Bab 9

1068 Words
Tuan Louis menatap putra sulungnya dengan tatapan tak terbaca. Pria itu hanya bisa menghela nafas panjang, melihat bagaimana pelipis sang anak terlihat lebam. Jelas itu bukanlah polesan make up melainkan hasil dari adu jotos. "Aku tak tau jika istriku telah melahirkan seorang atlit tinju. Bagaimana rasanya mendapatkan lebam sebesar itu son? apa kau merasa sudah menjadi seorang jagoan?" Carter duduk di seberang sang ayah dengan malas. "Seorang pria gila meninju pelipisku tanpa aba-aba. Apa dad pikir aku terlahir dengan mata batin yang dapat merasakan pergerakan makhluk astral di sekitarku? dasar dokter gila itu saja yang parkir tak tau tempat. Parkir di belakang kendaraan lain itu jelas menyalahi aturan, tukang parkir pun tau." Ungkap Carter membela diri. Luois hanya bisa menggeleng. Sikap sang anak kerap membuatnya pusing sendiri. "Jadi kau menabrak begitu saja mobil orang tersebut?" tanya Luois memastikan. Dengan ringan Carter mengangguk. "Jelas saja kau juga salah. Kenapa harus menabraknya kau kan bisa menegurnya terlebih dahulu, bukannya langsung main hakim sendiri." Nasihat sang ayah tak habis pikir. "Aku hanya menabraknya bukan main hakim dad!" seru Carter tak terima. "Dokter gila itu yang main tonjok tanpa sebab hanya karena mobil jeleknya kubuat penyok. Itu yang di sebut dengan main hakim sendiri, bukan aku. Aku bahkan tak membalasnya sama sekali," bela Carter kemudian menyeringai aneh. Louis menatap putranya dengan mata memicing tajam. Ia tau jika sudah memperlihatkan senyum devil seperti ini, Carter pasti sedang merencanakan hal tak baik pada orang tersebut. "Katakan dokter itu tak bekerja di rumah sakit kita?" tanya Luois memastikan. Ia paham betul tabiat buruk putranya itu. Carter lebih suka bermain licin untuk membalas perbuatan seseorang kepadanya dari pada adu fisik. "Entahlah, itu yang sedang aku cari tau. Sudah malam dad, kenapa daddy suka sekali bergadang..apa daddy tak tau jika kurang tidur bisa menyebabkan keriput di wajah daddy semakin banyak. Aku lelah, selamat malam dad. Segeralah tidur, atau mommy akan merasa bosan melihat sisi ranjangnya selalu kosong." Ujar Carter tanpa beban. Pria itu meninggalkan sang ayah yang hanya bisa menarik nafas dalam-dalam, agar tak mengalami serangan jantung kala berhadapan dengan putra sulungnya itu. "Dasar anak nakal... bisa-bisanya dia menasehati ayahnya sambil berlalu pergi begitu saja." Dumel Luois menatap kesal punggung Carter yang kini tengah menaiki tangga menuju kamarnya. Keesokkan harinya, Carter berjalan angkuh melewati koridor rumah sakit menuju ruangannya. Tak ada sapaan selamat pagi atau basa basi lainnya. Pria itu begitu fokus menatap ubin tanpa menoleh pada siapapun yang melintas di sampingnya. "Direktur Carter berbeda sekali dengan tuan Luois walaupun putranya. Dulu tuan Luois selalu menyapa siapa saja yang yang ia jumpai dengan senyum ramah." Celetuk seorang perawat yang kebetulan baru saja berpapasan dengan Carter. "Benar. Direktur sekarang sombongnya amit-amit. Nyesel aku sudah mengaguminya sejak pertama kali datang. Aku bahkan berdandan maksimal untuk memperlihatkan performa terbaikku." Timpal rekan sejawatnya yang juga tak kalah kesal dengan sikap angkuh Carter. "Sudahlah, setiap orang kan sikapnya memang beda-beda. Kembarpun belum tentu sama," nasihat salah satu perawat yang sejak tadi hanya menyimak obrolan kedua rekannya. Di dalam ruangannya, Carter segera meminta sang sekretaris untuk memberikan berkas tentang dokter yang semalam menonjok wajah tampannya. Sungguh Carter masih sangat mendendam. Sekali Kristin harus memendam rasa penasaran, akan maksud sang atasan yang selalu meminta berkas pribadi para dokter yang bekerja di rumah sakit tersebut. "Kau bisa keluar sekarang, Kristin. Aku sedang sibuk," usir Carter tanpa menoleh. Kristin melipat bibirnya kesal. Padahal hatinya sangat terusik untuk sedikit mengintip, apa yang akan sang bos gabut lakukan dengan berkas Tama. Hohooo.. rupanya dokter yang semalam menonjok wajah tampan Carter adalah Tama. Pengaruh alkohol memang sangat berbahaya. Sampai-sampai pria itu tak sadar telah memberikan cinderamata kepada atasannya sendiri. "Anda ingin saya pesankan makanan ringan pak direktur?" tanya Kristin berusaha mengulur waktu. Entah mengapa ia merasa jika direktur tersebut memiliki sedikit kelainan orientasi sek sual. Jika beberapa waktu lalu Carter meminta dokumen mengenai dokter Mentari, Kristin cukup maklum. Mungkin saja Carter tertarik pada wanita cantik itu. Namun sekarang? ia mulai mengkhawatirkan hal yang tidak-tidak. "Tidak. Aku sedang diet," jawaban singkat yang membuat jiwa kepo kristen meronta-ronta kesal. Akhirnya dengan terpaksa kristen keluar dari ruangan sang direktur dengan berbagai praduga. Di luar ruangannya, Kristin terlihat merenung. Gadis itu bertanya-tanya mengapa sang direktur selalu saja meminta berkas pribadi karyawannya. Entah untuk apa dan sayang ia tak dapat sekedar mengintipnya ke dalam sana. "Aishh! aku mikir apa sih! mana mungkin pak direktur belok, orang tampan bak dewa Yunani gitu kok." Monolog Kristin Berusaha menenangkan hatinya. "Sayang banget kalau belok, auto patah hati maak..." ujar gadis itu meratap. Sedangkan di dalam ruangannya, Carter menyeringai venom. Pria itu mengetuk-ngetuk permukaan meja sembari memikirkan sedikit hukuman untuk Tama, yang telah berani membuat kadar ketampanannya sedikit berkurang. "Rupanya ini pria yang telah membuat Mentari pagiku menangis Bombay di dalam gudang waktu itu. Ck! tampan juga tidak," oceh Carter menatap kesal pada selembar foto Tama yang tertempel di berkas tersebut. Carter kembali mengghosting akun i********: milik Tama, dan beberapa foto Mentari masih terupload di sana dengan berbagai caption cinta yang romantis. "Cih! sok romantis. dia pikir dirinya keren setelah meng_upload foto Mentariku dengan gambar hati dan kata-kata tak bermakna seperti ini." Oceh Carter yang mendadak panas melihat unggahan tersebut. Lalu atensi Carter teralihkan oleh salah satu postingan Tama, yang di belakangnya tampak gambar seorang wanita yang melirik sinis ke arah Mentari. "Bukankah ini dokter Caroline?" ia ingat dengan dokter tersebut karena pernah membantunya, menunjukkan arah ruangan dewan direksi ketika pertama kali ia tiba di rumah sakit tersebut. "Ya, tidak salah lagi. Tapi kenapa wanita itu menatap sinis pada Mentari? apa ini semacam hubungan cinta segitiga? ckckck! apa hebatnya pria itu sampai-sampai membuat kedua wanita ini mencintainya." Celoteh Carter tak ada hentinya. Pria itu kemudian mencari akun atas nama dokter Caroline. Setelah menemukannya ia mulai menjadi seorang pengghosting kurang kerjaan. Dan begitu banyak informasi yang ia dapatkan melalui unggahan dokter Caroline. "Wow! lihat tangan ini. Tangan yang sudah membuat pipiku berdenyut hingga pagi." Komentar Carter lagi. Terlihat unggahan Caroline yang memperlihatkan kedua tangan yang sedang ditautkan. Dan sebuah cincin yang ia ingat dengan jelas, di pakai oleh Tama semalam. Senyum devil terbit di bibir Carter. "Lanjutkan, aku tak keberatan memungut wanita yang kau sia-siakan dokter Tama." Gumam Carter kembali menyeringai. Entah apa yang pria itu rencanakan. Yang jelas tak akan baik bagi seorang Tama. To be continue Masih slow update Semoga tidak bosan menunggu ya gaess. Kira-kira apa yang akan Carter lakukan terhadap Tama ya gengs? dasar direktur kurang kerjaan. Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose _ana
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD