Reynold membuka kotak perhiasan yang terakhir. Dia melihat sebuah kain kecil menutupi sesuatu. Dirinya buka kain itu dan melihat cincin yang dia berikan ada di sana. “Astaga, dia berkata benar! Kenapa aku begitu mudah marah dan membuatnya sampai hampir meninggal?” monolog Reynold sambil menggenggam cincin tersebut. Bella berjalan meskipun kepalanya masih berputar. Dia hampiri suaminya, menatapnya nanar. “Apa kamu sudah menemukannya?” tanya Bella memecah suasana yang sangat hening itu. Reynold terperanjat. Dia seperti orang yang tertangkap basah. Matanya terbelalak dengan debaran jantung yang tidak kalah cepat. “Kenapa kamu di sini? Katanya sakit?” tanya Reynold mengubah arah pembicaraan. “Ketemu tidak?” tanya Bella. “Sudahlah, ayo kembali ke kamarmu,” pinta Reynold sambil mendorong

