Liburan ke Bali
Nuna dan Frengky berjalan-jalan ke beberapa tempat indah di Bali. Bali selalu jadi primadona. Di tengah-tengah asyiknya mereka berjalan-jalan,Nuna ingin mencoba bebek betutu. Frengky pun yang menyukai bebek setuju untuk menyantap bebek betutu, masakan khas Bali yang super nikmat. Frengky mencari di internet restoran bebek betutu mana yang paling enak. Banyak sekali referensi bebek betutu, yang Frengky liat. Frengky pun bertanya pada Nuna.
“Nuna, kita mau cobain bebek betutu yang mana?”
“Bentar aku liat dulu.” Mata Nuna melihat referensi restoran bebek betutu
“Iya ada disekitar sini restoran, ada juga sih yang jauh, pilih aja deh.”
“Aku mau bebek betutu khas Wayan dong, keliatannya restorannya viewnya bagus, aku pingin foto-foto.
“Oh bebek betutu khas Wayan, kamu serius?” Ucap Frengky.
“Iya aku pingin cobain.”
“Jaraknya cukup jauh dari sini, kira-kira kita perlu satu jam gitu.”
“Duh satu jam?”
“Kamu kuat gak, nahan lapar?”
“Kuat kok, kan aku strong.”
“Yaudah kita kesitu deh.”
Nuna dan Frengky pun memilih memesan taksi untuk menuju restoran bebek betutu khas wayan. Di mobil Nuna, terus memegangi perutnya, Frengky yang melihat Nuna kelaparan tertawa.
“Katanya kuat, payah deh kamu.”
“Kamu kok bilang aku payah.”
“Maaf deh, ya soalnya sok kuat.”
“Iya maaf kan aku kira aku kuat.”
Nuna pun memilih untuk tidur. Frengky pun meminta kepada supir taksi untuk meminggirkan taksinya. Supirpun menurut. Frengky pun membuka jendela, lalu ia memanggil penjual makanan ringan.
“Pak saya mau beli makanan ringan.”
“Sebentar saya bawakan.”
“Ini, makanan ringannya enak kok.”
“Oh iya pak, berapa harganya?”
“Harganya 10.000 saja.”
Frengky pun membayar dengan uang 100.000 dan meminta penjual untuk membawa kembaliannya. Penjual itu senang. Frengky pun pamit pada penjual makanan ringan itu, dan taksi mulai melaju lagi. Nuna yang terbangun dari tidurnya, kaget karena melihat makanan ringan di sampingnya.
Nuna melirik kanan dan kiri, khawatir ada yang melihat dia menyentuh makanan ringan yang Nuna tidak tau itu milik siapa. Nuna melirik supir taksi, dan Frengky. Nuna yakin keadaan udah sepi, dan ia tidak bakal ketahuan kalau ia yang melahap makanan ringan itu. Nuna pun segera membawa makanan ringan itu dan membuka perlahan bungkusnya. Nuna yang lapar, langsung melahapnya, kriuk-kriuk bergitulah bunyi Nuna mengunyah. Frengky yang pura-pura cuek tidak tahan ingin menjaili, Nuna yang kelaparan.
“Duh yang kelaparan.” Ucap Frengky sambil mengacak-acak rambut Nuna.
“Stttt aku takut ketahuan supir taksinya, karena aku makan makanan ringan di taksinya, aku gak tau sih ini milik siapa?” Ucap Nuna sambil berbisik.
“Pak supir, ini ada yang maling makanan ringan bapak.”
“Haha adek ini kok jail sekali sama pacarnya.”
“Loh kok bapaknya gak marah?”
“Adek itu makanan ringan yang dibeli pacar adek kok, dia tadi minta saya pinggirkan taksi.”
“Makanan ringan ini bukan milik bapak?”
“Bukan dek.”
Nuna pun menatap tajam, Frengky. Frengky yang tidak suka ditatap tajam, langsung mengalihkan mukanya ke jendela.
“Oh iya dek, laki-laki disebelah adek itu dermawan.”
“Dermawan, kenapa?”
“Dia gak minta kembalian dari uang 100.000 yang ia kasih.”
“Oh iya pak.”
Frengky pun tidak berani menatap Nuna. Nuna pun tersenyum, karena kawannya tidak berubah, ia tetap saja dermawan seperti waktu kecil. Nuna pun menyuapi Frengky makanan ringan yang di ada ditangannya. Frengky diminta membuka mulutnya. Frengky tidak mau, namun bukan Nuna jika tidak gigih, ia pun mencoba berbagai cara untuk bisa menyuapi Frengky. Dari cara yang pertama yaitu mencoba menyuapi ala pesawat terbang, lalu mencoba untuk membuat Frengky ngobrol, dan cara yang buat Frengky mau disuapi adalah ancaman video call bersama orang tua Frengky. Frengky yang sedang tidak ingin diganggu, terpaksa mau disuapi. Supir taksi tersenyum, dan ia terus mendoakan semoga Nuna dan Frengky berjodoh.
“Pak terimakasih doanya, tapi kami udah berjodoh kok pak.” Ucap Frengky
“Oh kalian udah menikah?” tanya pak supir penasaran.
“Kenapa pak?” ucap Frengky .
“Kalian gak keliatan udah menikah, kalian romantic sekali.”
“Terimakasih pak.”
“Bukan pak, kami bukan suami istri.” Ucap Nuna
“Loh Nuna, kenapa kamu bilang gitu, kan kita udah menikah?”
“Loh yang bener yang mana ya?”
“Bapak kami menikah tapi kami tidak saling cinta.”
“Oh itu, kalian gak usah khawatir, cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu.”
Nuna dan Frengky yang mendengar supir taksi itu, langsung saling menatap. Mereka pun terdiam satu sama lain.
“Aku yakin aku pasti bakal jadi kawan, gak bakal jatuh cinta dengan Frengky.” Ucap Nuna sembari berbisik. Frengky pun menoleh.
“Kamu tadi ngomong apa Nuna?”
“Gak kok.
“Aku yakin aku pasti bisa tumbuhin cinta, aku pasti bakal buat Nuna cinta sama aku.” Ucap Frengky sambil berbisik pada dirinya sendiri. Kali ini Nuna yang menoleh.
“Kamu tadi ngomong Frengky?”
“Gak.”
“Oh iya Frengky sekarang jam berapa?”
“Jam 22.00.”
“Duh udah malam, kalau kayak gini gimana bisa nikmati bebek betutu.”
“Iya, tapi gimana kita kan udah dijalan.”
“Maaf Frengky, aku tadi lupa ingetin kamu, untuk liat jam.”
“Gak papa kok Nuna.”
Ditengah obrolan Nuna dan Frengky, supir memberitau kalau bebek betutu yang dituju itu tutup pukul 23.00 dan Nuna dan Frengky Cuma tinggal sepuluh menit untuk tiba di restoran. Nuna dan Frengky pun lega.
Sepuluh menit kemudian, mereka tiba di restoran bebek betutu khas wayan. Frengky meminta supir untuk ikut makan, supir pun ikut makan, di meja yang lain, karena supir taksi itu tidak mau mengganggu Nuna dan Frengky.
Nuna dan Frengky pun tidak memaksa, mereka memilih meja yang berbeda dari supir taksi. Nuna segera memanggil waiters, dan meminta menu. Setelah waiters datang menu dipesan, Nuna langsung memesan bebek betutu, es kelapa. Frengky yang suka selera Nuna, ikut memesan yang sama. Waiters pun membawa buku menu, dan segera membawakan makanan yang mereka minta. Nuna dan Frengky menunggu waiters dengan gelisah, kali ini perut Frengky ikutan lapar. Waiters datang, bebek betutu pun siap di santap. Bebek betutu langsung di santap oleh Nuna dan Frengky. Nuna dan Frengky pun menimati bebek betutu ditemani alunan music, serta pemandangan pantai yang indah.