Ciuman Manis

633 Words
Ayunda yang semakin terpojok hanya bisa pasrah ketika wajah tampan itu mulai mendekat ke wajahnya. Seakan terhipnotis ayunda pun ikut memandang lekat wajah tampan itu dan sedetik kemudian Agra memajukan bibirnya mengecup singkat bibir Ayunda yang membulatkan matanya tak percaya "apa ini" batin Ayunda yang tubuhnya berusaha lepas dari kurungan Agra, namun kekuatan Agra jauh dibanding dirinya. Agra pun kembali memajukan bibirnya dan mulai sedikit m*l**t lembut bibir ranum merah muda milik Ayunda. Ayunda yang mulai menikmati pertaitan bibir mereka akhirnya membalas dengan perlahan namun sangat membuai untuk Agra Hawa panas kini mulai menjalar ke sekeliling mereka hingga agra dengan berani mendaratkan tangannya ke d*d* Ayunda yang terlihat sangat besar untuk ukuran anak SMA ini. "aakhm no" desah ayunda tertahan karena pertautan bibir itu belum lepas sepenuhnya "emmmh ini sangat besar" desah Agra yang mulai naik hasratnya sayup-sayup terdengar langkah kaki dan candaan beberapa siswa menyusup di pendengaran mereka. Dan itu membuat Ayunda membelalakan matanya sambil berusaha mendorong kuat Agra agar sedikit menjauh "akkh shiit" jengkel Agra karena sudah mulai dilanda nafs* Nafas mereka masih terengah-engah di tengah kekagetan yang melanda. Agra tersenyum pada Ayunda yang mulai memerah wajahnya. "kenapa dengan jantungku ini tuhan, kenapa rasanya ingin melompat keluar" jerit batin Ayunda Sedangkan Agra sudah senyum-senyum sendiri sejak melepas ciuman bib*r mereka itu. "heem rasanya manis juga. apalagi buah d*d*nya sangat memuaskan. bagaimana ya rasanya jika kepalaku terbenam disana" pikiran m***m itu muncul begitu saja di otaknya " hey Yunda yuk berangkat sekarang" suara Ben yang membuyarka lamunan Agra Teman-teman Ayunda dari SMP yang sama menatap bingung ke arah dua remaja di hadapan mereka yang terlihat malu-malu itu. "ahh ya yuk berangkat" sebelum dia keluar kelas Agra berhasil menarik tangannya hingga tubuh Ayunda merapat pada tubuhnya "rasanya manis, ciuman yang manis" bisik Agra tepat di telinga Ayunda yang merasakan gelagat aneh pada tubuhnya. Ayundapun berlari menyusul teman-temannya yang sudah jalan duluan dengan perasaan yang entah apa. Rasa-rasanya jantungnya mau lompat ke luar tubuhnya. Sementara itu Agra yang sudah mulai menguasai dirinya kembali duduk di bangku sebelum Ayunda datang. Teman-temannya yang tadi pergi meninggalkannya kini pun mulai berdatangan lagi "waaah ada yang berhasil nih, gimana rasanya?" goda Dika pada sahabatnya itu "cerah banget tuh wajah bang" sahut Andre dengan senyu khasnya "mau loe kemanain tuh si Ratih" ujar Andi dengan senyum simpulnya "hahaha Ratih datar bro, seedangkan Ayunda bohay abis,, gue pacaran sama si Ratih biar ada yang kerjain tugas gue aja" jawabnya dengan smirk khas sang cassanova. "gila loe Gra" sahut Andi dengan tawanya yang menggelegar. Kini Dika duduk bersebrangan dengan Agra dan menatapnya heran "lah yang Rima sama Sachi gimana?" tanyanya kemudian "Rima tuh sumber uang gue, kalau Sachi dia yang ngejar-ngejar gue yaudah gue jadiin aja sekalian sapa tau bisa dapet kuota gratis" jawab Agra apa adanya Ketiga sahabat Agra hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku sahabatnya itu. Ya karena Ben sudah ikut bersama Ayunda dan teman-temannya untuk salam silaturahmi ke sekolah lama. .... Di tempat lain kini Ayunda mulai menyalami satu persatu bapak ibu gurunya dulu. Mereka mengucapkan terimakasih dengan setulus hati Ayunda tiada henti mengingat kejadian di ruang kelas tadi. Hatinya berdebar kuat saat mengingat itu ada seulas senyun tipis di bibirnya. Entahlah ia tak pernah merasakan ini sebelumnya walaupun ia juga sering berpacaran tapi hanya sebata chat dan bergandengan tangan saja. "woy diem-diem bae?" suara Ben yang membuyarkan lamunannya "huuuft, loe ya ngagetin gue aja" sentak Ayunda kesal "loenya aja yang ngelamunnya kelewatan, ati-ati kesambet loe entar." memutar bola matanya malas "hahahahaha loe pikir ada setan siang bolong begini, udah yuk pulang" menarik tangan Ben "capek nih gue" imbuhnya. . "idiiih main tarik-tarik aja , loe kira gue layangan" kesal Ben yang tetap mengikuti langkah Ayunda "diem deh bawel banget sih" judes Ayunda ... huuuuuft. helaan nafas panjang mengiringi jatuhnya tubuh Ayunda ke ranjang empuknya. Tas dan Sepatu sudah berceceran dimana-mana tok .. tok.. tok.. Pintu di ketu dari luar "ya masuk" jawabnya tetap pada posisi berbaring santai. "non mau makan sekarang atau nanti saja?" tanya bik inem yang sudah masuk ke kamar Ayunda "nanti saja bik, beresin kamar aku ya. aku mau tidur sebentar" titahnya kemudian "baik non" dengan cepat bik inem membereskan sepatu dan tas juga buku-buku nona mudanya yang sudah berserakan, memunguti dan membuang beberapa bungkus camilan ke tong sampah dalam kamar nona mudanya itu. Ayunda terlelap dalam tidurnya hingga hari mulai merayap petang. Ayunda melewatkan makan siang dan malamnya begitu juga dengan mandi sorenya. Ia terus terlelap hingga pagi menjelang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD