Pesan Fatur

2303 Words
“Setidaknya bisa sedikit melupakan rasa sakitnya. Huh, walau cuman sebentar. Siapa sih yang bakal baik-baik saja dan secepat itu melupakan hal menyakitkan yang baru saja terjadi? Gua jamin hampir enggak ada orang yang bisa. Kalau pun ada, rasa yang dia agungkan patut dipertanyakan.” Merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Menatap langit-langit kamar kos. Kinan ingin segera melupakan nama Kelvin dalam hidupnya. Sayang, tidak semudah yang dia bayangkan. Keberadaan pria itu yang bertahun-tahun membuat teramat sulit. Bayangan kenangan masa lalu terus saja menghantui. Ah, mereka dulu pernah bahagia. Bermimpi dapat hidup bersama sampai menua. Walau pada akhirnya hanya angan yang tidak mungkin menjadi kenyataan. Hidup sekejam itu. Kinan bahkan sudah menganggap jika Kelvin adalah jodohnya. Belahan jiwanya. Tulang rusuknya. Memang ya, berharap pada manusia itu paling salah dilakukan. Karena ya, hanya kecewa yang akan dia dapat. Melirik plastik belanjaannya tadi. Ada sedikit rasa sesal karena membuang uang dengan hal yang menurutnya kurang berguna. Lebih memiliki manfaat jika dikirimkan pada orang tuanya di rumah. “Enggak ada salahnya sekali-kali kasih reward diri sendiri. Bukankah itu bentuk bersyukur juga? Lagian enggak setiap hari juga kan,” bantah sisi hatinya yang lain. Benar. Kinan sudah bekerja keras setiap hari. Bentuk berterima kasih pada diri sendiri ya dengan memanjakannya. Dia tidak akan langsung miskin setelah ini. Semua belanjaan itu juga tidak menghabiskan seluruh uang gaji bulanannya kok. Masih banyak sisa yang bisa dikirimkan atau ditabung. Membongkar beberapa kantong plastik yang ada. Mengeluarkan belanjaannya dari dalam. Menatap kagum pada dress panjang yang menurutnya sangat indah. Harga memang tidak pernah membohongi ya. Ada harga ada kualitas. Rencananya, akan menggunakan pada saat hari pernikahan Kelvin berlangsung. Datang ke pernikahan mantan itu harus tampil sempurna. Agar pria itu menyesal telah meninggalkan dan memilih yang lain. Bentuk balas dendam paling elegan, menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Menunjukkan pada semua jika dia juga pantas untuk diperhitungkan. Bukan dengan mengacaukan acara yang ada. Itu malah mempermalukan diri sendiri. “Gara-gara pernikahan itu, gua jadi keluarin duit yang enggak sedikit,” gumam Kinan. Satu dress ini saja mampu menghabiskan hampir setengah tabungannya. Walau mulutnya sudah mengatakan tak apa, tapi hatinya masih belum rela. Ah, harga satu pakaian ini saja bisa untuk makan Kinan selama dua minggu. Atau membayar sewa kamar sepetaknya ini setengah bulan. Jika digunakan untuk membeli mi instan, bisa dapat berdus-dus. Menggelengkan kepalanya mengusir penyesalan yang ada. Mengingatkan diri sendiri bahwa yang dilakukan tidak setiap hari. Tidak juga satu bulan sekali. Baru kali ini saja kok. Kemungkinan juga tidak akan mengulanginya lagi. Kembali berbaring di atas ranjang. Memejamkan matanya mencoba mengusir lelah yang seharian ini begitu terasa. Mungkin bukan lelah fisik, tapi lebih ke lelah jiwa. Kinan berharap bahwa ini semua hanya mimpi buruk. Yang akan kembali normal begitu dia membuka matanya. Sayangnya, yang terjadi benar nyata. Tidak bisa menampik sedikit pun. Dia masih bertanya-tanya. Apa yang ada di pikiran Kelvin sampai bisa berbuat sejauh itu? Hubungan yang sudah terjalin di antara mereka bukan satu dua bulan loh. Enam tahun. Kinan kira, lamanya hubungan bisa membuat pasangan makin yakin dan enggan untuk berpaling. Atau, karena dia yang sudah tidak menarik lagi? Pikiran itu sangat mengganggunya. Kelvin menduakan Kinan karena Kinan membosankan. Menemukan sosok lain yang dianggap mampu menggeser posisinya. Bohong jika dia mengaku ikhlas dan akan turut bahagia jika melihat Kelvin bahagia. Jika bisa, Kinan ingin mendatangi dan mengacaukan acara nanti. Membawa Kelvin kembali ke dalam pelukannya. Bukan bodoh, tapi karena dia terlalu cinta. Itu hal yang wajar dilakukan oleh pihak yang tersakiti kan. Cinta Kinan enam tahun ini begitu tulus. Bagaimana bisa mudah menggeser nama Kelvin di hatinya? Bibir memang bisa berkata bahwa dia baik-baik saja. Tapi hati, tidak bisa membohongi siapa pun. Kinan tidak ikhlas. Apa dia harus berdoa buruk saat ini? Katanya kan doa orang terzalimi akan mudah di kabulkan. Jahat memang, tapi pikiran itu sempat terlintas. Jika mereka bisa menyakitinya dengan begitu sangat, dia juga harus memberikan sedikit balasan kan? Tidak perlu menggunakan tangan langsung. Memohon saja pada pencipta agar membalaskan dendamnya. *** Kinan bangun saat hari sudah berganti malam. Itu juga karena perutnya yang mulai keroncongan. Kalau tidak, mungkin akan sampai pagi. Berjalan gontai menuju lemari kecil yang terpasang di atas kompor. Melihat apa ada stok mi instan yang dia punya. Nihil, tidak ada sama sekali. Karena terlalu malas keluar, Kinan hanya meneguk air putih. Satu gelas sampai tandas. Apa dia harus memesan makanan pada aplikasi online? Tapi mengingat pengeluaran hari ini, Kinan mengurungkan niatnya. Kalau malam ini makan enak, sisa bulan ini dia harus rela makan mi instan pagi, siang, sore, dan malam. “Minum aja deh yang banyak.” Memutuskan untuk tidak menuruti pinta perutnya. Sedikit mengganjal perut, Kinan keluar kamar menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Mungkin setelah itu akan kembali memejamkan matanya lagi. Sudah terlalu malam dan tidak ada sesuatu yang harus dia kerjakan. Sayangnya, rencana Kinan tidak berjalan semulus itu. Dia tidak bisa kembali memejamkan mata. Bisa jadi karena terlalu lama tertidur tadi. Harusnya menahan kantuk pada sore hari jadi saat malam tidak terjebak seperti ini. Tidak bisa memejamkan mata karena kantuk sama sekali tidak menghampiri. “Kalau sudah begini, gua harus apa? Ya kali cuman begini sampai tidur sendiri.” Menatap sekelilingnya dan mendesah pasrah saat tidak menemukan sesuatu yang bisa dia lakukan. Menopang dagunya pasrah. Sepertinya dia hanya akan diam seperti orang bodoh sampai kantuk datang menghampiri. “Gua harus apa ini?” Masih kebingungan dengan apa yang harus dia lakukan. Akhirnya mengambil ponsel yang masih terletak di tas. Menyalakan dan melihat notifikasi. Lebih banyak notifikasi dari media sosialnya. Memberitahu jika ada yang baru saja mengirimkan postingan atau ada pengikut baru. Matanya fokus pada notifikasi pesan masuk yang dikirimkan beberapa jam lalu. Bahunya melemah saat menyadari jika nama adiknya lah yang tertera. Jika bocah itu sudah mengiriminya pesan, tidak akan jauh dari uang. Meletakkan kembali ponselnya. Kanan sudah tidak berselera memainkan ponsel. Lebih baik diam seperti orang bodoh deh dari pada dia harus kesal malam-malam. “Mau lu minta sampai nangis darah juga gua ogah kali. Punya badan sehat bukannya kerja malah main minta mulu. Salah apa sih gua punya adik kaya begitu bentukannya?” Hal yang paling dia kesalkan dan sesalkan dalam hidup adalah memiliki adik tidak tahu diri. Jika bisa kembali, dulu Kinan tidak akan meminta adik dalam jangka waktu dekat. Mungkin yang lahir bukan dia. Bisa jadi sosok yang malah berbanding terbalik kan. “Kalau bisa gua tukar tambah sama yang mending dikit juga sudah gua lakukan dari dulu. Enggak masalah keluar uang banyak di muka asal ke depannya enggak nyusahin.” Andai saja ada jasa tukar tambah khusus orang. Huh, bodoh sekali Kinan ini. Mana ada ya. Hal mustahil yang sampai kapan pun tidak akan pernah terjadi. Saking kesalnya dengan Fatur sampai membuat dia jadi bodoh. “Kepala, ayo lupakan tentang dia. Anggap aja enggak kirim pesan. Biar aja ya. Hidup bukan buat ngurusin satu orang kaya dia. Rugi hidup gua yang ada.” Menggulingkan badannya di atas ranjang. Berharap dengan melakukan itu kantuk akan segera datang. Dan cukup berhasil. Tidak lama