Bab 10 : Batu Safir

1340 Words
Akasia yang selalu diam sejak awal kedatangannya di tempat kerja membuat semua orang bertanya-tanya, namun sama sekali tidak ada yang benar-benar berani menegur atau bertanya pada gadis itu. Sampai waktu pulang Akasia tetap diam hingga dalam perjalanannya pulang pun Akasia tetap dalam mood yang buruk, berulang kali Akasia mendengus dan menghembuskan nafas panjang. Sepertinya gadis itu begitu lelah, bukan badannya tapi otaknya lah yang lelah memikirkan sang makhluk misterius berinisial K itu. 'Hah' untuk kesekian kalinya nafas panjang Akasia keluarkan. Rumahnya sudah di depan mata dan sepertinya, Ia akan harus istirahat dengan segera untuk menghilangkan pikirannya tentang K yang entah kemana seharian ini. 'Klek' Akasia membuka pintu rumahnya lalu menguncinya kembali, Akasia begitu saja menghempaskan badannya di sofa ruang tamunya. Kepalanya menengadah ke langit-langit rumahnya, Akasia menghembuskan nafas berat lagi entah yang ke berapa kali hari ini. Akasia tidak akan sanggup untuk menghitungnya. "Lelah?" Akasia segera menolehkan kepalanya ke sumber suara dengan kecepatan penuh. Jika leher sampai kepala Akasia bukan Tuhan yang menciptakan, mungkin saja sudah putus atau pun patah dari badannya. "K?". "Iya L, ada apa? Apa Aku membuatmu terkejut?" Akasia ingin rasanya menangis, ingin sekali menubruk tubuh K jika saja Ia tahu posisi tubuh K ada di mana. "Kenapa?" suara K merasa heran melihat ekspresi Akasia, Akasia benar-benar menutupi pikirannya kali ini. Dan sepertinya itu berhasil tidak terbaca oleh K, Akasia tersenyum karena tanpa sadar Ia begitu bahagia mengetahui jika K telah kembali. "Peluk!" nada suara Akasia terdengar tidak terbantahkan. "L, ada apa?" Akasia berdecak kesal. "Aku tidak bisa memelukmu K, jadi Kamu yang peluk Aku." suara kekehan Akasia dengar dari K. Entah ada apa dengan otaknya, tapi Ia tidak memikirkan apa pun yang Ia ingin hanya K memeluknya. "Uh, manisnya." goda K dan Akasia merasakan dekapan hangat tubuh besar K. Akasia menyamankan kepalanya di d**a bidang K, karena Akasia dapat merasakan detak jantung di sana. Akasia memejamkam matanya, merasa damai dengan suara tenang detak jantung K. Untuk sebentar Akasia merasakan dejavu, di mana Ia pernah mendekap tubuh hangat dan detak jantung menenangkan ini. "K.". "Uhm." Akasia tidak melepas pelukannya juga tidak mengubah kepalanya dari tempatnya berada sekarang. "Kamu punya jantung?" tanya Akasia merasa heran, alih-alih menanyakan apakah Akasia pernah memeluk K sebelum ini. Usapan di berikan K pada Akasia di punggung gadis itu sebelum menjawab pertanyaan Akasia. "Ya, di saat Aku di Bumi. Aku membutuhkannya, jika Aku di negeriku. Aku tidak membutuhkannya, karenanya Aku me-nonaktifkan jantung itu.". Akasia kali ini mendongak, jika yang berbicara sekarang dengannya adalah manusia. Pasti Akasia dapat melihat ekspresi K, tapi Akasia hanya dapat melihat udara yang tembus hingga langit-langit saat Ia mendongak. Akasia berdecak sebal lagi karena hal ini, benar-benar membuat mood Akasia yang sedikit membaik karena adanya K, sekarang ikut buruk lagi. "Nanti Kamu akan dapat melihatku, bersabarlah sedikit lagi. Paling tidak Kamu dapat melihatku saat Kamu memang ingin melihatku terus ada di sisimu." Akasia menggigit bibir bawahnya, apakah Ia harus jujur sekarang. Sepertinya dalam waktu sehari saja tidak adanya K membuat Akasia kesal bukan main. "Dan sepertinya Aku mulai merasakan itu K, apa Aku terlalu cepat mengatakannya?" jujur Akasia, karena memang jujur Akasia merasa sepi tanpa adanya K, walau Akasia belum dapat melihat K. "Maksudmu L, Kamu ingin Aku terus berada di sisimu?" Akasia mendengar nada terkejut dari K, Akasia mengangguk sebagai jawaban. Semoga saja Ia tidak ceroboh mengambil keputusan ini. "Aku senang mendengarnya." Akasia merasakan belaian lembut di belakang kepalanya. "Seharian ini Aku merasakan moodku begitu buruk, sejak pagi tadi Kamu mengatakan jika Kamu akan pergi." Akasia berkata jujur kali ini, lagian memang itu yang Ia alami sejak pagi tadi. "K." K tidak merespon ucapan Akasia karena ingin tahu apa saja yang akan Akasia lontarkan, keluh kesah dan rasa terbuka Akasia membuat K merasa sangat senang hingga Ia hanya mampu tersenyum di balik tubuhnya yang transparan. "Uhm." Akasia mengeratkan pelukannya, sudah sangat lama Ia tidak merasakan pelukan hangat seseorang, terakhir kali Akasia merasakan pelukan itu 4 tahun lalu sebelum Bibi nya benar-benar sakit keras. Itu yang Akasia ingat walau ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya tentang rasa hangat dari seseorang selain Bibi nya. "Jika Kamu pergi, bagaimana Aku bisa tahu jika Kamu sudah kembali?" Akasia merasakan pelukannya di paksa terlepas, Akasia cemberut merasa K tidak ingin Ia peluk. "Jangan selalu berpikir macam-macam tentangku L, Aku sudah sangat sulit meninggalkanmu seharian ini." Akasia tersenyum menggoda dengan menaik turunkan alisnya, mendengar hal itu membuat Akasia senang luar biasa. Bukan hanya Akasia saja yang kesulitan akan rasa kesepian ini, namun juga penyebab Akasia merasakan itu juga menanggung beban yang sama. "Benarkah? Benarkah?" goda Akasia tidak lupa dengan senyum cantiknya. "L, jangan menggodaku. Di negeriku tidak boleh berbohong." Akasia memicingkan matanya dan melunturkan senyumnya. "Ini negeriku K jika Kamu lupa, Kamu bisa saja berbohong padaku kan?" Akasia mengaduh saat hidungnya terasa di apit oleh jari-jari hangat dan besar K. "Sama saja L, di manapun kami berada. Tidak boleh ada kebohongan, jika seseorang melakukannya, Aku pasti akan tahu dan Aku akan menghukumnya." Akasia tidak tahu bagaimana aturan negeri K, tapi Ia bahagia mendengar bahwa K juga merasa sulit seharian ini, entah karena apa Ia juga merasa senang. Dan rasanya rasa sepinya seharian ini sudah terbayar hanya dengan ucapan K ini, Akasia juga tahu jika K kali ini benar-benar jujur padanya. "Lalu?" tanya Akasia mengenai solusi yang Ia hadapi saat ini. "Berbaliklah." Akasia menurut, Ia duduk membelakangi K. Setelah beberapa detik berlalu, Akasia merasakan lehernya di pasangkan sebuah benda. Akasia menunduk, matanya membola saat sebuah kalung dengan liontin batu berwarna biru sudah terpasang cantik di sana. "K?". "Kalung itu akan memberimu tanda jika Aku pergi atau pun sudah kembali." Akasia kembali menghadap K dengan jari-jarinya yang masih memegang liontin cantik itu. Seperti batu berbentuk oval, mata Akasia melebar. "Jangan bilang ini batu Safir?" Akasia melihat K yang tidak terlihat itu, memastikan tebakannya benar. Namun Akasia harus kembali berdecak saat Ia tahu bahwa Ia tidak dapat melihat K. "Aku merasa Kamu menipuku." tawa ringan K berikan saat melihat wajah cemberut Akasia yang lagi-lagi terlihat lucu dan menggemaskan. "L, ingat perjanjian Kita kan?" Akasia mengangguk pasrah. "Iya, itu batu Safir. Jika Aku ada di sisimu, maka batu itu akan bercahaya biru terang dan sedikit meredup saat Aku sudah benar-benar bersamamu. Tapi jika Aku tidak ada di sisimu, maka batu itu akan berwarna biru dengan sedikit kehitaman." Akasia mencuramkan alisnya. "Bukan kah itu bisa saja menarik perhatian orang lain?". "Tidak L, hanya Kamu pasanganku yang dapat melihat cahaya itu. Tidak untuk orang lain, dan ingat kataku saat ini. Jangan pernah lepaskan kalung itu, di mulai sejak Aku memasangkannya." Akasia menaikkan alisnya. "Kenapa?" Akasia merasakan usapan di puncak kepalanya. "Selain Kamu tahu Aku ada di sisimu atau tidak, kalung itu akan melindungimu dari segala hal yang akan mencelakaimu L." Akasia tidak paham dengan ucapan K kali ini. "Selama ini Aku baik-baik saja K jika Kamu lupa, lalu untuk apa Aku takut?" K berdecak tidak suka dengan jawaban Akasia. "Turuti saja L, jangan membantahnya." Akasia mendengus kesal juga. "Pemaksa." cibir Akasia. "Itu nama margaku." ucap K dengan kekehannya. Akasia memandangi kalung berliontin batu Safir itu dengan senyum merekahnya, kali pertama Akasia mendapat barang dari orang lain selain Bibi nya. Dan kalung itu begitu indah hingga Akasia merasa harus menjaganya. "Boleh Aku menjualnya?" canda Akasia dengan senyum bodohnya, Ia ingin menggoda K. Satu sentilan langsung Akasia dapat di dahinya, Akasia mendengus. "Apa Kamu begitu miskin?" Akasia cemberut saat ucapan menohok malah sedikit melukai dirinya. "Kamu tahu Aku lebih dari miskin K, bahkan Aku begitu fakir miskin. Kamu tidak berniat menyumbangkan sesuatu begitu pada si fakir miskin ini?" tanya Akasia dengan tangan sudah menengadah ke K. "Aku sudah memberikan hatiku dan semuanya yang ada padaku, apalagi yang Kamu minta?" Akasia berdecak saat K malah berbicara begitu serius, lagian siapa juga yang mau menjual kalung sebagus batu safir biru ini. "Baiklah, teruslah berada di sisiku. Meski Kamu merasa lelah, tetaplah tinggal." kali ini Akasia sadar jika bagaimana Ia menolak takdir hidupnya, pada akhirnya Ia akan hidup di sekitaran K. Entah K bosan atau tidak padanya, yang Akasia inginkan adalah K selalu ada di sisinya untuk sekarang ini. ??? Madiun punya cerita (Loves, Like and Comment)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD