Kehadiran K dalam hidupnya membuat Akasia merasakan hal yang sangat luar biasa, seperti pagi ini. Hidung Akasia mengendus aroma harum yang belum pernah Akasia hirup sebelumnya. Matanya yang tadi belum terbuka saat menghirup aroma harum kini terbuka lebar, Akasia mendudukkan dirinya. Akasia sedikit merenggangkan otot-ototnya yang kaku, Akasia turun dari ranjang dengan tergesa lalu membuka pintu kamarnya.
Akasia semakin menghirup aroma itu. Ingin tahu dari mana asal aroma wangi masakan itu, ya Akasia yakin jika itu aroma masakan. Karena saat Akasia membuka pintu kamarnya, aroma enak itu membuat perutnya serasa di lilit oleh rasa lapar.
"K." Akasia melongokkan kepalanya ke dapur saat Ia melihat semua alat masaknya melayang. Apalagi saat kompornya juga menyala api sedang. Akasia yakin seratus persen jika K lah pelakunya, siapa lagi makhluk yang tidak terlihat yang sekarang ada di rumahnya?.
"Kamu sudah bangun L? Apa Aku mengganggu tidurmu?" Akasia duduk di kursi makannya lalu menggeleng dengan senyuman. Walau ini masih sangat pagi untuk Akasia bangun, tapi aroma masakan K sungguh membuat siapa saja langsung terbangun dari mimpi indahnya.
"Kamu memasak?" tanya Akasia tidak percaya dengan segala kelakuan K yang terbilang manis akhir-akhir ini. Setelah Akasia menerima kehadiran makhluk itu dan setelah Akasia marah-marah kemarin pada pria bernama K itu.
"Kamu meremehkan Aku?" Akasia terkekeh, sedikit terhibur dengan adanya K di sisinya. Sudah sangat lama sejak Bibi nya berpulang, suasana dapur tidak lagi hidup.
"Mungkin, apa yang Kamu masak K?" Akasia tidak sabar untuk tidak melihat K sedang masak apa. Kaki mungilnya berjalan ke arah kompor yang menyala.
"Kamu dapat bahan dari mana?" tanya Akasia tidak percaya jika masakan yang K masak pagi ini adalah masakan ala Eropa. Padahal Akasia tidak pernah belanja kebutuhan dapur selain mie instan dan juga minuman berbotol besar, seperti isotonik dan juga jus. Akasia juga harus was-was saat tahu jika masakan itu yang membuat adalah makhluk tidak kasat mata, seperti di film-film. Siapa tahu makanan itu berubah menjadi belatung, daun, tanah dan sejenisnya?.
"Lupakan dan buang pikiran anehmu itu, lalu jangan lupa juga buang makanan tidak sehatmu itu L. sekarang biarkan Aku yang menyiapkan segala keperluan perutmu." Akasia mendengus dengan ucapan K yang memang menohoknya. Lagian Dia tidak selalu berada di rumah, dan mana sempat Ia masak. Buang-buang waktu berharganya untuk belajar saja.
"Kamu mencuri ya K?" Akasia meringis saat lagi dahinya terasa panas, kebiasaan pria itu menyiksa dahi cantiknya.
"K, bisakah Kamu tidak melakukan itu? Aku sama sekali belum menggunakan otakku dan Kamu malah membuatnya sakit sepagi ini." protes Akasia kesal. Lagian siapa juga yang tidak curiga dengan dari mana datangnya bahan-bahan mahal dan enak itu?.
"Berbicara omong kosong lagi L, Aku tidak akan segan menciummu." mata Akasia melotot tajam ke arah K, dengan ucapannya Akasia mempertegas untuk K.
"Jangan kurang ajar K, Aku akan marah padamu seumur hidupku." tawa K terdengar renyah pagi ini, bukannya marah pada Akasia yang mengancamnya. K seperti menggoda Akasia untuk terus mengumpati pria itu dalam pikirannya.
"Aku tidak akan melakukannya jika Kamu tidak ingin." Akasia mendengus mendengar ucapan K itu.
"Maksudmu Aku mengharapkan untuk Kamu cium K? Jangan mimpi deh K." Akasia sudah tidak berselera melihat masakan K, bukan masakannya. Tapi lebih tepatnya omongan K yang melantur, jadi Ia memutuskan untuk menunggu K yang selesai masak saja dari pada moodnya buruk akibat ucapan K yang sembrono. Akasia kembali berjalan ke meja makan lalu duduk di kursi yang Ia tinggalkan tadi.
Akasia menidurkan kepalanya di lengannya yang Ia luruskan. Matanya memberat karena ini masih jam 05:00 pagi untuk Ia bangun. Biasanya Ia akan bangun jam 06:00, tentu setelahnya Ia akan tergesa karena waktunya untuk bersiap sebelum ke sekolah begitu sedikit.
Akasia merasakan usapan di kepalanya, lehernya terasa kaku saat kelopak matanya terbuka.
"Ummm.".
"Bangun L." suara lembut K memenuhi pendengaran Akasia, usapan di kepalanya juga tidak berhenti.
"Jam berapa sekarang K?" tanya Akasia, entah berapa lama Ia tertidur dengan posisi terduduk seperti saat ini.
"Jam 06:00 L, mandilah dan baru memakan sarapanmu." Akasia masih mengumpulkan nyawanya, namun tetap dengan ogah-ogahan Dia berdiri kemudian berjalan ke kamarnya guna melakukan rutinitas paginya.
Setelah 25 menit waktunya di kamar, Akasia sudah kembali ke meja makan dengan wajah cantik dan juga tampilan fresh. Wajahnya yang putih bersih tanpa noda sedikit pun membuat siapa saja tidak percaya jika Akasia sama sekali tidak melakukan perawatan, jangankan perawatan kulitnya. Perawatan untuk perutnya setiap hari saja Ia begitu berusaha keras.
"Makanlah makananmu." Akasia yang duduk di meja makan menatap sarapannya pagi ini, makanan yang menggiurkan untuk segera Ia santap ke dalam mulutnya.
"Tutup mulutmu L, dan makanlah." Akasia terkekeh, tentu Dia menyadari raut wajahnya yang tergoda untuk segera memakan tanpa ampun masakan K.
"Wah, perutku sudah lapar K, maaf tidak membantumu." lagi-lagi Akasia merasakan usapan di kepalanya.
"Aku memang menyiapkannya untukmu." Akasia tersenyum, dengan semangat Ia menyendokkan makanan itu dan memasukkannya ke dalam mulut.
"K, Kamu tidak makan?" tanya Akasia di tengah kunyahan pertamanya.
"Tidak L, Kamu saja yang makan." Akasia mengangguk saja dengan jawaban K.
"Umm, K ini benar-benar enak." Akasia sampai memejamkan matanya saat merasakan lumeran saus kacang yang ada di mulutnya. Entah apa nama makanan itu, tapi yang jelas seperti sejenis pasta dengan bumbu kacang, namun ada potongan sayur-sayuran yang di kombinasikan. Atau sebenarnya itu pasta namun K menambahkan resepnya sendiri, melihat bagaimana Akasia yang sering makan-makanan tidak sehat sebelumnya. Hingga suapan terakhirnya masuk ke mulut, Akasia tidak berbicara apa pun. Fokusnya hanya menghabiskan sarapannya yang begitu enak pagi ini.
"Terima kasih K, Aku sudah kenyang." ucap Akasia setelah menghabiskan makanannya tanpa sisa.
"Gadis pintar.".
"Oh ya L, hari ini Aku akan kembali ke negeriku sebentar. Apa Kamu tidak keberatan?" Akasia menatap sumber suara K saat K bertanya padanya.
"K, Aku tidak mencegahmu kemana pun. Lakukan apa pun yang akan Kamu lakukan." suara K mendengus, membuat Akasia menaikkan alisnya. Sepertinya K sangat berat meninggalkannya, padahal Akasia merasa Ia baik-baik saja.
"Padahal Aku berharap Kamu menahanku." Akasia terkekeh dengan ucapan jujur serta harapan k padanya.
"Aku mematahkan harapanmu ya?" goda Akasia.
"Lagian untuk apa Aku mencegahmu?" tanya Akasia ingin tahu secara jelas apa alasan K meminta Akasia menahan kepergiannya ini. Lagian juga, biasanya pria itu akan pergi dan datang tanpa Akasia duga. Kenapa dengan K hari ini? Akasia hanya mampu mengedikkan bahunya.
"Terserah padamu lah L, Aku pergi." Akasia mengangguk sebagai jawaban. Akasia berdiri guna mencuci piring bekas sarapannya sebelum akhirnya Ia meraih tas bahunya di atas meja, mengunci pintu dan bersekolah.
****
Akasia duduk sendirian di kelasnya jam istirahatnya ini, tentu semua temannya sedang ke kantin dan menikmati makanan yang mereka pesan. Di kelas ini hanya ada Akasia, catat! Hanya Akasia yang duduk termenung di bangkunya seorang diri. Akasia menyembunyikan wajahnya di lipatan lengannya, berharap Ia dapat tertidur sebelum jam pelajarannya kembali di mulai.
"Akasia." Akasia mendongak, menatap sumber suara yang sekarang ada di hadapannya. Hari ini Akasia begitu malas melakukan apa pun, termasuk mendengarkan guru yang sejak pagi tadi menjelaskan rumus Kimia. Otak Akasia hari ini malah memikirkan K yang tidak ada di sampingnya. Pagi tadi dengan gampangnya Ia meledek K, dan sekarang Ia malah merasa kesepian.
Walau Akasia menghalau semua pikirannya, tapi tidak adanya K di sampingnya hari ini membuatnya terus kepikiran dengan pria yang sebenarnya juga tidak dapat Ia lihat itu. Sungguh sial bukan? Memikirkan seseorang namun tidak dapat Kamu bayangkan di otakmu.
"Ya?" seorang siswi tersenyum pada Akasia dengan lesung pipinya, Akasia memuji kecantikan gadis itu tanpa Akasia sadari.
"Em, ada yang menyuruhku untuk memberimu ini." ucap siswi itu, Akasia tidak kenal siapa siswi itu. Mungkin bukan dari kelasnya atau bahkan bukan dari angkatannya.
Akasia melihat sebuah burung kertas berwarna hijau di telapak tangan siswi itu, Akasia tersenyum lalu menerimanya.
"Segeralah Kamu membacanya." Akasia mengangguk dan setelah memastikan Akasia menerimanya siswi itu keluar dari kelas Akasia begitu saja.
Akasia menatap pemberian seseorang tersebut, lalu membiarkannya begitu saja. Akasia menumpukan dagunya di atas punggung tangannya saat sepi menghinggapinya, bodohnya Ia yang tidak menanyakan kapan K akan kembali. Saat pikiran itu terlintas di otaknya, Akasia segera berdecak.
"Kenapa Aku malah memikirkannya?".
???
Madiun punya cerita
(Loves, Like and Comment)