Caroline tersentak kala pintu ruangannya terbuka tanpa aba-aba. Tampaklah Tama yang kini tengah berdiri dengan tatapan gusar ke arahnya.
Caroline segera beranjak dari balik kerja kerjanya. Wanita itu menghampiri Tama yang tak terlihat dalam kondisi baik-baik saja.
"Ada apa denganmu? duduklah, aku baru saja akan menghampirimu ke ruangan. Karena kau sudah di sini aku tak ingin basa basi lagi. Nikahi aku Tama, bayi ini akan terus bertumbuh dan aku butuh tanggung jawabmu." Ujar Caroline tanpa jeda.
Tama tertawa tawar. Niat hati ingin berkompromi dengan Caroline agar mengugurkan kandungan wanita itu, namun apa yang ia dapatkan justru sebuah kebalikan yang menghancurkan angannya.
"Kau serius?" tanya Tama dengan ekspresi tak terbaca.
"Tentu saja. Kau pikir aku sedang bermain-main dengan keadaan ku saat ini? yang benar saja!" balas Caroline menggerutu jengkel.
Tama meraup wajahnya frustasi. Pria itu tampak lesu dan putus asa. Keadaannya malah semakin mendorongnya masuk ke dalam ngarai paling terjal.
"Jangan katakan kalau kau tak ingin bertanggungjawab atas kehamilanku, Tama? aku telah membuat karirku terancam dengan berhubungan denganmu, dan sekarang janin ini akan membuatku kehilangan segalanya." Lanjut Caroline duduk bersandar di kursinya.
Ekspresi wajah yang sama lelah dan frustasinya seperti apa yang kini Tama rasakan. Keduanya berada di ambang kehancuran karena ulah mereka sendiri, namun masih berusaha mencari pembenaran diri satu sama lain.
"Kau tau hubungan kita tak seperti hubungan normal lainnya, Caroline. Kau bahkan bersedia menjadi partner ranjangku tanpa status apapun. Kenapa sekarang kau malah meminta tanggung jawab yang tak seharusnya kau dapatkan? aku akan bertunangan Caroline, astaga! gugurkan saja anak sialan itu, lagi pula aku tak siap menjadi seorang ayah. Apa lagi janin dari wanita yang tak pernah aku cintai." Tandas Tama tanpa perasaan.
Pria itu menatap Caroline dengan tajam. Tatapan menghunus bagai mata pedang.
"Kau tak bisa mengelak dari tanggung jawabmu, Tama. Aku memang tak memiliki perasaan terhadapmu, tapi anak ini butuh status. Mengugurkan kandungan memiliki resiko, dan kau pasti memahaminya dengan baik." Balas Caroline meninggikan suaranya.
Caroline nampak sangat marah, ia kesal karena Tama sama sekali tak tersentuh meski dirinya tengah mengandung anaknya. Ia pikir Tama akan berubah mencintainya setelah sekian lama mereka menjalani hubungan diam-diam.
Ia jatuh hati pada Tama sejak hari pertama menjadi dokter di rumah sakit itu. Cinta pada pandangan pertama, itu lah yang di alami oleh Caroline. Sayang pria itu telah memiliki seorang kekasih. Dan tak main-main. Kekasih Tama merupakan putri sulung dari seorang Drex Connor.
Pria masa lalu ibunya. Berbekal rasa dengki juga dendam tak beralasan, Caroline mulai mendekati Tama dengan berbagai cara. Hingga berhasil menjerat pria itu dalam permainan ranjang yang menggelora. Cinta satu malam itu rupanya membuat Tama ketagihan. Hasratnya kian menggebu karena Caroline bersedia menjadi ladangnya untuk menabur benih, tanpa harus susah payah memelihara dan merawatnya.
Tama bebas datang dan pergi sesuka hatinya, hingga pria itu lupa diri akan siapa dirinya.
"Aku tak bisa Caroline... mohon mengertilah. Bukan begini perjanjian kita di awal. Kau sendiri yang menyetujui kesepakatan kita tapi kenapa kini kau malah mencoba untuk menjeratku dalam hubungan pernikahan. Apa sejak awal kau memang sudah merencanakan semua ini, Caroline?" tanya Tama mulai menaruh kecurigaan.
Caroline terlihat salah tingkah karena dirinya kini di tatap penuh kecurigaan oleh Tama.
"Ti_tidak! tentu saja aku mengerti. Hanya saja situasi sekarang sudah berbeda. Semua demi janin ini Tam, aku juga tak mencintaimu. Jadi jangan terlalu percaya diri," tegas Caroline berusaha untuk menjaga imagenya.
Walau sedikit gugup namun ia tak boleh sampai membuat Tama mencurigai niatnya. Menghancurkan hubungan Tama dan Mentari adalah ambisinya dan sekarang sudah tercapai. Hanya perlu membawa Tama perlahan dalam hidupnya melalui bayi yang ia kandung. Begitu lah rencana seorang Caroline.
Tama menggeleng sembari terkekeh, ia tau jika kini dirinya telah terjebak dalam permainan Caroline. Wanita itu sengaja untuk menjeratnya melalui bayi yang kini di kandung oleh Caroline.
"Aku tak bodoh Caroline. Sekarang aku mengerti kenapa kau tak pernah menolakku saat aku menginginkanmu di mana saja. Rupanya kau mempunyai rencana besar di balik hubungan gelap kita. Kau menjebakku Caroline..." ucap Tama dengan nada lirih penuh sesalan.
Caroline bergeming, ia terpojok oleh kata-kata Tama. Karena Benar, namun ia berusaha keras untuk menyanggahnya.
Meninggalkan Tama yang di liputi jutaan sesal mendalam. Carter justru sedang berselisih pendapat dengan Mentari. Kedua dokter bedah tersebut tampak berbeda opini dalam menyuarakan teori tentang metode penanganan seorang pasien gagal ginjal.
Mentari dengan argumennya sedangkan Carter dengan teorinya sendiri. Sama-sama tak ada yang mau mengalah, padahal pada intinya pokok pembahasan keduanya sama saja. Hanya saja berbeda metode penelitian.
"Ck! aku ini seorang direktur, jelas aku jauh lebih memiliki pemahaman dasar darimu." Tekan Carter hingga urat lehernya menonjol keluar. Ia berbicara dalam tempo rendah namun di tekan sedemikian rupa.
Dokter Bambang hanya bisa menggeleng kecil, melihat bagaimana kedua dokter terbaik itu sama-sama memiliki sisi keras kepala yang sulit untuk di satukan dalam sebuah tim.
"Dokter Carter, tidak mengurangi rasa hormat saya. Tapi, untuk memimpin operasi kali ini. Lebih baik dokter Mentari saja yang melakukannya. Mengingat anda seorang direktur, alangkah baiknya anda memberikan kesempatan kepada karyawan anda untuk melakukan yang terbaik dalam melaksanakan tugasnya." Sela dokter Bambang mencoba untuk memberikan solusi.
Kedua dokter tersebut menurutnya sangat tak cocok jika berada di Tim yang sama. Karena memiliki argumen masing-masing yang bisa berakibat fatal bagi seorang pasien yang tengah mereka tangani. Ia tak ingin sesuatu yang buruk terjadi dan mencoreng nama baik rumah sakit tersebut. Apalagi sang pemilik rumah sakit telah mempercayakan dirinya untuk menjadi walinya di rumah sakit tersebut. Dokter Louis memintanya sebagai mata dan telinga untuk memantau putra sulungnya, Carter.
Tak peduli jika seorang direktur sekalipun. Ia harus bisa bersikap tegas jika di perlukan.
Carter mendengus kasar. Pria itu mengangkat kedua tangannya lalu melepaskan apa yang menempel di tubuhnya. Carter keluar dari ruang operasi dengan ekspresi tak ramah sama sekali. Pria itu kesal karena terusir dari sana bagai seorang dokter pemula. Sungguh ia tak terima. Terutama saat di mana ia merasa di perlakukan tak semestinya di rumah sakit miliknya sendiri.
Setelah keluar, Carter menuju sebuah tempat favoritnya semenjak ia mulai bertugas di rumah sakit itu. Gudang. Tempat di mana pertama kali ia berjuang dengan seorang dokter gabut yang tengah menangis karena memergoki kekasihnya selingkuh.
Carter menarik kedua sudut bibirnya tersenyum lucu. Ia masih ingat dengan jelas mimik wajah Mentari kala itu. Terlihat lucu dan menggemaskan di matanya.
Carter menggeleng kemudian menyulut sebatang rokok.
"Mari kita coba mengurangi satu hari hidup dengan sebatang rokok, menurut teorimu dokter matahari." Gumam Carter kemudian menghisap rokok tersebut lalu mengeluarkan asap seperti sebuah awan.
"Kenapa menghadapimu aku selalu saja kalah? sihir apa yang telah kau mantrai kepadaku hmmm? padahal sikap keras kepalamu itu sangat menjengkelkan, tapi aku selalu suka membuatmu kesal setiap saat bila kita bertemu." Carter terus berbicara sendiri sambil menatap pojok di mana Mentari pernah ada di sana.
Wanita yang perlahan mulai membuatnya candu untuk selalu ia ganggu. Wajah kesal Mentari merupakan hal paling menyenangkan untuk di lihat oleh Carter. Bibir tipis bulat yang selalu mengerucut terlihat begitu menggoda di matanya.
Carter lagi-lagi menggeleng pelan.
"Sepertinya aku benar-benar sudah gila," gumam Carter kemudian tertawa kecut.
To be continue
Semoga masih ada cintanya ya gaess.
Slow update karena hari libur yang kebetulan di akhir pekan yang cukup sibuk.
Terimakasih sudah setia menanti.
Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose _Ana.