Bab 4

1376 Words
Mentari berjalan dengan hati seringan kapas. Wanita itu terus menebar senyuman manis sepanjang lorong menuju kantin. Tak seperti seorang yang baru saja putus cinta, Mentari lebih tampak layaknya orang yang baru saja terlepas dari setumpuk beban batin yang berat. Di dalam ruangan lain, seorang pria terus menatap layar laptopnya dengan tatapan tak terbaca. Diam-diam rupanya pria itu tengah memantau pemandangan tak biasa, yang baru saja terjadi di dalam elevator karyawan rumah sakitnya. "Wanita itu benar-benar tidak waras, bagaimana bisa dia tersenyum semanis itu saat hubungannya baru saja kandas. Ckckckck sungguh wanita yang patut di hindari," monolog Carter berbicara sendiri. Ya, pria kurang kerjaan itu adalah Carter. Ia memiliki setiap akses cctv di rumah sakit tersebut. Dan dengan lancangnya pria itu menguping pembicaraan dua insan yang baru saja mengakhiri hubungan mereka di dalam sebuah elevator. Meski secara sepihak tentunya, karena si pria masih kukuh mempertahankan hubungan tersebut. "Eh? apa aku baru saja memuji gadis itu? ck, senyumannya bahkan biasa saja." Gerutu Carter kesal sendiri. Tanpa sadar ia telah memuji senyum manis seorang Mentari Connor. Wanita yang menurutnya cukup berbahaya karena memiliki tingkat ketajaman lidah yang tak ada duanya. Carter terlihat menghubungi seseorang melalui sambungan telepon kantor, tak lama pintu ruangannya terbuka. "Ada yang bisa saya bantu pak direktur?" tanya seorang perawat muda yang kini berperan sebagai seorang sekretaris bagi Carter. Sedangkan asistennya masih belum ia temukan. Carter menolak rekomendasi sang ayah, yang ingin menjadikan Mentari sebagai asistennya. "Berikan data atas nama dokter Mentari Connor, antar ke ruanganku dalam waktu 15 menit." Titah Carter tanpa menatap lawan bicaranya. Kristin Yulianti, nama perawat muda itu hanya bisa mengangguk patuh. Kristin kemudian pamit keluar lalu menghubungi bagian HRD yang mengelola database semua pegawai rumah sakit tersebut. "Sekarang ya San, direktur baru yang minta. Mana harus dalam waktu 15 menit sudah ada di ruangannya. Buruan ya," pinta Kristin yang juga terdesak oleh keadaan. "Ck, ini jam makam siang. Ada-ada saja pak direktur. Untung tampan, kalau burik sudah ku bejek-bejek kaya tempe penyet." Omel Santi merasa dongkol. Ia sedang makan siang bersama rekan-rekannya, terpaksa harus jeda sejenak karena permintaan Carter yang tak tau waktu. "Ya sudah, buruan ya San. Takut herdernya keburu ngamuk, bisa kelar karir kita." Ucap kristin tertawa kecil. Sambungan telepon di matikan, Santi di bantu oleh rekannya menyiapkan data yang di minta oleh sang atasan. "Buat apa sih? memangnya dokter Mentari ada buat salah apa sampai di mintai data segala." Dumel Santi yang masih kesal. "Mungkin gara-gara di aula tadi pagi. Kau lupa dokter Mentari mengatai pak direktur dengan sebutan ca bul?" timpal sang rekan berusaha menyegarkan ingatan temannya. "Ah ya, kenapa aku bisa lupa. Waduh, tidak disangka, pak direktur pendendam juga ya, orangnya. Serem ah, yuk buruan selesaikan sebelum nasib kita apes kaya ikan pepes." Santi bergidik ngeri. Wanita berhijab itu mendadak ketakutan bernasib sama seperti Mentari. Padahal Carter memiliki tujuan lain yang terselubung. Tok tok tok Pintu ruangan Carter kembali di ketuk oleh Kristin. Wanita itu masuk dengan sebuah map di dekapannya. "Ini berkas pribadi dokter Mentari pak direktur." Ujar Kristin meletakkan map tersebut dengan sopan di atas meja kerja Carter. Pria itu terlihat sibuk dengan keyboard laptopnya. Padahal Carter hanya berusaha agar tak nampak membutuhkan berkas tersebut. "Hmmm.. kembalilah bekerja. Aku akan melihatnya kapan-kapan," balas pria itu acuh tak acuh. Kristin mencebik dalam hati, ia yakin sang direktur hanya berusaha agar terlihat cool di hadapannya. Entah mengapa ia yakin jika sang direktur pasti sudah gatal untuk membuka map tersebut. "Ada yang bisa saya bantu lagi, pak direktur?" tanya Kristin sebelum keluar dari ruangan Carter. Padahal dirinya sengaja ingin mengulur waktu untuk melihat bagaimana reaksi Carter, saat melihatnya tak kunjung keluar dari ruangan tersebut. Benar saja, Carter terlihat gusar. Dalam hatinya, Kristin tertawa laknat. "Tidak. Kau boleh keluar sekarang," usir Carter halus meski nada bicaranya sama sekali tak ramah. Kristin mengedarkan pandangannya, dan tertuju pada nampan makanan yang masih tertutup rapat oleh plastik cling wrap. Ide jahilnya kembali muncul. "Apa makanannya tidak sesuai selera anda pak direktur? kalau begitu biar saya menggantinya dengan yang baru." Tawar Kristin tak kehabisan akal. Carter terlihat menghentikan aktivitasnya di keyboard laptopnya. Pria itu mengangkat wajahnya menatap Kristin dengan tatapan tak terbaca. "Aku masih kenyang, lagipula aku masih sibuk. Tak ada masalah dengan makanannya. Kau bisa keluar sekarang, atau pekerjaanmu sudah selesai? aku masih punya setumpuk berkas yang harus kau periksa." Mendengar kalimat bernada ancaman tersebut, sontak membuat Kristin panik. Perawat tersebut meneguk ludah kasar kemudian memilih untuk mundur dari kejahilannya. "Pekerjaanku masih banyak pak direktur, terimakasih sebelumnya. Kalau anda sudah tak memerlukan bantuan saya lagi, saya pamit undur diri. Permisi dan selamat siang pak," ujar Kristin berbicara dengan nada cepat. Setelah Kristin keluar dari ruangannya, Carter menarik nafas panjang. Ia sedikit kesal dengan sekretarisnya tersebut namun tak bisa menunjukkannya. Atau integritasnya di pertaruhkan. "Dasar perawat kurang kerjaan," gerutu Carter jengah. Padahal dirinya melupakan makan siangnya hanya karena terus menguntit Mentari dari layar laptopnya. Dengan sigap Carter membuka map yang berisi berkas Mentari. Di sana tertera segala hal penting yang berhubungan dengan wanita itu. Carter menarik sudut bibirnya samar. Senyum penuh kekaguman akan segala prestasi yang telah Mentari capai. "Kau memang nona muda yang mengagumkan. Sayang mulutmu lupa kau ikut sertakan dalam mata pelajaran budi pekerti." Gumam Carter Setelah puas membaca berkas Mentari. Di kediaman Drex, terlihat sepasang paruh baya tengah duduk santai menikmati suguhan kue di temani secangkir kopi juga teh. "Apa yang tuan Agung katakan padamu sayang? kau terlihat lebih banyak diam dan mengabaikan ku, apa begitu mengganggu pikiranmu?" tanya Pelangi lembut. Wanita yang masih terlihat begitu mempesona itu mengusap punggung tangan suaminya. Ia tau sang suami pasti sedang memikirkan sesuatu yang sedikit mengganggu pikiran suaminya itu. Baru saja calon besan mereka menelpon suaminya. Pasti ada hal penting pikir Pelangi menduga. "Tidak sayang..maafkan aku. Hanya masalah pekerjaan, bukan hal penting. Berapa angka dari review kue buatan Ratna kali ini sayang?" Drex berusaha mengalihkan perhatian sang istri, namun Pelangi yang peka tak mudah untuk di kelabui begitu saja. "Berapa ya...mungkin 8,5. Manisnya pas kali ini, hanya saja rasa vanillanya terlalu menyengat. Tapi overall, aku menyukainya." Ujar Pelangi memberikan penilaian. Ratna masih mengabdi pada keluarga Drex, wanita itu sudah menikah dengan tukang kebun tetangga Drex. Dan mereka kini menempati salah satu paviliun di belakang rumah mewah Drex. Ratna tak lagi menjadi seorang pengasuh, karena anak-anak Drex telah tumbuh dewasa. Kini ia beralih profesi sebagai kepala pelayan yang baru setelah kepala pelayan yang lama berpulang. Anak-anak Ratna pun di sekolahkan di sekolah di mana anak-anak Drex dahulu menimba ilmu. Tak ada pembedaan bagi anak-anak pelayan di keluarga dermawan itu. Semua di perlakukan layaknya keluarga. "Nilaimu mendekati sempurna sayang. Apa kau takut Ratna mogok bekerja hmmm?" canda Drex menggoda istrinya. Wanita itu tertawa kecil, kemudian mengangguk pelan. "Aku lebih khawatir jika Ratna pulang kampung sayang. Aku akan kehilangan teman untuk bergibah." Tandas Pelangi jujur. "Masih ada aku sayang, suami tampanmu ini siap menjadi teman bergosip ria. Kau tak perlu khawatir kehilangan seseorang untuk mendengarkan celotehanmu yang seperti kecepatan kereta listrik itu." Gurau Drex tergelak. Pelangi mendelik galak, tak lama Drex meraih bahu kecil istrinya dengan sayang. "Duduknya jangan jauh-jauh sayang, kita seperti sedang bermusuhan." Ujar Drex yang kini mendekap sang istri dari arah samping. Keduanya duduk bersisian di sebuah kursi ayunan. Tempat favorit untuk bersantai sembari menunggu sore tiba. Di mana semua anak-anak mereka kembali dari aktivitas masing-masing. Sungguh hari tua yang selalu Drex impikan. Tak sia-sia ia menghabiskan lima tahun untuk menjaga kehidupan istrinya menggunakan segala jenis peralatan medis. Kini ia menuai nikmatnya bahagia bersama sang istri tercinta. Pelangi seolah menolak tua, wanita itu masih terlihat seperti berusia 30 tahun. Padahal kini usianya sudah mencapai 47 tahun. Berbeda dengan Drex yang memang sudah mencapai usia 60 tahun. Perbedaan jelas terlihat nyata di antara keduanya. Namun pria itu begitu rajin melakukan perawatan tubuh, sehingga sedikit membantu untuk memperlambat proses penuaan pada tubuhnya. Rutin melakukan olahraga pun kerap ia lakukan hingga sekarang. Melihat sang istri yang masih secantik saat pertama kali bertemu, membuat perasaan was-was selalu menghantui pikiran Drex. Ia tak rela kelak istrinya berpaling ke lain hati ketika ia tiada. Sejauh itu pemikiran seorang Drex Connor. To be continue Semoga rindu kalian terobati ya gengs. Author munculkan ibunya Mentari juga ayahnya Mentari di sini. Terimakasih banyak bagi yang sudah berkenan mampir. Itu sangat berarti bagi author. Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose _Ana
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD