"Ada yang terjadi, Yar?" Ditrisya bertanya dengan suara bergetar, perasaannya mendadak tidak enak melihat air muka Ahyar yang tiba-tiba mengeras. "Mbak Tri," panggil Ayah dari dekat pintu keluar rumah makan. Ditrisya menoleh pada ayahnya sekilas, lalu menatap Ahyar lagi. Sejenak Ahyar menjauhkan ponselnya dan menyuruh Ditrisya pulang. "Tapi bilang dulu ada apa," desak Ditrisya belum mau pulang sebelum diberi pencerahan. "Aku telepon nanti," ujar Ahyar, mengusap memberi sedikit remasan di bahu Ditrisya seolah ingin meyakinkan bahwa semua baik-baik saja. Ketika Ayah memanggil untuk yang kedua kalinya, Ditrisya mau tidak mau harus pergi. Dengan ponsel yang kembali ditempelkan ke telinga, Ahyar memberi Ditrisya kedupan menenangkan yang justru membuat Ditrisya makin tak tenang. Setelah D

