Bimbang

2320 Words
Sampai istirahat, Kinan masih saja bimbang dengan langkah apa yang harus dia ambil. Saran dari Lidia terus menghantui kepalanya. Namun lagi-lagi rasa bimbang menghalau. Apa dia harus mencari seorang pria yang bisa di kencani semalam saja? Terdengar murahan memang, tapi selagi niat utama baik, itu tidak masalah kan? Yang Kinan takutkan adalah jika ada orang yang mengenali calon yang akan dia bawa. Lebih menyeramkan jika ada yang pernah menggunakan jasa pria itu dan mereka dipertemukan di tempat acara. Bukankah itu mengerikan? Hanya membayangkan saja sudah membuat Kinan bergidik ngeri. Jika tutup mulut, mungkin Kinan tidak terlalu malu. Lah jika dia membocorkannya, mau taruh di mana muka Kinan? Bukannya menunjukkan bahwa diri sudah move on, yang ada malah dia dipermalukan di sana. Banyak risiko di setiap keputusan. Tentu saja. Pintar-pintar kita saja memilah dan memilih mana yang benar. “Nan, gimana kalau yang ini?” Lidia dengan semangat menunjukkan layar ponselnya. Menampilkan potret seorang pria yang sepertinya seumuran tengah tersenyum manis ke arah kamera. Sekejap, Kinan merasa dia terpana. Wanita normal mana yang akan biasa saja jika melihat pria tampan seperti itu? Apalagi Kinan kan penikmat Korean pop yang mana tentu tampan menjadi modal utama dirinya mencari calon baru. Ya setidaknya yang memiliki sedikit kemiripan dengan artis idola. Terlalu berlebihan memang. Tapi kalian tidak akan pernah tahu rasanya jika tidak terjun langsung pada kegemaran Kinan ini. “Cakep, mirip oppa-oppa Korea. Ya sesuai lah sama kesukaan gua. Tapi lu lihat lagi deh, itu mirip sama Kelvin tahu. Alis mereka sama-sama tebel. Nanti gua dikira gagal move on lagi,” tolak Kinan dengan alasan yang lagi-lagi tidak jauh dari Kelvin. Menghela nafas dan mulai mencari kandidat lain. Bukan Kinan yang mencari, melainkan Lidia yang semangat mencari. Dia tidak mau melihat temannya menyedihkan di pesta pernikahan sang mantan. “Lu salah sih, pacaran kok sama Kelvin. Doi gans gila. Susah sendiri kan sekarang.” Ketampanan Kelvin memang tidak main-main. Pria itu juga dikenal sosok yang setia. Yang menjadikan kebanyakan pegawai wanita di sini iri setengah mati dengan Kinan yang bisa memiliki pria itu. Ah, itu sebelum perselingkuhan ini terjadi. Sekarang mungkin pandangan mereka terhadap Kelvin sudah perlahan berubah. Tidak ada pria setia, tapi buaya yang tega mendua. “Ya mana gua tahu akhirnya bakal ada kejadian kaya begini. Gua kira kan dulu gua beruntung banget bisa dapat paket lengkap semacam Kelvin. Lu juga dulu sempat suka kan sama dia. Enggak berpikir kalau bakal putus dan berakhir jadi tamu undangan. Kalau tahu bakal begini, mending gua kabur dari dulu. Nyerahin dia ke elu. Kan lumayan tuh, gua enggak terlalu sakit hati. Semua yang gua rasakan sekarang, elu yang rasa,” mendengus kesal. Benar, Kinan bahkan tidak pernah berpikir hubungan yang terjalin ini berakhir dengan perpisahan. Dalam bayangannya dulu, mereka akan berakhir di pelaminan. Menyalami tamu undangan dengan wajah berseri senang. Eh, malah dia sekedar jadi tamu undangan. Memang ya, takdir Tuhan tidak ada yang tahu. Mendelik mendengar ucapan Kinan yang tidak berperasaan. “Heh lu tega sama gua? Huh, untung Tuhan masih baik dengan menyadarkan gua dengan segera. Rugi dunia akhirat kalau sempat jadi sama itu bocah. Gua yang pernah suka sebentar aja nyesel setengah mati.” Menggelengkan kepalanya dramatis. Lidia kali ini beruntung. “Menurut gua ya Nan, kalau cowok pernah selingkuh, enggak menutup kemungkinan bakal selingkuh lagi di kemudian hari. Kaya sudah jadi penyakit gitu. Ya gua juga enggak tahu sih gimana pastinya. Cuman denger-denger dari orang aja begitu. Dan si cewek kan dapetin Kelvin dengan cara enggak bener ya. Ngerebut dari elu sebagai pemilik sebenarnya. Katanya juga, suatu saat bakal dapet balasan juga. Sekali lagi nih, gua enggak tahu kebenaran ucapan kaya begitu. Tapi kalau pun benar terjadi, mungkin gua menjadi salah satu orang yang akan sujud syukur. Tertawa dengan puas di atas penderitaan mereka. Dan kalau enggak terjadi, gua berdoa sama Tuhan biar terjadi aja. Jahat ya gua. Tapi lihat orang yang sudah menyakiti orang lain menderita itu ada kebahagiaan tersendiri tahu,” ucap Lidia menggebu. Dia sebagai saksi dari hubungan Kinan dan Kelvin tentu kesal. Merutuki pengganti Kinan yang dianggap sebagai pengganggu dan perebut. Dia tidak berpikir bahwa bukan hanya pihak wanita saja yang harusnya disalahkan. Sesalah apa pun si wanita, jika si pria tidak membuka pintu ya tidak akan terjadi hal seperti ini. Kejadian ini, jelas salah dua orang tidak punya hati itu. Bukan hanya salah satu di antara mereka. “Enggak boleh begitu Lid. Ya walau jujur gua juga menginginkan hal itu terjadi. Seenggaknya mereka menyesal karena sudah membohongi gua, menipu gua secara habis-habisan. Andai kata nih, waktu itu gua enggak ketemu mereka yang lagi di rumah sakit, sampai beberapa hari lalu gua masih jadi orang bodoh yang enggak tahu apa-apa. Ternyata Tuhan masih baik ya sama gua. Menunjukkan bagaimana sifat Kelvin yang sebenarnya sebelum hubungan ini makin serius. Kalau kejadian gini terjadi saat gua dan Kelvin sudah menikah nih ya, mungkin gua bakal gila.” Setelah kejadian menyakitkan ini, Kinan masih bersyukur saat sadar dia diberitahukan Tuhan saat semua belum terlalu jauh berjalan. Dia masih beruntung. “Ya. Lu benar. Mungkin karena elu terlalu baik makanya Tuhan enggak mau lu sakit hati lebih dari ini. Ah, gua jadi ikut bersyukur elu selesai sama dia. Yakin gua kalau elu bakal dapat yang lebih dari dia. Berkali lipat lebih ganteng, kaya, dan pasti setia.” Itu bukan sekedar penyemangat malinkan juga doa. Lidia tulus mendoakan kebaikan Kinan di kemudian hari. “Gua juga yakin Nan, kalau enggak lama lagi Kelvin bakal nyesel dan minta maaf sama lu. Mungkin juga dia minta buat kembali.” Mengedikkan bahunya acuh. Memutar bola matanya malas. “Yang modelan cuman modal ganteng aja bisa berkhianat kok. Apalagi yang paket komplit kaya begitu Lid. Enggak usah aneh-aneh deh. Tapi ya gua tetap aminkan kok. Gua enggak bakal nolak kalau dipertemukan dan dijodohkan dengan orang kaya begitu. Huh, mungkin gua bakal jadi orang paling bahagia nanti.” Ucapan Lidia terdengar mustahil untuk terjadi. Tapi bagi Tuhan, semua itu bisa saja kan? Dia mampu melakukan segalanya. Membolak-balikkan hati seseorang. Menjauhkan yang dekat dan sebaliknya, mendekatkan yang jauh. “Gua sih enggak mau ya Kelvin datang lagi ke gua. Ogah banget deh. Sudah enggak sudi.” “Gua pegang ucapan lu. Gua bakal jadi orang pertama yang kasih lu pelajaran andai lu terbujuk rayu dan kembali ke dia. Kalau itu terjadi, lu sama Kelvin sama aja, sama-sama b******k. Apalagi hubungan dia sama yang sekarang lebih serius. Pernikahan.” Lidia bukan teman yang membenarkan semua tindakan temannya. Akan menegur bahkan memarahi jika yang dilakukan Kinan salah. Tugas sebagai teman itu memang mengingatkan kan. Bukan diam saja dan menikmati yang mungkin saja bisa jadi bumerang untuk kehancuran. Memutar bola matanya malas. “Enggak percaya banget sama gua. Secintanya gua ke dia ya ogah kalau diajak balikan. Menurut gua, enggak guna balikan sama mantan. Mending cari yang baru.” Kenapa juga Lidia berpikir aneh seperti itu? Memang wanita bodoh mana yang mau saja diajak balikan saat si pria sudah menggoreskan luka yang dalam? Pengkhianatan itu tidak bisa dianggap sepele loh. Perbuatannya memang sekali, tapi efeknya mungkin akan terasa sampai bertahun-tahun lamanya. Atau bisa jadi, tidak akan hilang selamanya. “Terus orang tua lu sudah tahu?” tanya Lidia penasaran. Menurut cerita Kinan, hubungan keduanya sudah diketahui oleh keluarga masing-masing. Kinan menceritakan semuanya juga mengenai orang tua Kelvin yang tidak menyukainya. Berteman cukup lama dengan Lidia, membuat Kinan percaya berbagi. Gelengen kepala Kinan membuat Lidia mendesah sekali lagi. “Pasti sulit bilangnya. Gua tahu Nan. Hubungan kalian sudah sangat lama dan masing-masing keluarga sudah mengetahui. Di tambah kalian juga dari daerah yang sama. Ah, enggak kebayang gua jadi elu. Pasti itu kepala isinya penuh banget. Gua yang cuman mikirin kerjaan aja pusing banget apa lagi elu. Tuhan tahu lu bisa melewatinya makanya percaya kasih masalah yang banyak itu ke lu. Kalau ke gua sudah pasti enggak mampu sih. Baik banget Tuhan sama gua.” “Gua anggap itu sebagai pujian ya Lid,” cibir Kinan. “Untuk masalah orangn tua, kayanya gua enggak bakal ngomong kalau mereka enggak tanya deh. Untungnya juga, mereka itu enggak terlalu pengin tahu hubungan gua sama Kelvin. Kaya yang bodo amat gitu. Mungkin karena firasat mereka kuat ya. Gua enggak bakal berakhir sama Kelvin.” Mengingat bertahun-tahun menjalin hubungan, kedua orang tuanya hanya diam tanpa menanyakan sesuatu yang dulu Kinan anggap penting. Dia pernah berpikir jika kedua orang tuanya terlalu abai dengan dia. Bagaimana bisa tidak bertanya mengenai kelanjutan hubungan atau sekedar basa-basi. Tapi sekarang, Kinan mengetahui kemungkinan yang menjadi alasan. Yaitu orang tuanya memiliki firasat mengenai hubungannya dengan Kelvin yang tidak akan bertahan lama. Ah, enam tahun kan cukup lama. Untuk mencicil motor bahkan rumah juga kemungkinan sudah lunas. “Eh balik lagi ke aplikasi pacar aja. Nih, gua nemu kandidat yang mungkin cocok buat lu. Enggak kaya Kelvin kok kali ini. Kelihatan kaya eksekutif muda anjir. Lihat nih, pakai jas dan jam tangan yang dipakai. Gila, ini merek mahal. Kok ada ya orang tajir daftar jadi agen pacar online begini. Apa ini foto bohongan ya?” Lidia curiga. Jika dilihat dari penampilan, tentu bukan orang sembarangan. Tampan, kaya. Masa iya tidak memiliki pacar. Kan agak aneh. Kemungkinan terbesar, menggunakan foto orang lain. “Tapi gua penasaran. Coba siniin handphone lu.” Merebut dengan paksa ponsel Kinan yang ada di tangan. Mencari nama yang sesuai dengan nama yang tertera pada layar ponsel miliknya sendiri. “Heh, lu ngapain sama handphone gua?” Kinan tidak terima, tentu saja. Handphone merupakan barang pribadi yang menurutnya tidak seharusnya diperlihatkan pada orang lain. Atau orang lain tidak berhak membuka ponsel milik dirinya. “Enggak sopan banget sih Lid.” Walau mereka berteman, tetap tidak sepantasnya demikian kan? Kinan memiliki privasi yang harus Lidia hargai. Bukannya memberikan ponsel yang diminta, Lidia malah menjauhkan dan asyik sendiri dengan ponsel miliknya tanpa memedulikan kekesalan Kinan. “Gua sih yakin kalau dia cuman ambil foto orang lain. Buktinya waktu disuruh pap banyak alasan. Ganti lagi.” Mengembalikan ponsel Kinan dan menggunakan kembali ponsel miliknya. “Ada sesuatu ya di ponsel elu? Kaya yang takut banget tadi. Jangan-jangan lu suka koleksi film dewasa ya? Ngaku lu.” Memasang wajah penasaran. “Sekarang gua tahu, kalau Kinan ternyata enggak sepolos yang gua kira. Gua jadi ragu kalau lu masih segel deh. Secara, pacaran sudah enam tahun sendiri. Enggak ada yang jamin kalian cuman pegangan tangan doang kan selama itu?” “Sialan! Mana ada? Gua ini masih utuh ya. Enggak kaya yang elu bilang. Ogah banget gua disentuh sama dia. Lagian kita