setelahnya, Kinan menguap dan jatuh tidur dengan sendirinya. Mengabaikan ponsel yang sedari tadi menyala menandakan adanya pesan masuk baru. Nada ponselnya yang hening membuat Kinan tidak mengetahui. Cukup menguntungkan karena tidak mengganggu tidurnya. Malam makin beranjak. Berganti pagi dengan begitu cepat. Bunyi alarm mampu membangunkan tidur nyenyaknya. Alarm yang di setel setiap hari untuk menghindari dari terlambat masuk kantor. Dia hanya karyawan biasa yang sebisa mungkin selalu tepat waktu. Jika tidak, gaji yang menjadi taruhan. Gaji pas-pasan jika di potong, akan makan bagaimana dia? Belum lagi harus mengirimkan pada orang tua. Meringankan beban mereka walau sedikit. Menguap lebar merasakan kantuk yang masih saja bergelayut. Tidak mau segera pergi begitu alarm berbunyi nyaring. “Lima menit lagi boleh enggak sih? Ngantuk banget gua,” desahnya dan memejamkan mata setelah berhasil mematikan bunyi berisik itu. Jauh dari orang tua mengharuskan Kinan memasang alarm setiap pagi. Dulu di rumah ada ibu yang senantiasa akan membangunkan. Berteriak jika dia tetap tidak bangun juga. Mengucek matanya sambil menguap lebar. Merenggangkan badannya masih dengan di atas ranjang. Setelah dirasa cukup, berdiri menuju galon berisi air mineral. Menegak satu gelas penuh. Rasa lapar yang semalam sempat hadir kini datang lagi. Kinan harus cepat mandi dan setelahnya membeli nasi bungkus untuk sarapan. Yang dia syukuri, ibu kos yang rumahnya tepat di seberang bangunan kos ini menjual nasi bungkus di pagi hari. Cukup murah dengan porsi yang lumayan banyak. Dengan uang lima ribu, sudah bisa kenyang sampai siang hari. “Ibu, Kinan mau satu yang kaya biasa,” ucapnya saat tiba. Mungkin karena masih terlalu pagi jadi belum banyak yang datang mengantre. Bersyukur setidaknya dia tidak perlu lama berdiri sambil menahan laparnya lebih lama. “Makasih Bu.” Memberikan uang pas dan kembali masuk ke kamar kosnya. Kinan sudah sangat lapar. Tidak perlu menunggu lama, makanan itu habis tak bersisa. Masuk seluruhnya pada perut. “Akhirnya ya, lu makan juga perut. Maaf kalau semalam gua pilih tidur. Ya kali, malam-malam cari makanan. Malas banget deh.” Berdandan di depan cermin. Memastikan penampilannya tidak terlalu buruk. Kinan harus tampil sempurna kan. Jangan sampai menjadi buruk di hari-hari patah hatinya atau Kelvin akan makin tertawa dibuatnya. Sentuhan terakhir di wajahnya dengan memoleskan lipstik. “Sudah, lebih baik lah dari pada yang lalu sampai gua diselingkuhi.” Tertawa miris masih dengan menatap pantulan wajahnya di depan cermin. “Apa Kelvin selingkuh karena gua yang terlalu masa bodoh sama penampilan? Gua kan selama ini jangankan buat rias wajah, punya aja enggak alat-alatnya. Huh, memang ya kalau mau cantik itu butuh modal.” Untung saja kemarin selain membeli dress, Kinan juga menuruti Lidia untuk membeli beberapa alat make up yang katanya umum digunakan. Selama ini, Kinan hanya menyatukan bedak tipis dan juga liptint. Persis seperti anak sekolahan. Tapi jika dilihat lagi, anak sekolahan jaman sekarang sudah lebih dari itu. Mereka bahkan tidak segan menggunakan pensil alis dan lipstik merah merona. Intinya sih Kinan kalah jauh. “Enggak berlebihan kan?” Sekali lagi menghadapkan dirinya pada cermin. Kinan belum terbiasa dengan bibir yang lebih berwarna. Atau bulu mata yang terasa lebih panjang dengan bantuan mascara. Padahal seharusnya dia sebagai pegawai kantoran wajar menggunakannya. Seperti teman lainnya. Lidia juga seperti itu. Malah gadis itu menambahkan beberapa sapuan warna pada kelopak mata dan sedikit juga pada pipi. Menebalkan alis juga dengan bantuan pensil alis. Yang jelas hanya Kinan saja yang terlalu polos. Lebih mirip anak sekolahan ketimbang pegawai kantoran. Sekali lagi, pantas saja Kelvin mendua. “Berangkat dulu Mbak.” Melambaikan tangan pada tetangga kos yang dia tahu usianya berada di atas Kinan. Sebagai penghuni kos yang pasti suatu saat membutuhkan bantuan tetangga kanan dan kiri, sebisa mungkin Kinan ramah pada semua. Menambah teman sekaligus keluarga di tanah rantau. Orang terdekat kita saat ini ya tetangga. Mereka yang bisa dimintai tolong. Berbaiklah pada mereka agar jika membutuhkan sesuatu tidak segan lagi. Salah satu petugas yang orang tuanya dulu berikan saat akan berangkat untuk mulai menuntut ilmu di kota. Walau kota terkenal dengan kehidupan individualnya, Kinan tidak boleh sama. Dia harus menunjukkan bahwa dia bukan seperti itu. Dan Kinan berhasil, terbukti dengan dirinya yang hampir mengenal seluruh penghuni kos ini. Berjalan pelan menuju bangunan perkantoran yang dia tempati sebagai tempat mencari nafkah. Hanya berjarak satu setengah kilometer. Paling lama membutuhkan waktu lima belas menit jika berjalan. Kali ini Kinan bisa santai karena masih terlalu pagi. Dia tidak akan terlambat. Salah satu keuntungan bangun pagi, tidak terburu melakukan sesuatu karena takut terlambat ke kantor. Tapi tidak setiap hati Kinan bisa bangun pagi sesuai dengan alarm berdering. Kadang ada kalanya dia begitu malas dan tertidur beberapa menit lagi. Dan ujung-ujungnya malah kesiangan. Terpaksa tidak makan lebih dulu dan berangkat dengan lari kecil. Jangan tanya bagaimana kondisinya begitu tiba di kantor. Berantakkan dengan perut yang berbunyi keras. Saat itu Kinan berjanji dengan dirinya sendiri agar tidak mengulangi. Tapi ya dia tetap mengulanginya sesekali. Tiba di kantor, langsung berlalu menuju ruangan tempatnya bekerja. Mengabaikan beberapa tatapan yang mengarah ke arahnya. Mungkin mereka masih turut iba dengan kabar mantan kekasihnya yang akan menikah. Gosip sialan itu tidak kunjung menghilang. Walau tidak seheboh saat pertama kali berembus, tapi masih ada segelintir orang yang membicarakannya. Berujung dengan mereka yang menaruh rasa kasihan padanya. Ya Tuhan, padahal Kinan sudah baik-baik saja. Setidaknya yang terlihat. Jika mereka terus saja seperti itu, malah berdampak buruk pada kewarasannya. Bernafas lega saat sudah berhasil duduk di kursi yang dia tempati. Merebahkan kepalanya di atas meja berbantalkan lengan. Adanya sehat yang membatasi antara karyawan satu dengan lainnya membuat Kinan sedikit lega. Ponsel. Kinan lupa membuka benda itu setelah semalam dia campakkan begitu saja. Menyalakan ponsel yang sekarang tersisa dua puluh persen dayanya. Meringis saat menyadari dia lupa untuk mengisi daya semalam. Ternyata Fatur mengiriminya banyak pesan dan melakukan banyak panggilan. Membuka pesan dengan nama pengirim adiknya. Memejamkan mata begitu dia mulai membaca deretan pesan yang dikirim itu. Benar saja. Fatur si tidak tahu diri itu meminta uang lagi di saat baru minggu lalu Kinan mengirimkannya. Tersenyum miris dengan apa yang terjadi padanya. Dia seperti dijadikan sapi perah. Bekerja susah payah, dan Fatur tanpa tahu malu memintanya terus-terusan. Kinan tidak masalah jika uang itu digunakan untuk hal berguna. Atau untuk biaya sekolah. Tapi sayang Fatur menggunakan uang itu untuk bersenang-senang. Melakukan hal bodoh yang sebenarnya tidak memiliki manfaat. Meletakkan kembali ponselnya saat dirasa tidak ada yang penting lagi. Kinan tidak pernah lama memegang ponsel dengan alasan itu. Pesan yang bocah itu kirimkan sangat mengganggu. Dan lebih mengganggunya lagi, tanpa bosan mengirimkannya. “Kinan, sudah makan belum?” tanya suara dari belakang. Dia Lidia. Teman satu kantor dan satu divisi yang juga merangkap sebagai teman dekat Kinan di kantor. Mengangkat kepalanya dan tersenyum kecil menyapa gadis itu. “Sudah Lid. Lu belum? Kalau belum ayo gua antar ke kantin. Mata gua butuh yang seger-seger nih.” Sepertinya memang Kinan membutuhkan itu. Dari pada berpikir tentang Fatur terus kan. Secangkir kopi panas mungkin bisa menghilangkan ingatan itu
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD