Bab 46 Laksa Aku menuruni anak tangga dengan tergesa. Pikiranku kacau. Tak pernah Humaira berbuat seperti ini sebelum-sebelumnya. Jika mau pergi ke rumah ibunya pun, biasanya selalu menghubungiku lebih dulu untuk memberi kabar. Melihat kondisi kamar yang berantakan membuatku sangat yakin, jika Humaira sedang tak baik-baik saja. Tak pernah aku menemukan dia semarah ini sebelumnya. “Laksa, mau ke mana?” Suara Mama membuatku menoleh. Beliau masih duduk di ruang tengah. “Mau jemput Rara, Ma. Mama belum tidur?” “Nunggu Papa. Papa kamu lagi di perjalanan, sebentar lagi sampai.” “Aku pergi dulu, Ma.” “Iya, hati-hati.” Aku segera menutup pintu. Tak hendak bercerita pada Mama dulu, karena aku juga belum tahu Humaira pergi dari rumah atas masalah apa. Tidak mungkin juga dia bertengkar juga d

