Charlotte tersenyum lebar penuh kemenangan. Suara dering ponselnya telah memenangkan negosiasinya dengan tuan muda calon pewaris tahta Kingston tersebut. Namun demi menjaga imagenya, Charlotte sengaja mengulur sedikit waktu. Ia akan membiarkan Kean terus menghubunginya. Lalu ketika masalah mulai datang kelak, maka ia memiliki alibi kuat untuk menimpakan semua kesalahan pada sang sahabat. Sungguh sahabat seperti Charlotte harus selalu di waspadai. Panggilan kedua berkahir dan masuk ke panggilan ketiga. Di ujung dering terakhir, Charlotte baru mengangkatnya. Dengan nada di buat serak-serak laknat, Charlotte berpura-pura seperti orang yang tidur nyenyaknya terganggu. "Hallo.. ini siapa?" percayalah, Charlotte bahkan ingin terbahak-bahak mendengar suara serak manjanya sendiri. Asam lambungn

