Julie yang sedang menangis sempat terhenti saat mendengar suara yang sangat dia kenal. Perempuan itu membuka tangannya dan melihat Aaron tengah berdiri sambil memberikan sapu tangannya. “Jangan menangis Julie. Maafkan aku yang tidak bisa menjengukmu. Papi membawaku pergi mendaftar di sekolah militer. Aku sudah diterima di sana dan aku baru boleh pulang sekarang. Sepanjang hari aku terus memikirkanmu. Apa kamu juga begitu?” Julie teramat sedih saat tahu Aaron ada di depannya. Perempuan itu memukul Aaron walau tidak keras. Tangisannya bahkan terdengar pilu. “Kenapa kamu tidak datang? Kenapa kereta kudamu tidak berhenti saat melindas kakiku? Tidak ada satu pun yang percaya omonganku, tidak bahkan ibuku sekalipun. Kamu dimana Aaron, kenapa kamu tidka membelaku?” “Aku tidak bisa Julie, maa

