Bab 5

1083 Words
Di kediaman mewah Jeff, seorang gadis terlihat enggan keluar dari dalam kamarnya. Sejak semalam Adela mogok bicara juga mogok makan. Perbincangan makan malam itu rupanya berbuntut panjang. Adela tak terima saat sang ayah berencana menjodohkannya dengan seorang anak rekan bisnis Jeff. Sebenarnya itu hanya percakapan biasa, di mana Jeff tengah membahas mengenai obrolan singkatnya dengan rekan bisnisnya. Dan di dalam obrolan ringan itu, tercetuslah ide perjodohan antara kedua anak mereka. Itupun andai keduanya merasa cocok satu sama lain. Sama sekali tak ada paksaan di dalamnya. Namun Adela yang kadung kesal memilih meninggalkan meja makan sebelum mendengar percakapan kedua orang tuanya usai. Hingga matahari mulai menampakkan diri di puncak rumah tersebut, Adela masih betah mengurung dirinya di dalam kamar mewahnya. Sebenarnya gadis itu tak akan kelaparan, mengingat di dalam kamar Adela ada sebuah lemari penyimpanan makanan ringan juga sebuah kulkas mini. Cukup lengkap untuk seorang Adela yang malas kemana-mana jika sudah berada di dalam kamarnya. Tok tok tok Entah suara ketukan pintu yang ke berapa sejak semalam hingga siang mulai menyapa. Namun gadis itu sama sekali terlihat masa bodo. "Adela! dek! ini kakak..apa kau tak ingin mengantarkan kakak ke bandara hmmm? kakak akan pergi untuk waktu yang cukup lama kali ini, kau yakin tak akan merindukan kakak?" suara Saka bagai panggilan alam yang wajib Adela tanggapi. Meski enggan keluar kamar namun gadis itu tak rela jika Saka pergi meninggalkan dalam keadaan marah. Klek Saka tersenyum samar. Rupanya ia berhasil membujuk tuan putri keluarga Angkasa itu keluar. "Kau belum mandi?" pertanyaan Saka mendapatkan hadiah wajah cemberut Adela. Pria tampan itu terkekeh geli melihat ekspresi Adela yang begitu menggemaskan di matanya. "Kau tetap adik kakak yang paling cantik. Ayo bersiap, kakak akan ke bandara satu jam lagi. Kakak tunggu di bawah, jangan dandan terlalu lama. Oke?" Tukas Saka mengingatkan. Ia tau kebiasaan Adela, satu jam untuk berdandan tak akan cukup Namun waktunya sangat mepet untuk bisa memberikan kelonggaran waktu pada gadis itu. "Aku mau mandi sebentar saja, boleh ya kak...masa aku keluar tidak mandi sih, kakak ada-ada saja." Sungut Adela memajukan bibirnya kesal. Saka menggeleng samar. Padahal bukan salahnya jika gadis itu harus mandi terburu-buru atau tidak mandi sama sekali. Dirinya hanya memiliki waktu satu jam untuk berangkat bersama tim nya yang sudah lebih dulu menunggu di bandara. "Cuci muka saja oke? kakak benar-benar tak bisa menunggu lama kali ini." Nego Saka mencoba meminta pengertian gadis itu. Tanpa menjawab, Adela menutup pintu kamarnya dengan cukup keras. Untung saja Saka tak terlalu dekat dengan daun pintu. Jika tidak wajahnya di jamin akan serata tembok. Saka hanya bisa mengesah pasrah. Menghadapi Adela memang membutuhkan kesabaran ekstra. Sebuah tepukan halus menyapu punggung tegap Saka. "Tinggalkan saja, paling akan ngambek dua tiga hari. Setelah itu Adela tak akan tahan kehilangan kabarmu lebih lama. Coba saja, jangan terlalu menuruti apa yang Adela inginkan. Kau lihat sendiri, Adela adalah gadis paling manja di muka bumi ini. Bahkan aku sendiri malas meladeninya," ujar Andrew menatap Saka dengan tatapan iba. Meski kembar, keduanya memiliki sifat yang bertolak belakang. Andrew pria penuh pesona yang selalu mampu menyihir para kaum hawa. Pria itu juga sedikit playboy. Andrew bekerja di salah satu perusahaan milik mendiang kakek buyutnya sebagai seorang CEO. "Aku tak apa tuan muda, Adela hanya manja terhadapku saja. Di luar sana Adela mampu menghadapi dunia dengan caranya sendiri." Sahut Saka penuh dengan nada pembelaan. Andrew hanya bisa menggeleng pasrah. Berbicara dengan Saka sebelas dua belas saat ia menghadapi adiknya. Keduanya sama-sama menjengkelkan. "Terserah. Jika kau terlambat dan di tinggal oleh rekan-rekanmu bukan salahku. Jadi, bersiap-siaplah menempuh perjalanan darat jika nasib sial menghampirimu nanti akibat ulah tuan putri manja itu." Tandas Andrew kemudian berlalu meninggalkan Saka yang masih mematung di depan pintu kamar Adela. Pria itu menggeleng pelan kemudian menuruni anak tangga. "Adela masih belum mau membuka pintu kamarnya nak?" tanya Teresa yang kebetulan melewati ruang keluarga dengan sebuah pot kosong di tangannya. Wanita itu sepertinya sedang menggeluti hobi berkebun bersama sang ibu. "Sudah nyonya, masih mandi sebentar." Teresa menghela nafas panjang. "Kau tau berapa lama waktu yang Adela butuhkan sampai dia siap untuk pergi?" tanya Teresa mengingatkan. Saka mengangguk pasti. "Dan kau yakin akan menunggunya? berangkatlah nak, rombonganmu pasti kesal menunggumu terlalu lama. Nanti bibi akan mengatakan pada Adela jika kau sudah di hubungi oleh komandanmu." Nasihat Teresa tak ingin membuat Saka kesulitan lagi akibat ulah putrinya. Saka menggeleng pelan, "tak apa nyonya. Sebentar lagi Adela pasti selesai," tolak Saka halus. "Percuma mama berbicara dengan Saka, mereka berdua sama-sama menyebalkan." Sela Andrew yang kini terlihat menuju ruang keluarga dengan sebuah gelas kopi di tangannya. Kening Teresa mengerut heran. Pasalnya itu bukanlah hari libur, dan putranya terlihat sangat santai di rumah dengan segelas kopi dan sekarang tengah memegang sebuah remote. "Kau tidak bekerja nak?" tanya Teresa penasaran. Andrew bahkan lebih suka berada di kantor lebih lama dari pada di rumah. Karena pria itu tak suka di recoki oleh adiknya. "Aku sedang sedikit lelah ma, tubuhku seperti sedang mengalami dehidrasi. Entahlah, mungkin aku akan terserang flu. Tubuhku sedikit meriang sejak semalam," ujar Andrew tak terlihat bersemangat. Teresa memindai penampilan anaknya yang seperti sedang berada di musim dingin. Ia baru sadar rupanya Andrew tengah memakai syal juga kaos lengan panjang. "Kenapa tak mengatakannya pada mama, kau ini. Sudah minum obat? biar mama ambilkan sebentar, jangan minum kopi dulu. Mama akan minta Narsih membuatkan su su jahe hangat untukmu." Ujar Teresa meraih gelas kopi milik Andrew. "Tidak ma! tidak perlu, sungguh!" Teresa juga Saka sampai terjengkit kaget kala mendengar intonasi suara Andrew yang mendadak meninggi. Andrew terlihat salah tingkah sambil menggaruk tengkuknya. "Maksudku, aku tak suka jahe. Teh hangat saja, tapi mama yang membuatnya. Narsih sedang sakit," ujar Andrew terlihat semakin gugup. "Dari mana kau tau jika Narsih sedang sakit? bukankah kau jarang di rumah dan bertemu dengan Narsih?" skak!. Andrew semakin tak karuan. Beruntung suara cempreng adiknya berhasil mengalihkan perhatian sang ibu. Untuk pertama kalinya, Andrew berucap syukur kepada Tuhan atas adik paling cerewet dan manja yang ia miliki. Andrew tampak menghela nafas lega, dan hanya Saka yang menyadarinya. Insting seorang polisi mulai bekerja tanpa ia minta. Ia yakin sang tuan muda pasti tengah menyimpan sebuah rahasia besar. Namun bukan kapasitasnya untuk mencampuri urusan majikannya. Ia hanya berharap apapun itu, bukanlah hal buruk yang akan membuat kehormatan keluarga Angkasa tercemar. To be continue Semoga masih ada cintanya ya gaes. Selow update selama belum author ajukan kontrak hehee. Supaya gak cepat-cepat di kunci maksudnya. Agar kalian bisa terus membacanya hingga tamat tanpa harus membayar koin. Jadi terus ikuti jangan sampai terlewatkan. Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose _Ana
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD