7. Dosa Julie

1201 Words
Raut wajah Bella langsung berubah tegang. Bola matanya membulat sempurna dengan alis yang terangkat. Tragedi yang dia alami saat malam pertama yang dia lakukan bersama Reynold adalah hal terburuk. Dia tidak ingin merasakan hal itu lagi. “Apa kamu serius? Terakhir kali melakukan itu, aku masuk rumah sakit karena hampir mati,” tutur Bella. “Tentu saja aku ingin melakukannya lagi. Kamu harus melakukan itu dan tidak boleh membantahnya, paham!” kesal Reynold sambil mencengkram pinggang istrinya. Bella menelan salivanya kasar. Dia mencoba berpegangan pada ujung meja. Dia tidak mau melakukan itu, tidak kali ini. “Nanti saja, ya. Aku kan baru pulang dari rumah sakit,” tolak Bella dengan halus. “Tidak bisa!” Bentak Reynold. “Kamu jangan merubah suasana hatiku yang sedang baik ini. Kamu hanya tinggal menikmati saja, oke!” tuturnya dengan gigi rapat. Bella menarik napasnya, tetapi tidak bisa mengembuskannya dengan bebas. “Tolonglah,” melasnya. Reynold tidak suka mendengar bantahan. Dia langsung memangku Bella membawanya pergi dari ruang makan menuju kamar utama. Bella tidak serta merta mengikuti permintaan Reynold. Dia sempat memegang meja makan dengan erat. Namun, Reynold melototi Bella hingga perempuan itu menunduk takut. “Sebagai istri dari Reynold Clark, kamu tidak boleh menundukkan kepala. Jaga kehormatan suami dan juga harus pemberani. Jangan lemah, dengar!” “I-iya,” jawab Bella. Bukannya semakin berani, dia malah semakin takut. Tidak ada hal yang bisa dia lakukan. “Tuhan, tolong aku!” doa Bella dengan jantung yang berdebar kencang seperti melihat penampakan. Reynold dengan mudah membuka pintu kamarnya, padahal harus digesek dengan keycard dan itu merepotkan. Tentu saja sebelum menggendong Bella, dia sudah menggenggam kartu tersebut. Reynold membaringkan Bella di atas tempat tidurnya yang super empuk. Perempuan itu bergegas menarik tubuhnya hingga ke ujung tempat tidur. Dia sudah terpojok, tetapi Reynold semakin mendekat. “Bella, kenapa kamu terus mundur? Aku bukan lelaki yang akan melahapmu hidup-hidup!” tegas Reynold dengan alis yang menukik. Entah bagaimana ketika dia berada di dalam satu ranjang yang sama, sifat Reynold berubah. Emosinya kembali naik seolah Bella adalah musuh yang harus ditaklukkan. Dia tarik kaki Bella dengan kasar. “Jangan!” Bella meronta, dia tidak mau melakukan hal itu. Reynold semakin tidak senang. Dia dengan cepat menarik tubuh Bella hingga kini berada tepat di bawah kekuasaannya. Tiba-tiba saja, Bella merasakan bulu kuduknya merinding bukan main. Samar terdengar suara sayup sangat pelan seolah jarak mereka jauh. “Bella, kalau kamu tidak suka, kamu boleh bertukar denganku,” bisik suara yang dikenali oleh Bella. Batin Bella membalas perkataan itu, “Nenek, aku ingin bertukar denganmu.” “Baiklah, kamu pejamkan mata dan sambut tanganku ini,” ucap Julie. Dia menampakkan diri di depan Bella. Hanya saja Reynold tidak bisa melihat sosok Juli. Reynold bingung, Bella tiba-tiba saja mengulurkan tangannya. Dengan sekejap perempuan itu memejamkan mata dan lampu di kamar Reynold nyala redup secara berulang. “Astaga, kenapa dengan rumah ini?” kesal Reynold sambil beranjak dari tempat tidur. Dia melihat ke arah lampu yang seolah sedang ada gangguan listrik. Kini lampu kembali menyala sebagaimana mestinya. Reynold kembali melihat istrinya yang tadi seperti orang ketakutan. “Bella,” panggilnya sambil mengguncang sedikit tubuhnya. Bella membuka matanya. Tatapannya kali ini kembali saat dia baru terbangun dari komanya. “Kenapa kamu panggil aku, suamiku?” Reynold memiringkan kepalanya dengan alis yang hampir menyatu. Lagi-lagi dia melihat sosok yang berbeda dari Bella. “Buka bajumu, sekarang!” perintahnya. Dia tidak akan mempermasalahkan soal listrik lagi. “Kenapa buka baju? Aku enggak merasa gerah kok!” tolak Julie yang duduk dengan tangan yang bertumpu pada tempat tidur. Persis seperti pose menantang dari para model majalah dewasa. “Siapa yang bilang di sini gerah, aku ingin kita melakukan hubungan suami istri sekarang juga!” tegasnya. “Kalau aku tidak mau kenapa? Kamu mau apa, suamiku?” tanya Julie penuh penekanan. Reynold tidak suka melihat Bella terus membantahnya. Dia tarik langsung dagu Bella dengan kasar. “Aku tidak suka mendengar bantahan. Sebaiknya kamu buka bajumu sekarang juga!” “Sudah kubilang aku tidak mau membukanya! Kalau kamu mau melakukan itu, lakukan dengan benar. Kamu buka bajuku, rayu aku, bukan memakiku seperti ini!” balas Julie dengan menatap Reynold sangat tajam. Reynold menyeringai. Rasanya dia telah dipermainkan oleh perempuan ini. Lelaki itu mendekati Bella, duduk di samping perempuan itu sambil membelai wajahnya. “Oh kamu mau aku yang membukanya, baiklah, aku akan melakukan semuanya sesuai dengan permintaanmu!” Arwah Bella yang melihat Julie menantang Reynold seperti ini merasa malu sendiri. Dia tidak mungkin melakukan hal yang dilakukan oleh Julie. Arwah Bella memilih untuk pergi dari kamar itu. Dunianya saat ini sangat hampa. Dia tidak bisa menyentuh benda apapun. Ada kerinduan dalam hati Bella akan kehadiran sosok Alex. Bagaimana kabarnya saat ini dan apa dia membencinya atau tidak. Selang beberapa saat, Julie telah berhasil membuat Reynold kalah telak. Lelaki itu merasa kewalahan mengikuti permintaan istrinya yang terkesan aneh dan tidak memiliki rasa lelah. Berulang kali Reynold merasakan akhir dari penyatuannya bersama orang yang dia pikir Bella. Memang betul raganya itu Bella, tetapi jiwanya bukan. “Astaga, Bella yang pemalu ternyata pemain ulung. Aku pikir kamu itu perempuan pendiam dan hanya bisa menangis. Ternyata kamu bisa berubah menjadi serigala buas.” Reynold terkekeh sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Julie ikut tertawa. Tentu saja nenek tua itu puas telah melakukan hal itu dengan seorang pemuda tampan dengan tubuh kekar. Tidak ada satu pun kekurangan dari fisik sempurnanya. Reynold adalah lelaki impian para wanita. “Kamu pikir aku perempuan yang tidak berguna, kamu salah, suamiku. Apalagi aku bisa membuatmu melayang dan terus memikirkanku,” tutur Julie dengan sombongnya. Dia cubit hidung Reynold yang mancung dengan gemas. Reynold mengusap kepala istrinya, lalu memeluknya dengan erat. “Kamu hanya boleh berada di rumah ini. Kalau kamu mau ke luar rumah, itu hanya boleh dilakukan atas izinku atau kamu pergi bersamaku, mengerti!” “Baiklah, suamiku,” jawab Julie sambil mengulum senyum. Perasaan seperti inilah yang diinginkan oleh nenek itu. Selama kehidupannya dulu, dia tidak bisa mendapatkan apa yang dia mau. Saat dia melihat Bella seperti orang kehilangan arah, tentu saja ini kesempatan bagus untuk menggunakan raganya. Sebagai nenek buyutnya, Julie tidak terima cucunya mendapatkan perlakuan tidak adil. Dia juga harus membalas semua orang yang telah berbuat jahat kepadanya. Akan tetapi, sambil menyelam minum air Julie juga harus memanfaatkannya dengan memuaskan seluruh keinginannya yang terpenda, selama ini. Ponsel Reynold berdering nyaring. Lelaki itu bangkit dari tempat tidur lalu mengambil ponsel yang ada di atas nakas. “Iya Chris, ada apa?” “Ada mertua Anda, Tuan Jason di pintu masuk. Apakah dia boleh masuk?” “Persilakan dia masuk!” Reynold menutup panggilan teleponnya. Netranya kini beralih pada Bella yang menatapnya dengan tajam. “Jangan menatapku seperti itu!” ucap Reynold mengingatkan Bella. “Suka-suka aku. Yang punya mata kan aku,” jawab Julie tidak kalah menyebalkan. “Ayahmu ada di depan. Cepat pakai bajumu, kita harus menyambutnya!” Reynold berdiri dari tempat tidur. Dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara itu Julie masih duduk di tempat tidur sambil memikirkan suatu rencana. “Ingatan Bella masih belum bisa kuambil. Harus dengan cara seperti apa? Apa aku harus meminta kekuatan kepada penguasa dunia hitam hanya untuk mengambil ingatan Bella, atau kucuri saja ingatan itu?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD