Bang Hendri Dan Kedua Garis

546 Words
    "Ra.. Malam ini saja, tidurlah denganku" bisik seorang lelaki yang selama ini menjadi pelanggan yang selalu memintaku untuk menemaninya bernyanyi di tempatku bekerja.     Namanya Bang Hendri. Dibilang pacar ya bukan pacar, dibilang bukan pacar tapi udah kaya pacar. Terkadang aku bingung dengan status kita. Kita saling mencintai, namun tak ada ikatan, semuanya mengalir begitu saja     Mendengar bisikan Bang Hendri, akupun mengiyakan. Entah kenapa aku selalu menuruti apapun keinginan Bang Hendri.     Bang Hendri bagiku adalah sosok yang bertanggungjawab. Dia selalu berikan apapun yang aku butuhkan. Dia juga seorang yang penyanyang. Mungkin karena itu aku jatuh hati padanya.     Usia kita terpaut cukup jauh. 9 tahun tepatnya. Namun usia tak menghalangi perasaan kita. Aku dan Bang Hendri, sama-sama saling mencintai. Kita biasa jalan-jalan ke caffe untuk sekedar nongkrong, atau pergi karaoke, hingga pada akhirnya, Bang Hendri mengajakku ke sebuah hotel. Dan aku selalu meng-iyakan.***     Pagi itu setelah sholat subuh berjamaah, badanku terasa sangat lemas, kakiku gemetar, kepalaku pusing dan perutku mual. Entah ini sudah keberapa kali aku bolak-balik ke kamar mandi. Rasanya ingin muntah, tapi tak ada yang keluar. Beberapa teman sekamarku begitu panik, ingin membawaku ke klinik, namun aku sengaja menolak. Aku takut jika aku diketahui hamil oleh mereka. Sebenarnya tak hanya mereka yang panik, hatiku juga merasakan kepanikan itu, bahkan khawatir. Khawatir bagaimana kalau aku hamil. Karena memang aku sudah telat haid selama 4 minggu.     Akhirnya aku meminta izin untuk pulang dengan alasan sakit. Sebenarnya pengurus tak mengizinkanku. Tapi melihat kondisiku yang semakin drop, merekapun mengizinkanku untuk pulang. Pagi itu aku meminta Lidia menjemputku di depan gang menuju ke pondok.     Lidia datang, segera aku memboncengnya.     “ Ra, kamu kenapa sih? Sakit apa?” tanya Lidia.     ”Nggak tau nih Lid. Aku pusing, mual. Aku takut kalau aku hamil Lid. Aku udah 4 minggu nggak haid.” Jelasku.     “Kita jangan pulang ke rumah ya Lid, ke kosmu aja. Aku takut.” Lanjutku.     “Ya udah, kamu tenangin dulu hati kamu. Nanti kita mampir apotek buat beli tes pack.”     Aku mengangguk pasrah.  Kita berhenti di sebuah apotek dekat kos-kosan Lidia. Kita membeli 2 buah tespack. Sebenarnya sih malu, tapi ya mau gimana lagi. ***     Kurebahkan badanku di kasur Lidia. Ah rasanya pusing sekali. Lidia memberiku segelas teh pahit, menyuruhku makan dan minum obat. Aku meng-iyakan saja apa perintah Lidia. Tak selang berapa lama setelah minum obat, aku tertidur. Mungkin karena efek dari obat yang tadi aku minum.     Pukul 11 siang. Aku terbangun. Kondisiku sudah mulai membaik. Kepalaku tak lagi pusing. Setelah tenang, Lidia menyuruhku untuk mengetes, apakah aku hamil atau tidak dengan tespack yang tadi sudah kita beli di apotek. Hatiku berdesir. Rasa takut dan khawatir tak henti-hentinya menjarah perasaanku. Berharap hasilnya negatif.     “Sudah?” tanya Lidia.     Aku mengangguk.     Setelah sekitar 5 menit menunggu, dengan perasaan cemas aku memeriksa hasil tes yang telah aku lakukan. Dan hasilnya adalah, terlihat 1 garis yang tampak jelas dan 1 lainnya terlihat samar. Lalu aku memutuskan untuk mengetes sekali lagi.     Tes yang kedua hasilnya 2 garis terlihat jelas. Dan itu artinya aku hamil. Hatiku kacau. Pikiranku buyar. Dalam benak, wajah bapak dan ibuku terlintas. Aku menangis sejadi-jadinya. Entah apa yang akan aku lakukan setelah ini. Lidia memelukku erat. Mencoba kuatkan hatiku yang tengah hancur. Bukan, bukan karena Bang Hendri, tapi sebab diriku sendiri. Memang benar bahwa penyesalan selalu datang terlambat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD