Liburan ke Bali Ending
Nuna dan Frengky menikmati restoran itu. Nuna pun sesekali memotret pemandangan yang ada di depan matanya. Cekrek begitu bunyi kamera handphone yang ia miliki. Frengky yang sedang asyik menyantap bebek betutu, terdiam. Ia mengira Nuna memotretnya karena ia adalah satu-satunya orang yang duduk di depan Nuna.
“Frengky kenapa kok bengong gitu?”
“Kamu kan mau foto aku?”
“Wow geer sekali, aku foto pemandangan yang ada di situ.” Ucap Nuna sambil menunjuk.
“Duh kirain foto aku.” Ucap Frengky sambil menyantap bebek betutunya.”
Mata Frengky tak bisa menutupi rasa malu yang ada di relung kalbu. Tapi Frengky memilih untuk tetap cool dan berpura-pura tidak malu karena geer. Nuna yang melirik Frengky langsung tersenyum kecil, karena kawan kecil itu udah geer. Frengky pun meminta Nuna untuk menyantap bebek betutunya, biar mereka bisa cepat pulang. Nuna pun menurut, ia segera melahap bebek betutunya. Setelah selesai Nuna pun mengajak Frengky untuk bangun dari kursi, dan menyaksikan pemandangan restoran lebih dekat lagi. Frengky yang mendapat ajakan dari Nuna, tentu girang, ia segera bangun dari kursi. Nuna pun meminta Frengky untuk memotret Nuna dengan latar pemandangan restoran. Frengky pun memotret dengan gaya photographer professional. Cekrek, foto Nuna terlihat cantik. Frengky terdiam memandangi hasil potretannya.
“Kenapa diam Frengky?” Nuna kebingungan karena Frengky terdiam.
“Gak, ini loh aku terpesona sama hasil potretan ku.”
“Oh kirain kamu diam, karena liat foto aku yang cantik haha.”
“Duh kamu geer banget.”
Nuna pun berjalan ke Frengky, ia meminta Frengky menyerahkan handphone Frengky.
“Kamu mau ngapain, siniin handphone ku.”
“Tunggu sebentar.”
Nuna mengajak Fregky foto selfie.
“Frengky, senyum dong, ntar foto kita jelek loh.”
“Kamu mau kita selfie berdua?”
“Iya kenapa , kamu gak suka?”
“Bukan, kan katanya kamu mau kita gak ketahuan orang-orang?”
“Kamu kan tau kalau dari kecil kita udah suka di foto berdua, karena kita adalah kawan.”
“Oh fotp berdua ini foto berdua sebagai kawan?”
“iya, foto selfie dengan kawan kanak-kanak itulah temanya.”
“Siap, yuk.”
Frengky tidak bisa menutupi rasa kecewanya Cuma dianggap kawan oleh Nuna, maklum Frengky mulai jatuh cinta dengan Nuna, kawan kanak-kanaknya. Frengky memilih tersenyum tipis. Nuna yang melirik Frengky tersenyum tipis, memperbaiki senyuman Frengky dengan memegang pipi Frengky
“Harus lebih lebar dong senyumannya.”
Frengky pun meminta Nuna menyerahkan handphonenya, karena pasti Nuna tidak bisa memotret kalau ia memegang pipi Frengky, Nuna menyerahkan handphone milik Frengky. Frengky pun memotret. Cekrek. Nuna pun terperanjat.
“Loh kok udah difoto, kan aku belum gaya.”
“Itu kamu pegang pipi aku, itu kan gaya.”
“Oh, yaudah deh.”
Frengky berhasil buat Nuna berfoto dengan memegang pipi Frengky. Frengky tersenyum lebar, dan Nuna kali ini yang memotret Frengky dengan hanpdhone miliknya. Suara kamera Nuna yang cukup keras, buat Frengky langung melirik Nuna.
“Yah kok gerak sih, jadiya aku gak berhasil nih foto kamu yang lagi senyum lebar gitu.”
“Oh kamu ngapain foto aku lagi senyum lebar?”
“Kamu kan susah banget senyum selebar itu.”
“Oh iya?”
“Coba kamu buka foto foto kamu, gak ada yang senyum lebar.”
“Kamu kok tau?”
“Iya, kan aku kawan kanak-kanak kamu, kamu lupa?”
“Oh iya.”
Frengky lalu melirik ke jam tangan yang ia pakai. Frengky pun segera mengajak Nuna berlari ke restoran, karena pasti sebentar lagi restoran mau tutup. Setelah Nuna dan Frengky berlari, ternyata di restoran ramai, dan bukan makin sepi. Frengky yang penasaran bertanya pada waiters.
“Mba restoran ini bukannya tutup pukul 23.00?”
“Iya mas, restorannya seharusnya tutup pukul 23.00, tapi karena restoran ini ada yang nyewa, restoran ini tidak bisa tutup pukul 23.00. “
“Oh siapa yang nyewa restoran ini?”
“Mas nya gak tau?”
“Gak, itu loh Perempuan cantik yang disitu?”
“Oh, itu , terima kasih infonya mba.”
Frengky pun meninggalkan Nuna, ia berjalan ke perempuan cantik itu.
“Hallo.”
“Iya, kamu siapa ya?”
“Kenalin aku Frengky, terimakasih karena kamu nyewa restoran, aku bisa buat seseorang bahagia.”
“Oh iya, sama –sama.”
Frengky pun meninggalkan perempuan cantik itu, Frengky tidak mau bua Nuna menunggu lama. Tapi Frengky dikejar perempuan cantik itu. Frengky pun mengajak Nuna untuk segera ke taksi. Nuna yang melirik ke belakang langsung meminta Frengky menunggu perempuan yang sedang mengejarnya itu.
“Frengky, tungguin dia.”
“Dia, siapa yang harus kita tunggu?”
“Peempuan yang sedang berlari, dan sepertinya dia mengejar kamu?”
“Syukurlah kamu nunggu aku.”
Perempuan itu memberi kode pada Nuna untuk meninggalkan perempuan itu dan Frengky. Nuna pun mengerti dan pamit pada Frengky untuk menunggu Frengky di taksi. Pak supir pun mengikuti Nuna.
“Kamu siapa? Kenapa kamu ngejar aku?”
“Aku Ghia kamu inget gak?”
“Kamu Ghia? Aku gak inget.”
Ghia pun merangkul erat frengky.
“Tolong jangan seperti ini, aku gak kenal kamu.”
“Aku orang yang mencintai kamu, Frengky.”
“Aku betul-betul tidak kenal kamu.”
“Aku kawan yang kamu bantu, dan aku udah jatuh cinta sama kamu.”
“Sebentar kamu jangan rangkul aku.”
“Gak, aku gak mau, aku gak mau kamu bersama dia.”
Frengky pun berusaha untuk membebaskan dari rangkulan perempuan itu.
“Coba kamu sebutin kita ketemu dimana?”
“Ketemu di pesta orang tua kamu?”
“Oh kamu Ghia .”
“Kamu udah ingat?”
“Iya, aku ingat, bukannya aku bilang aku mau bantu kamu, karena aku Cuma mau bantu.”
“Tapi aku jatuh cinta beneran, aku tau kita Cuma pura-pura di depan Jon, tapi aku jatuh cinta beneran.”
“Kamu kenapa baru cari aku sekarang?”
“Aku gak tau Frengky, kalau kamu ada di Bali.”
“Udah, buat aku cerita pura-pura kita udahan.”
“Kamu bilang kayak gitu, karena mau cerita kita beneran kan?”
“Kamu geer Ghia.’
“Oh iya perempuan itu, dia siapa kamu?”
“Dia istri aku.”
“Kamu udah menikah ?”
“Iya, aku harap kamu tau jawaban pertanyaan kamu.”
Frengky meninggalkan Ghia, yang terpatung mencoba mencerna yang ia dengar.
Frengky berlari menuju taksi, dan segera naik taksi. Nuna yang menunggu Frengky langsung bertanya.
“Frengky dia itu siapa?”
“Tolong jangan tanya aku.”
Keringat terlihat bercucuran, maklum Frengky berlari dengan kencang, karena ia tidak mau dikejar Ghia. Pak supir segera menjalankan taksinya.
“Dek, terimakasih ya buat bebek betutunya.”
“Iya pak sama-sama.”
Frengky dan Nuna tidak saling berdialog, setelah Nuna bertanya pada Frengky. Pak supir pun bertanya pada Frengky dan Nuna.
“Kenapa nih, kok kalian gak berdialog lagi.”
“Gak pak, aku ngantuk banget, pingin cepat pulang ke hotel.” Ucap Frengky
“Oh begitu.”
Nuna pun memilih memenjamkan matanya. Frengky mlirik wajah Nuna. Nuna dikira tidur oleh Frengky.
“Nuna maafkan aku belum bisa cerita dia siapa.” Ucap Frengky sambil berbisik.
Nuna mendengar Frengky, dan ia tau kalau Frengky tidak bermaksud kasar atau marah padanya.
Nuna dan Frengky pun tiba di hotel. Pak supir memberi tau Frengky dan Nuna, tapi taka da jawaban. Pak supir pun menoleh ke belakang. Ternyata Frengky dan Nuna tertidur. Pak supir pun mencoba membangunkan Frengky.
“Dek, bangun, udah di hotel.”
“Frengky pun terbangun, tapi Nuna tidak terbangun.”
“Dek, coba bangunin istrinya dek.”
Sejenak Frengky melirik Nuna, yang pulas, ia pun tidak tega membangunkan Nuna.
“Gak tega ya?”
Pak supir memberi ide pada Frengky untuk Frengky menggendong Nuna. Frengky tidak mau alasannya karena Nuna berat. Frengky pun meminta pak supir untuk parker dan memilih tidur di taksi saja, pak supir menurut. Frengky dan pak supir pun tidur ditaksi.
Pagi hari pun tiba, sinar matahari menusuk matanya. Nuna langsung terperanjat, teringat ia belum sholat subuh. Ia menengok sekelilingnya, loh kok aku di taksi, loh kok gak ada Frengky, Cuma ada pak supir. Lalu pintu taksi dibuka.
“Nuna, udah bangun?”
“Iya, kenapa kamu kok gak bangunin aku sholat subuh sih?”
“Loh kamu kan bilang katanya lagi halangan, waktu aku coba bangunin subuh-subuh.”
Frengky pun meminta Nuna untuk ke toilet yang ada di parkiran ,untuk mencek apakah betul Nuna halangan, atau Cuma ngigo. Nuna pun ke toilet. Setelah dari toilet, Nuna lega karena ia beneran halangan, dan tidak ngigo. Frengky pun menejelaskan alasannya, dia gak ditaksi, karena ia ke mushola di lobi hotel untuk sholat subuh. Frengky juga bilang kalau supir taksi tidak sholat karena ia seorang yang beragama hindu. Nuna pun mengerti. Frengky dan Nuna pun mmbangunkan supir taksi yang tertidur, karena menunggu Frengky dan Nuna. Supir taksi pun bangun, Frengky dan Nuna turun dari Taksi dan membayar semua biaya taksi dengan harga dua juta rupiah. Supir taksi tidak menyangka karena dibayar sebanyak 2 juta rupiah, itu bayaran yang banyak sekali.
“Pak terimakasih untuk bantu kami.”
“Iya dek sama-sama.”
“Oh iya pak, rencananya saya dan Nuna mau naik taksi bapak lagi.”
“Boleh, kapan dek?”
“Kami mau ke bandara ntar malam.”
“Oh adek udah mau pulang, honeymoon sebentar sekali.”
“Kan bapak tau kami dipaksa menikah.”
“Oh, telpon saya saja ke no ini ya dek.” Supir menyerahkan secarik kertas no telpon.
“Iya pak.”
Frengky dan Nuna pun masuk ke hotel, supir taksi segera meninggalkan mereka. Nuna pun betanya pada Frengky kenapa mereka tidak memakai jasa supir yang di sewa orang tuanya, Frengky memberitau Nuna karena kalau ia pakai jasa supir yang prang tuanya sewa pasti supir itu akan menceritakan semua yang ia denger ke orang tua Frengky. Nuna pun mengerti.
Di kamar hotel, Nuna dan Frengky bersiap merapihkan barang-barang. Mereka pun berdua saling bantu memasukan barang barang mereka. Setelah mereka packing, Nuna memiliki ide untuk menyusuri jalan sekitar hotel, karena hari ini masih pagi, dan jadwal penerbangan mereka masih lama. Frengky setuju, mereka pun berniat membeli oleh-oleh untuk orang tua mereka masing-masing. Mereka menyusuri jalanan sekitar hotel, dan menemukan toko oleh-oleh. Nuna memilih banyak sekali oleh-oleh, begitu pun Frengky. Setelah itu mereka menyusuri jalanan hotel.
“Kita udah beli oleh –oleh sebanyak ini kita istirahat di hotel aja yuk.”
“Tapi aku masih mau berjalan-jalan.”
Sebetulnya badan Frengky sakit semua karena ia harus tidur di taksi, tapi karena permintaan Nuna, ia pun menurut. Setelah asyik berjalan-jalan, adzan pun berkumandang, mereka pun menuju mushola terdekat yang ada di toko yang penjualnya muslim. Nuna yang berhalangan untuk sholat, menunggu Frengky. Setelah sholat mereka berjalan-jalan lagi. Tak terasa waktu menuju malam, Frengky dan Nuna pun bergegas menelpon supir taksi, dan mereka segera bergegas pulang ke hotel, untuk memabwa barang bawaan mereka. Setelah mereka udah membayar hotel, mereka pun ke bandara naik taksi. Di bandara, Frengky dan Nuna menunggu pesawat mereka. Nuna pun memilih memotret keadaan bandara. Setelah menunggu tiba untuk mereka terbang. Pesawat Liong No JT 230 jurusan Denpasar-Cengkareng silakan memasuki pesawat. Setelah mereka berhasil di periksa, mereka masuk ke pesawat. Setelah di pesawat mereka duduk. Frengky yang duduk di pesawat sebetulnya belum bisa lupa, dengan rangkulan Ghia, Nuna yang tau Frengky sedang gelisah, langsung bertanya.
“Kamu kenapa?”
“Gak papa.”
Cinta Frengky dan Ghia adalah pura-pura tapi apakah adil untuk Frengky bersikap demikian pada Ghia? Itulah isi otak Frengky sekarang ini.