“Itu Kelvin.” Lidia menunjuk pada pria yang baru saja masuk ke kantin. Kantin yang terletak masih satu lantai dengan mereka bekerja. “Dia, kelihatan baik-baik aja. Enggak kaya elu yang menyedihkan. Kalau begini kelihatan jelas siapa yang menyakiti dan siapa yang disakiti. Tenang aja, elu tetap bakal jadi sosok lemah yang patut di lindungi kok. Dan dia, jadi tokoh antagonis yang pantas di bully.” Menarik sebelah bibirnya. Mereka masih hidup di negara yang orang-orangnya sangat menyukai privasi orang lain untuk dikonsumsi. Akan memihak pada dia si lemah dan menjatuhkan dia yang dianggap bersalah. Jika menjadi tokoh protagonis yang tersakiti, masih bisa bernafas lega walau setiap langkah diiringi tatapan iba dan mengasihani. Namun sebaliknya, jangan harap hidup akan tenang saat menjadi tokoh antagonis. Bukankah Kinan harus bersyukur akan hal itu?
Mendelik ke arah teman dekat satu-satunya yang dia miliki. Tidak, Kinan bukan sosok introvert yang tertutup pada orang lain. Dia hanya tidak terlalu mempercayai mereka saja. Kinan memegang teguh pendiriannya. Semakin sedikit teman, maka semakin sedikit pula kesempatan untuk di khianati. Banyak teman juga tidak menjamin hidupnya indah seketika. Jaman sekarang banyak teman yang memiliki lebih dari satu wajah. Baik jika di depan namun berbanding terbalik jika di belakang. Kinan hanya mempercayai Lidia sekarang. Setidaknya setelah kepercayaan yang dia berikan pada Kelvin dihancurkan begitu saja. “Gua enggak selemah itu ya. Kalau gua lemah, mungkin sekarang enggak ada di depan lu. Tapi di kos sambil merana. Meratapi nasib yang enggak berpihak sama gua. Huh, mungkin malah meraung enggak jelas sambil berkali meneriakkan nama b******n itu.” Dan buktinya Kinan tidak melakukan hal bodoh itu. Itu berarti dia tidak lemah seperti yang Lidia katakan kan?
“Dengan lu ngomong begitu, gua malah berpikir kalau elu melakukan hal itu Nan. Enggak ada yang tahu kan, lu kan di sana sendirian. Bisa jadi di depan orang sok kuat banget tapi ternyata pas di kos mewek. Nangis meraung enggak terima karena Kelvin menduakan elu.” Mengedikkan bahunya acuh. Tidak ada yang mengetahui apa yang gadis itu lakukan ketika sendiri. Yang jelas, Lidia yakin Kinan tidak sekuat kelihatannya. Masih ingat saat gadis itu menangis begitu dia bertanya keadaannya pasca undangan Kelvin tersebar? “Tapi sekali lagi gua bilang, itu wajar. Sangat wajar untuk orang yang baru saja disakiti, dikhianati, diduakan. Gua malah akan berpikir bahwa elu enggak benar cinta kalau elu biasa aja,” tutur Lidia. Mereka sama-sama perempuan, jelas menyadari bagaimana rasanya walau dia sama sekali tidak terlibat langsung. Di balik saja. Dia yang bukan tokoh utamanya saja merasakan sakit yang luar biasa. Apalagi Kinan sebagai tokoh utama itu? Sakit yang gadis itu rasakan tentu tidak main-main.
“Ya, elu benar. Gua sampai berpikir apa yang sebenarnya kurang dari diri ini sampai Kelvin memilih mendua. Gua pernah dengar kalau pasangan kita enggak setia atau berbuat kesalahan, jangan semerta langsung menghakimi dan menilai dia salah. Sebelum melakukan itu harus introspeksi diri dulu. Apa yang salah dari diri gua sampai dia memilih jalan itu. Enggak mungkin kan kalau gua sempurna tapi dia main serong.” Ya, Kinan selalu memegang teguh prinsipnya. Menganggap kesalahan pasangan adalah imbas dari kesalahan kita juga. Yang dia tidak tahu, ada beberapa jenis pria yang melakukan kesalahan tanpa alasan itu. Dengan sadar mendua dan berkhianat. Mungkin Kelvin salah satu di antaranya. “Dan gua sudah menemukan apa itu alasannya. Jelas dia pilih sama yang sekarang. Lebih bening, kinclong. Enggak kaya gua. Kaya kentang.”
“Heh dari mana pemikiran bodoh kaya begitu? Di sini jelas kesalahan ada pada dia sepenuhnya. Kalau cinta mah mau kaya kentang, apa kaya ubi kek itu muka, enggak akan segampang itu buat belok. Jangan jadi bodoh dengan menyalahkan diri sendiri deh Nan. Kesel gua,” desis Lidia tidak terima. Ada ya orang macam Kinan ini. Dia terlalu baik. Ah, jika dia yang ada pada posisi Kinan, setidaknya akan memberikan tamparan keras yang bisa pria itu ingat seumur hidup. Eh tapi jangan sampai bertemu pria macam Kelvin. Makan hati yang ada. “Yang buat gua tambah kesel ya, dia masih biasa aja. Masih punya muka buat datang ke kantin setelah apa yang dia lakukan. Dia kira selingkuh itu bukan hal besar kali ya. Dia enggak berpikir dampak dari perbuatan dia. Jika memang bukan ke dirinya sendiri, setidaknya pikirkan orang yang sudah dia sakiti kek.” Lidia mengacungi muka tembok Kelvin. “Mentang-mentang ganteng jadi seenaknya sendiri.” Sekesal dia pada Kelvin, tetap tidak bisa memungkiri rupa Kelvin yang memang tampan. Jujur, Lidia pernah terpincut pesona pria itu. Wajah rupawan tetap saja memiliki privilage dibanding dengan yang biasa saja. Pasti ada pembelaan yang membenarkan perbuatan walau sebenarnya jauh dari kata benar.
“Dan ya, benar kata lu. Dia ganteng. Dilihat dari sisi mana saja juga dia terlihat sempurna. Enggak pantas dengan gua yang begini. Bukankah adil kalau dia bareng sama yang sekarang? Mereka terlihat serasi.” Yang membuat Kinan makin sakit hati, dia mengakui dengan sadar bahwa Kelvin dengan pasangannya yang sekarang tampak sempurna bersanding. “Sudah deh, sekarang kan gua mau coba move on. Jadi jangan bawa nama dia lagi atau akan lama berhasilnya. Gua kan juga mau bebas kaya dia. Terlepas dari masa lalu dan menyambut masa depan. Ah tapi enggak tahu deh gua siap buat jatuh cinta lagi atau enggak. Takut kalau kejadian begini terulang lagi.” Ketakutan itu ada dan nyata. Jika ditanya apa sudah memaafkan Kelvin, mulutnya bisa mengatakan sudah. Namun tidak dengan hati dan juga pikirannya. Rasa sakit yang pria itu berikan sangat dalam. Sampai menyebabkan Kinan berdarah-darah di dalam sana. Dan tidak yakin kapan dia bisa sembuh.
Lidia memilih diam. Menatap sahabat sejak masuk kantor ini dalam. Kinan sedang dalam guncangan yang cukup keras. Hubungan gadis itu dengan Kelvin tidak satu dua bulan, melainkan bertahun. Kisah mereka sudah diketahui hampir satu antero gedung ini. Pasangan sempurna yang mendapat predikat couple goals. Banyak yang mengaku iri dengan hubungan mereka yang langgeng tanpa pernah diterpa masala. Dan sekalinya datang masalah, bukan main-main. Memang ya, rumput tetangga selalu tampak lebih hijau. Sekarang, pasangan yang digadang akan sampai pada pelaminan itu sudah tidak ada. Tersisa kenangan dan rasa sakit yang ditinggalkan. “Gua akan di samping lu Nan. Gua enggak akan tinggalkan elu. Cari jalan keluar bareng-bareng ya. Siapa tahu di tengah jalan ada cowok mapan, rupawan, dan memabukkan. Bisa banget buat gantiin si b******n itu.” Satu harapan dia sebagai teman. Ingin melihat Kinan segera pulih. Bukan hanya dari mulut, tapi juga pulih benar-benar pulih.
Tersenyum melihat betapa tulus Lidia berbicara. “Makasih ya Lid. Seenggaknya gua enggak akan gila sendiri. Masih ada elu yang bisa mencegah hal yang kiranya enggak baik gua lakukan nanti. Manusia enggak ada yang tahu kan akan bagaimana ke depannya. Lu bukan sekedar rekan kantor, tapi juga teman, sahabat, keluarga, dan semuanya. Gua bersyukur bisa kenal sama elu.” Lidia, salah satu keberuntungan yang Kinan miliki. Dia tidak merasa sendiri di tengah ibu kota yang asing ini. Dulu memang ada Kelvin. Sekarang pria itu sudah memilih pergi kan. “Ayo selesaikan makan dan kembali bekerja. Kita digaji bukan untuk menggalau ria.” Tertawa kecil setelahnya. Kinan berharap kesedihan yang dia alami tidak akan berkepanjangan. Akan segera terurai seiring berjalannya waktu.
Kinan kira setelah kembalinya ke rumah, bisa sedikit bernafas lega. Terbebas dari tatapan iba dan juga bisa melepas topeng senyumnya. Hah, Kinan terlalu besar berharap. Baru saja berhasil membuka pintu kosan, ponsel yang sedari tadi digenggam menyala. Menampilkan nama yang sayangnya tidak bisa dia hindari. Dering pertama, memilih membiarkan sampai panggilan itu berakhir sendiri. Kinan masih ragu. Banyak kemungkinan jika dia mengangkat panggilan itu. Paling dia takutkan adalah, tidak bisa menerima fakta yang ada bahwa mereka sudah tidak sama lagi. Kenyataan menyakitkan yang sayangnya benar adanya. Dering kedua, ketiga, dan seterusnya berakhir sama. Kinan belum memiliki keberanian menggeser ke arah kanan. Berbicara dengan orang di balik telepon, tidak pernah ada dalam rencana hidupnya ke depan. Mungkin selamanya akan seperti itu. Setidaknya dia harus membatasi hati. “Kalau beberapa minggu lalu telepon dia yang paling ditunggu, sekarang sebaliknya. Memang ya, roda berputar dengan sangat cepat. Jika gua tidak bisa mengikuti atau sekedar bertahan hidup, jelas akan berantakkan.”
Meletakkan barang bawaannya begitu saja. Keluar lagi menuju kamar mandi. Kinan perlu mengguyur tubuhnya. Seharian bekarja cukup membuat tubuhnya menghasilkan banyak keringat. Bukan saat bekerja. Lebih tepatnya ketika dia berjalan dari kantor sampai kos. Lima belas menit berjalan tentu mampu memerah banyak keringat. Di tambah matahari yang masih betah padahal sudah sore. “Segarnya,” desah Kinan usai berhasil mengguyur tubuh penuh keringatnya. Bau sabun menguar dari tubuhnya. Membawa kembali alat mandinya ke dalam kamar. Penghuni kos terbiasa menyimpan peralatan mandi di kamar masing-masing. “Sekarang mulai berpikir untuk makan malam.” Kinan selalu bingung dengan apa dia makan. Harus berpikir lumayan lama baru menentukan pilihan. Itu juga kalau pilihannya bisa dijangkau. Kalau tidak, akan berpikir ulang sampai akhirnya memilih tidak makan. Apa semua anak kos sama sepertinya? Atau hanya dia saja?
Belum sempat duduk, pintu kamarnya diketuk dari luar. Menghela nafas sebelum berdiri untuk membukanya. Siapa gerangan yang datang di sore hari begini? Apa tidak tahu jika dia sudah lelah? Tidak berencana menerima tamu sekarang. “Oh Nin, ada apa ya?” tanya Kinan langsung tanpa berniat basa-basi. Lebih cepat urusan gadis itu selesai, lebih baik. Dia bisa beristirahat setelahnya. Ah, melihat ranjang membuat Kinan ingin segera menaikinya. Merebahkan tubuhnya. Mengurai lelah seharian telah bekerja. Tunggu, Kinan harus menyelesaikan urusan dengan tetangga kosnya dulu. Baru setelahnya bisa bergelung di atas ranjang yang sudah menemaninya bertahun-tahun. Kasur kaku itu lebih setia ketimbang pria yang sering mengumbar janji manis. Mengingat Kelvin dan ucapan-ucapannya itu membuat Kinan mual tiba-tiba.
“Ini Kak, tadi pas Nindy baru balik dari kampus ada ojol yang kasih ini atas nama Kak Kinan. Dia kelihatannya lagi buru-buru juga. Jadi pas tahu kalau kenal Kak Kinan, langsung deh titip ke Nindy. Ini Kak.” Memberikan satu bungkus makanan yang berasal dari restoran ternama. “Nindy balik dulu ya Kak. Jangan lupa makan, Kakak enggak kelihatan baik-baik aja.” Gadis berusia beberapa tahun di bawah Kinan itu meninggalkan kamar untuk kembali ke kamarnya sendiri. Tidak menyadari ucapannya mampu membuat Kinan banyak berpikir.
“Apa gua benar terlihat menyedihkan ya? Nindy yang enggak tahu apa-apa aja bisa tahu dengan mudah kalau gua memang sedang enggak baik-baik aja,” gumam Kinan. Ternyata dia tidak sehebat itu untuk menyembunyikan apa yang dia rasa. Orang di sekitarnya bisa dengan mudah menebak. Itu berarti perasaan Kinan terlalu kentara kan? “Makin terlihat menyedihkan gua.” Meringis kecil. Kepalanya bertanya-tanya, siapa gerangan orang yang berbaik hati mangiriminya makan malam. Bukan kaleng-kaleng lagi. Kinan jelas mengenal logo restoran yang sudah mendunia ini. Menurut banyak orang, makanan yang ada di sana enak. Tapi Kinan sebagai pekerja biasa enggak mencobanya. Sayang dengan uang yang akan di keluarkan sekali makan. Hanya dengan melihat tatanan resto, Kinan bisa menebak sekiranya berapa harga yang pantas. Jelas dia bukan menjadi target pasarnya. Terlalu mahal.
Dengan semangat membuka bungkus dan bau harum langsung menguar ke seluruh kamar. Memanjakan hidungnya yang lebih sering membaui bumbu mi instan. Hari ini bukan perut Kinan saja yang mendapatkan asupan bergizi, tapi juga indra penciumannya. “Siapa pun elu yang kasih ini, semoga kebaikan selalu menyertai hidup lu.” Kinan tidak mengetahui siapa sebenarnya yang mengirimkan ini. Tidak ada petunjuk sama sekali. Menebak juga buntu. Siapa yang mau repot-repot memesankan makanan? Mana mahal lagi. Mengedikkan bahunya acuh. Kinan masa bodoh dengan itu. Yang terpenting sekarang perutnya akan kembali terisi. “Makan enak hari ini. Jangan enggak tahu diri dengan meminta lagi ya.” Mengusap perutnya bermaksud memberi pengertian dan peringatan. Jika perutnya ketagihan makanan yang sama, Kinan kan tidak bisa melakukan banyak. Tidak juga dengan memesannya.
Menyendokkan makanan dengan pelan. Walau rasanya sangat enak, Kinan harus tetap makan dengan baik. Dia menghindari sesuatu sepele yang bisa berakibat sangat fatal. Tersedak misalnya. Tidak sedikit kasus tersedak yang berakhir dengan korbannya yang tidak selamat. Kinan tidak mau menjadi salah satu orang itu. Mengelus perutnya lagi. Kali ini dalam keadaan yang sudah terisi penuh. Perut ratanya membuncit beberapa centimeter. “Kenyang banget deh. Makasih ya. Kalau bisa sering-sering. Jadi gua sering perbaikan gizi. Enggak perlu tiap hari makan mi instan.” Tertawa sendiri mendengar ucapannya. Kinan sekarang sangat tidak tahu diri. Sudah dikasih hati malah minta ampela. Ponselnya yang tergeletak di lantai menyala. Menampilkan bahwa ada pesan masuk baru. Dengan malas menggapainya. Membuka dengan pin yang terdiri dari tanggal, bulan, dan tahun di mana hubungan dia dan Kelvin dimulai.
“Ah, sialan gua belum ganti pinnya.” Kenapa juga Kinan sampai melupakan hal penting itu? Jika ada yang menyadari, akan menganggap dia belum bisa melupakan dan menaruh harap agar bisa kembali. Padahal sebenarnya karena Kinan yang benar-benar lupa. Siapa juga yang sudi kembali pada pria yang sebentar lagi akan menjadi suami orang lain. Kinan tidak segila itu. Masih banyak pria di luaran sana yang lebih baik dari Kelvin. Semoga saja salah satunya datang dan mengulurkan tangan padanya. Menawarkan sebuah hubungan. Ah, mimpi Kinan terlalu tinggi. Memukul kepalanya sekali berharap pikiran konyol itu akan segera pergi.
Pesan yang baru saja dia baca membuat Kinan bertambah mual. Ternyata, Kelvin yang telah repot memesankan makanan. Kinan menyesal sudah memakannya. Jika dia tahu lebih awal tentu tidak akan menyentuh makanan itu walau sedikit. Akan memberikan pada Nindy dengan percuma dan dia, akan makan dengan mi instan lagi. “Sialan, gua merasa tertipu. Merasa dijebak,” pekiknya tidak terima. Kenapa Kelvin baru memberitahunya saat makanan tadi sudah berpindah sepenuhnya pada perut? Tidak mungkin Kinan mengeluarkan lagi secara paksa. “Gua tarik lagi ucapan tadi. Enggak ada terima kasih karena gua enggak merasa meminta. Ini datang tiba-tiba tanpa adanya kejelasan di sana. Dan doa tadi semoga tidak dikabulkan oleh Tuhan. Mending dia makan mi instan berhari-hari ketimbang harus makan dari sosok yang sudah menyakitinya dengan sangat. Begitu dalam sampai Kinan sulit untuk bangkit dan berjalan ke permukaan. “Mau nya apa sih itu orang? Memang dengan mengirimkan makanan, gua bakal luluh dan memaafkan dia? Jangan terlalu percaya diri deh. Hati gua sudah terlalu sakit sampai enggan buat sekedar mendengar penjelasan atau sekedar pembelaan yang akan lu beri.”