu malu untuk mengatakannya.     “Sudah kukatakan padamu untuk tidak segan memberitahuku masalahmu. Jika aku bisa membantumu, maka aku pasti akan membantumu.”     Anya tersenyum dengan menyejukkan hati.     “Tidak ada apa-apa, Pak. Saya memang sering lupa dengan barang-barang yang kecil seperti flashdisk itu, Pak.” Anya terpaksa berbohong karena ia pikir tidak sopan menyatakan masalah pribadi pada atasannya. Lagipula, ia sungguh tidak enak jika harus meminta bantuan Rivaldi. Ia akan memikirkan jalan keluar masalahnya sendiri.     “Baiklah kalau begitu. Jangan sampai terulang lagi ya, Anya! Aku tidak suka jika harus menegurmu di depan umum hanya karena kesalahan remeh seperti ini. Berjanjilah padaku!”     Anya mengangguk lalu Rivaldi membantu Anya membereskan ruangan rapat dan keluar beriringan dengan gadis itu. ***     Sore itu tiga orang sahabat sudah berada di dalam sebuah café favorit mereka saat sekolah dulu. Mereka adalah Becca, Aaron dan Anya. Momen seperti ini sangatlah langka bagi mereka bertiga sekarang. Mereka selalu sibuk dengan urusan masing-masing, entah itu urusan pekerjaan atau karena Becca dan Aaron berkencan. Tentu saja Anya tidak ingin menjadi obat nyamuk bagi kedua orang itu bukan?     Namun hari ini berbeda. Ketiga memutuskan untuk tidak melakukan urusan pribadinya masing-masing dan hanya ingin berkumpul bersama. Dan inilah jadinya. Ketiganya sekarang sedang bersenda gurau di dalam café sambil menikmati hidangan makan malam mereka.     “Aku akan membungkuskan satu makanan untuk makan malam Mama,” kata Anya lalu memberi tanda pada pramusaji untuk membawakan buku menu lagi.     “Lho, Mamamu sudah di Surabaya rupanya?” tanya Aaron. Ia baru menyadari hal ini jika Anya tidak memberitahu mereka.     Anya mengangguk. Ia menyebutkan pesanannya untuk dibungkus lalu menjawab Aaron.     “Seminggu lalu kami sudah resmi tinggal di Surabaya.”     “Lalu rumahmu yang ada di desa, bagaimana?” tanya Becca memastikan.     “Uhmm… entahlah. Kami masih belum punya rencana apa-apa dengan itu. Mungkin akan dijual atau disewakan ke orang lain.”     Anya memainkan sedotan dalam gelasnya lalu menyeruput jus jeruknya hingga tandas. Becca tiba-tiba memajukan badannya mendekat ke arah Anya. Melihat Becca yang bermaksud berbicara serius, Aaron juga ikut memajukan badannya. Anya pun melakukan hal yang sama.     “Tadi siang aku mendengarkan kabar bahwa di ruang rapat terjadi masalah. Ada karyawan yang membuat Papaku marah besar. Bahkan, aku dengar orang itu sudah sering melakukan kesalahan. Pantas saja akhir-akhir ini aku harus lembur untuk menyelesaikan pekerjaanku yang tertunda karena keputusan Papa tidak turun juga.      Huh, siapa sih yang membuat kerja Papaku terhambat? Aku pasti ikut sebal jika ini menyangkut urusan pekerjaan. Karena setiap Papaku terlambat membuat keputusan saja, divisiku yang paling kena imbasnya. Kalian tahu siapa dia?” Aaron yang dipandangi pertama oleh Becca langsung menggeleng.     Sementara, Anya meneguk ludahnya susah payah, merasa bahwa dirinyalah yang dibicarakan Becca. Dan, kini emosi Becca sepertinya sudah tersulut karena ia juga tahu resikonya jika Rivaldi terlambat membuat keputusan. Anya hanya bisa merutuki dirinya yang membuat semua bagian jadi kena imbasnya.     Becca dan Aaron saling berpandangan lalu keduanya menatap ke arah Anya. Anya menjadi kikuk.     “Kau tahu siapa dia, Anya?” tanya Becca. Gadis itu yakin Anya memiliki jawaban atas pertanyaannya, mengingat Anya selalu mendampingi Rivaldi di dalam ruang rapat. Anya meneguk ludahnya sekali lagi dan dengan ragu menatap kedua sahabatnya.     “Aku orangnya,” jawabnya penuh penyesalan.     “APA??? Bagaimana bisa?” sahut Becca penuh ketidakpercayaan. Selama ini Anya yang ia kenal jarang sekali membuat kesalahan. Maka dari itu ia mendukung ketika Rivaldi bermaksud mengangkat Anya menjadi sekretarisnya. Namun, apa yang dilontarkan Anya membuatnya bertanya-tanya, mengapa Anya bisa menjadi sering melakukan kesalahan. Pasti ada sesuatu yang gadis itu pikirkan hingga mengacaukan konsentrasinya.     Anya menatap ragu kepada kedua sahabatnya. Ia berpikir sejenak sambil menimbang apakah kedua orang di hadapannya ini perlu tahu apa yang terjadi? Di sisi lain ia membutuhkan bantuan atas masalahnya dan kedua sahabatnya ini pasti memiliki jalan keluar untuk dirinya.     “Uhmm… beberapa waktu belakangan ini Papaku datang kembali.”     Anya menjeda perkataannya dan mengambil nafas sebelum melanjutkan ceritanya. Becca dan Aaron nampak serius mendengarkan.     “Seperti yang pernah aku ceritakan sebelumnya. Ayahku sekarang tak beda dengan seorang preman dan pemeras. Ia selalu datang ke rumah kami dan meminta uang.”     “Dan, kali ini ia mendatangimu lagi?” tebak Aaron.     Anya mengangguk.     “Betul, ia datang lagi tadi pagi sebelum aku berangkat ke kantor. Dan yah… ia meminta uang.”     “Mengapa kalian tidak melaporkan ke kantor polisi saja penganggu itu?” sahut Becca dengan geram. Ia sendiri heran mengapa Anya sanggup bertahan dengan kondisi seperti ini? Jika ia menjadi Anya, ia sudah pasti akan melaporkan ayahnya yang preman itu ke polisi.     “Mamaku melarangnya. Ia berkata kalau kami berani melaporkannya ke kantor polisi. Nyawa kami akan ikut melayang. Ayahku terlibat dalam komplotan preman dan jika satu di antara mereka tertangkap maka kawanan yang lain tidak segan akan mencari dan menghabisi kami. Apalagi kami berdua adalah wanita. Yang pasti tidak akan mampu melawan mereka semua.”     “Lalu kau berikan permintaan pria itu?” tanya Becca gemas. Ia sudah bisa menebak bahwa Anya pasti tidak sanggup menolak tapi wanita itu pasti juga tidak memiliki uang sebanyak itu. Ia tahu sepenuhnya seperti apa keluarga Anya yang sederhana.     Anya menggeleng pelan.     “Tentu saja tidak karena kami tidak memiliki uang sebanyak itu.”     “Berapa yang ia minta?”     Anya melirik ke arah dua sahabatnya. Ia sungguh tidak enak hati menceritakan aib keluarganya pada orang lain. Namun kedua sahabatnya ini menatapnya dan menunggu jawabannya dengan lapar. Anya merasa terpojok.     “Dua puluh juta dan minggu depan ia akan datang untuk menagih. Jika kami tidak menyediakan uangnya, ia akan menghajar kami berdua,” kata Anya sambil sesenggukan. Perasan takut, kuatir dan jengkel itu bercampur aduk dalam benak Anya saat ini.     Becca berpandangan dengan Aaron. Becca menggenggam tangan Anya yang mengepal dan menepuk-nepuk tangan wanita itu. Anya menatap Becca dengan mata yang berkaca-kaca.     “Kami akan membantumu.”     Anya terkejut dengan kata-kata yang Becca katakan barusan.     “Ti-tidak perlu, Becca. Aku akan mencari jalan keluarnya sendiri. Aku tidak ingin berhutang pada kedua sahabatku bahkan untuk merepotkan kalian pun aku tidak akan melakukannya.”     “Anya, kami bisa bantu. Pakailah uang kami. Agar kau dan Ibumu selamat.”     “Ta-tapi… itu angka yang cukup besar. Dan, aku tidak ingin merepotkan kalian. Aku akan mencari cara sendiri.”     “Anyaa… tapi ini cara satu-satunya. Kumohon jangan menolak bantuan kami. Kami sungguh ikhlas meminjamkannya padamu.”     “Tidak, Becca. Terima kasih. Aku tidak ingin berhutang pada sahabatku. Kalian sendiri bukankah juga membutuhkan uang itu?”     “Anyaa… lalu apa rencanamu kalau begitu? Apakah kau mau Papamu memukuli kalian berdua lagi seperti seekor kecoa, hah?” sahut Becca dengan emosi. Ia tidak bisa menebak jalan pikiran Anya yang menolak bantuan seorang sahabat.     Anya menatap Becca dengan serius.     “Aku pasti akan menemukan caraku sendiri.” ***     Pikiran Anya pagi itu masih melayang-layang. Ia masih belum menemukan cara untuk bisa mendapatkan dua puluh juta dalam waktu seminggu. Ia mencari informasi tentang pinjaman koperasi karyawan tapi koperasi tidak bisa memberikan pinjaman sebanyak itu.     Di saat ia sedang berpikir, intercom di hadapannya berbunyi. Rivaldi memanggil gadis itu. Anya merapikan rok kerjanya yang sedikit tidak rapi lalu berjalan masuk ke dalam ruangan Rivaldi. Ia berjalan mendekat ke arah pria tampan yang sedang serius menatap berkas-berkas di hadapannya.     Ketika Anya sudah sampai di hadapannya, pria itu mendongak kea rah Anya sebentar.     “Duduklah.”     Anya mengikuti perintah Rivaldi. Ia duduk di kursi di hadapan pria pujaan hatinya itu.     Rivaldi merogoh laci mejanya lalu mengeluarkan sebuah amplop coklat panjang ke atas meja lalu menyurungkan amplop itu ke arah Anya. Anya menerima amplop itu dengan penuh tanda tanya di pikirannya.     “A-apa ini, Pak?”     “Bukalah.”     Dengan sedikit mengernyitkan dahinya, Anya membuka perlahan amplop itu dan mengeluarkan isinya. Sebuah cek bertuliskan dua puluh juta dan sudah dibubuhkan oleh tanda tangan Rivaldi. Mata Anya membola melihat apa yang dipegangnya. Tangannya mulai bergetar menerima cek itu.     “Aku tahu kau sedang membutuhkan uang itu bukan? Terimalah dan jangan pernah menolak bantuanku,” kata Rivaldi sambil tersenyum. Ia tidak mau menanyakan lebih jauh tentang ini pada Anya karena ia tahu apa yang terjadi pada Anya sekarang adalah seperti aib. Dan, ia adalah pria yang tidak ingin mengorek aib seseorang karena itu akan sangat menyakitkan bagi Anya. Cukup ia tahu dan ia membantu apa yang ia bisa.     “Ta-tapi, Pak. Ini…”     “Tidak ada tapi-tapian Anya. Kalau kau tidak enak hati dengan uang ini, anggap saja ini bonusmu karena sudah membantuku selama ini.”     Anya merasa terharu dengan bantuan Rivaldi yang ia tahu ini pasti karena Becca yang menceritakannya  pada Rivaldi. Tapi, sungguh ia tidak enak hati.     “Ta-tapi, Pak…” Anya mengulangi kata-katanya lagi.     Rivaldi memberikan tanda agar Anya tidak berbicara lagi.     “Kembalikan uang ini dengan kerja kerasmu. Tunjukkan pekerjaan terbaikmu dan jangan buat kesalahan lagi. Oke, Anya?” kata Rivaldi sambil menyunggingkan senyuman mautnya.     Air mata haru menetes dari mata Anya. Ia mengangguk sambil tersenyum. Ia berjanji akan bekerja dengan lebih giat kali ini. Sejenak ia berpikir siapakah dia sehingga mendapat kebaikan Tuhan seperti ini? Ia sudah melakukan banyak kesalahan tapi ia mendapatkan berkat sebanyak ini. Dan yang ia tahu sekarang ia makin terjerat ke dalam pesona pria yang dikaguminya itu. Dalam dan makin dalam. Hingga ia sendiri tidak tahu bagaimana cara melepaskan diri dari pria itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD