Kampus Baru

1018 Words
'Kenapa jadi bahas pantas dan tidak pantas? Kenapa dia tiba tiba berubah jadi merendah seperti itu ?' Batin Tiara "Ayo cepetan, aku tunggu di depan kita harus segera keluar acara sudah mau di mulai." Ujar Ryan Lelaki itu membalikkan tubuhnya kemudian pergi meninggalkan Tiara. Tanpa di sadari ternyata senyum tersungging di bibir tipis Ryan. Sedangkan Tiara memasang wajah kesal dan berjalan sambil menghentak hentakkan kaki menyusul Ryan, seperti seorang anak kecil yang sedang mengambek kepada ayahnya karena tidak di belikan permen. Ryan dan Tiara berjalan bersamaan menuju ruangan yang akan menjadi saksi kisah mereka berdua, dimana mereka akan menyematkan cincin ke jari satu sama lain. Semua mata memandang dengan berbinar dan perasaan yang bahagia melihat kedatangan mereka berdua. Sedangkan raut wajah yang diperhatikan sama sama datar tanpa ekspresi. Acara demi acara telah di mulai dan saatnya mereka memasangkan cincin ke jari manis pasangannya. Karena acara hanya di hadiri oleh beberapa kerabat terdekat, jadi mereka memutuskan untuk mengadakannya di rumah saja pada malam hari agar suasana terasa lebih khidmat. Acara itu hanya di hadiri oleh orang tua Ryan, orang tua Tiara dan beberapa kerabat mereka yang di Surabaya. Tiara terlihat sangat cantik dan anggun hingga membuat semua orang terpana. Tetapi sang pemilik wajah yang di perhatikan semua orang itu hatinya sedang hancur dan berusaha menutupinya. Acara telah selesai, tamu mulai pulang ke rumahnya masing masing. Tak lupa Tiara pun menyalami mereka satu per satu dengan menampilkan senyum terpaksanya. Setelah semua pergi meninggalkanya seorang diri dan ruangan terasa sepi, Tiara duduk di kursi memandangi jarinya yang sudah tersemat sebuah cincin yang berarti juga akan merubah statusnya sebentar lagi. "Tiara ... kenapa sial sekali nasibmu." Dia terus merutuki nasibnya, dia menangis sesenggukan seorang diri. Ingin sekali rasanya mengadu pada seseorang yang dapat membantunya keluar dari masalah ini, tapi kenyataanya tak ada satupun yang bisa mengerti dan memahami bagaimana kacau dan hancurnya perasaannya saat ini. Meskipun dia sudah memutuskan untuk menerima tapi tetap saja hati dirasa perih karena semua ini jauh dari ekspektasinya pergi ke kota ini. "Gagal sudah rencana yang sudah aku susun untuk masa depan." Sesalnya Tiara bangkit dan berjalan menuju kamarnya, dia masuk ke dalam kamar mandi kemudian menyalakan shower, duduk di bawah shower dengan lutut dilipat berada di depan d**a memeluk kedua kaki dan menundukkan kepala. "Ya Tuhan .... kenapa kau memberikanku takdir seperti ini ?" Tiara menangis menumpahkan semua rasa kesalnya dengan apa yang telah terjadi. Setelah perasaannya sedikit lebih baik, dia segera menyelesaikan ritual mandinya kemudian merebahkan diri di atas ranjangnya. Dia berusaha memejamkan matanya tapi sulit sekali. Dia memandang ke ranjang di sebelahnya yang saat ini masih kosong, hanya dia seorang diri. "Sebentar lagi akan ada lelaki di ranjang yang sama denganku yang akan selalu menemani tidurku." Gumam Tiara tersenyum kecut Tubuh dirasa sangat lelah tanpa di sadari akhirnya Tiara memejamkan matanya juga dan mulai tertidur. Dia berharap dia akan mendapatkan teman teman yang baik seperti di tempat lamanya, ya paling tidak itu yang di harapkanya sekarang. *** Sedangkan di kamar lain ada seorang lelaki yang sama gelisahnya seperti Tiara. Dia menyesali perbuatan bodohnya karena menerima perjodohan ini. Dia hanya merasa gengsi karena ada wanita yang menolaknya, tanpa berfikir panjang dia langsung menerimanya dan tak di sangka akan seperti ini. Sekarang seluruh keluarga dan kerabat sudah tau bahwa dirinya sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah. Dia melepaskan cincin dan berniat ingin membuangnya, tapi dia urungkan saat tiba tiba bayangan wajah papa dan mamanya yang tersenyum bahagia ketika melihat pertunangan ini melintas di pikirannya. "f**k ... kenapa aku harus bikin keputusan sebodoh ini !" Umpatnya memaki dirinya sendiri "Gimana kalau teman teman yang lain tau, bisa habis di bully aku. Seorang Ryan yang terkenal banyak di puja wanita tapi anti terhadap wanita dan ternyata tiba tiba menikah secepat ini, apa kata mereka nanti?" "Bodoh.... bodoh.... bodoh" Ryan menyesali keputusanya dan terus memukuli kepalanya sendiri karena tidak berpikir dulu saat membuat keputusan itu. Karena merasa lelah, kini dia berbaring di atas ranjangnya dan memejamkan matanya. Matahari telah bersinar terang, semua berkumpul di meja makan untuk sarapan sebelum mereka sibuk dengan urusan mereka masing masing. Tiara duduk di sebelah ibunya dengan wajah lesu dan mata sedikit sembab karena menangis semalam, tapi dia menutupi semua itu dengan sedikit memoleskan make up tipis di wajahnya. Anton tersenyum menatap Ryan dan Tiara secara bergantian. "Tiara, nanti kamu pergi sama om ya.. om akan mengantar kalian ke kampus baru kalian." Ujar Anton Tiara hanya menganggukkan kepala "terimakasih om." Semua melanjutkan makan dengan nikmat tanpa ada perbincangan dan suara suara tercipta di atas meja. Ryan terdiam karena terus memikirkan nasibnya, lalu dia melirik Tiara dan berfikir akan berbicara lagi tentang hal ini dengan dirinya. Setelah selesai sarapan, Tiara dan Ryan berpamitan kepada para orang tua, setelah itu mereka memasuki mobil mercedes benz c class milik Anton dan meninggalkan rumah menuju kampus. "Tiara, kalau nanti Ryan berbuat yang aneh aneh terhadapmu, bilang saja sama om ya.." ujar anton Tiara hanya tersenyum kaku menanggapi ucapan Anton. Padahal dia ingin sekali mengadu bahwa Ryan sangat mengganggu dirinya. Hanya saja dia tidak ingin di katakan seperti anak kecil yang sedikit sedikit mengadu. Dua puluh menit lamanya akhirnya mereka sampai di Universitas Guna Dharma, Universitas terbaik di kota ini. Tiara dan Ryan keluar dari dalam mobil kemudian melangkah ke dalam untuk mengikuti ospek. Banyak tatapan yang mengarah kepada mereka, membuat Tiara menunduk karena merasa canggung dan malu. Dirinya tidak terbiasa menjadi pusat perhatian banyak orang, berbeda dengan Ryaan yang terkesan biasa saja karena dirinya sudah terbiasa mendapat perhatian dari para wanita di sekolah ketika masih SMA. "Tiara, nanti om akan bilang kepada rektor kampus untuk memasukkan kalian ke dalam satu kelas yang sama, biar kalian bisa terus sama sama dan bisa saling mengawasi satu sama lain." Ujar Anton "Baik om." Jawab Tiara pasrah "Apa apaan ini pa ? Kenapa harus satu kelas ?" Protes Ryan Anton hanya diam tidak menanggapi ucapan Ryan kemudian dia bergegas pergi meninggalkan mereka. Tiara berjalan masuk menuju tempat ospek mereka, tapi karena tidak fokus dia hampir saja menabrak seorang lelaki. Tiara terkejut menatap lelaki itu, tapi lelaki itu justru tersenyum dan matanya berbinar menatap Tiara. 'Cantik sekali ... ' batin lelaki itu
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD