Aplikasi pacar

2102 Words
Lidia Nan, pernikahan Kelvin sebentar lagi loh. Lu udah dapat gandengan belum? Enggak mungkin kan kalau datang sendiri, yang ada lu dianggap gagal move on. Enggak tega gua bayangin elu nelangsa di hari pernikahan mantan. Pesan yang Lidia membuat Kinan mendengus. Apalagi saat di akhir deretan kata itu Lidia menyematkan emoticon tertawa. Bukankah sudah jelas jika maksud dan tujuan gadis itu mengiriminya pesan untuk meledek? “Sial banget gua. Bakal jadi bulan-bulanan dia pasti.” Menjambak rambutnya kesal. Berteman cukup lama dengan Lidia membuat Kinan mengetahui bagaimana tabiat gadis itu. Dia sangat suka menggoda. Membuat Kinan menjadi salah satu kesenangan Lidia. Mengetikkan balasan pada Lidia dengan mengatakan jika dia belum memikirkan hal itu. “Lagian mana ada, dalam waktu secepat ini bisa langsung dapat gandengan. Cari calon ya harus yang bener-bener bener lah. Kalau asal main nyomot, yang ada gua tambah malu nanti.” Balasan dari Lidia datang tidak lama kemudian. Lidia Gua kan pernah kasih saran buat download aplikasi pacar. Cari di situ. Banyak kandidat yang ya walau enggak tahu gimana isi dompetnya, tapi muka mereka enggak perlu diragukan lagi. Bisalah cari yang lebih ganteng dari Kelvin. Menghela nafas panjang. Masa iya Kinan harus menuruti ide gila Lidia sih, Seperti tidak laku saja sampai mencari pacar sewaan. Mengabaikan pesan terakhir yang Lidia kirim. Kinan sibuk berpikir dengan apa yang akan dia lakukan. Apa harus mengukuti ide Lidia atau tidak. Tidak masalah kan datang ke pernikahan mantan tanpa gandengan? Atau itu sebuah masalah besar? Menggigit bibirnya pelan. Kinan harus bagaimana? Gara-gara Kelvin, dia jadi pusing begini. “Enggak ada salahnya sih nyoba. Apa gua download dulu aja ya?” Sedikit tergoda, Kinan memutuskan mengunduh aplikasi yang bahkan keberadaannya baru Kinan tahu dari Lidia. Walau katanya aplikasi ini belakangan tengah ramai dibicarakan. Banyak yang mengunduh dan menggunakannya untuk menemukan pacar sewaan. Jasa yang ternyata saat ini banyak digunakan untuk sekedar menemani ke kondangan. “Semoga aja si Lidia enggak sesat.’ Sambil menunggu aplikasi berhasil di unduh, Kinan membereskan bekas makannya yang masih berserakan. Gara-gara mengetahui Kelvin yang mengirimkan makanan, membuat Kinan tiba-tiba mual dan malas bergerak sekedar untuk membereskan. “Ah, inget lagi kan gua. Kenapa sih itu orang main pesan makanan buat gua segala? Mentang-mentang calon menantu dari orang kaya jadi pesan di tempat mahal. Dulu waktu pacaran mah boro-boro. Dikirimin makanan juga palingan nasi goreng di depan.” Menggelengkan kepalanya saat dia malah mengingat masa lalu antara dia dan Kelvin. “Iya anjir. Mentang-mentang mau sama orang kaya, tampilannya pas tadi di kantor juga kelihatan lebih berkelas. Dan dia, terlihat makin tampan.” Memukul mulutnya lumayan keras. Apa? Kinan mengatakan jika Kelvin tampan? Sudah gila kali. “Tapi, memang dia tampan. Enggak usah membohongi diri sendiri deh,” ucap sisi Kinan yang lain. Memaksa dia mengakui pandangannya tentang Kelvin. Kembali lagi setelah sepuluh menit dihabiskan mencuci bekas alat makannya. Merebahkan tubuh sambil memainkan ponsel. Kinan terlalu sibuk menggulir layar di salah satu media sosialnya sampai melupakan niat awalnya membuka ponsel. Yaitu untuk membuka aplikasi yang baru dia unduh. Aplikasi pacar. Menguap lebar. Kinan sudah sangat mengantuk. Melihat jam, terkejut karena sudah menunjukkan pukul 9.30 malam. Ternyata lebih dari dua jam berkutat dengan kegiatan tidak berfaedah itu. Memang ya, kalau membuka sosial media, berjam-jam saja tidak terasa. Tapi saat membuka ponsel untuk bekerja, sepuluh menit saja sudah lelah dan bosan tentu saja. Apa kalian juga merasakannya? Atau hanya Kinan saja yang mengalami ini? Menepuk keningnya saat sadar rencana awal dia membuka ponsel. “Gua lupa kalau mau buka aplikasi itu.” Mulai memasukkan data pribadinya untuk melakukan registrasi akun. Selesai semua, Kinan sekarang sudah bisa membuka aplikasi yang pada menu awal langsung menampilkan beberapa foto dan identitas singkat. “Jaman sekarang mana percaya seratus persen sama foto ginian. Banyak efek kamera yang bisa ubah jadi mulus dan terlihat sempurna. Gua yakin sih mereka aslinya beda jauh sama yang di foto.” Kinan tidak bodoh, dia juga menjadi salah satu pemuja efek kamera di mana fotonya akan berkali lipat lebih cantik. Wajah kusam akan tersamarkan. Jerawat dan bekas jerawat juga kabur begitu saja. Kinan mengaku jika hal tersebut tidak baik dan bisa saja dianggap sebagai pembohongan publik. Tapi kembali lagi, itu hak dia. Mau melakukan apa pun, terserah dia. Selagi tidak merugikan orang lain, tidak masalah. Menggulir layar ponselnya. Iseng mencari sosok yang potretnya sangat luar biasa bagi dirinya. Belum menemukan. Mereka yang profilnya sudah dia lewati, terlalu standar. Masih kalah jauh dengan Kelvin. Ah lagi-lagi harus Kelvin. "Iya lah. Kan standar gua si Kelvin. Biar enggak dikira turun selera. Kelvin sama calon istri sih pas ya. Dia lebih baik dari gua. Dari segi wajah sampai ekonomi. Berarti gua juga harus kaya begitu kan?" gumam Kinan. Gadis itu harus memastikan dengan matanya sendiri calon yang nantinya akan menjadi gandengan di acara spesial Kelvin haruslah sesuai dengan kriterianya. Itu hal mutlak. Mata Kinan tertuju pada profil pria dengan wajah tampan. Sangat tampan. Sepertinya bukan orang asli negara ini. Atau dia punya keturunan orang luar negeri. Walau dari nenek moyang. Mengeklik nama yang tertera dan terlihat data perkenalan sang pria. Hanya sekedar nama lengkap dan nomor telepon yang bisa dihubungi. Memudahkan orang yang ingin menggunakan jasa. "Namanya Kevin Reynaldi." Tersenyum kecut saat menyadari banyak kesamaan antara Kelvin si mantan kekasih, dan Kevin si calon pacar sewaannya. "Sampai namanya aja mirip. Kalau kaya begini gua bisa-bisa gila deh." Kinan ingin segera lepas dari bayang-bayang Kelvin dan semua yang ada pada pria itu. Tapi nasib buruk selalu membawanya mengingat kembali bagaimana dulu kenangan itu tercipta. "Apa gua perlu menghilangkan ingatan terkhusus yang berhubungan dengan Kelvin?" Jika bisa, Kinan ingin melakukannya. Bagaimanapun caranya, asal bisa terbebas dari nama Kelvin, Kinan rela melakukan apa saja. "Kalau kaya begini, yang ada gua dianggap enggak bisa move on karena cari cowok yang mirip banget sama dia." Dari pada makin pusing, Kinan meletakkan ponsel dan memutuskan untuk tidur. Besok masih harus berangkat ke kantor. Tidak lucu jika dirinya terlambat gara-gara berpusing mencari gandengan untuk datang ke nikahan Kelvin. "Kali aja besok di jalan ketemu om-om ganteng plus tajir, rela deh gua diajak kenalan. Siapa tahu jodoh kan." Jaman sekarang tidak heran dengan hubungan yang terpaut umur jauh. Kinan juga tidak masalah akan itu. Yang penting nyaman, kenapa tidak? Seumuran atau lebih tua ayok saja, asal tidak lebih muda. Entahlah, jika melihat pria lebih muda, kepalanya tertuju pada adiknya, Fatur. Tertidur dengan nyenyak seperti tanpa adanya beban yang datang. Memang waktu tidur menjadi waktu paling manjur untuk melupakan semua masalah yang ada. Apalagi jika di hadapkan dengan mimpi yang indah, berkebalikan dengan hidup nyata yang jauh dari kata indah. Sangat betah berlama terpejam sampai bisa meraih kebahagiaan yang lebih. Bibir gadis itu juga melengkung indah. Sepertinya benar jika dia memimpikan sesuatu yang indah. Alarm hariannya sudah berbunyi nyaring. Membuat Kinan mau tidak mau membuka matanya. Kinan merasa baru beberapa jam yang lalu bisa tidur. Dan sekarang sudah beranjak pagi. Duduk sambil menatap sekelilingnya. Setelahnya desahan kecewa keluar dari mulutnya. "Yah. ternyata mimpi. Gua kira semua nyata. Dia sangat nyata. Disentuh juga terasa." Dalam mimpinya, Kinan bertemu dengan seorang pria tampan dan juga kaya raya. Pria yang sepertinya sial karena harus jatuh cinta dengannya. Kinan terpesona sampai tidak bisa mengedipkan mata. Tidak mau sedetik saja mengabaikan keindahan Tuhan dalam bentuk manusia itu. Mereka menjalani kehidupan bahagia. Mulai dari pendekatan, sampai dengan menikah. Ah, belum sempat menikah karena saat janji suci akan terucap, muncul pengrusuh dan mnegacaukan semuanya. "Harusnya akhirnya enggak gantung begini. Seenggaknya sampai nikah kek. Apa gua merem lagi aja ya? Siapa tahu mimpinya bisa bersambung. Kalau bersambung kan gua bisa ingat-ingat lagi rupa pangeran gua. Siapa tahu itu pertanda dari Tuhan. Begitu gambaran calon jodoh gua nanti." Merasa masih belum puas dengan mimpi sepotongnya, Kinan berencana tidur lagi. Namun urung begitu melihat jam yang sudah tidak pagi lagi. "Mas yang entah siapa, nanti datang lagi ya ke mimpi gua. Nanti malam gua tidur cepet deh, biar bisa ketemu lu lebih cepat," gumam Kinan penuh harap. Bersiap untuk memulai hari seperti kemarin. Hidup Kinan terlalu monoton memang. Hanya berkutat pada kos dan kantor. Jika dulu Kelvin juga menjadi tempatnya pulang, sekarang tidak lagi. Mereka sudah selesai. Kinan juga tidak mau dicap sebagai orang ketiga di hibungan Kelvin yang baru. Apalagi kali ini lebih serius. Mereka akan mneikah tidak lama lagi. Sangat jahat jika dia melakukan hal itu. Kinan kan tidak jahat. Dia baik hati yang sayangnya terlalu baik sampai di permainkan dan dibohongi. Notifikasi muncul dari ponselnya. Menghela nafas mendapati Fatur, yang lagi-lagi menjadi pengirim di baliknya. Kinan bahkan tidak punya uang sebanyak itu sekarang. Bagaimana bisa dia mengirimkan pada Fatur? Jika pun ada, dia tidak akan mengirimkannya. Mending untuk dirinya tabung saja. Keperluannya di sini tidak lah sedikit. Belum lagi jika ada sesuatu yang mendesak. Kinan hidup sendiri di sini. Sebisa mungkin harus memenuhi kebutuhannya sendiri juga. Mengetahui bahwa pesan yang dikirimkan sudah Kinan baca, Fatur langsung melakukan panggilan. Panggilan pertama, Kinan mengabaikan. Dia perlu mandi dan bersiap ke kantor segera. Selesai bersiap, melihat ponsel dan tersenyum kecut. Ternyata Fatur memang seniat itu meminta uang. Ada puluhan pesan dan panggilan masuk dalam jangka waktu tidak sampai setengah jam. Kenapa Kinan tidak khawatir jika telepon itu penting atau berhubungan dengan kabar keluarga di rumah? Itu karena Kinan sudah membelikan satu ponsel lagi yang memang diperuntukkan menghubunginya. Dia berikan pada adik kembarnya. Mengirim pesan untuk menanyakan kabar. Mereka juga sering bertelepon. Jadi tidak perlu khawatir dengan panggilan yang Fatur lakukan itu. Tidak penting sama sekali. Jahat memang, tapi kenyataannya memang seperti itu. "Bosen banget hidup gua. Apa itu bocah enggak bosen ya teror gua mulu? Sumpah deh gua sudah malas banget. Jengah sama kelakuan dia lama-lama. Ya siapa yang bakal baik-baik aja kalau diperas kaya begini. Minta duit seenaknya. Enggak berpikir dulu. Ah, gua bahkan sangsi dia punya pikiran yang waras." Tiba di kantor, Lidia yang sudah lebih dulu sampai, merangsek mendekat ke arah Kinan. Berbisik pelan ke telinga Kinan, "Lu sudah download kan? Asal lu tahu ya, gua juga download tahu. Lihat foto-foto mereka buat mata gua seger. Cakep-cakep banget. Kelvin mah lewat jauh." Menunjukkan ponselnya yang sudah terpasang aplikasi pacar itu. "Buruan cari Nan. Waktu elu enggak banyak lagi. Jangan sampai mempermalukan diri sendiri ya. Modal dikit buat si mantan nyesel mah enggak papa kali," ucap Lidia bersemangat. Gadis itu berapi-api menghasut teman seperjuangannya. Memicingkan matanya. "Jangan bilang elu juga mau cari? Buat dijadiin gandengan juga di acara si Kelvin? Lu masih waras kan ya?" Kinan saja yang terdesak masih harus memikirkan apa dia harus mengambil jalan itu atau tidak. Lah, Lidia kan tidak terlalu membutuhkan itu. Kenapa gadis itu sangat bersemangat? "Asal lu tahu ya Lid. Apa yang ada di foto itu belum tentu sama kaya aslinya. Sekarang siapa sih yang enggak pakai efek. Bukan cuman kaum kita aja. Kaum laki juga banyak yang pakai. Yang tadinya gragal jadi mulus itu muka. Jangan sampai merasa terbohongi nanti kalau yang datang enggak sesuai kenyataan." Kinan sudah mengingatkan tentang hal itu. Dia harap Lidia tidak terlalu berharap banyak atau nanti akan kecewa berat. Mencebikkan bibirnya. "Gua kan mau coba. Siapa tahu berawal dari iseng bisa diseriusin kan. Gua bosen kali, jomblo mulu. Hidup gua gini banget ya. Padahal gua cantik, tapi enggak ada yang nyantol. Ah, sial." Selama hidupnya lebih dari dua puluh tahun di dunia, Lidia belum pernah merasakan apa itu kencan apalagi pacaran. Entah apa yang salah pada dirinya hingga tidak ada yang mendekatinya seperti mendekati teman yang lain. Padahal dia kan tidak terlalu buruk. Tertawa keras melihat wajah nelangsa temannya. "Kasihan banget hidup elu. Mungkin jodoh lu lagi jagain jodoh orang, atau paling miris, jodoh lu belum lahir." Kinan sampai memegangi perutnya. Ini kali pertama Kinan tertawa lepas setelah kesakitan yang belakangan ini dia terima. "Sialan lu. Ogah banget gua dapat jodoh yang usianya jauh lebih muda. Gila aja. Nanti yang ada gua kaya tante dia. Ogah. Jangan aneh-aneh lu kalau ngomong. Enggak pernah dengar apa kalau ucapan adalah doa?" sinis Lidia. Seorang pria tidak putus menatap ke arah dua gadis yang asyik mengobrol itu. Lebih tepatnya ke arah Kinan yang tertawa bebas. Dia bersyukur, setidaknya setelah kesakitan yang dia berikan, Kinan masih bisa tertawa dengan lepas. Membuat perasaan bersalah sedikit terangkat. Itu berarti Kinan baik-baik saja kan? "Gua harap kebahagiaan selalu menyertai setiap langkah lu Nan. Maafkan gua yang sudah mengecewakan. Terima kasih untuk enam tahun berharga ini. Selamat tinggal." Senyum lemah terukir di bibir tipis pria itu. Dengan bahu terkulai lemah, meninggalkan pujaan hatinya yang sayang sekarang sudah membenci. Ini murni kesalahan dia. Gara-gara dia, semua yang sudah tersusun indah hancur berantakkan. "Gua enggak pernah menyesali enam tahun ini Nan. Gua malah mensyukurinya. Elu sempurna. Dan sepantasnya lu menemukan sosok yang sempurna juga. Bukan gua, yang banyak cacat."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD