Menopang dagunya melihat Linda yang sibuk menggulir layar ponsel miliknya. Gadis itu tengah serius memilah dan memilih pria mana yang cocok Kinan bawa ke acara Kelvin yang tidak lama lagi akan datang. Kinan menyerahkan semua pada Linda. Linda tidak mungkin mendorong dia dengan pria aneh kan? Menaruh rasa percaya pada gadis itu sepenuhnya. "Lin, gua percaya loh sama elu. Jangan sampai mengecewakan," peringatnya sekali lagi. Saat ini mereka duduk diam di kafe yang juga masih dalam kawasan mol. Setelah selesai makan, memutuskan untuk mampir terlebih dahulu. Mereka perlu menyelesaikan masalah ini segara mungkin. Pernikahan Kelvin sudah di depan mata. Sekitar dua hari lagi. Kelvin membagikan undangan itu jauh hari agar undangan dapat meluangkan waktu. Tidak terlalu jauh sih, kurang dari satu minggu.
Mendengus mendengar ucapan yang sama. Kinan sudah mengatakan hal itu berulang kali sampai telingnya terasa panas. "Kalau enggak mau dicariin ya nih, cari sendiri. Tapi kalau memang mau dicariin, ya diam. Lu pikir aja sendiri. Masa gua tega sama lu sih. Gua ini lagi berusaha sebaik mungkin. Mencarikan kandidat yang pasti enggak akan malu-maluin. Bahkan yang bisa buat Kelvin malu sekaligus." Bukannya berterima kasih, Kinan malah berulang mengingatkan. Linda ingat. Sangat ingat. Tidak perlu sampai berkali-kali mengulanginya. Jadi kesal sendiri.
Menyengir lebar. "Ya maaf Lin. Ya sudah sana lanjut lagi. Gua mau apa? Ah, enggak ada ponsel mau ngapain coba?" keluhnya. Hidup sekarang memang berat jika tanpa ponsel sedetik saja. Akhirnya menopangkan dagu lagi. Menatap jalanan yang terlihat dari balik kaca lebar ini. Mereka terlihat kecil. "Gua sampai bingung harus bilang apa kalau ibu sama bapak tanya Lin. Kan enggak lucu kalau gua jawab, kita sudah putus karena Kelvin yang selingkuh dan menghamili selingkuhannya yang orang kaya." Membayangkannya saja sudah membuat Kinan bergidik. Jika dia mengatakan itu, sudah pasti kedua orang tuanya merasa iba. Ah, siapa pun yang mendengar kisah percintaannya juga akan berkata sama. Dia terlalu menyedihkan.
"Ya enggak papa begitu. Biar mereka tahu bagaimana kelakuan mantan calon menantu mereka yang enggak baik. Jangan berusaha buat menutup-nutupi kejelekan Kelvin Nan. Adanya begitu, ya bilang aja begitu," saran Linda. Memang dia tidak tahu bagaimana perasaan Kinan sekarang atau ketakutan saat ditanya mengenai kelangsungan hubungan dirinya dan Kelvin. Tapi tidak ada untungnya juga kan kalau berbohong? Yang ada tambah runyam nanti saat terbongkar. "Kalau kata gua ya Nan. Tapi ya keputusan ada di tengan elu sepenuhnya. Lu mau jujur atau memilih menutupi ya, itu terserah lu. Hak lu." Mengedikkan bahunya acuh. Tugas Linda sebagai teman hanya mengingatkan dan memberi nasihat. Untuk kelanjutannya, biar Kinan sendiri yang mengambil langkah.
Menghela nafas panjang dan memejamkan matanya sebentar. "Ya, mungkin gua akan jujur aja. Lu benar, enggak ada keuntungan satu pun yang gua dapatkan kalau merahasiakan masalah ini." Sekecil apa pun bangkai, jika lama ditutupi pasti akan ada saatnya tercium juga kan. "Masa bodoh dengan nama Kelvin yang jadi buruk. Salah dia sendiri kan. Dia sendiri yang sudah mencorang namanya dengan perbuatan itu."
"Nan, maaf nih kalau pertanyaan gua sedikit menyinggung. Jujur gua penasaran. Kalian kan pacaran enam tahun ya. Selama itu ngapain aja? Kurang ajar memang pertanyaan gua. Tapi ya, gua pengin tahu aja. Kalian belum sampai itu kan?" Menampilkan deretan giginya. Yang menjadi tanya Linda, dalam jangka waktu yang panjang itu mereka tidak pernah berbuat yang melebihi batas kan? "Kalau enggak mau jawab juga enggak papa kok. Gua nya aja yang kurang ajar. Tanya masalah pribadi. Walau kita teman, enggak sepantasnya gua bertanya kaya begitu. Sory Nan," meralat ucapannya sendiri. Jika dipikir lagi, pertanyaan yang diajukan terlalu berlebihan. Tidak sepantasnya menyinggung privasi seseorang. Tidak walau teman atau sahabat kita sendiri. Kecuali mereka yang mau terbuka menceritakan. "Heh, enggak usah begitu matanya. Enggak usah dijawab kalau itu mengganggu lu. Sudah lupakan. Sekarang gua mau lanjut cari cogan lagi." Memfokuskan matanya pada layar ponsel lagi. Dalam hati merutuki mulutnya yang seenaknya bertanya.
Memasang raut semenyedihkan mungkin. Jelas dia tahu apa yang Linda maksud. Bukan hanya Linda saja yang menanyakan hal itu. Ada beberapa temannya yang lain juga penasaran. Di jaman sekarang memang tidak heran dengan pacaran yang seperti menikah. Mereka melakukan hal yang sebenarnya hanya boleh dilakukan orang yang sudah memmiliki ikatan suci. "Sebenarnya, aduh, gua ragu buat bilang. Lu jangan cerita ke siapa-siapa ya," ucap Kinan dengan memohon. Tersenyum dalam hati melihat Linda yang meletakkan ponsel dan menaruh seluruh atensinya pada Kinan. "Gua pernah, pegangan tangan. Terus," dengan sengaja menggantungkan ucapannya. Senyum makin lebar melihat Linda yang tidak sabar. "Ya sudah cuman pegangan tangan aja. Enggak pernah lebih dari itu bahkan untuk sekedar cium pipi atau kening yang sekarang marak dilakukan pasangan di luar sana. Gua gini-gini masih berpegangan teguh sama ajaran gua ya. Lagian, bodoh banget kalau iya gua menyerahkan tubuh gua yang masih suci ini sama dia. Cuman pacar kok."
"Sialan lu! Gua sudah serius tahu dengerinnya. Sengaja ya lu, mau kerjain gua," sinis Linda. Gadis itu merasa dipermainkan, namun tak urung jawaban Kinan membuatnya lega. "Tapi syukur deh. Jadi enggak terlalu menyedihkan lu ditinggal dia. Gua kira udah di pegang-pegang. Kalau iya, menang banyak dia. Enak di dia, rugi di elu." Linda bersyukur setidaknya Kinan tidak ditinggalkan dengan keadaan yang tidak sama lagi. "Apa jangan-jangan dia tinggalin elu karena elu enggak mau kasih dia Nan? Buktinya sama yang sekarang kan kata lu sudah isi. Berarti kan sudah melakukan itu," tebak Linda yang sebenarnya masuk akal juga.
"Gua sih sempat berpikir ke arah sana. Karena jujur aja ya, selama pacaran dia itu beberapa kali berniat melakukan lebih ke gua. Tapi iman gua yang untungnya kuat, menolak semuanya. Mungkin ya tapi. Karena kebenarannya cuman Kelvin yang tahu. Kalau lu penasaran, coba tanya langsung aja. Tuh, orangnya ada di belakang lu. Baru masuk kafe bareng gandengannya." Mengedikkan kepalanya ke arah belakang Linda. Dan ya, benar. Kelvin ada di sana. Baru datang dengan menggandeng mesra wanita yang sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupnya. Status yang sebelumnya pernah Kinan bayangkan dan harapkan. Mereka belum menyadari keberadaan Kinan di sini. Terlalu asyik dengan dunia yang mereka ciptakan sendiri sampai mengabaikan sekitar. "Mereka terlihat sangat bahagia. Enggak kaya gua yang terkadang masih nangis kalau ingat kenangan dulu," bisik Kinan. Melihat dua orang itu membuat rasa sakit yang perlahan mulai pergi itu datang lagi.
"Sudah, enggak usah dilihat kalau itu bisa buat lu tambah sakit. Lu juga bisa kok kaya mereka. Bahagia. Cari kebahagiaan lu sendiri. Lupakan semua kesakitan yang ada. Enggak gampang memang. Tapi enggak ada salahnya berusaha kan. Usaha tidak akan mengkhianati hasil. Percaya sama gua." Linda menatap Kinan kasihan. Memang ya, kebanyakan kaum wanita sulit memulai hubungan baru karena terbayang hubungan yang sudah lalu. Apalagi kasus seperti Kinan yang disakiti dengan begitu dalam. Luka yang ditimbulkan terlalu dalam, sulit untuk disembuhkan. Walau sudah banyak waktu yang dilalui, sakit itu tetap menghantui. "Yang begini ini yang buat gua takut berhubungan sama cowok. Lu tahu dengan jelas kalau bokap gua pernah selingkuh dulu. Di tambah sama kakak gua yang jugamenjadi korban. Sekarang jadi saksi lagi dari kisah percintaan lu yang enggak jauh dari nyokap sama kakak gua. Aduh, kalau boleh enggak nikah, gua juga enggak mau nikah. Hidup sendiri sepertinya lebih menyenangkan," ucap Linda jujur. Ketakutannya dalam sebuah hubungan sudah tercipta jauh sebelum ini. Linda kecil melihat sendiri bagaimana ayahnya yang membawa wanita lain ke rumah. Memperkenalkan sebagai ibu tirinya. Walau sudah berlalu belasan tahun yang lalu, ingatan itu masih segar di kepalanya. Rasa sakit yang ditimbulkan juga masih kerap terasa. Belum sembuh dari ketakutan itu, kakak perempuannya mengalami hal yang sama dengan ibunya. Kepercayaan Linda pada laki-laki makin menipis. Baginya, pria itu sama sekali tidak bisa dipercayai ucapannya.
Kinan pernah mendengar mengenai cerita itu. Dulu, hanya mendengarnya sekilas. Sekarang, dia juga merasakannya. Beruntungnya, status Kinan dengan Kelvin belum pada tahap pernikahan. TIdak bisa membayangkan akan sesakit apa jika dikhianati dalam ikatan pernikahan. Kinan berdoa, semoga hal buruk itu tidak pernah datang padanya. "Maaf ya, gua jadi nambah ketakutan lu. Gua mah jujur enggak papa deh Lin. Sakit juga sakit biasa aja yang sebentar lagi juga bakal sembuh." Kinan menyesal sudah menambah rasa takut dan tidak percaya Linda pada sebuah hubungan. "Sekali-kali, lu harus buang ketakutan lu itu. Lu harus membuktikan sendiri bahwa hubungan tidak semenyeramkan itu. Tapi harus pilih calon yang bener. Jangan yang kaya Kelvin, bokap, dan kakak ipar lu."
Menjentikkan jari tengah dan ibu jarinya. "Nah itu. Makanya gua ogah ya karena takut ketemunya buaya kaya mereka. Enggak ada yang tahu kan Nan. Siapa tahu nasib buruk yang dialami ibu dan kakak gua menurun ke gua kan. Apalagi sekarang. Cari cowok yang bener itu sudah susah Nan. Kaya Kelvin nih, tampang dia baik Nan. Baik banget. Sampai gua yang sedikit anti sama cowok pernah kepincut juga. Tapi lihat, akhirnya gimana? b******k juga kan. Gua enggak mau jadi korban kebrengsekkan mereka. Kalau bisa nih ya, gua yang bakal balas. Gua sebagai perempuan juga bisa kok mempermainkan laki-laki. Itu termasuk kesetaraan kan?"
Kinan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Gua sih enggak tahu Nan. Gua berharap, suatu saat lu akan menemukan sosok yang benar-benar menyayangi. Sampai lu lupa trauma lu itu." Tiga kali menjadi saksi kejahatan pria pada pasangannya tentu berdampak buruk pada cara pandang Linda. "Gua berharap, saat itu tiba lu jangan sungkan menyambut dia ya." Melemparkan senyum yang dibalas senyum tipis oleh Linda. Sangat tipis sampai tidak terlihat jika gadis itu tersenyum.
"Gua enggak punya keberanian untuk melakukan itu Nan. Rasa enggak percaya gua sama cowok sudah sangat besar. Gua enggak mau turut menjadi korban janji manis mereka. Gua lihat sendiri bagaimana mama, kakak, dan elu yang bisa dibilang enggak baik-baik aja," bisik Linda dalam hati. Tidak mau membuat Kinan khawatir, dia lebih baik mengiyakan dan menyimpan ketakutannya sendiri. Tidak ada yang tahu kecuali Kinan. Keluarganya menganggap jika Linda baik-baik saja. Tanpa mereka tahu, ada luka besar dalam hatinya. Kepercayaannya terhadap lawan jenis, tidak sesempurna dulu.
Keduanya kembali saling diam. Linda sibuk melanjutkan kegiatannya mencari calon, dan Kinan kembali dengan lamunan. Bohong jika Kinan mengatakan baik-baik saja usai semua yang dia lalui. Ada ketakutan besar akan sebuah hubungan. Ragu untuk kembali memulai. Talut jika ujungnya akan bernasib sama. Dia tidak mau sakit hati yang kedua kali. "Semua akan kembali normal. Berjalan dengan baik sebagaimana mestinya." Ya, Kinan berharap demikian. Apa yang sedang dia hadapi kini tentu tidak akan selamanya begini. Akan ada perubahan lagi di kemudian hari. Dan Kinan berharap, hidupnya ke depan semakin baik. Tidak perlu mengalami sakit hati yang kedua kali. Sakit hati itu melelahkan.
"Nan, gua sudah dapat. Nih lihat." Menunjukkan pada Kinan pria yang menurutnya paling cocok. Dia tampan dan terlihat segar. Jika dilihat sekilas, mungkin terpaut beberapa tahun dengan Kinan lebih muda. "Gimana?" tanyanya. Melihat Kinan yang menatap ponselnya tanpa kedip, sudah menjadi jawaban kan? "Bagus kan pilihan gua? Enggak mengecewakan sama sekali." Menyombongkan dirinya sendiri. Dia pantas mendapat apresiasi. Mencari satu yang dianggap paling baik di antara puluhan bahkan ratusan orang.
Berpikir sebentar dan mengangguk sekali. "Boleh deh. Sudah mepet juga waktunya. Kelamaan milih yang ada bukannya dapet malah makin bingung yang ada." Kinan berharap, ini adalah pilihan yang tepat. "Makasih Lin," ucapnya tulus. Kerja keras Linda menghasilkan hasil memuaskan juga.
"Gua chat ya. Tanya kalau di tanggal itu free apa enggak." Setelah mendapat persetujuan, mengirimkan pesan pada pria itu. Menanyakan kesediaan dia menjadi pendamping ke acara kondangan di tanggal yang sudah ditentukan. "Semoga bisa deh. Kalau enggak, alamat gua harus cari lagi kan. Mata gua bureng terlalu lama lihat deretan foto." Tidak menunggu lama, pesan yang Linda kirim mendapat balasan. Mengenai kesanggupan untuk menemani kondangan. Gadis itu terpekik bahagia. Usahanya hampir satu jam mencari kandidat membuahkan hasil juga. "Nan, dia katanya oke. Ketemu di tempat acara karena kebetulan rumah dia enggak jauh dari sana," beritahunya pada Kinan.
"Eh, tanyain dulu, berapa duit Lin. Takut mahal." Ketakutan Kinan masih sama. Tentang uang yang keberadaannya sangat jarang di dompetnya. "Apalagi ini akhir bulan. Duit gua cuman sisa berapa doang." Membuka dompet lamanya. Menunjukkan isi yang tersisa dua lembar yang masing-masing bernilai seratus ribu dan lima puluh ribu. Lebihnya uang koin.
"Tenang sih, urusan pembayaran serahkan aja sama gua. Ya hitung-hitung gua memfasilitasi lu untuk menunjukkan bahwa lu baik-baik aja di depan dua orang enggak tahu diri itu," ucap Linda berapi. Jika menyangkut Kelvin, entah kenapa Linda selalu emosi.
"Karena gua merasa enggak punya duit buat bayar, gua enggak bisa nolak niat baik lu kan. Huh, walau sebenarnya malu gua Lin. Selalu ngerepotin. Berteman sama gua ternyata merugikan ya. Bukannya jadi simbiosis mutualisme, malah jadi simbiosis parasitisme. Gua ini bagai parasit, hama, di hidup lu. Ya kaya anggrek lah. Hidup dengan menumpang pada tumbuhan inangnya." Kinan juga menyadarinya. Dia terlalu banyak menerima bantuan dari Linda. Walau gadis itu berkali mengatakan tidak masalah, tetap saja Kinan menganggap ini masalah.
"Santai aja sih Nan. Sebagai teman yang baik, gua akan membantu lu. Sebisa gua."
Menatap haru. "Terima kasih Lin. Tuhan pasti akan berikan yang lebih untuk lu."
Di meja lain, dua orang berbeda gender itu terlihat tengah adu mulut. Masing-masing dari mereka menatap tidak bersahabat. "Sudah gua bilang berkali-kali. Gua sama Kinan sudah benar berakhir. Kita bisa ketemu di sini juga itu bukan mau gua. Gua enggak tahu kalau dia di sini. Jangan persulit hidup gua deh Ra." Menatap lawan bicaranya dengan tajam. Dia juga memiliki batas kesabaran. Selama ini diam saja saat wanita di depannya selalu menyudutkan. Berpikir buruk dengan apa pun yang dia lakukan. Mungkin ini adalah puncaknya. Meledak-ledak membantah semua tuduhan.
"Maaf," jawab lawan bicaranya menunduk. Tidak berani menatap sang calon suami sekaligus calon ayah yang tengah di kandungnya sekarang. Dia terlihat sangat menyeramkan.
"Gua yakin sih. Mereka enggak bakal bahagai. Lihat aja ya," bisik Linda melirik ke arah dua calon pengantin itu.