Bab 6

1127 Words
Mentari menatap netra sang mantan kekasih dengan tatapan datar. Tama mengajaknya bertemu untuk membahas tentang hubungan mereka yang baginya masih belumlah usai. Meski bagi Mentari tak ada lagi hubungan yang terjalin, Setelah hari di mana dirinya mengatakan kalimat perpisahan di dalam elevator waktu itu. "Waktuku tak banyak Tama, katakan dengan jelas maksud pertemuan kita saat ini." Ujar Mentari tanpa basa basi. Tama terlihat frustasi, Mentari memang wanita yang sulit untuk di taklukkan. Dan sialnya dia melakukan kesalahan fatal yang tak termaafkan oleh wanita itu. "Baiklah..aku hanya ingin hubungan kita berjalan seperti sebelumnya. Aku tau ini permintaan yang terlalu percaya diri, tapi tak bisakah kau mempertimbangkan kebersamaan kita selama dua tahun ini? keluarga yang telah menaruh harapan pada hubungan kita? bagaimana perasaan mereka saat tau hubungan kita kandas begitu saja." Bujuk Tama mencoba menyentuh dinding kalbu seorang Mentari. Wanita dengan prinsip teguh yang tak mudah untuk di goyangkan. Namun ia berharap kali ini wanita itu memiliki empati atas apa yang ia sampaikan. Kedua orang tua mereka jelas terkejut saat mengetahui hubungan mereka tiba-tiba berakhir, padahal pertunangan hanya menghitung mundur. "Apa kau memikirkan perasaanku saat kau bercinta dengan dokter Caroline? apa kau memikirkan dampak bagi hubungan kita saat kau mulai berpaling dariku? apa kau memikirkan perasaan kedua orang tua kita saat kau mulai mengkhianati ku? jawaban tidak! dan itu jelas karena dari hubungan gelap penuh gai rah itu, muncul kehidupan baru di dalam rahim dokter Caroline. Kau sama sekali tak pernah memikirkan siapapun Tama, bahkan kedua orang tuamu pun tidak kau pikirkan." Tandas Mentari lugas. Wanita itu berkata dengan raut wajah yang terlihat begitu tenang. Meski intonasinya sedikit naik dari biasanya. Hatinya hanya kesal, atas apa yang Tama ucapkan begitu ringan tanpa beban apapun. "Aku menyesalinya, Tari. Tolonglah jangan memojokkanku. Aku berjanji akan menyelesaikan masalahku dengan Caroline secepatnya, dan setelah itu ayo kita perbaiki hubungan ini. Aku tak bisa berpisah darimu, aku mencintaimu Tar. Dokter Caroline, dia...dia hanya selingan dan hubungan kami terjadi atas dasar saling membutuhkan. Bukan sebuah hubungan yang serius," bela Tama kukuh pada pendiriannya. Mentari tertawa renyah, tawa yang begitu menggelitik relung hatinya. Pria seperti Tama tak akan pernah masuk dalam daftar pria yang ingin ia miliki. "Bicaramu begitu ringan Tama. Bahkan lebih ringan dari kapas. Apa kau tak berpikir jika apa yang Caroline alami bisa saja di alami oleh adik perempuanmu? bagaimana jika seorang laki-laki menghamilinya lalu meninggalkannya begitu saja, hanya karena hubungan mereka tak memiliki sebuah tujuan selain naf su belaka? Astaga! kau sungguh pria paling breng sek Tama. Bagaimana bisa aku menjalin hubungan dengan pria sepertimu hingga dua tahun lamanya." Mentari mengekeh hambar di ujung kalimatnya. Sedangkan Tama kian gusar. Harapan untuk membawa kembali Mentari merajut kasih dengannya terancam pupus. Wanita itu terlalu kokoh bagai karang. "Aku khilaf, apa kau mengerti konteks khilaf Tari? aku sadar aku salah, tapi aku pria normal. Seorang wanita mendatangiku lalu menawarkan kehangatan tanpa tuntutan sebuah hubungan, siapa yang akan menolaknya." Tama berusaha untuk bertahan pada argumentasinya, tanpa sadar apa yang ia sampaikan semakin menggiringnya pada sebuah kehancuran dirinya sendiri. "Kau mengakuinya Tama. Kau mengakui jika kau memang pria ba ji ngan. Jika semua pria normal seperti dirimu, dunia ini bisa hancur lebur. Dan aku benci pengkhianatan apapun alasannya. Konteks khilaf hanya terjadi sekali, dan itu adalah pengecualian jika seseorang mulai menyadari kesalahannya dan berhenti. Tapi kau? kau tidak pernah menyesalinya Tama. Perselingkuhanmu sudah berjalan selama hampir satu tahun lamanya, dan aku diam menunggu khilafmu usai. Namun kenyataan tak seindah harapan, kau rupanya memang seorang Tama ja ha nam yang tak pantas untuk mendapatkan pengampunan." Beber Mentari menekan setiap kalimatnya dengan nada lugas. Wanita itu beranjak dari kursinya, berdiri menatap pria yang kini terlihat begitu putus asa menghadapi dirinya. "Bertanggungjawablah atas apa yang telah kalian perbuat Tama. Maka aku akan mengampunimu. Tapi jangan pernah meminta kesempatan untuk kembali, karena aku benci memungut sepah yang sudah aku buang." Selesai melontarkan kalimat penuh penekanan yang serasa menampar wajah Tama. Wanita itu berlalu pergi tanpa menoleh lagi. Tama menatap punggung kecil Mentari dengan tatapan tak terbaca. Setumpuk beban pikiran mulai menghantui benaknya. Hubungan mereka tak boleh kandas, atau kedua orang tuanya akan mencoretnya dari daftar ahli waris keluarga. Dan selain itu, Tama menyadari jika hatinya tidak bisa berbagi pada wanita lain. Perasaannya terhadap Caroline hanya sebatas naf su belaka. Saling memuaskan satu sama lain sesuai kesepakatan awal, ketika mereka mulai menjalin hubungan terlarang. Namun kini semua mendadak kacau balau, karena sang kekasih telah sejak lama mengetahui perselingkuhannya. Dan parahnya lagi, Caroline kini tengah mengandung anaknya. Semua sungguh di luar rencana. Tama nyaris gila memikirkan nasib dirinya, juga cintanya yang malah semakin dalam untuk Mentari. "Aaargghh!" teriak Tama frustasi. Pria itu tak peduli di mana dirinya kini tengah berada. Seisi kantin rumah sakit menatap ke arah meja Tama dengan tatapan yang entah. Sebagian besar mereka sudah mengetahui perihal hubungan gelap Tama dengan dokter Caroline. Karena keduanya kerap memamerkan kemesraan tanpa mengenal tempat jika sudah di buru oleh hawa naf su. "Apa kau dengar, jika hubungan dokter Tama dam dokter Mentari sudah berkahir?" tanya seorang perawat para rekannya di meja kasir. "Aku mendengarnya tapi tidak sampai sedetail yang kau ketahui." Sahut sang rekan membuat keduanya tertawa kecil. "Aku hanya mendengar gosip di lantai atas, bukan persepsiku sendiri. Lagipula siapa yang tak tau, dokter Tama juga dokter Caroline sering tertangkap basah sedang berciuman di beberapa tempat tak lazim rumah sakit ini." Sergah sang rekan membela diri. "Entah apa yang dokter Tama pikirkan, dokter Mentari adalah tipe wanita idaman yang di inginkan oleh semua pria. Cantik, baik, cerdas, dan merupakan dokter terbaik di rumah sakit ini." Komentar seorang perawat lainnya yang ikut menimpali obrolan kedua rekannya. "Pria memang tak pernah ada puasnya. Semakin sempurna sosok pasangannya maka pria akan semakin penasaran dengan wanita lain yang bahkan tak ada apa-apanya dengan kekasihnya." Tandas perawat yang pertama mengomentari tentang hubungan Tama dan Mentari. Tanpa mereka sadari jika dokter Tama telah berdiri di belakang mereka untuk mengantri membayar pesanannya. "Khemmm...jika ingin bergosip sebaiknya jangan menghalangi orang lain untuk melanjutkan aktivitasnya. Di sini bukan area untuk bergosip ria jika saja kalian tak menyadarinya." Sela Tama dari arah belakang. Ketiga perawat tersebut meneguk ludah susah payah. Tak menyangka objek dari bahan gosip mereka rupanya tengah berdiri tepat di belakang mereka. Dengan cengengesan ketiganya minta maaf karena telah membuat antrian panjang. Lalu pergi terburu-buru seperti sedang di kejar maling. "Astaga! untung saja dokter Tama tak langsung mencecar kita dengan kata-kata penuh kemarahan. Kita bergosip tepat di depan orangnya," ujar perawat tersebut menghela nafas lega. "Toh kita bukan hanya sekedar bergosip. Wong fakta kok," sanggah rekannya tak mau di salahkan. Kedua rekannya hanya menggeleng melihat rekan mereka yang tetap pada pendapatannya. To be continue Semoga masih ada cintanya ya gaes. Slow update, mohon maaf. Masih konflik ringan ya gengs, biar gak terlalu terburu-buru kesannya. Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose _Ana
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD