Satu minggu sudah berlalu. Tapi Adhiti masih belum sadar dari tidurnya. Shania selalu menemani Adhiti di rumah sakit setiap hari. Theo dan Revano pun juga melakukan hal yang sama. Ivan, sahabat Adhiti dan Shania juga tidak absen mengunjungi Adhiti. Dia akan membawakan makanan untuk Shania dan keluarga Adhiti. Shania seperti biasa. Dia selalu menangis setiap dia menyuap makanan. Bahkan tidak sekali dua kali, makanan itu keluar dari mulutnya karena sesegukan. "Lu makan yang benar, Shan." Ivan menepuk pelan punggung Shania. "Gua ingat adhiti. Biasanya setiap siang kita akan makan bersama." Shania menghapus pipinya. Ivan kembali ke tempat duduknya. Menatap nanar ke arah Shania. "Hufftt..." Ivan menghela nafas. "Gua hanya pergi sekolah empat tahun lebih. Yang gua dengar penderitaan dari

