"Kenapa hanya Aku yang tidak bisa melihatmu?" Akasia melempar batu kerikil kecil ke sungai menimbulkan suara 'plup' yang membuat Akasia sedikit tersenyum. Sungguh permainan sederhana namun tidak pernah Akasia rasakan selama ini. Ada sensasi bahagia yang terasa saat batu itu bergesekan dengan air walau pada akhirnya batu itu tetap tenggelam ke dasar air. Mungkin itulah Akasia, walau Ia bertahan namun tetap saja Ia masih mau mendengarkan K yang tidak bisa Ia lihat sekarang ini.
"Karena Aku yang melakukannya." Akasia tidak paham akan jawaban K, Ia menaikkan sebelah alisnya namun tetap melakukan kegiatannya.
"Maksudmu apa?".
" Aku yang membuat matamu seolah tidak melihatku L, Aku masih belum siap dan Kamu juga." alis Akasia bertaut, kali ini tatapan Akasia beralih ke sampingnya. Letak di mana K ada di sana, Akasia berdecak saat Ia berharap dapat melihat ekspresi wajah K saat ini.
"Siap tentang apa K? Tolong jelaskan." K menghembuskan nafas, seperti perasaan berat yang membuat pria itu harus bungkam juga.
"Karena Kamu belum menerimaku sepenuhnya L." Akasia tertawa dengan pernyataan K barusan. Kenapa sih pria bernama K itu sok tahu?.
"Aku sudah menerimamu K." ucap Akasia menegaskan.
"Belum L, Kamu belum sepenuhnya menerima kehadiranku." Akasia membuang nafas lelah, sejak tadi mereka berdebat dan ujung-ujung dari perdebatan mereka tetap saja Akasia yang kalah. Sepertinya K itu begitu dominan dan Akasia selanjutnya hanya akan menerima semuanya.
"Jadi, bagaimana Aku harus meyakinkanmu. Bahwa Aku telah menerimamu?" usapan lembut di dahi Akasia rasakan.
"Jika Kamu mulai mencintaiku L." Akasia melebarkan matanya, Akasia memundurkan badannya sedikit. Ucapan K barusan membuat Akasia sedikit shock, shock karena jawaban K di luar ekspektasinya.
"Kamu bercanda? Pasti, pasti hanya alasanmu sajakan?" Akasia berkata dengan keras.
"Tidak L, Kamu tidak lupa jika Aku sudah mengklaim dirimu sebagai kekasihku kan?" Akasia terkejut bukan main, dengan tawanya Akasia berkata.
"Kamu yang mengklaimnya K, bukan Aku. Dan lagi pula kenapa Aku harus mencintaimu?" K tahu ini akan sulit untuk di jelaskan pada Akasia, meski hatinya merasakan sakit dengan kejelasan Akasia yang menolaknya.
"Karena Kamu sudah mengikat Aku L." Akasia memijit pelipisnya, pusing dengan masalahnya ini. Pusing saat Ia ingin menampar K tidak bisa, pusing karena Akasia yang ingin melihat ekspresi K tidak dan pusing dengan segala ketidak berdayaannya menghadapi makhluk tidak jelas bernama K itu.
"Mengikat apa K? Jelaskan dengan benar." Akasia sudah tidak tahu akan kemana arah pembicaraannya dengan makhluk tidak terlihat bernama K ini. Rasanya sangat lucu dan tidak terkoneksi dengan otaknya, apa Ia mendadak bodoh hari ini?.
"Saat Kamu menginginkan seseorang itu hadir dalam hidupmu L, Aku yang saat itu juga menunggu seseorang mengklaimku." alis Akasia bertaut.
"Di tempatku, Kami menunggu para manusia mengklaim Kami para pria dewasa. Bukan dewasa, saat itu umurku baru 22 tahun. Setiap hari Aku menanti moment seseorang mengklaimku, tapi sejak pertama Aku memunculkan diri. Belum ada yang mengklaimku dengan sungguh-sungguh, dan akhirnya hari itu ada dan terjadi. Kamu L.".
