bc

Jadi Istri Kontrak Paman Miliader

book_age18+
344
FOLLOW
1K
READ
billionaire
love-triangle
contract marriage
HE
love after marriage
age gap
friends to lovers
arrogant
heir/heiress
drama
tragedy
bxg
lighthearted
serious
kicking
city
secrets
polygamy
like
intro-logo
Blurb

Nayla Adzkia Sanjaya tak pernah menyangka, bibi angkat yang selama ini ia percayai justru menyeretnya dalam sebuah pernikahan penuh rahasia dengan Adrian Mahendra—suami sah bibinya sekaligus pria yang dingin dan sulit ditebak. Apa yang dimulai sebagai kewajiban perlahan berubah menjadi pergulatan batin yang tak terhindarkan. Antara rasa takut, keterpaksaan, dan perasaan terlarang yang tumbuh diam-diam… akankah Nayla dan Adrian mampu melawan takdir, atau justru tenggelam dalam permainan berbahaya ini?

chap-preview
Free preview
Bab 1
"Nayla." Nayla baru saja turun dari tangga, masih dengan rambut acak-acakan dan mata yang sedikit berat. Pandangannya jatuh pada bibinya yang sedang duduk anggun di meja makan, sibuk mengaduk teh dengan gerakan tenang. Ia refleks merapikan rambut dan bajunya seadanya, merasa canggung karena jelas-jelas masih terlihat baru bangun. “Iya, Tante...” “Duduk.” Titah Vania singkat, tak bisa dibantah. Dengan bingung, Nayla pun menarik kursi dan duduk tepat di depannya. Belum sempat bertanya, suara tegas bibinya langsung meluncur. “Aku ingin kamu menikah dengan Adrian.” Nayla langsung membeku, lalu mendelik lebar. Sesaat ia yakin masih bermimpi. Lalu, tanpa sadar, tawa kecil lolos dari bibirnya. “Hahaha... apa? Tan, serius? Ini masih pagi loh, Tante jangan bercanda aneh-aneh. Aku belum ngopi.” “Aku serius,” jawab Vania datar, tak ada senyum sedikit pun. Tawa Nayla spontan terhenti. Ia menatap bibinya lama, lalu menggeleng pelan, tak percaya dengan apa yang baru saja didengar. “Ta-Tante... tunggu. Adrian itu kan suami Tante. Masa aku diminta nikah sama paman sendiri? Tante nggak lagi gila, kan?” "Aku tahu," potong Vania cepat. "Tapi dengarkan aku dulu." Suasana ruangan mendadak berat. Hanya terdengar denting hujan yang makin deras di luar. "Kamu tahu kan, Aku tidak bisa mengandung," lanjut Vania dengan nada getir, meski matanya tetap tajam. "Dokter sudah memvonis, aku mandul. Sementara orang tua Adrian di Singapura terus mendesak kami untuk memberikan cucu. Mereka tidak akan berhenti sampai Adrian punya pewaris. Jika tidak, mereka akan memaksanya menceraikan aku." Nayla menelan ludah, merasa kaku. "Tapi... kenapa aku, Tan? Kenapa harus aku?" "Karena kamu keluarga," jawab Vania tegas. "Dan kamu berutang banyak padaku. Kalau bukan aku yang merawatmu setelah orang tuamu meninggal, entah bagaimana nasibmu sekarang. Aku memberimu rumah, pendidikan, makanan, semuanya. Apa itu belum cukup untuk membuatmu mengerti?" Nayla merasakan jantungnya berdegup tak beraturan. Kata-kata itu menghantamnya seperti badai. Ia tahu, memang benar Vania lah yang mengurusnya sejak kecil. Tapi... permintaan ini terlalu jauh. "Ta-Tante... itu gila. Aku tidak bisa menikah dengan Adrian. Dia..." Nayla menggigit bibir, ragu melanjutkan. "Dia sudah ku anggap sebagai pamanku, dan juga dia adalah suami Tante sendiri." Vania mendengus, wajahnya berubah lebih keras. "Paman hanya di atas kertas, Nayla. Tidak ada hubungan darah. Adrian hanya suamiku, bukan saudaramu. Jangan pakai alasan itu untuk menolak." Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Nayla. "Tapi aku tidak sanggup..." "Kamu harus," potong Vania dengan nada dingin. "Ini hanya sementara. Pernikahan kontrak. Kamu menikah dengan Adrian sampai kamu mengandung dan melahirkan anaknya. Setelah itu, kamu bebas. Kamu bisa pergi kemanapun kamu mau. Aku akan memberikan imbalan yang setimpal." Kata-kata itu menusuk telinga Nayla, membuat tubuhnya bergetar. Baginya, ini bukan soal uang atau balas budi. Ini tentang harga diri, tentang perasaan yang selama ini diam-diam ia pendam. Ia tak pernah berani mengaku, bahkan pada dirinya sendiri, bahwa entah sejak kapan, ia menaruh hati pada Adrian. Pria dewasa berusia empat puluh tahun itu selalu terlihat dingin, tak terjangkau, dan penuh wibawa. Nayla tahu, perasaan itu salah. Dan kini, mendengar permintaan Vania, hatinya semakin kacau. "Kenapa aku, Tan? Kenapa bukan orang lain saja? Ada banyak cara untuk punya anak," suara Nayla bergetar, hampir terisak. Vania menatapnya dengan sorot tajam, lalu berkata lirih namun penuh ancaman, "Karena aku percaya hanya kamu yang bisa kujaga rahasianya. Orang tua Adrian tidak boleh tahu. Publik tidak boleh tahu. Kalau ini sampai bocor, hidupku hancur. Dan jika kamu menolak... ingat baik-baik, Nayla. Kamu tidak akan punya tempat lagi di rumah ini." Nayla terdiam. Tubuhnya kaku, seperti kehilangan tenaga. Kata-kata itu terasa seperti pisau yang menusuk dadanya. Nayla terdiam. Tubuhnya kaku, seperti kehilangan tenaga. Kata-kata Vania terasa seperti pisau yang menancap dalam di dadanya. Ia tidak mampu berkata apa-apa. Tenggorokannya tercekat, matanya terasa panas, tapi tidak ada suara yang keluar. Perlahan, ia hanya menunduk, menahan segala perasaan yang berkecamuk di dalam d**a. Tanpa memberi jawaban, Nayla berdiri pelan. Kursi yang tadi didudukinya berderit halus saat ia dorong ke belakang. Dengan langkah gontai, ia berjalan kembali ke arah tangga, seolah meminta waktu untuk bernapas dan berpikir. Namun sebelum sempat menghilang dari pandangan, suara dingin Vania kembali terdengar, mengikatnya seperti rantai tak kasat mata. “Ingat, Nayla,” ucapnya lirih namun penuh ancaman, “kalau kau berani menolak, atau coba kabur dari rumah ini, anggap saja kau sudah bukan siapa-siapa lagi. Aku bisa pastikan, kau tidak akan punya tempat untuk kembali.” Langkah Nayla terhenti sesaat di tangga. Tubuhnya menegang, tetapi ia tak menoleh. Hanya genggaman jemarinya yang semakin erat, menahan gejolak dalam hati. Tanpa suara, ia kembali melangkah ke atas. Setiap pijakan terasa berat, seolah lantai menjerat kakinya. Begitu pintu kamar tertutup rapat, barulah ia membiarkan dirinya terjatuh di sisi ranjang. Nafasnya tersengal, kepalanya penuh dengan kebingungan dan ketakutan. Baru kali ini ia merasa dunia runtuh begitu cepat. Bibi yang selama ini ia hormati, yang memberinya tempat tinggal... tiba-tiba berubah jadi orang asing. “Menikah... dengan Paman Adrian?” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar. Suara itu bergetar, penuh ketidakpercayaan. Dadanya sesak, pikirannya kalut. Ada rasa ingin tertawa karena absurdnya permintaan itu, tapi air matanya malah menggenang. Ini gila... benar-benar gila. Mana mungkin? Tapi ancaman Vania barusan kembali terngiang jelas di kepalanya. "Kalau kamu menolak... kamu tidak akan punya tempat lagi di rumah ini." Nayla memeluk lututnya erat, mencoba menenangkan diri. Tapi ketakutan itu semakin menusuk. Ia sadar, selama ini ia memang tidak punya siapa-siapa selain bibinya. Jika diusir... ke mana ia harus pergi? Siapa yang bisa menampungnya? Air mata akhirnya jatuh, satu demi satu. “Kenapa aku... harus di posisi ini?” ucapnya lirih, penuh getir. Air mata masih menetes di pipinya ketika pandangan Nayla tanpa sadar terarah ke jendela balkon. Tirai tipis bergerak pelan, digoyang angin lembap dari luar. Ia menatap ke sana. Langit kelabu, hujan turun deras, menimpa lantai balkon dan memantul dalam ribuan cipratan kecil. Di balik tirai hujan, dunia luar terlihat buram, namun justru itu yang membuatnya tampak seperti jalan keluar. Jantung Nayla berdetak tak karuan. Sesaat terlintas pikiran nekat. Kalau aku lari sekarang... kalau aku kabur dari rumah ini... mungkin aku bisa bebas. Tangannya terulur ragu, menyibak tirai, membuka sedikit kaca jendela. Udara pagi yang dingin langsung menyusup masuk, menusuk kulitnya. Hujan deras terdengar begitu jelas, seakan mengundangnya untuk keluar.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.4K
bc

TERNODA

read
199.4K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.4K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
71.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook