Penyesalan

532 Words
        Satu minggu sudah aku berada di kos-kosan Lidia. Satu minggu pula aku tidak masuk sekolah. Pagi itu salah satu pengurus pondok menelpon Bapakku, bertanya tentang bagaimana kondisiku. Namun Bapak merasa sangat kebingungan karena tidak merasa anaknya pulang.     “La wong Era itu tidak pulang kerumah kok Pak” jawab Bapak di telepon siang itu.     “Lalu, selama ini Era kemana ya Pak? Seminggu yang lalu, tepatnya hari Rabu, Era itu izin mau pulang. Soalnya dia sakit Pak.” Jelas Kang Arif, salah satu pengurus pondok yang mengurus bagian administrasi.     Bapak merasa sangat cemas. Pengurus pondok berusaha mencariku.     Sehari kemudian, pengurus pondok mendatangiku di kos-kosan Lidia. Entah darimana mereka mendapatkan info. Dan benar, sesampainya di pondok. Aku mendapat takdzir-an, lagi. Entah, ini hukuman yang ke berapa. Aku di takdzir untuk membersihkan seluruh area pondok. Tanpa terkecuali.     Kondisi sedang hamil, aku tak kuat dengan takdziran ini. Siang itu saat aku sedang membersihkan kamar mandi, tiba-tiba mataku berkunang-kunang. Kondisiku drop lagi. Aku pinsan. Tak tau lagi apa yang terjadi di sekitarku. Hanya mendengar suara Nindy, salah satu temanku menyuruh untuk membawaku ke klinik. Aku pasrah. Kini tak mampu lagi untukku menolak.     Entah berapa lama mataku terpejam, kini aku mulai bisa menghirup aroma minyak kayu putih yang sepertinya tadi  sengaja dioleskan di bagian bawah hidungku. Mataku mulai bisa melihat lampu klinik yang putih, juga dinding yang berwarna senada.     Di sampingku sudah ada Ibuk. Dia menangis. Sedang Bapak menampakkan wajah marah, lalu pergi. Aku tau bahwa mereka telah mengetahui bahwa aku ini hamil.     “Buk, maafkan aku” aku menangis sambil menciumi tangan Ibukku.     Ibu terdiam. Dia hanya menangis dan mengusap-usap kepalaku.     Saat itu juga aku di DO dari sekolah dan juga pesantrenku. Aku malu, sedih, juga kecewa dengan diriku sendiri. ***     “Jadi siapa nduk yang melakukan ini? Bilang ke Bapak” Tanya Bapak.     Aku diam. Sungguh, sebenarnya aku belum ingin menikah. Dengan Bang Hendri-pun hatiku belum 100% yakin. Aku teringat kala itu Bang Hendri pernah bilang kalau dia pasti bertanggung jawab.     Meskipun aku tak pernah menjawab pertanyaan Bapak tentang siapa lelaki yang melakukan ini semua, Bapak tetap ngeyel, berusaha mencari tau siapa yang melakukan ini padaku. Dan tak kusangka, ternyata Bang Hendri telah mengetahui hal ini. Sebelum dirinya ditemui Bapak, dia datang kerumahku untuk mengakui bahwa dirinyalah yang telah melakukan semua ini.     Selang seminggu setelah Bang Hendri menemui Bapak, akhirnya kami menikah di usia kehamilanku yang sudah 3 bulan. Hatiku masih tak tenang. Merasa belum percaya bahwa ini terjadi padaku. ***     Aku, yang seharusnya kini tengah merayakan kelulusanku. Aku yang kini harusnya tengah bersiap untuk mengabdikan diri di pesantrenku. Aku yang seharusnya sedang merasakan betapa indahnya masa muda bersama teman-temanku. Dan aku, yang ternyata kini harus menanggung semua perbuatanku. Yang akan menjadi calon ibu bagi anakku, juga suamiku. ya, suami yang menikahiku atas dasar kehamilanku.     Sungguh, cerita ini menjadi pelajaran bagi hidupku kedepan. Bahwa tak seharusnya manusia tergiur oleh keindahan dan kenikmatan duniawi karena semua yang ada di dunia ini hanyalah sementara.  Semua tindakan dan keputusan yang akan diambil haruslah di pikirkan dengan hati yang jernih, bukan dengan ego, bahkan hawa nafsu.     Sekali lagi, inilah aku, Erawati. Wanita yang harus menanggung kekecewaan dan penyesalan atas kesalahan diriku sendiri, di usiaku yang masih dini, 17 tahunku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD