#12

789 Words
Pagi ini dia berangkat ke sekolah dengan perasaan yang bahagia, karena kembali merajut cinta dengan sang pujaan hati. Walau rasanya masih sangat banyak tanda tanya di antara hubungan mereka ia tak ambil pusing dengan itu. "nikmati aja dulu, sebesar apa cinta ini berkembang biarlah aku dan tuhan yang tau" monolognya sambil berjalan ke arah kamar mandi karena ia harus segera bersiap ke sekolah. Seperti hari-hari sebelumnya ia tak mendapati kedua orang tuanya di meja makan. Karena memang sudah berangkat sejak petang untuk melanjutkan pekerjaannya. "huuuft... slalu seperti ini" seraya menarik kursi untuk duduk. "mbok masak apa hari ini?" tanyaku menatap aneka sayur yang membuatku tak berselera makan, ya karena aku memang tidak terlalu suka sayur. Asisten rumah tangga itu berjalan menghampiri nona mudanya sambi berkata "ini capcay nona" "kenapa banyak sayurnya sih" kata Ayunda dengan mengerucutkan bibirnya "kan memang capcay sayurnya banyak nona" jelas asisten rumah tangga itu. "nggak jadi sarapan ah" lanjutnya dengan berdiri meninggalkan ruang makan. Sedangkan ART itu hanya bisa menggelengkan kepala melihat anak majikannya yang sama sekali belum berubah. . . . "makasih ya pak" kata ayunda sebelum keluar mobil. "tumben bilang makasih, biasanya main nyeludur aja, lagi kesambet kali ya" tentu saja jawaban itu hanya mampu terucap dalam hati. . . Ayunda menyusuri lorong-lorong sekolah untuk menuju kelasnya. Seperti biasa sedari melewati kelas demi kelas ia tetap menjadi pusat perhatian karena memang dia cantik bahkan memiliki body yang lumayan aduhayy. Jam masih menunjukkan pul setengah tujuh masih ada tiga puluh menit lagi bel berbunyi. Niat hati ingin ke kantin untuk sarapan harus ia urungkan karena melihat sesuatu yang membuat dadanya sesak. Akhirnya ia pun memutuskan untuk kembali ke kelasnya. Berjalan dengan wajah di tekuk tidak seceria tadi. "waduuuh kenapa nih, cemberut aja?" tanya Ziza yang melihat kedatangan Ayunda dengan wajah yang tak ramah. "capek" jawabnya "abis maraton loe? yakali masih pagi capek" ejek Sabila pada sahabatnya. "udah deh kalian ini, tau sahabat lagi murung kayak ondel-ondel gitu malah di jailin" sang pembela berbicara, siapa lagi kalau bukan Fani, yang paling bijak di antara semuanya. "kenapa sih hemm?" sambungnya. "tadi mau ke kantin duli sarapan. eh malah ketemu adegan berbahaya" jelasnya "adegan berbahaya apaan sih maksud loe?" Zahra yang tidak mengerti arah pembicaraan Ayunda. "itu sih Ratih nempel banget kayak ulet bulu ke Agra. Jadi bad mood gue" jawab Ayunda dengan wajah kesalnya. "yaelah, bukannya kalian baru balikan?" sahut Ziza mengingat semalam chat grup mereka di penuhi kabar bahagia dari sang sahabat yang baru saja balikan dengan kekasihnya. "udah ah males bahasnya. tuh gurunya udah masuk, belajar aja lah" tutur Ayunda yang sudah kepalang kesal. Menit demi menit berganti. Saatnya jam istirahat pun di mulai. Ayunda yang malas kemana-mana akhirnya memilih berdiam diri di kelas, sambil menunggu titipan makanannya datang. Bukannya ia tidak mau keluar kelas hanya saja ia malas bila harus bertemu dengan para ulat bulu yang terus menempeli kekasihnya. Entah mereka yang tidak mau menjauh atau memang Agra yang terlalu biasa saja saat di ikuti atau di tempeli para ulat bulu itu. Mengingat memang Agra sangat jarang sekali menggunakan panggilan sayang di setiap chattingan mereka. Agra akan memanggil dengan mesra hanya ketika ia membutuhkan sesuatu. Sebenarnya itu telah menjadi pertimbangan bagi Ayunda untuk mempertahankan hubungannya. "woooee nih titipan loe, makan gih katanya laper" kata Sabila sambil menoel lengan Ayunda. "kok gue jadi nggak laper ya" sahut Ayunda yang memang tidak merasa lapar. "jangan gitu ih beb, loe kan dari pagi belum makan, makan gih buruan entar cacing di perut loe pada mati" Ziza yang kuatir akan keadaan sahabatnya itu terus saja membujuk agar mau makan. "kok kalian balik bedua, Fani kemana?" "lagi ada rapat exskul kayaknya" kata Ziza sambil mulai memakan makanan yang ia beli. Dan hanya di sahuti bibir yang membentuk huruf O tanda mengerti. Mereka pun memulai makan dengan tenang. Dan setelah membereskan sisa bungkus makanan Sabila kembali bercerita ria kejadian saat di kantin. "emmm tadi Agra nyariin loe, katanya kenapa nggak ikut ke kantin. terus gue jawab aja lagi badmood sama loe, gitu" "hemmm biarin deh, gue lagi males" . . Setelah jam pelajaran terakhir Ayunda membereskan bukunya dan saat akan menghubungi sopir tanpa di duga Agra muncul di depannya "yuk pulang bareng, ada yang mau aku omongin" kata Agra sambil menarik tangan Ayunda tanpa menunggu persetujuan dari si pemilik. Ayunda yang kaget hanya menoleh pada dua sahabatnya yang mengangkat bahu secara bersamaan. Agra melajukan motornya dengan kecepatan rendah menuju rumah sang kekasih. Tak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai di rumah Ayunda. "masuk?" tanya Ayunda cuek. "yaa" jawab Agra tak kalah cuek. Setelah mempersilahkan Agra duduk di ruang tamu dan menyuruh mbok Inem membuat minum, Ayunda kembali ke ruang dimana Agra berada. "nggak ganti baju dulu" tanya Agra yang melihat Ayunda masih mengenakan seragamnya padahal sudah di rumah "nggak nanti aja kalau mau mandi" jawab Ayunda masih cuek. "nanti bajunya kotor susah di cucinya" "kan ada mbok Inem yang nyuci" "kamu gak boleh gitu, kan kasian mereka kalau kesusahan nyuci baju kamu." "lah kan mereka di gaji untuk itu" jawab Ayunda acuh tak acuh. "kamu tuh ya, gak boleh kayak gitu, mereka juga manusia, punya rasa capek. Nggak selamanya mereka sehat, kadang sakitpun mereka masih maksain kerja. Kamu nggak kasian sama mereka?" tanya Agra lembut. "hmmm iya mulai besok aku langsung ganti baju" "nah gitu dong. Kamu kenapa sih kok kayak ngehindar dari aku, tadi aja gak pergi ke kantin" tanya Agra sambil memandang bibir pink nan lembut itu sedang mengerecut gemas. "salah sendiri ngapain tuh para ulet bulu nempelin kamu terus" jawab Ayunda dengan sedikit menaikkan oktav suaranya. "oh kamu cemburu. ih lucu banget sih kalau cemburu" goda Agra "tau ah" balas Ayunda dengan wajah sedikit bersemu merah. "yaudah maaf, mulai besok aku nggak akan mgerespon mereka lagi. Udah ya cemburunya" "hmmm" "ya udah aku pulang dulu, sampai ketemu besok" jawab Agra yang sudah berdiri dan melangkahkan kaki menuju luar rumah Ayunda. Ayunda tidak mengantar Agra keluar, karena hatinya masih sedikit kesal pada lelaki itu. Ia lebih memiloh masuk ke kamar dan mandi, lalu mengganti seragamnya menjadi pakaian rumahan. Entah mengapa Ayunda yang biasanya tidak pernah menurut pada siapapun kini ia melakukan hal yang di minta Agra tanpa mengeluh. Aneeh memang kekuatan cinta ???? ___ ___ ___ jangan lupa tinggalkan jejak kalian. love you ? happy reading. maafkan bila masih ada thypo bertebaran oke ? ..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD