Tama tampak gelisah, pria itu tak tau apa kesalahannya sampai harus nongkrong resah di dalam ruangan sang direktur. Parahnya lagi, direktur tersebut sama sekali tak menghiraukan kehadirannya, padahal dialah yang membuat Tama berada di sana dalam kegundahan.
"Khemmm..." Tama berdehem guna mengusir kecanggungan diri. "Maaf pak direktur, jika boleh saya bertanya. Keberadaan saya di sini atas panggilan anda atau murni keisengan sekretaris anda? maaf sebelumnya, tapi saya hanya perlu mengetahui tujuan saya di panggil ke ruangan anda. Itu saja." Akhirnya setelah hampir setengah jam lamanya berada dalam situasi penuh ketegangan, Tama pun membuka suara.
Carter meletakkan balpoin yang ia gunakan untuk menulis sesuatu di sebuah kertas HVS. Pria itu menatap lurus pada lawan bicaranya yang sengaja ia diamkan sejak tadi. Sejak tadi Carter rupanya sibuk membuat sketsa wajah Mentari yang tengah tersenyum manis pada seorang pasien di taman rumah sakit.
"Oh, maafkan aku dokter Tama. Akibat rasa sakit di pelipisku membuatku sedikit kurang fokus hari ini." Ujar Carter tersenyum sepolos balita namun penuh makna tersembunyi.
Kedua netra Tama menyipit, beberapa detik kemudian pria itu melebarkan kelopak matanya dengan perasaan campur aduk. Di tatapnya buku jarinya yang masih memar akibat menjotos tulang kering seseorang semalam.
"Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa sekebetulan ini?" monolog Tama dengan hati ketar ketir. Pria itu terlihat meneguk ludah kasar berkali-kali, percayalah Carter sangat ingin terpingkal saat ini. Mentertawakan pria yang begitu percaya diri membuat kenang-kenangan di wajah paripurna miliknya.
Namun pria itu berusaha bersikap cool di hadapan Tama.
"Kau terlihat gelisah, dokter Tama? apa kau sedang tak enak badan?" tanya Carter memancing reaksi Tama yang mulai tampak gelisah di depannya.
"Tidak pak direktur. Aku hanya sedang teringat tentang seorang pasien saja, bukan hal pribadi." Sahut Tama dengan degup jantung semakin bertalu-talu.
Carter menyeringai samar.
"Anda dokter dengan loyalitas yang cukup tinggi dokter Tama. Pasien-pasien anda pasti betah menjadi seorang pesakitan bila memiliki dokter rujukan seperti anda." Timpal Carter menyanjung untuk menghempas.
Tama tersenyum masam, ekspresi wajah yang serba salah menghadapi sikap sang direktur yang sedikit labil.
"Saya hanya berusaha menjadi dokter yang profesional dan kompeten yang bisa membantu semua pasien tanpa terkecuali." Balas Tama berusaha merendah untuk meroket.
Dalam hati Carter berdecih jijik.
"Harus seperti itu. Seorang dokter harus bisa bersikap profesional terutama di tempat kerja. Bukan begitu, dokter Tama?" skak.
Tama bagai menelan kail yang ia lemparkan sendiri. Tenggorokannya mendadak kering mendengar kalimat penuh nada sindiran dari direktur tersebut.
"Apa pak direktur sudah mengetahui mengenai berita perselingkuhanku dengan Caroline? ya Tuhan! belum cukupkah ujianmu yang sekarang, jangan tambah lagi dengan membuat pekerjaanku di pertaruhkan." DoaTama kian gelisah. Pria itu menyeka keringat dingin yang mulai terasa membasahi keningnya.
"Jika kau sedang sakit, kita tunda saja pembahasan yang ingin aku bahas denganmu. Aku akan meminta Kristin untuk menghubungi dokter Caroline untuk menjemputmu kemari. Bagaimana?" deg.
fix! Jelas sudah jika sang direktur telah mengetahui perihal hubungannya dengan dokter Caroline. Tama kian gusar.
"Mungkin maksud anda dokter Mentari, kekasih saya pak direktur." Ralat Tama berusaha meluruskan praduga sang direktur.
Dengan ekspresi yang sedikit dibuat terkejut, Carter menatap Tama dengan tatapan tak terbaca.
"Ku pikir kalian sudah berpisah? mengingat kau sedang menjalin hubungan dengan dokter Caroline, dan belakangan ini santer terdengar berita tentang hubungan kalian melebihi ketenaranku sebagai seorang direktur muda, tampan, kaya raya dan tentunya berprestasi dalam banyak hal." Sungguh kalimat pujian yang mencengangkan dan penuh percaya diri yang tinggi.
Tama berusaha meredam gejolak emosi yang mulai terpancing. Ia sadar jika sang direktur mencoba menggiringnya pada fakta perselingkuhannya, juga kejadian semalam.
Cara yang cukup jitu hingga ia pun terseret masuk tanpa paksaan. Tama tak mengetahui, jika direktur tersebut selalu mampu membuat lawannya kalah telak di tengah perjuangan. Namun sayang, masih belum mumpuni dalam mengahadapi seorang Mentari Connor.
"Maaf pak direktur, masalah pribadi saya bukan konsumsi publik. Dan lagi hubunganku dengan dokter Caroline hanya sebatas rekan sejawat dengan hubungan kerja yang profesional. Tidak ada apapun yang terjadi di antara kami. Berita yang beredar hanya selentingan kabar dari orang iseng dan iri melihat kebersamaanku dengan kekasihku, dokter Mentari." Tegas Tama dengan nada sedikit bergemuruh.
Pria itu berusaha menekan intonasi suaranya agar tetap bersikap sopan terhadap sang atasan. Ia merasa Carter sengaja ingin memancing amarahnya untuk membalas apa yang ia lakukan semalam.
Carter terlihat manggut-manggut pelan. Lalu menarik laci dan mengeluarkan beberapa lembar foto yang entah dari mana ia dapatkan.
Carter meletakkan lembaran foto tersebut di atas meja tepat di hadapan Tama.
"Bagaimana dengan ini? apa kau punya opini juga alibi cukup kuat untuk sebuah pembelaan diri? silahkan di lihat-lihat dulu, siapa tau kau ingin menyimpan beberapa sebagai kenang-kenangan. Aku sama sekali tak keberatan, kebetulan aku mencetaknya sendiri jadi aku tak butuh ganti rugi. Semua bahan yang aku pakai berasal dari gudang inventory rumah sakit." Ungkap Carter tanpa ditutup-tutupi. Kejujuran yang sangat menggelitik hati, karena seorang direktur sama sekali tak mau rugi.
Sungguh kalimat paling nyelekit yang bagai sebuah tamparan di wajah Tama. Apalagi kala melihat lembaran foto pertama yang menampakkan wajahnya juga Caroline di dalam sana. Keduanya berpose dengan begitu mesra dengan adegan seperti orang hendak berciuman.
Tak lupa dokter Caroline hanya menutupi tubuhnya menggunakan selimut, sedangkan tubuh Tama setengah naked. Pria itu memamerkan separuh tubuhnya, dan separuh lagi tertutup selimut dari bagian pinggang hingga kaki.
Tubuh Tama hampir limbung. Pria itu meremat lembar demi lembar foto yang terpampang di atas meja tersebut, dengan perasaan berkecamuk dan marah.
"Anda sungguh lancang tuan Carter!" desis Tama menekan amarah yang mulai tersulut. Tak ada lagi rasa hormat yang tadi berusaha ia jaga sedemikian rupa.
"Maaf? aku lancang? kau salah. Kaulah yang lancang dokter Tama. Berani-beraninya kau menonjok direkturmu sendiri hanya perkara mobil butut jelekmu itu. Jadi, siapa di antara kita yang lancang? aku hanya memberikan sedikit hadiah atas perlakuan kurang ajarmu padaku. Lihat reaksimu? kau memang pantas di sebut sebagai seorang ba ji ngan sejati." Pungkas Carter membeberkan fakta yang sejak tadi ia tahan.
Akhirnya ia bisa meluapkan kekesalannya terhadap Tama yang ia pendam sejak semalam.
"Kau menabrak mobilku dengan sengaja, jelas kau salah!" Bela Tama tak mau kalah.
"Aku tidak salah secara akal. Mana ku tau kau parkir di belakang mobilku, memangnya kau pikir aku ini terlahir dengan mata cadangan di penggung, begitu?" balas Carter terlihat santai. Berbeda dengan Tama yang mulai sedikit kehilangan kontrol diri.
"Jelas kau melihat mobilku, apa gunanya mobil mahalmu di lengkapi dengan spion jika tidak kau gunakan sebagaimana mestinya!" seru Tama yang benar-benar lepas kendali.
Carter bersorak ria dalam hati. Rupanya semudah itu memancing ikan teri itu masuk ke dalam jaring permainannya.
"Baiklah..aku salah. Aku minta maaf. Sekarang keluarlah dari ruanganku, aku sedang sedikit sibuk merangkai masa depanku sebelum di rampok oleh pria pe cun dang." Lagi, Carter mengeluarkan kalimat sindiran telak yang langsung di cermati cepat oleh Tama.
"Kau?!" kata yang tertahan penuh makna tuduhan, namun tak mampu Tama buktikan. Kini ia sadar jika Carter hanya memancing reaksinya sejak tadi untuk membuatnya tampak menjadi pria bodoh.
"Ya, kau benar. Jadi jangan pernah berharap kau bisa meriah kembali hati wanitaku. Karena seujung kukunya pun, aku haramkan kau menyentuhnya. Mentari milikku, meski belum sekarang namun aku sedang berjuang. Jadi, jangan pernah menjadi batu kerikil dalam perjuanganku. Atau kau akan menyesal kemudian." Kecam Carter yang kini terlihat lebih gentelman di hadapan Tama.
Pria dengan jutaan pesona yang mampu menghipnotis setiap wanita, namun justru terjebak rasa pada seorang wanita datar seperti Mentari.
Tama terlihat mengetatkan rahangnya menahan amarah. Beraninya Carter menantangnya terang-terangan.
"Mentari masih kekasihku, camkan itu tuan muda Aragones." Desis Tama tegas penuh penekanan. Ia berusaha menjelaskan jika Mentari adalah miliknya.
Carter tersenyum miring tanpa rasa takut. Sudah saatnya ia buka-bukaan soal perasaannya, dan Tama adalah korban yang tepat untuk di jadikan saksi perjuangan cintanya.
"Tapi Mentari tak pernah benar-benar menginginkanmu sebagai kekasihnya. Kau saja yang tak tau diri," ejek Carter dengan ekspresi menjengkelkan.
"Kita lihat saja, siapa yang akan Mentari pilih." Tantang Tama penuh percaya diri. Pria itu kemudian memilih keluar dari ruangan sang direktur membawa setumpuk rasa kesal, marah dan entahlah. Semua bercampur menjadi satu kesatuan yang membuat kepala Tama berdenyut hebat.
Sedangkan Carter kembali melanjutkan lukisan yang nyaris seperti gambar anak TK. Namun dengan penuh semangat tinggi, Carter melanjutkan lukisan yang lebih mirip gambar abstrak daripada sebuah sketsa wajah seseorang.
"Kau semakin cantik Mentari pagi, siang juga soreku. Sayang sekali malam harus di sinari oleh bulan. Tapi kelak kita akan menciptakan bulan kecil kita yang lucu dan menggemaskan. Benihku adalah benih super, kau tak akan rugi menjadi ladangku untuk bercocok tanam."Ujar Carter bergumam menatap hasil coretannya penuh rasa bangga. Tak lupa senyum selebar lapangan bola tercetak jelas di kedua sudut bibirnya yang tertarik sempurna.
Diam-diam Kristin yang hendak masuk mengantarkan berkas laporan keuangan yang Carter minta, menatap iba pada sang direktur.
"Kasihan sekali pak direktur, ganteng-ganteng rupanya sedikit kurang waras." Gumam Kristin dengan nada sangat pelan.
To be continue
Semoga ada cintanya ya gaess.
Dua bab hari ini untuk kalian semua.
Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose _Ana.