Reynold, Calon Suamiku
“Bella, cepat bersiap. Dandan yang cantik, hari ini kita akan menemui seseorang!” perintah Jason Duncan kepada putrinya. Tangannya terlihat berada di pinggang dengan tatapan sinis.
Bella ketakutan dengan sikap intimidasi yang dilakukan oleh ayahnya. Dia berjalan menuju lemari pakaiannya dengan penuh kewaspadaan. Sekilas retinanya melirik ke arah Jason yang tidak henti memperhatikannya.
“Saya harus memakai baju apa?” tanya Bella sambil menundukkan kepala.
“Pakai gaun yang kemarin Papa belikan untukmu, begitu saja tidak tahu,” jawabnya ketus.
Bella mengambil gaun cantik berwarna navy blue dengan model sabrina lalu masuk ke ruang ganti. Terlihat ada banyak bekas luka di punggungnya. Bella merasa tidak percaya diri dengan pakaian seperti ini. Dia menutupi bekas lukanya dengan concealer lalu meratakannya.
“Bella, kamu ini lambat sekali. Apa kamu tahu, sebentar lagi Reynold akan segera datang menjemputmu!” kesal Jason sambil mengetuk pintu ruang ganti.
Bella ke luar dari ruang ganti. Jason tersenyum karena dia melihat putrinya sangat cantik memakai gaun itu. Dia meraih bahu putrinya seraya berkata, “Bagus, sekarang kamu berdandan secantik mungkin. Papa tunggu lima belas menit lagi, kamu harus sudah selesai.”
Bella dengan cepat memoles wajahnya dengan riasan seadanya. Dia tidak berani meminta apa pun kepada ayahnya. Alat rias yang dia punya pun pemberian dari kekasihnya Alex.
Hanya dalam waktu sepuluh menit, Bella berhasil menyelesaikan riasannya. Dia pergi ke ruang tamu tempat ayahnya berada. Terlihat di sana ada Jason yang sedang duduk bersandar di kursi sambil memainkan telepon selulernya.
“Papa, aku sudah siap.” Bella berdiri dengan tangan kanan yang menggenggam tangan kirinya.
Tidak lama, terdengar suara mobil terparkir. Suara ketukan sepatu perlahan semakin mendekat. Sosok tinggi berparas tampan berjalan menghampirinya. Manik lelaki itu langsung tertuju pada sosok bergaun biru itu.
Reynold senyum sebelah. “Bagus, sesuai harapanku. Pak Jason, kita harus pergi sekarang. Orang tua saya tidak suka menunggu,” ucapnya sambil mengulurkan tangan kepada Bella.
Bella menyambut tangan Reynold lalu mengikuti ke mana lelaki itu pergi. Jason mengikutinya dari belakang. Lelaki tua itu bersyukur karena pemuda itu sepertinya menyukai putrinya.
Mereka pergi makan malam bersama di sebuah restoran mewah di bilangan Ibukota. Sepanjang perjalanan, Reynold tidak melepaskan genggaman tangannya. Dia duduk dengan tenang di dalam mobil tanpa berbicara sepatah kata pun.
Bella merasa tidak nyaman saat bersama Reynold. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Hal yang menjadi pikirannya saat ini adalah Alex.
Sesampainya di restoran, mereka bertiga langsung pergi ke meja yang sudah di reservasi sebelumnya. Mereka memasuki ruangan khusus dan tertutup. Ada dua orang yang telah menunggu kedatangan Reynold, Bella dan Jason. Satu orang lelaki dan satu orang wanita, mereka terlihat seperti kedua orang tua Reynold.
“Akhirnya kalian datang juga,” sambut Ayah Reynold sambil berjabat tangan dengan Jason dan Bella.
Mereka berbincang sambil menunggu hidangan datang. Bella hanya diam saja sesuai dengan arahan Jason sebelumnya. Perbincangan mereka semua kini sudah semakin menuju inti. Orang tua Reynold mulai membahas soal pernikahan anaknya.
Bella mengepalkan tangannya dengan kuat. Dia tidak mencintai Reynold dan tidak ingin menikah dengannya.
“Baiklah kalau begitu kita putuskan satu bulan lagi pernikahannya akan dilaksanakan. Senang akhirnya kita bisa besanan Pak Jason,” ucap Ayah Reynold sambil tersenyum bahagia.
“Sama-sama. Terlihat sekali ‘kan anak kita itu serasi. Sepertinya juga Reynold menyukai Bella, benar?” terka Jason menatap ke arah Reynold.
Lelaki muda itu langsung tersenyum. Matanya melirik ke arah Bella yang ada di sampingnya.
“Apa kamu menyukaiku juga, Bella?” tanya Reynold dengan lembut.
Bella menarik garis bibirnya sedikit ke atas dengan mata yang tertuju pada Jason yang terus mengintimidasinya.
“Tentu … Reynold adalah lelaki idamanku,” jawab Bella terpaksa berbohong. Senyum yang terukir di wajahnya pun terlihat dipaksakan.
“Kalau begitu ya percepat saja tanggal pernikahannya, karena Rey mau pergi ke Milan bulan depan.” Reynold mengambil gelas yang berisi air mineral lalu meminumnya.
Semua senang mendengar ucapan Bella meskipun raut wajahnya mengatakan sebaliknya. Orang tua Reynold dan Jason sudah menentukan tanggal pernikahan. Hanya tinggal menunggu waktu pelaksanaannya saja.
Setelah mendapatkan kesepakatan dan menentukan tanggal pernikahan, mereka akhirnya kembali ke rumah masing-masing. Bella pulang bersama Jason. Sepanjang perjalanan wanita berambut coklat kemerahan itu terus menunduk.
“Bagus … akhirnya kamu menyetujui pernikahan bersama Reynold.” Jason tertawa sambil menepuk bahu putrinya.
Bella membuka matanya lebar. Ini bukanlah yang dia harapkan. Dia menggigit bibir atasnya, seakan menahan sesuatu yang ingin ke luar dari kepalanya. Dia memainkan jari dengan mata yang terus terfokus pada sosok tua yang sedang bertolak pinggang. Kakinya gemetar seakan ada serangan dingin yang menyeruak.
“Tapi Pah … Bella sudah memiliki kekasih,” tolak Bella dengan penuh keraguan. Dia menelan salivanya kasar.
Jason langsung mengambil lima langkah mendekati anaknya. Kaki Bella gemetar, saat jarak antara dirinya dan Jason semakin dekat. Lelaki paruh baya itu mendengkus keras. “Dasar anak tidak berguna!” Jason menampar keras pipi putrinya. Terlihat bekas merah berbentuk tangan di pipi halusnya.
“Ampun, Pah,” lirih Bella sambil berlutut merengkuh kedua lutut papanya.
Jason segera mengangkat tubuh putrinya dengan kasar. Manik lelaki itu menatap tajam ke arah Bella.
“Putuskan kekasihmu. Terkecuali dia sanggup memberikan investasi saham yang sama besarnya dengan yang diberikan Reynold.” Jason mengempaskan tubuh Bella ke lantai dengan kerasnya. Dia berlalu meninggalkan putrinya yang terjatuh.
Bella masuk ke kamar sambil mengusap pipinya yang kemerahan. Air matanya sudah tidak bisa menetes karena dia teramat takut. Dia kunci pintu kamarnya lalu mengambil ponsel yang dia simpan di tempat rahasia.
Bella membuka layer ponselnya dan mendapati ada ratusan pesan dari kekasihnya Alex. Bella menekan nomor telepon Alex lalu menghubunginya.
Nada sambung pun telah terdengar, sebuah lagu dari musisi legendaris. Tidak lama, panggilannya pun segera di jawab.
“Halo Sayang, kenapa kamu tidak membalas pesanku? Aku benar-benar mencemaskanmu,” tanya Alex.
“Sepertinya kita tidak bisa melanjutkan hubungan kita,” ucap Bella terisak.
“Hah … hahaha … kamu bercanda, ‘kan?”
“Aku serius. Kita enggak bisa bersama. Aku sudah dijodohkan dengan Reynold Clark. Tadi aku makan malam dengan keluarganya.”
“Kenapa kamu enggak nolak?”
“Sudah, aku sampai berlutut memohon supaya Papa melunak. Aku bisa apa, Sayang. Aku tidak bisa membuat perusahaan ayahku terjun bebas seketika. Aku juga enggak mau menyulitkanmu terus.”
“Memangnya apa yang Reynold lakukan sampai papa kamu tega seperti itu?”
“Dia berinvestasi ke perusahaan papa dengan nilai yang sangat besar.”
“Ternyata seperti itu.” Alex mendengkus keras. “Aku tahu, aku cuma pianis muda yang penghasilannya tidak sebanding dengan kekayaan keluarga Reynold. Baiklah Bella, semoga kamu bahagia bersamanya.”
Alex menutup sambungan teleponnya. Ada rasa amarah yang bersarang di dalam hatinya, tetapi dia tidak mungkin bersaing dengan pengusaha terkenal seperti Reynold. Kekayaannya hanya sebatas itu saja. Investasi yang mampu diberikannya pun paling hanya sebesar 50% saja itu pun dia sudah menyerahkan seluruh harta kekayaannya.
“Bella, maafkan aku yang tidak sanggup memenuhi keinginan ayahmu. Aku akan tetap menjaga cinta ini meskipun kamu bukan milikku lagi,” lirih Alex.
Bella bersedih karena Alex kecewa kepadanya. Ini bukan masalah tentang uang saja. Akan tetapi, ini masalah hidup dan mati seseorang. Bella hafal betul sifat ayahnya yang kejam. Dia bisa saja melenyapkan Alex dengan rapi. Bella tidak mau orang yang dicintainya harus meninggal karenanya lagi.