Bab 11

1734 Words
"Aku ingin menikah dad, mom." Sebuah kalimat pernyataan yang cukup mencengangkan. Seisi ruang makan langsung menghentikan aktivitas mereka lalu saling melempar tatapan yang entah. Luois meraih gelasnya kemudian meneguk perlahan. Di tenggorokannya seperti ada batu kali yang mengganjal. "Apa menggantikan peran ayah untuk memimpin rumah sakit membuatmu tertekan son? maaf jika daddy terlalu menuntutmu untuk banyak hal yang harus kau penuhi. Daddy akan..." "No! i'am good, dad. Really." Jawab Carter memotong cepat kalimat sang ayah. "Aku hanya ingin menikah, aku harap itu bukan sebuah masalah besar. So? bisakah daddy dan mommy melamarkan putri sulung keluarga Connor untuk menjadi istriku?" lagi, Claudia beserta penghuni rumah tersebut di buat kehilangan kata-kata. Wanita itu tampak tersenyum simpul namun terlihat masam. "Sepertinya beban tanggung jawab rumah sakit terlalu berat untukmu nak. Adikmu bisa membantu, bukan begitu Charles?" tatapan penuh intimidasi sang ibu membuat Charles terpaksa mengangguk patuh. "Benar kak, kau tenang saja. Kakak akan ku bantu di rumah sakit dalam menangani beberapa hal. Termasuk manajemen data keuangan juga laporan lainnya." Ujar anak tengah pasangan Luois dan Claudia tersebut mantap. Mengingat jika Carter tak menyukai dunia perkantoran, itu kenapa Carter lebih memilih sebagai seorang dokter sesuai impiannya sejak kecil. Berbeda dengan Charles, sejak usia remaja pria itu sudah bergelut dengan circle para pengusaha. Itu karena Luois ingin Charles belajar mengampu perusahaan medis milik keluarga mereka ketika sang anak dewasa. Carter menatap anggota keluarganya satu persatu. Tatapan tanpa ekspresi yang terlihat menggambarkan kedongkolan hati. "Aku waras jika itu yang kalian pikirkan saat ini," sarkas Carter yang mulai tersinggung oleh reaksi keluarganya. "Lagi pula kakak bersikap seperti orang yang sedang putus asa. Tentu saja semua orang akan khawatir," gerutu Charlotte kembali melanjutkan makannya. "Enak saja! apa salahnya kalau aku ingin menikah? bukankah selama ini mom selalu berusaha menjodohkanku dengan banyak wanita? seharusnya mom senang ketika mendengar aku akan menikah, kenapa malah memberikan tatapan aneh penuh belas kasihan seperti ini." Kesal Carter meletakkan sendok sedikit kasar. Claudia lekas meraih tangan sang suami kala melihat pria itu mukai bereaksi terhadap sikap sang anak. Claudia tak ingin terjadi pertengkaran antara anak juga suaminya. "Baiklah. Maafkan mom sayang. Sekarang katakan, apa kau sedang menjalin hubungan asmara dengan putri sulung tuan Drex Connor? sudah berapa lama? kenapa baru mengatakannya sekarang?" cecar Claudia yang mulai terlihat antusias. Siapa yang tak ingin memiliki menantu seperti Mentari Connor. Wanita muda yang cantik, cerdas dan tentunya berasal dari keluarga baik-baik. Serta memenuhi syarat dalam faktor lain yang cukup mendukung. Carter terlihat berpikir sejenak sebelum menjawab serentetan pertanyaan sang ibu. "Apa menjalin hubungan itu perlu? kenapa tidak langsung menikah saja jika sudah tumbuh rasa suka dan cinta di hati? bukankah itu sama saja mempersulit diri sendiri, dan memberikan peluang bagi pria lain untuk berkompetisi memperebutkan wanita yang kita cintai?" blam. Seperti kehabisan daya, seluruh anggota keluarga Aragones tampak menampilkan berbagai ekspresi tak menentu. Bagaimana bisa seorang Carter yang cerdas, arogan kini tiba-tiba menjadi bodoh hanya karena sebuah rasa yang bernama cinta. "Konsep menikah harus di dasari oleh dua hati yang saling mencintai, nak. Tidak serta merta langsung terjadi begitu saja hanya lantaran salah satunya jatuh cinta. Bukan seperti itu sepanjang yang mommy ketahui," ungkap Claudia lembut. Tak lupa senyum hangat di bibirnya agar sang anak tak merasa terpojokkan oleh situasi. Carter tampak mencerna kalimat yang sang ibu sampaikan, hingga akhirnya pria itu mengangguk paham. Senyum lega terbit di bibir seluruh keluarga. Namun, " aku mengerti. Aku akan langsung mendatangi kediaman keluarga Connor dan meminta pada Mentari agar menjalin hubungan denganku. Lalu setelah itu kami akan menikah, dan menciptakan bulan kecil yang bersinar terang sepanjang malam." Kletak. Rahang Luois nyaris terjun bebas menyapu meja makan. Hingga akhirnya pria paruh baya itu mengakhiri makan malamnya, yang sudah terasa tawar untuk dicerna oleh indera perasanya. "Astaga! kakak benar-benar pandai merusak suasana." Omel si bungsu geram. Gadis itu menghempas sendoknya hingga menimbulkan bunyi berisik yang cukup mengejutkan. "Charlotte..!" tegur sang ayah dengan nada rendah yang ditekan. "Kakak menyebalkan dad," bela Charlotte kesal. Gadis itu melirik sinis ke arah sang kakak yang tak terlihat berbuat kesalahan sama sekali. Ia masih melanjutkan makan malamnya dengan penuh penghayatan, setelah membuat keluarganya kehilangan selera makan. "Kakak harusnya masuk jurusan psikologi ketimbang menjadi seorang dokter bedah." Sambung Charles menimpali. Pria itu pun memilih untuk tak melanjutkan makan malamnya seperti yang lain. "Nak..kita akan membahas soal pernikahan setelah kau benar-benar yakin dengan keputusan juga pilihanmu. Kadang rasa suka tak selalu melulu soal cinta. Mungkin lebih Kepada rasa kagum. Bisa jadi seperti itu," nasihat Claudia bijak. Sebagai seorang ibu, Claudia tak ingin salah satu anaknya merasa tak di hargai perasaan juga keputusannya. Apalagi sebagai anak sulung, Carter telah melakukan banyak hal untuk membuat keluarga Aragones bangga padanya. Meski menjadi seorang dokter merupakan keputusan sepihak, karena sang ayah ingin Carter lah yang memimpin perusahaan mereka. "Terserah, aku akan tetap pada keputusanku. Akan aku lamar wanita pujaanku seorang diri jika keluarga ini tak mendukungku." Tandas Carter yang kini kembali ke mode kulkas produksi. Inilah yang dikhawatirkan oleh Claudia. Sifat dingin putranya bisa sangat awet jika hatinya merasa kesal. "Maaf nak, mom tentu saja mendukungmu. Hanya saja, mom ingin memastikan calon menantu pilihan putra kesayangan mommy adalah wanita terbaik. Mom hanya ingin melihat anak-anak mommy bahagia dengan kehidupan pernikahan yang kelak akan kalian jalani." Sambung Claudia berusaha memberikan pengertian kepada putra sulungnya itu. "Aku akan buktikan jika Mentariku adalah wanita terhebat sepanjang masa. Dan aku akan bahagia bila hidup bersamanya. Kami akan memiliki anak-anak yang sama hebatnya seperti ibu mereka. Aku jamin kalian tak akan pernah kecewa." Pungkas Carter menutup obrolan hangat yang mulai terasa memanas malam ini. Pria itu meninggalkan meja makan tanpa sepatah kata. Berjalan menuju lantai atas kamarnya, lalu tak lama turun kembali dengan jaket kulit juga kunci mobil. Bisa di pastikan, Carter akan menenangkan pikirannya di luar rumah seperti biasanya. "Bagaimana mau menjadi kepala keluarga jika masih menyelesaikan masalah di luar rumah." Celetuk Charlotte bergumam kecil. "Kakakmu hanya butuh waktu untuk menenangkan hatinya. Ini pertama kalinya sepanjang 29 tahun kakakmu berbicara soal perasaannya. Pasti sulit bagi seorang yang begitu antipati terhadap wanita, namun justru jatuh cinta pada kekasih orang lain. Mom berharap putri keluarga Connor itu benar-benar seorang wanita singel." Ujar Claudia penuh harap. Ia tau jika anak dari Drex Connor itu telah memiliki seorang kekasih, yang merupakan anak dari rekan bisnis keluarga itu. Namun bagaimanapun ia seorang ibu. Melihat putranya yang dingin tak tersentuh, menjadi labil hanya perkara cinta. Naluri keibuannya terenyuh dalam. Charlotte terdiam. Gadis itu memiringkan bibirnya tampak berpikir. "Aku akan mencari tau tentang nona muda keluarga Connor. Mom tenang saja," tukas Charlotte tiba-tiba. Semua mata tertuju padanya, Charlotte tersenyum misterius yang sangat mencurigakan. Keesokkan paginya, Charlotte terlihat berjalan terburu-buru menuju ke sebuah kelas. "Kean ada?" tanya gadis itu pada seorang pemuda yang tengah mengobrol dengan dua orang teman di dalam kelas tersebut. "Ke kantin sama para itik kampus. Kenapa? kau ingin menjadi bebeknya si Kean juga?" tanya si pria kemudian terpingkal. Tuk. Si pria meringis ngilu saat merasakan tulang keringnya baru saja di sun manja oleh high heels milik Charlotte. "Jaga mulutmu kadal ekor cicak!" seru Charlotte emosi. Gadis itu bergegas meninggalkan kelas Kean menuju kantin, di mana sang Playboy cap minyak tawon Tengah menebar aroma baby-baby manja penuh rayuan pada para wanita. "Keong!" seru Charlotte dari kejauhan. Gadis itu melambaikan tangannya ke atas untuk mengalihkan atensi Kean dari para gadis di sisi kiri kanannya. "Ck, atlit tinju itu kenapa juga mencariku disaat yang tidak tepat seperti ini sih." Sungut Kean bergumam kecil. "Kalian semua, get out here!" ujar Charlotte yang baru saja tiba di depan meja Kean. Membuat para gadis menggerutu kesal bukan main. "Jangan menggerutu padaku nona-nona, aku bisa saja mematahkan tulang kaki kalian secara bersamaan." Ucap Charlotte penuh nada ancaman yang mengintimidasi. Sontak para gadis tersebut langsung kocar kacir meninggalkan meja Kean. "Ck! kenapa kau suka sekali membuat para wanitaku ketakutan." Tegur Kean jengah. Namun pria itu pun tak bisa begitu saja marah terhadap sahabatnya itu. "Wanita seperti mereka bisa dengan mudah kau pungut dipinggir jalan. Jangan hiraukan mereka, aku ada hal yang jauh lebih penting daripada itik peliharaanmu itu." Tandas Charlotte mengibaskan tangannya agar fokus Kean tertuju hanya padanya. "Awas saja kau hanya ingin menjadikanku kekasih semalammu lagi? hayo ngaku saja, aku sudah tau bagaimana menyedihkannya kisah cintamu itu Charcoal." Tebak Kean sok tau. Pria itu tersenyum jumawa karena merasa tebakannya pasti benar. Charlotte sering kali menjadikannya kekasih pura-pura untuk menutupi kejombloan hakiki gadis tersebut. Charlotte mendelik galak. "Enak saja!" seru Charlotte jengkel. "Dengarkan aku baik-baik. Bukankah kau masih penasaran karena terus di tolak oleh nona muda keluarga Connor itu, bukan? aku akan mendekatkanmu dengan Venus asal kau menuruti permintaanku. Bagaimana?" tukas Charlotte mulai bernegosiasi. Gadis itu sedang memulai strategi marketingnya untuk sebuah tujuan tertentu. "Apa ini semacam simbiosis mutualisme?" Charlotte mengangguk mantap sambil mengangkat kedua jempolnya tersenyum lebar. "Bolehkah aku menaruh kecurigaan terhadap rencana gilamu ini, Charcoal? kenapa kau berubah pikiran, bukankah kau bilang Venus tak cocok denganku? nona sempurna, galak dan suka adu otot itu terlalu wow untuk diriku yang hanya buaya buntung ini." Kean memicing penuh kecurigaan. Karena Charlotte tak pernah ingin membantunya untuk mendekati nona muda pemilik kampus tersebut. Charlotte rupanya juga bersahabat dengan Venus, itu kenapa keduanya memiliki watak yang nyaris sama. Sama-sama suka bermain otot daripada bersikap lembut layaknya gadis pada umumnya. "Ck! jangan menatapku seperti itu. Aku hanya sedikit iba padamu, itu saja. Venus adalah gadis yang kau incar di kampus ini, yang berani menolak pesona sahabat tampan nan rupawanku ini. Jadi, aku berinisiatif untuk menawarkan jasa untuk membantumu mengenal planet cantik itu lebih dekat. Kau jadi tak perlu susah-susah ke perpustakaan atau searching di google untuk belajar tentang tata Surya Kita." Terang Charlotte panjang lebar. Kean mencebik, ia semakin yakin ada rencana terselubung di balik niat baik dalam tanda kutip sang sahabat. Kean menjadi waspada, sebelum menuai masalah karena mengusik nona muda keluarga Connor tersebut. Meski sang kakek pun memiliki nama yang cukup besar dan di segani. Tetap saja Kean tau diri. Ia bukanlah cucu kandung Richard Kingston. "Aku akan pikirkan dahulu. Aku tak siap dengan konsekuensi dari rencanamu ini Charcoal. Terlalu berbahaya dan mencurigakan. Aku tak mau dijadikan bahan uji coba olehmu juga sahabat jutekmu itu." Putus Kean setelah berpikir sejenak. Charlotte mengangguk paham. Kean memang patut mencurigainya, terutama memang ia berencana mengorbankan sang sahabat ke dalam kandang singa. To be continue Semoga ada cintanya makin ke sini ya gaess. Terimakasih bagi yang sudah berkenan mampir. Semoga menikmati alur ceritanya meski tak sesempurna milik tetangga heheee. Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose _Ana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD