Bab 8

1310 Words
Drex masih membisu, menatap putri sulungnya dengan tatapan yang tak dapat dimengerti. Pria itu terlalu sungkan terhadap sang anak. Mentari terlahir sebagai cahaya dalam kehidupannya yang gelap dan suram. Itu kenapa ketika berhadapan dengan sang anak, Drex selalu merasa canggung. "Katakan saja yah, aku akan mendengarkan semua tanpa menyela." Akhirnya Mentari membuka suara terlebih dahulu. Karena jika menunggu sang ayah yang akan mengawali perbincangan di antara mereka, maka Mentari sama saja menanti hujan di musim kemarau. "Khemmm..." Drex berdehem. Tenggorokannya mendadak kering hanya mendengar suara sang anak. Suara yang bahkan selembut melodi lagu nan merdu namun mampu membuat kalbunya bergetar hebat. "Jadi, bagaimana hubunganmu dengan Tama sayang?" lega. Ekspresi wajah yang kini terlihat lega namun juga sedikit menegang, jelas terlihat oleh Mentari. Wanita itu tersenyum hangat, ia tau betapa sang ayah sangat menghargai kaum hawa di dalam keluarga mereka. "Sejauh ini tidak baik, tapi aku harap ke depannya akan kembali membaik walau dengan status yang berbeda. Sebagai rekan sejawat yang bekerja di tempat yang sama mungkin." Sahut Mentari tanpa drama terbata-bata. Jawaban lugas sang anak membuat kerongkongan Drex kian gersang. Di dunia ini, hal yang paling ia takuti untuk di hadapi selain ibu kandungnya, ibu mertua, sang istri tercinta lalu sang putri sulung. Sikap datar sang anak sungguh sulit ia tembus. Namun di balik itu, senyum hangat sang anak mampu menyejukkan hatinya. "Apa yang terjadi? maksud ayah.. pertengkaran seperti apa yang membuat hubungan kalian harus berujung perpisahan? maaf jika ayah terlalu banyak bertanya. Ayah hanya ingin yang terbaik untukmu sayang, jadi.. jangan di jadikan beban hati." Ucap Drex demikian lembut. Ia selalu ingat pelajaran hidup yang sering mendiang Oma Saudah sampaikan. Menghadapi kerasnya batu, tak baik jika langsung menempanya dengan sekuat tenaga. Karena hanya akan membuat energimu terbuang sia-sia. Begitu pula ketika menghadapi sikap dingin putrinya. Drex harus mengikuti alurnya, bulannya melawan arus hingga mereka menjadi dua sisi yang berlawanan arah. "Masalah klasik sebuah hubungan percintaan pada umumnya, bukan hal yang membuatku terpuruk dan meratapi nasib. Bukankah ayah selalu berkata, menjadi anak perempuan harus memiliki prinsip hidup yang kuat? aku sudah menerapkannya, Tama ku singkirkan saat pria itu sudah melampaui batas toleransi yang bisa ku berikan. Semudah itu, aku tak memiliki alasan lain. Bukankah pengkhianatan adalah penyakit hati yang kelak bisa saja terulang lagi? aku khawatir tak hanya akan menghempasnya dari kehidupanku, tapi mengirimnya langsung ke alam baka." Ungkap Mentari tanpa beban. Gluk! Drex menelan ludahnya yang terasa bagai kerikil tajam. Pria itu tak menyangka, kehidupan sang anak terbentuk sedemikian rupa, karena sejak remaja telah menjadi pengganti sang ibu untuk adik-adiknya selama Pelangi koma. Putrinya yang biasa berkata lembut pada keluarganya, kini tampak seperti Mentari dalam sosok lain yang begitu berbeda. Drex hampir tak mengenali putrinya itu. "Jadi? kalian benar-benar berpisah? maksud ayah..." "Benar. Aku tak berniat untuk kembali merajuk kasih, jika itu yang coba ayah harapkan." Lagi, kalimat sang anak bagai tembakan meriam air yang mengenai wajah Drex. "Ayah bisa menghubungi paman Agung, katakan saja jika hubunganku dan Tama tak bisa lagi di lanjutkan. Kami terlalu bertolak belakang untuk bisa di satukan dalam sebuah hubungan pernikahan. Aku ragu mampu melupakan luka yang Tama goreskan di hatiku begitu mudah. Aku tak ingin membuat kesehatan mentalku terganggu oleh pria yang tak bisa setia hanya pada satu wanita. Pria yang begitu mudah mengatakan jika seorang pria memiliki kebutuhan yang harus di penuhi. Apa menurut ayah aku harus memaklumi sebuah perselingkuhan dengan dalih rendahan seperti itu? hatiku tak seramah ibu, yang bisa dengan mudah memaafkan sebuah kesalahan." Tutur Mentari membuat Drex kehilangan kata-kata. Pelangi yang kebetulan melewati ruang kerja sang suami mengehentikan langkahnya. Ia tau jika sang anak tengah mengulik sedikit masa lalu ia dan suaminya. Sang ibu mertua menceritakan bagaimana awal hubungan mereka tercipta. Melalui sebuah kesalahpahaman panjang penuh penyesalan dan airmata. Itu kenapa Mentari begitu siaga menjaga kekokohan hatinya. "Maaf sayang. Ayah tak tau perihal pengkhianatan Tama. Tuan Agung hanya bercerita sepenggal kisah yang ia dapat dari putranya. Sekali lagi maafkan ayah. Ayah akan membicarakan hal ini pada