Theo setiap hari akan selalu mengajak Adhiti berkomunikasi. Berharap putri kesayangannya itu membalasnya. Kadang Theo menggenggam tangan kiri Adhiti. Dia ingin sekali Adhiti membalas genggaman tangannya. "Nak, sudah hampir dua bulan. Daddy merindukan suaramu. Daddy buntu, Adhiti. Daddy mohon berjuanglah sayang. Abangmu juga merindukanmu. Shania sahabatmu selalu menemanimu. Bahkan Ivan juga sabar menantimu. Apakah kamu membenci daddy, Adhiti?" Bisik Theo. Hatinya sudah tidak tahan melihat keadaan putrinya yang sama sekali tidak ada kemajuan apapun. "Daddy berharap kamu akan berkunjung ke dalam mimpiku. Bahkan kamu tidak melakukannya. Apakah kamu juga akan meninggalkan daddy. Orang orang mengatakan karena alat ini kamu bisa bertahan. Banyak yang meminta untuk melepaskannya. Mereka meminta

