Titik Awal Candu

606 Words
    Setelah Umi mengizinkanku untuk pulang, aku segera menghubungi Lidia melalui pesan w******p. Tak lama kemudian Lidia menjemputku di depan gang dengan mengendarai motor maticnya. Penampilan Lidia sore itu terlihat sangat dewasa. Dia memakai celana jeans ketat juga kaos pendek berwarna merah yang di balut dengan jaket kulitnya. Tak lupa dengan makeup yang tak pernah kulihat Lidia tampil secantik ini sebelumnya.     Setelah bertemu Lidia, dia membawaku ke kosnya untuk mengganti baju. Aku yang semula masih memakai seragam sekolah lengkap dengan jilbab, kini telah bertranformasi menjadi cewek kece jaman sekarang, celana jeans kaos pendek juga tak lupa makeup se-menarik mungkin.     Waktu menunjukkan pukul 19.00. Tanpa aku sadari, waktu maghrib telah aku buang begitu saja. Tanpa merasa berdosa sedikitpun. Sepertinya setan sudah mulai berhasil menggodaku. Dan hal ini menjadi titik awal imanku goyah, tergiur oleh materi dunia yang saat itu tak pernah aku sadari bahwa ini salah.     Setelah semuanya siap, kita berdua berangkat ke caffe dimana Lidia bekerja. Dan, wow.. Aku tercengang melihat keadaan disana. Ramai, lampu disko menyorot dari setiap sisi ruangan. Kemudian dibawalah aku bertemu dengan si pemilik caffe. Setelah berkenalan dan interview banyak hal, akhirnya akupun diperbolehkan bekerja di tempat itu.     Jam kerjaku cukup singkat, setiap weekend mulai pukul 8 hingga pukul 12 malam. Jam kerja ini khusus untuk karyawan yang masih sekolah seperti aku dan Lidia. ***     3 bulan sudah aku bekerja di caffe remang-remang itu. Melayani para pelanggan yang mayoritas adalah lelaki sudah menjadi hal yang biasa bagiku. Tak jarang mereka menggodaiku. Tak jarang pula mereka mengajakku duduk dengan iming-iming sejumlah uang yang akan mereka berikan padaku. Namun sampai disini, aku masih kekeh dengan pekerjaanku bahwa pekerjaanku hanya sebatas memberikan pesanan yang mereka pesan. Bukan untuk menjadi teman nongkrong mereka.     Setiap weekend aku selalu bolos ngaji di pondok. Biasanya aku numpang tidur di kosan Lidia. Hal ini yang membuatku sering mendapat takdzir dari pengurus pondok. Namun semua ini tak mampu buatku jera. Lagi dan lagi, aku tetap melakukan hal yang sama. Bolos ngaji untuk bekerja. Dan memang benar, selama bekerja, aku mampu membeli barang yang aku inginkan. Hal ini yang buatku bahagia, hingga ketagihan. ***     Suatu malam di caffe, seorang lelaki kira-kira berusia 30 tahun memanggilku, memintaku untuk membawakan minuman. Dan dia bertanya kepadaku.     "Kamu Era kan?"     "Iya Mas. Ada yang bias dibantu?" jawabku.     "Kamu itu cantik. Kenapa mau sih kerja disini dengan gaji yang sedikit?"     "Loh, Mas-nya tau nama saya dari siapa?" aku terheran, kenapa mas-mas ini tau namaku. Sepertinya dia telah lama memperhatikanku.     "Nggak penting aku tau nama kamu dari siapa. Yang aku tau kamu itu cantik. Kamu mau nggak kerja di tempat aku aja. Jam kerjanya sama kok. Tapi gajinya lebih gede." dia menawariku sebuah pekerjaan yang aku sangat tergiur ketika mendengar gajinya lebih besar dibandingkan di caffe ini.     "Kerjanya dimana ya mas?'.     "Di tempat karaoke. Kamu cuma cukup melayani kebutuhan pelanggan yang mau karaoke di sana"     Akupun meminta waktu untuk berfikir beberapa hari. Dan lelaki itu memberiku nomor telfonnya. Dia bilang aku bisa menghubunginya ketika aku sudah siap bekerja disana.     Beberapa hari aku memikirkan hal itu. Dan jika di pikir memang pekerjaan itu lebih menarik karena dengan jam kerja yang sama aku bisa mendapatkan gaji yang lebih besar. Akhirnya aku putuskan untuk bekerja di tempat karaoke tersebut tanpa berfikir hal buruk apa yang akan terjadi selama aku bekerja disana.     Sejauh ini, aku tak lagi pedulikan kegiatan pondokku. Yang aku fikirkan adalah bagaimana caranya aku mendapatkan uang. Amalan-amalan yang selama di pondok selalu rutin aku kerjakan, lambat laun satu persatu amalan-amalan itu aku tinggalkan. Hingga akhirnya, aku tak pernah lagi melakukan sholat dan terbiasa melepas jilbab ketika keluar dari lingkungan pondok. Tak sedikitpun aku merasa berdosa dengan apa yang aku kerjakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD