#11

502 Words
Langit mulai menampakkan sinar keemasan tanda akan gantinya matahari menjadi bulan. Angin dingin mulai merayapi kulit dua insan yang sedang di landa masalah. ciiit..... Suara decitan sepedah motor yang berhenti di depan sebuah bangunan yang tidak terlalu mewah namun terlihat elegan. Dua insan berjalan berirungan memasuki cafe dan mendaratkan tubuhnya di kursi yang tersedia. "kenapa disini?" tanyaku dengan wajah masam, pasalnya tempat duduk ini terletak di sudut ruangan cafe. "ya biar enak aja ngobrolnya" jawabnya singkat. Agra mengangkat tangannya ke atas untuk memanggil pelayanan yang sedang berdiri dekat meja kasir. Pelayanpun datang menghampiri kami "silahkan menunya" "saya pesan jus alpukat sma kentang goreng" kataku setelah melihat buku menu "baiklah, anda kak?" tanya pelayan itu pada Agra "aku capucino ice aja" jawabnya "baiklah, ada lagi?" "sudag itu dulu, nanti kami pesan lagi kalau ada yang kurang" jawabku "baik , di tunggu ya" kami mengangguk bersamaan. Agra mulai menjelaskan semuanya, tentang satu persatu wanita yang menjadi kekasihnya, dia berkata bahwa setiap wanita memiliki peran tersendiri, contohnya seperti teman satu kelasnya yang dia pacari hanya untuk mengerjakan tugas-tugasnya, dan yang lainnya untuk pundi-pundi uangnya. "lalu aku?" kataku sinis "entahlah, kamu berbeda. saat aku melihatmu untuk pertama kali ada ketertarikan tersendiri" katanya tanpa merasa bersalah Aku mendelik ingin melayangkan protes tapi ku urungkan karena pelayan tadi datang membawa pesanan kami. "terimakasih" ucapku sambil tersenyum pelayan itupun pergi dengan tersenyum padaku. bruak.. .. Gebrakan meja mengagetkanku yang masih memandang pelayan itu menjauh. "aku gak suka ya liat kamu senyum gitu ke pelayan" katanya yang membuatku ingin tertawa "kenapa sih, aku jomblo juga" jawabku sambil mengedikkan bahu. "kita belum putus ya, kamu masih tetep pacar aku dan aku gak mau kita putus" tegasnya dengan sedikit meninggikan suara. "terserah padamu saja" kataku asal karena akupun tak dapat memungkiri bahwa aku juga masih menyukainya. Mereka mulai memakan pesanannya dengan sesekali tertawa. Senja pun berganti malam. tanpa sadar mereka sudah menghabiskan waktu hampir dua jam di cafe tersebut. "pulang yuk udah malem" ucapku yang di beri anggukan oleh Agra. Dia berjalan ke arah kasir untuk membayar pesanan kami. Ternyata pelayan yang tadi menyapu lagi dengan tersenyum akupun membalas dengan tersenyum. Tanpa kusadari Agra melihat itu dengan tatapan amarah, dia menarik tanganku berlalu begitu saja. Saat di depan cafe aku mencoba melepaskan cengkraman tangannya pada pergelangan tanganku, karena rasa cengkraman iti sudah mulai sakit. "gra lepasin, sakit" kataku dengan nada sedikit kesal "aku kan udah bilang, jangan senyum atau deket-deket sama cowok lain, aku gak suka" katanya menahan amarah "dasar posesif" desisku yang masih bisa dia dengar. "yes, i am" katanya tak bersalah. Mereka akhirnya meninggalkan cafe itu karena hari sudah semakin malam. Di perjalanan angin menerpa kulit Ayunda yang tidak memakai jaket, dia akhirnya memeluk tubuh tegap Agra. Yang di peluk pun tidak menolak, karena memang itu juga menjadi kesenangan tersendiri untuknya. "akhirnya sampai juga, terimakasih sudah menjelaskan masalah tadi" kataku dengan senyum menawan. "ya, dan terimakasih juga mau memaafkan aku, aku pulang dulu ya udah malem" "nggak mampir dulu?" "lain kali ya, udah malem soalnya" "okeh" jawabku singkat. Dia tersenyum ke arahku sambil menjalankan motornya. saat tak lagi kulihat motornya aku masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamarku, karena pasti orang tuaku sedang menonton televisi di ruang keluarga. ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD