Jebakan Obat Pelangsing

549 Words
    Malam itu adalah malam pertamaku bekerja di tempat karaoke. Aku tampil lebih percaya diri karena kini sudah banyak lelaki yang memuji kecantikanku. Perkerjaan ini aku lakukan mengalir begitu saja. Melayani pelanggan, membawakan barang sesuai apa yang mereka butuhkan.     Hingga pada suatu malam ada seorang pelanggan laki-laki menghampiriku. Penampilannya masih cukup muda, terlihat seperti masih berusia 28 tahunan. Namanya Bang Rian. Dia memang sering datang karaoke ke tempatku bekerja, sehingga kita sudah cukup akrab. Malam itu tidak seperti biasanya, dia datang sendirian. Lalu dia menghampiriku, memintaku untuk menemaninya bernyanyi malam ini dengan iming-iming sejumlah uang. Aku-pun mau. Sebenarnya bukan karena uang. Tapi karena aku sudah mengenalnya jadi merasa tidak enak hati jika menolak tawarannya.     "Ra, kok kamu sekarang keliatan agak gendut ya, hehe pisss!!!" kata Bang Rian  ketika kita sudah berada di ruang karaoke.     "Masa sih?" spontan aku mengambil cermin di tasku. Dan benar saja, ternyata pipiku terlihat lebih tembem dari sebelumnya.     "Emm iya nih. Kok bisa ya. Wah kudu diet nih" lanjutku.     Lalu Bang Rian menawariku sebuah obat yang katanya sih obat buat menurunkan berat badan.     "Nih kalo mau, aku ada obat diet. Pacarku sering minum ini. Dan hasilnya bagus. Di coba aja, udah kebukti sih hasiatnya." rayunya.     "Ini beneran Bang? Aku coba deh ya" tanpa berfikir panjang, akupun langsung meminum obat diet itu.     Beberapa menit setelah minum obat itu badanku terasa lemas, semakin lama kepalaku jadi pusing, dan mataku berkunang-kunang. Setelah itu aku tak tau lagi apa yg terjadi, aku hanya melihat Bang Rian membawaku keluar ruangan, menuju ke sebuah tempat. Dan aku tak bisa menolaknya. ***     Sedikit aku mulai membuka mataku. Aku baru sadar bahwa ternyata aku sudah berada di kamar sebuah hotel. Dan betapa terkejutnya aku ketika melihat banyak darah di ranjang tempatku tertidur. Aku mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Oh, Bang Rian. Dimana dia. Aku mencoba menghubunginya, namun ponselnya tidak aktif. Dan aku teringat tentang obat yang dia berikan semalam.     "Ah aku dijebak!!!"     Aku menangis sejadi-jadinya. Harta yang selama ini benar-benar aku jaga, hilang sudah di curi oleh lelaki b******k. Aku marah, tapi tak tau harus marah kepada siapa, aku kecewa dengan diriku sendiri, tapi ini sungguh sebuah jebakan.     Setelah kejadian malam itu, aku merasa diriku sangat kotor. Jadi kupikir, tak ada gunanya lagi aku kembali ke pondok. "Toh, dosaku sudah terlalu banyak" batinku. Jadi tanpa merasa bersalah aku tetap melanjutkan pekerjaanku.     Sejak saat itu aku sering bolos sekolah juga mondok. Aku merasakan sebuah kebebasan yang selama ini aku inginkan. Terlebih dengan uang yang aku dapatkan, aku merasa sangat puas karena dengannya aku bisa membeli barang apapun sesuai dengan keinginanku.     Terkadang aku merasa sangat nenyesal, kenapa malam itu aku berhasil dirayu, ditipu dan di jebak. Hingga tanpa dengan kesadaranku , harta terbaikku berhasil di curi. Ya, di curi oleh lelaki b******k.     Bang Rian, semenjak saat itu aku tak tau lagi keberadaannya. Sudah aku coba menghubunginya lewat telepon, namun nomornya tak lagi aktif. Aku coba hubungi lewat pesan w******p namun sama saja, sepertinya contactku sudah dia blokir. Semanjak saat itupun dia tak lagi berkaraoke di tempatku bekerja. Ah, sepertinya dia memang menghindariku. Memang lelaki tidak bertanggung jawab.     Hari demi hari berlalu. Cemas selalu menghantuiku. Aku takut, sungguh takut jika aku hamil. Apa yang akan aku katakan kepada orangtuaku? Namun segala kecemasan itu hilang sesaat ketika aku kembali ke dunia malamku. Disana aku hanya temukan kesenangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD