Akasia mendengus saat sepanjang perjalanannya ke sekolah Ia menjadi pusat perhatian, Akasia tidak suka begitu banyak orang yang memperhatikannya. Dan sekarang semua orang menatap ke arahnya, tapi dari semua itu yang membuat alis Akasia terangkat adalah banyak wanita, remaja muda dan wanita tua atau sering di sebut Ibu-ibu seolah terpesona. Akasia menilai penampilannya dari atas sampai bawah lalu menggeleng. Tidak ada yang salah dari penampilannya, atau jangan-jangan ada sesuatu di wajahnya.
Dengan cepat Akasia mengusap wajahnya, tapi sama sekali tidak ada apa pun yang jatuh dari wajahnya. Ia bahkan tidak memakai bedak, jadi tidak mungkin jika bedaknya lunturkan? Akasia sekali lagi melihat ke arah para orang yang Akasia lalui, dan mereka masih saja memperhatikan Akasia membuat Akasia tidak nyaman sama sekali.
"Tidak ada apa-apa L." alis Akasia bertaut, sedikit terkejut. Akasia hanya sedikit terkejut mendengar suara pria itu, dengan suara berbisik Akasia menjawab.
"K, Kamu di sini?" Akasia sudah harus siap jika sewaktu-waktu K muncul, Akasia sudah menyiapkan jantungnya juga kontrol dirinya agar tidak terlihat aneh di mata orang lain.
"Hm." Akasia berdecak.
"K, bisa lihat wajahku? Apa ada sesuatu yang membuat semua orang menatap ke arahku?" Akasia berkata sangat lirih dan tetap menjaga gerak tubuhnya, wajahnya juga masih menatap depan. Berharap K yang mau memutar tubuhnya untuk melihat wajah Aksia. Dan agar semua orang tidak menatapnya seperti orang gila karena berbicara sendiri dan seolah meminta orang untuk menilai penampilannya. Akasia melirik kanan kiri dan depannya untuk memastikan semua orang tengah menatap ke arahnya atau tidak saat ini.
"Tidak ada L." Akasia cemberut.
"Kamu berbohong ya?" K terkekeh membuat Akasia mendengus jengkel.
"Lakukan saja sesukamu." setelah mengucapkan itu Akasia melebarkan langkahnya dengan wajah kesal, bagaimana bisa Ia di permainkan oleh makhluk jelek bernama K itu?.
"Aku tampan L, Kamu pasti tidak akan kecewa." narsis, satu kata yang dapat Akasia sematkan pada karakter K. Memang percaya diri itu boleh, dan jika berlebih seperti K ini maka bisa jadi gila. Lagian kenapa juga K selalu mengikutinya dari rumah sampai di pinggir jalan seperti ini?.
"Makasih untuk pujiannya, L." Akasia menghentikan langkahnya dengan segera, Ia kesal pada K yang suka sekali membaca pikirannya. Namun Ia harus tetap mengontrol diri untuk tidak memaki makhluk itu. Akasia menghembuskan nafas berat lalu kembali melangkahkan kakinya. Pujian apanya? Bahkan Akasia tidak tahu sejelek apa makhluk itu.
"Maki dan puji saja L, jangan di tahan." ingin sekali Akasia mengeluarkan asap dari kepalanya jika Ia bukan manusia biasa. Namun menanggapi K rasanya juga percuma, Akasia melebarkan langkahnya dengan rasa dongkol yang luar biasa.
"Masa bodoh.".
"L." Akasia tidak menanggapinya.
"L." lagi Akasia tidak merespon panggilan K membuat Akasia merasakan tarikan di bahunya hingga membuat Akasia harus membalikkan badannya dengan tiba-tiba karena tarikan mendadak dari K.
"Apa yang Kamu lakukan?" tanpa sadar Akasia bertanya dengan suara keras, membuat Akasia semakin menjadi pusat perhatian.
"Ck." Akasia berdecak setelah sadar akan kecerobohannya. Akasia akan melanjutkan jalannya namun suara K menahannya bahkan membuat mata Akasia melebar.
"Hanya Kamu yang tidak bisa melihatku L." mendadak sesuatu terasa sesak di hatinya, berbeda dari hatinya. Akasia tertawa garing mendengar fakta kejam itu, hanya Dia seorang? Akasia berkata tanpa membalikkan badannya, Ia tersenyum remeh. Meremehkan dirinya yang seperti orang bodoh. Menjaga sikapnya hanya untuk tidak terlihat gila, padahal semua orang melihatnya sekarang jauh lebih buruk dari pada sebutan itu.
"Hah? Hanya Aku? Kamu bercanda?" Akasia tidak bisa menahan diri untuk tidak mendebat pernyataan K barusan. Apa-apaan K itu? Dia yang berusaha mati-matian menerima kehadiran K, namun hanya Dia yang tidak bisa melihat sosok itu. Gila!.
"Maaf." Akasia bersidekap d**a, kali ini Ia membalikkan badannya. Jika hanya Akasia yang tidak bisa melihat K, berarti jika sekarang Akasia marah pada K. Bukan sesuatu yang gila di mata orang-orang, hanya saja Akasia tidak bisa mengeluarkan suara keras akan perdebatan mereka.
"Kenapa K?" hembusan nafas Akasia dengar, dan Akasia juga merasakan bahunya di remas kuat. Akasia tidak peduli jika Ia akan terlambat masuk sekolah, bahkan Ia memang benar-benar sudah terlambat.
"Maaf L, tapi hanya Kamu orang pertama di Bumi ini yang akan melihat wajah asliku." Akasia menghembuskan nafas, menahan diri untuk tidak marah pada K. Jika Akasia mampu melihat dan menyentuh sedikit saja kulit K, maka Ia tidak akan segan untuk menampar pria itu. Akasia mengernyit setelah pemikiran itu terlintas di otaknya, Akasia baru menyadari bahwa Ia begitu posesif pada K.
"Bagaimana Kamu menjelaskan semua ini K? Yang tadi malam juga." Akasia merasakan tangannya di genggam oleh K. Akasia tidak ingin lebih mempermalukan diri, jadi Ia pasrah ketika K menggenggam tangannya.
"Mau kah Kamu bolos sekolah hari ini?" Akasia berdecak dengan pertanyaan K, apa K tidak sadar diri jika dirinya sudah sangat terlambat untuk datang ke sekolah karena pria itu.
"Kamu jelas tahu K, ini sudah jam berapa?" K terkekeh dan kembali Akasia merasakan puncak kepalanya di usap oleh K dengan satu tangannya yang lain. Mungkin tangan K memang dua, dan Akasia harus bersyukur jika itu memang benar.
"Tanganku ada dua L." Akasia mendengus.
"Jangan membaca isi pikiranku K." peringat Akasia tegas, gila bukan. K tahu segalanya tentang Akasia namun Akasia sama sekali tidak bisa tahu bagaimana K, selain suara pria itu yang berat dan tegas.
K tidak menjawab peringatan Akasia, lalu K membawa Akasia ke sebuah taman dekat dengan sebuah gedung tinggi yang Akasia tidak tahu namanya. Tidak peduli dengan orang-orang yang sempat menatapnya tadi. Mereka berjalan dengan sang pria membawa sang wanita, semua orang menganggapnya begitu.
"Kamu ingin tahu apa L? Tapi Aku peringatkan untuk tidak membahas asal usulku untuk sekarang." Akasia mendengus.
"Jujur Aku ingin tahu itu K. Tapi baiklah, karena Kamu mau terbuka padaku. Pertama Aku ingin menanyakan sejak kapan Kamu ada di sini?" K membuang nafas.
"Ini akan panjang L, Kamu yakin tidak akan bosan?" Akasia dengan mantap menggeleng.
"Aku ingin dengar." Akasia merasakan tangan K menggenggam tangannya lalu menggeretnya berjalan memutar dari jalannya menuju ke sekolah. Akasia tidak protes, Ia hanya menurut kemana K membawanya.
Mereka sampai di sebuah sungai kecil, sungai yang di gunakan orang untuk pengairan sawah atau ladang tentunya. Akasia duduk di pinggirannya sungai, melihat ke depan dan mulai mendengarkan K.
"Kamu siap L?" Akasia mengangguk.
"Kamu yang memintaku menemanimu." Akasia segera menoleh ke sumber suara K dengan alis bertaut.
"Aku sudah tahu itu saat Kamu berkata di rumah itu. Yang Aku tanyakan kapan K?" K tertawa kecil.
"Aku tahu L, maka sabarlah." Akasia berdecak namun tetap mengangguk.
"Saat Kamu kehilangan Bibimu, apa Kamu lupa jika Kamu berdoa pada Bintang dan meminta Bintang untuk mengirimkan seseorang hadir di sampingmu?" Akasia mencoba mengingat doanya.
"Bukankah Aku berdoa agar hidupku berjalan baik?" K berdehem.
"Ya, itu pengiring doamu L." Akasia mencoba mengingatnya kembali. Sekelebat bayangan muncul di otak Akasia. Saat itu Akasia duduk di atas atap di mana tempat biasa Bibi nya menjemur pakaian mereka, tempat yang sangat bagus untuk melihat Bintang. Itu yang Bibi nya beri tahu pada Akasia sewaktu Akasia kecil, Bibi nya sering membawa Akasia ke atas atap. Menikmati semilir angin dan juga berbagi keluh kesah, meski saat itu Akasia belum mengerti akan masalah yang di hadapi Bibi nya. Tapi Bibi nya bilang, jika Akasia ada masalah maka datanglah ke atap. Lihatlah langit penuh Bintang dan berdoalah. Maka Bintang akan mengabulkannya tanpa meminta syarat apa pun pada Akasia. Kata-kata Bibi nya masih sangat jelas Akasia ingat.
Dan saat kematian Bibi nya, Akasia melakukannya. Menaiki atap, melihat banyaknya taburan Bintang di langit. Saat itu Akasia menengadahkan kepalanya, mengangkat tangannya dan di sela jarinya Bintang begitu bersinar terang. Dan saat itulah Akasia berdoa, meminta kehidupan baik dan.
Akasia segera menolehkan kepalanya ke K.
"Astaga, jadi Kamu seseorang yang Aku minta?".
"Kamu memgingatnya L?" Akasia menggeleng samar.
"Saat itu Aku meminta pada Bintang agar di kirimkan seorang pria yang akan dengan gagah melindungiku." Akasia menatap udara di sampingnya, menilai K.
"Kamu gagah dari mana K? Aku bahkan riskan Kamu dapat melindungiku." tawa K pecah.
"L, apa Kamu harus sejujur itu? Kamu begitu melukai harga diriku." Akasia memutar matanya, sama sekali tidak akan meminta maaf pada K akan kejujurannya barusan.
"Apa Kamu tidak tahu seberapa gagah Aku?" Akasia mendengus.
"Kamu hanya udara yang tidak terlihat oleh mataku. Kamu sebenarnya jelekkan?" K semakin tertawa, dan rasanya Akasia suka mendengar tawa itu.
"Jika Aku jelek, apa Kamu tidak mau Aku di sini?" Akasia menggeleng lalu tersenyum.
"Tidak K, Aku sudah senang. Setidaknya dalam 24 jam sehari, Aku bisa berbicara banyak hal padamu." Akasia merasakan usapan di puncak kepalanya.
"Aku akan tetap di sini." Akasia kembali menatap K.
"Kenapa hanya Aku yang tidak bisa melihatmu?".
????
Madiun punya cerita
(Loves, Like and Comment)