kedua orang tua pria breng sek itu." Tandas Drex dengan nada penuh penyesalan. Ia tak menyangka Tama berani mengkhianati hati berlian keluarga Connor. "Terimakasih ayah, aku tau ayah tak akan memihak kepada orang yang salah." Ucap Mentari tersenyum senang. "Tentu saja sayang, kau adalah permata hati ayah. Siapapun yang melukaimu, sama saja menggoreskan pisau di jantung ayah. Jangan memikirkan obrolan ini lagi, anggap saja ayah tak pernah menanyakannya. Istirahatlah, kau pasti lelah menghadapi banyak operasi setiap hari." Ujar Drex melunak. Pria itu menyesal telah berpikiran buruk terhadap putri kandungnya sendiri. Nyaris saja ia mengulangi kesalahan masa lalu. Mentari pamit keluar dari ruangan sang ayah setelah memberikan kecupan selamat malam di kedua pipi ayahnya. "Tama sialan! berani sekali kau memfitnah putriku bermain belakang hanya demi menutupi kebusukanmu sendiri." Desis Drex mengepal tinjunya hingga membuat buku jarinya memutih. Di tempat lain, seorang pria terlihat merenung di meja panjang sebuah bar. Minuman yang sejak tadi ia pesan belum sama sekali ia teguk. Pria itu hanya memutar gelasnya seperti pria gabut yang banyak beban pikiran. "Sendirian? mau aku temani? aku free malam ini," sapa seorang gadis yang langsung menempati kursi kosong di samping pria itu. Lirikan tak bersahabat tampak terlontar dari kedua mata birunya yang indah dan mempesona. Daya tarik yang membuat kaum hawa bagai tersetrum saat bertatapan dengannya. "Hei, aku hanya menyapa. Kenapa tatapanmu seperti seorang gadis sedang mengalami periode dan tak suka di ganggu..." ujar wanita itu yang sedikit risih karena di tatap dengan begitu tajam. "Pergilah, aku tak ingin di ganggu." Ketus pria tersebut mengusir si wanita tanpa keramahan sama sekali. Terdengar suara decakan lidah kesal dari si wanita karena merasa terhina telah di usir begitu saja. Para pria tak pernah menolak pesonanya, namun pria sombong itu hanya dengan meliriknya saja langsung berani mengusirnya tanpa basa basi. "Cih! dasar sombong, kau belum tau siapa aku. Akan ku buat kau bertekuk lutut juga memujaku seperti pria lain yang selalu haus akan belaian." Gumam wanita tersebut menahan dongkol. Sejak setengah jam lamanya mengawasi si pria hingga mengumpulkan keberanian untuk menghampiri dan menyapanya. Namun malah berakhir di usir bagai pengemis. Sementara si pria mulai meneguk minumannya, kemudian memberikan beberapa lembar uang pecahan berwarna merah di bawah gelas yang sudah tandas tersebut. "Tips untukmu karena tak menuruti permintaan wanita gila itu." Ujar pria tersenyum misterius. Membuat bartender tersebut tercengang. Padahal pria itu berada di jarak yang cukup jauh darinya, saat si wanita membisikkan kalimat gaib tersebut. Si wanita memintanya untuk memasukkan serbuk obat pe rang sang ke dalam minuman si pria. Namun ia menolak dengan tegas karena tak ingin pekerjaannya terancam. "Sama-sama tuan. Aku hanya tak ingin terlibat masalah, terutama pekerjaanku merupakan sumber mata pencaharianku." Balas si bartender jujur. "Itu bagus. Menghindari masalah akan lebih baik dari pada membuat masalah lalu berlari meninggalkannya begitu saja bagai seorang p***n dang. Semoga malammu menyenangkan brother," tandas si pria asing tersenyum simpul lalu pamit pergi meninggalkan bar. Bartender tersebut memulai menghitung lembaran yang di tinggalkan untuknya. Dan betapa terkejutnya dia, kala selesai menghitung jumlah uang tersebut. Lima juta rupiah dan itu merupakan tips baginya? "Ck, pria itu rupanya bukan pria sembarangan. Semoga di tempat lain masih ada bartender selurus diriku, rejeki tak akan Kemana jika kita jujur." Doanya dalam hati. Sedangkan di parkiran, si pria asing tampak kesusahan untuk mengeluarkan mobilnya karena ada mobil lain yang tak tau aturan, tiba-tiba parkir menghalangi jalan keluar mobilnya. "Dasar orang kampung, parkir saja tidak becus!" gerutu si pria mulai kesal. Dengan emosi, pria itu memundurkan mobilnya hingga menubruk mobil itu hingga bergeser. Seringai serigala tampak di wajah tampannya. Ia melirik spion sisi kanannya, dan tampak jelas bagaimana mobil yang berada di belakangnya tak terlihat baik-baik saja. "Aku akan menyingkirkanmu seperti aku menyingkirkan mobil murahmu ini, dokter Tama." Ucapnya dengan nada bengis. Seperti ada sebuah ketidaksukaan terhadap sang pemilik mobil tersebut. To be continue thanks bagi yang sudah mampir dan terimakasih pula bagi yang selalu setia menanti. Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose _Ana
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD