1
Alma keluar dari ruang kerjanya, dia memiliki toko fashion sendiri, walaupun usaha kecil. Itupun berkat kerja kerasnya selama ini. Dia sekarang ingin menemui Davin.
Alma satu minggu lagi hendak menikah dengan Davin, keduanya telah berpacaran selama satu tahun. Alma adalah seorang desainer fashion muda dan berbakat, naif namun kuat.
Davin sangat mencintai Alma, bahkan pria itu berniat akan menyelenggarakan pesta pernikahan yang sangat megah dan akan dipuji seluruh warga kota demi membuktikan cintanya pada Alma.
Beberapa hari sebelum pesta pernikahan digelar Alma mendatangi kantor Davin dengan membawa kue dan tak sengaja mendengar percakapan tunangannya dengan seorang wanita di telepon.
Alma dapat mendengarnya cukup jelas dari balik pintu.
Suara Davin dari dalam, terdengar penuh kasih namun menusuk kalbu
"Sofia, sayang... percayalah padaku."
Alma membeku. Jantungnya berdebar tak karuan, firasat buruk mulai menghantuinya.
Terdengar kembali suara Davin bicara "Menikahi Alma hanyalah sebuah formalitas. Hatiku tetap hanya milikmu."
Napas Alma tercekat. Ia mendekat perlahan, seolah takut merusak ilusi yang selama ini ia yakini
Setelah menghembus panjang Davin lanjut bicara di telepon suaranya berubah dingin dan penuh perhitungan "Kau tahu kan, sayang? Pernikahan ini adalah puncak dari rencana balas dendamku. Vanya, adikku, tidak akan tenang sebelum Alma merasakan sakit yang sama."
Dunia Alma runtuh seketika. Kata-kata itu menghantamnya bagai badai yang memporak-porandakan segalanya.
Lalu Alma membatin dalam hati, dengan suara yang nyaris tak terdengar, penuh kepedihan
"Balas dendam? Siapa Sofia? Jadi... selama ini aku hanya pion dalam permainannya?"
Setelah itu terdengar suara Davin yang menyudahi percakapan.
" Baiklah, kita bicara lagi nanti, Sofia. Malam nanti aku akan menemanimu di rumah sakit."
Alma tak tahan lagi setelah mendengar semua percakapan Davin di telepon maka dia langsung menerobos masuk ke ruangan kerja calon suaminya.
BRUKK
"Mas Davin!"
Alma dan Davin berada di ruang kerja Davin yang besar. Suasana tegang dan dingin menyelimuti ruangan.
Alma detik itu juga berkata, dengan suara bergetar namun penuh keberanian.
"Mas Davin, aku ingin bicara tentang... tentang apa yang kudengar baru saja."
Davin terkesiap tak menyangka jika Alma tiba-tiba muncul, padahal belum saatnya Alma tahu rencananya. Pria tampan itu menatap Alma dengan tatapan dingin dan tanpa ekspresi.
"Apa yang kau dengar? Aku tidak mengerti maksudmu." Davin menghembus panjang.
Alma tak menunggu lama dia langsung mencecar Davin setelah sebelumnya menarik napas dalam-dalam.
"Aku mendengar percakapanmu dengan wanita di telepon tadi dan kamu menyebutnya Sofia, siapa dia?"
"Lalu tentang pernikahan ini... tentang Vanya... dan tentang balas dendam, apa maksud semua pembicaraanmu tadi Mas Davin?!"
Mendengar semua celotehan Alma yang begitu penasaran, Davin berusaha mencari alasan, dia tetap tenang, namun matanya memancarkan kilatan kemarahan. "Kau salah paham, Alma. Itu hanya... urusan bisnis."
Air mata mulai mengalir di pipi Alma. "Bisnis macam apa yang melibatkan balas dendam dan pernikahan palsu? Katakan padaku, Davin! Apa benar kau hanya ingin menikahiku untuk menyakiti aku?"
Kali ini Davin lantas berdiri dan berjalan mendekati jendela, sambil membelakangi Alma. Sikapnya berubah drastis hingga Anjani pun bingung.
Davin berkata datar "Kau tidak perlu tahu apa pun. Itu bukan urusanmu."
Alma menjadi naik pitam, dia tak percaya dengan ucapan calon suaminya. Alma menimpali dengan nada putus asa.
"Bukan urusanku? Ini tentang hidupku, Davin! Tentang masa depanku! Aku berhak tahu yang sebenarnya!"
Lalu Davin berbalik dan menatap Alma dengan tatapan tajam. "Baiklah, kalau kau memaksa. Ya, itu benar. Aku ingin menikahimu untuk membalas kematian Vanya. Kau akan merasakan sakit yang sama seperti yang dia rasakan dulu."
Alma tertegun,lalu dia mulai terisak.
"Kenapa? Kenapa aku harus menanggung semua ini? Apa salahku?"
Davin menggeram gusar, pria bertubuh tegap itu jalan mendekat kemudian mencengkeram lengan Alma dengan kasar.
"Well..mungin kau tidak bersalah. Tapi kakakmu... dia yang bersalah. Dia yang menyebabkan kematian adikku."
Alma mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Davin.
"Tidak mungkin, Kakakku tidak bersalah! Itu pasti kecelakaan! Kau tidak bisa menghukumku atas sesuatu yang tidak kulakukan!"
Mendengar sanggahan Alma lalu Davin kembali mencengkeram lengan Alma semakin erat.
"Kau akan menikah denganku, Alma. Atau... aku akan berhenti membiayai pengobatan ayahmu. Pikirkan baik-baik, nyawa ayahmu ada di tanganku, bukankah kamu sedang butuh uang untuk biaya operasi jantung ayahmu."
Alma terdiam, air matanya mengalir semakin deras. Gadis cantik itu merasa terjebak dalam situasi yang mengerikan. Ia harus memilih antara kebahagiaannya sendiri dan nyawa ayahnya.
Lalu akhirnya Alma menjawab dengan suara lirih dan penuh kepedihan.
"Kau... kau kejam, Davin. Aku tidak percaya kau bisa melakukan ini padaku."
Alma tak mengerti bagaimana Davin bisa tak memiliki perasaan kemanusiaan.
Davin mengendikkan bahunya seraya melepas cengkeramannya dan berjalan menjauh.
"Aku melakukan apa yang harus kulakukan. Pilihan ada di tanganmu, Alma. Menikahlah denganku, atau biarkan ayahmu tak diobati."
Alma dan Davin masih berada di ruang kerja Davin. Suasana tegang dan dingin masih terasa kental.
Alma mengusap kasar bulir air mata yang terus turun di pipi halus lalu dengan suara lirih namun penuh keberanian dia berkata. "Mas Davin aku masih tidak mengerti. Apa salah kakakku? Kenapa kau menyalahkan dia atas kematian Vanya?"
Mata Davin langsung memancarkan kemarahan dan Rahangnya mengeras. "Jangan sebut nama adikku! Kau tidak pantas menyebut namanya!"
Alma terkejut dengan reaksi Davin, namun tetap berusaha tenang.
"Tapi mas, aku berhak tahu. Kakakku saat ini dia sedang bekerja di luar kota, aku tak pernah merasa dia bisa berbuat keji pada wanita manapun."
"Bahkan sudah lama kamu tak berkirim kabar, kupikir dia sangat sibuk dengan pekerjaannya."
Alma merasa sangat mengenal kakaknya, Irvan adalah sosok kakak yang begitu menjaga dan melindungi baginya. Jadi Alma tak bisa memahami apa yang terjadi sebenarnya hubungan antara Vanya dan Irvan.
Selama berpacaran dengan Davin, Alma memang tak pernah bertemu dengan Vanya. Sebab menurut Davin adiknya itu sedang belajar di luar negeri.
Davin kembali berjalan mendekati Alma dengan tatapan mengintimidasi.
"Kakakmu tidak bisa berbuat keji? Itu kan katamu. Irvan itu pembunuh! Dia merenggut nyawa adikku yang berharga!"
Alma mundur selangkah, merasa takut dengan kemarahan Davin "Itu tidak sengaja mas Davin. Kakakku pasti tidak bermaksud melakukannya."
Wajah Davin menggelap, suhu di ruangan terasa menjadi semakin dingin. Davin lantas mencengkeram bahu Alma dengan kasar.
"Diam! Jangan membela pembunuh itu! Kau sama saja dengan dia!"
Alma meronta dia mencoba melepaskan cengkeraman Davin. "Lepaskan aku, Davin! Kau menyakitiku!"
Alma gemetar ketakutan, gadis itu merasa Davin menjadi orang yang begitu asing baginya. Selama satu tahun pacaran tak pernah sekalipun Davin membentak dan berbuat kasar padanya, namun sekarang sikap pria itu berubah drastis.
Tapi Davin seolah tak mendengar dan tidak menghiraukan permintaan Alma, justru pria itu semakin mencengkeram bahu sang calon istri yang biasanya dia perlakukan dengan lemah lembut.
"Pernikahan ini akan tetap berlangsung sesuai rencana. Seminggu lagi, kau akan menjadi istriku."
Alma menatap Davin dengan tatapan penuh kebencian.
"Aku tidak akan pernah menikah denganmu setelah tahu semua ini!"
Sontak Davin melepaskan cengkeramannya dengan kasar, lalu tertawa sinis.
"Kau pikir kau punya pilihan? Kalau kau menolak, aku akan menghentikan semua biaya pengobatan ayahmu. Dia akan segera tak bisa diobati, Alma. Kau mau itu terjadi?"
Alma terdiam, air matanya mengalir deras. Dia merasa hancur dan tak berdaya. Alma tahu Davin tidak main-main dengan ancamannya. Sedangkan biaya operasi ayahnya memerlukan jumlah yang cukup besar.
Alma berkata dengan suara lirih dan penuh kepedihan.
"Kau... kau benar-benar monster, Davin."
Davin tersenyum dingin dia tak tersinggung mendengar ucapan wanita yang pernah dicintainya itu. Walau bagaimanapun awal hubungan mereka memang didasari cinta. Tapi setelah Davin mengetahui kalau Irvan yang telah mengakibatkan meninggalnya Vanya, maka Davin mulai memiliki niat balas dendam pada Alma.
Davin mendekat dan berbisik di telinga Alma.
"Aku melakukan apa yang harus kulakukan untuk membalas kematian adikku. Kau dan keluargamu akan membayar semua ini."
Kue di tangan Alma detik itu juga jatuh ke lantai, hancur berantakan seperti hatinya saat ini. Air mata mengalir deras membasahi pipinya.
Alma membatin di hatinya dengan putus asa dan terluka.
"Cinta yang selama ini aku rasakan... hanyalah kebohongan belaka? Tatapan mata itu... senyuman itu... semuanya palsu?"
Dengan langkah gemetar, Alma berbalik dan berlari menjauh dari kantor Davin. Ia meninggalkan semua mimpi dan harapan yang telah ia rajut selama ini, hancur berkeping-keping di belakangnya.
Sikap Davin telah berubah drastis dan itu membuat Alma ketakutan.