" Kamu satu-satunya orang yang mengklaimku di saat yang tepat. Saat itu Aku sangat bahagia, hingga Aku langsung datang menemuimu tanpa Aku pikirkan lagi." Akasia memicingkan matanya saat K malah tidak meneruskan ceritanya.
"Apa Kamu menyesal Aku masih anak-anak saat itu?" tanya Akasia curiga dengan delikan matanya yang bulat itu.
"Awwwh!" Akasia menjerit saat merasakan keningnya terasa panas, Akasia juga berdecak kesal karena ulah K.
"Sial! Kamu K." umpat Akasia, namun Akasia semakin merasa panas di telinganya.
"Jangan karena Aku tidak bisa melihatmu ya K, maka Kamu bisa menyiksaku." ucap Akasia, lalu tangannya melindungi area wajahnya dengan acak. Takut jika K melakukan yang kejam lagi pada anggota wajahnya.
"Aku mencintaimu L, mana mungkin Aku menyiksamu." Akasia merotasi matanya lalu memicingkan matanya penuh selidik.
"Lalu yang semalam?" hembusan nafas Akasia dengar dari K.
"Dalam perjanjian alam semesta, jika bangsa Kami telah di ikat oleh manusia. Maka kami harus setia pada manusia yang mengklaim kami, tidak peduli rupa atau pun usia. Kamu tahu L, Aku sangat beruntung. Karena Kamu yang masih anak-anak yang mengklaimku, setidaknya Aku bisa menunggu." Akasia mengernyit bingung saat Akasia belum mengerti ucapan K, namun Akasia masih berusaha untuk tidak menyela ucapan K.
"Selain itu, dalam perjanjian alam semesta juga. Bangsa kami di haruskan menjaga pasangan kami, para manusia dengan hati dan nyawa." Akasia menatap K.
"Hei K, jangan berlebihan. Selama ini Aku baik-baik saja, tidak ada dirimu juga Aku merasa tidak terancam. Malah dengan adanya dirimu Aku merasa was-was, sampai rasanya Aku ingin memukulmu." kekehan terdengar dari bibir K, Akasia semakin kesal karena K meremehkannya.
"Memang L, tapi nanti siapa yang tahu." Akasia cemberut.
"Apakah manusia yang terikat tidak bisa bebas mencintai orang lain sesama manusia?".
" L dengar, ketika manusia mengikat bangsa kami. Sebenarnya hati dan jiwanya sudah mencintai kami, namun karena perbedaan alam. Makanya manusia sering menyangkal kehadiran kami." Akasia berdecak, merasa lucu dan konyol. Lucu akan doanya saat kecil dan konyol jika Ia akan mencintai makhluk tidak terlihat seperti K.
"Kamu tidak sedang menyindirku bukan?" tawa K Akasia dengar.
"L, Aku tidak bisa memaksamu. Tapi ingatlah kata-kataku, Aku yang akan membuatmu jatuh cinta dan Aku yang akan berusaha." Akasia tersenyum, entah karena apa tapi yang jelas Akasia bersyukur dengan K. Ia tidak suka pria yang pemaksa dan posesif.
"Aku tipe posesif dan tentu tidak akan melupakan perasaanmu untuk menuruti segala keinginanku L.".
"Apa orang lain seberuntung diriku K?" senyum manis Akasia umbar saat tahu K tidak tahu maksudnya.
"Aku bukan siapa-siapa K, Aku salah satu manusia yang bernasib kurang beruntung. Jika Kamu sudah lama berada di sekitarku tentu Kamu tahu bagaimana Aku menjalani hidup.".
"Aku tidak masalah jika Aku terikat denganmu. Lagi pula selama ini, setidaknya Aku masih bisa mengharapkan Kamu bisa mendengarku walau Kamu tidak dapat Aku lihat." pandangan Akasia lurus ke depan, menerawang kehidupannya yang lebih sendiri. Usapan di kepalanya membuat senyum Akasia berkembang.
"Seperti yang Kamu ucapkan L, Aku juga tidak masalah terikat denganmu. Walau Kamu masih sangat muda dan hidupmu tidak seberuntung orang lain. Percayalah, Kamu akan mendapatkan kebahagiaanmu sendiri." Akasia mengangguk lalu tersenyum menatap K, setidaknya hanya itu motivasi yang Akasia genggam sampai saat ini. Bahwa Dia akan mendapatkan kebahagiaannya sendiri suatu saat nanti.
"Ya Kamu benar K, Kamu pasti akan selalu ada di sisiku kan?".
"Haruskah Aku jujur sekarang?" alis Akasia bertaut mendengar pertanyaan K padanya.
"Apa Kamu sedang berbohong padaku?" tanya Akasia penuh selidik.
"Tidak L, Aku akan jujur padamu. Aku tidak bisa setiap saat ada bersamamu, maksudku adalah, Aku termasuk orang penting di bangsaku. Aku akan meninggalkanmu jika Aku mendapat panggilan dari bangsaku. Apa Kamu keberatan?" Akasia terkekeh.
"Bukankah semua orang punya kesibukan? Aku penasaran, apa Kamu juga melakukan hal yang manusia lakukan?".
"Tentu saja L, kami semua sibuk. Kami punya tugas masing-masing, termasuk memantau aktivitas pasangan kami." Akasia berdecak.
"Kenapa pikiranmu selalu mengarah pada pasanganmu?" tanya Akasia penasaran.
"L, jujur saja. Saat semalam Kamu mengusirku rasanya begitu menyiksaku. Dalam perjanjian itu, jika manusia menolak kehadiran kami, maka kami akan lenyap. Dan saat Aku lenyap karena Kamu tidak menginginkanku maka bangsaku akan hancur." alis Akasia bertaut.
"Maaf soal yang semalam, apa Kamu sangat berpengaruh K?" hembusan nafas Akasia dengar.
"Aku masih beruntung karena Kamu dengan cepat mencegah kelenyapanku semalam, keputusanmu hanya sedikit membuat bangsaku kacau." Akasia meringis, semakin merasa bersalah pada K.
"Maafkan Aku.".
"Kenapa Kamu terus meminta maaf L, Kamu tidak salah. Aku yang terlalu memaksamu untuk menerima kehadiranku dan juga belum bisa menjelaskan dari mana Aku dan siapa Aku." Akasia mengangguk mengerti.
"Mungkin memang seperti itu K, oh ya? Lalu bagaimana manusia yang melepas perjanjian itu secara sepihak?".
" Mereka tetap bisa melanjutkan hidup mereka." mata Akasia melebar.
"Bukankah itu tidak adil K? Kalian lenyap dan manusia tetap bisa hidup normal. Apa tidak egois perjanjian itu?" mendadak Akasia kesal mendengar hal itu, hampir saja Ia menjadi egois seperti manusia yang tidak punya otak. Bisa sajakan dengan keputusan mendadaknya semalam merugikan banyak orang, K sendiri bahkan sangat berpengaruh di bangsanya. Akasia berdecak, menyesali ucapannya semalam yang sembarangan.
"Jangan terlalu menyalahkan dirimu L, Aku tidak suka. Memang perjanjian itu merugikan kami, tapi kami harus siap. Tentu itu tidak akan menghancurkan bangsaku jika bukan Aku yang Kamu tolak." penjelasan K membuat Akasia semakin merasa bersalah.
"Maafkan Aku K, Aku sungguh tidak bermak-" Akasia menghentikan ucapannya saat merasakan pelukan hangat, namun Akasia tidak dapat melihat siapa yang memeluknya. Selain Ia yakin bahwa K yang melakukan itu padanya.
"Aku yang berterima kasih padamu, karena Kamu menyelamatkan bangsaku dan Aku sendiri." Akasia tersenyum samar, hatinya juga menghangat saat K mau bersamanya. Setidaknya satu saja, satu orang saja yang mau mendengar bagaimana beratnya beban yang harus Akasia tanggung selama ini. Akasia tidak ingin orang susah karenanya tapi bisakah seseorang hanya menjadi pendengarnya saja. Seperti saat ini, ada K yang sudi memberinya pelukan layaknya Akasia memang manusia pada umumnya. Yang juga punya rasa lelah dan juga rasa ingin di dengarkan.
????
Madiun punya cerita
(Loves, Like and Comment)