cuman pacaran, bukan nikah. Enak di dia, rugi di gua,” gerutu Kinan. Apa-apaan Lidia ini? Masa berpikir yang tidak mungkin sih? Ya walau hal yang gadis itu ucapkan saat ini wajar terjadi, tapi Kinan bukan salah satu dari yang mewajarkan. Memegang teguh pendirian, ajaran agama, dan pesan dari orang tua. “Dan apa itu koleksi film dewasa. Gua bukan kaya elu ya,” sinis Kinan. Dia sedikit mengetahui tentang Lidia dan kegemarannya yang tak jauh dari film berbau dewasa. “Kalau pun nanti gua tercebur ke dunia penuh dosa itu, berarti gara-gara elu. Lu kan yang sering kasih racun ke gua.” “Ya kan kali aja Nan.” Gadis itu meneruskan pekerjaannya mencarikan calon yang mungkin cocok dengan Kinan. Memilah foto demi foto. “Lu masih suka yang matanya sipit kan? Yang kaya oppa-oppa Korea?” tanya Lidia untuk memastikan tipe Kinan masih tetap sama atau berubah. Siapa tahu karena disakiti yang mirip oppa-oppa Korea, sekarang jadi berpindah haluan. Mirip pangeran Arab misalnya. “Masih sih. Tipe gua kayanya bakal yang kaya begitu terus deh. Enggak bisa dapatin idolnya, dapatin yang mirip kan juga enggak papa. Malah beruntung banget gua.” Pemikiran kebanyakan anak penggila idol Korea. “Andai gua secantik eoni Korea, gua rela deh datang ke Korea sana. Siapa tahu ada idol yang kepincut sama gua kan.” “Bego, mana ada. Yang kaya Kelvin aja ninggalin elu. Apalagi mereka? Hih, kebanyakan halu ya. Sana terusin makan aja deh. Kayanya karena lapar tingkat kehaluan lu makin besar,” decih Lidia. Heran kenapa dia bisa punya teman yang seperti Kinan. Apa pun, dikaitkan dengan idolanya. Dia yang hanya mendengar jadi kesal sendiri. “Kata gua sih, mending lu menjauh sedikit dari dunia K-pop lu itu. Gua enggak mau lu jadi gila karena terlalu mengharapkan mereka.” Memberikan saran yang sebenarnya sudah sering dia sampaikan. Tapi hasilnya, Kinan yang sudah terlanjur tercebur, enggan keluar dari kubangan itu. Dia bahagia dengan kehidupannya sekarang. Dengan adanya pria-pria itu, Kinan yang kadang kesepian tidak merasakannya lagi. Mereka menghiburnya walau tidak secara langsung. Mereka membangkitkan semangatnya. Mereka, membuat harapan dan tekatnya makin besar. Mereka juga mengajarkan bagaimana kerja keras, tidak akan mengkhianati hasil. “Gua kayanya enggak bakal meninggalkan mereka. Mereka butuh gua tahu. Begini juga gua menyumbangkan penghasilan untuk mereka. Ya walau gua cuman fans jalur kuota, enggak masalah kan? Yang penting gua ikhlas nafkahin mereka,” jawab Kinan disertai senyuman. Dia, bahagia dengan hidupnya sekarang. Setelah mengenal mereka, Kinan makin yakin jika perjuangannya selama ini akan memberikan hasil yang memuaskan di kemudian hari. “Terserah lu deh. Nah, ini bagaimana? Cakep tahu.” Kinan mengetuk-ngetukkan jarinya. Melihat foto pria yang memang tampan itu. Lidia ini memang tahu sekali bagaimana tipe temannya. “Cakep. Bisa lah dibandingkan dengan Kelvin. Kayanya enggak malu-maluin kalau gua bawa dia.” Mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tapi enggak tahu ya. Siapa tahu dia yang malu di bawa sama elu. Siniin ponsel lu. Gua mau kirim pesan dari akun lu aja.” Menengadahkan tangannya meminta ponsel milik Kinan. Kali ini, Kinan memberikannya dengan suka rela. “Nih, jangan ngomong yang aneh-aneh,” peringat Kinan sebelum ponsel itu jatuh di tangan Lidia. Kalau pakai akun Lidia sendiri sih ya bodo amat. Tapi ini kan menggunakan akun atas nama Kinan. Bisa malu jika yang dikirimkan aneh-aneh. “Jadi, lu mau pesan satu hari kan?” tanya Lidia lagi. Meringis dan bergumam, “ya enggak tahu sih. Masih bimbang gua.” Menggaruk rambutnya yang tidak gatal sama sekali. “Gua cantik, gua sabar.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD